Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-TUJUH



Seperti biasa, mereka berjalan beriringan memasuki area sekolah menyusuri koridor yang sudah lumayan ramai. Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 wib yang artinya mereka masih memiliki waktu setengah jam lagi sebelum akhirnya jam pelajaran dimulai. Mereka memilih pergi ke kantin dan duduk di meja pojok.


Natasya menatap bergantian sahabatnya, tersenyum geli melihat wajah sendu mereka yang entah kenapa sangat lucu menurutnya. Dia menggeleng tak percaya, masih mempertahankan senyumnya. “Kasian banget sih kalian,” ucap Natasya, dia menangkup pipinya menggunakan kedua telapak tangan.


Mereka mendongak, saling tatap dengan wajah penuh tanya karena tak mengerti maksud ucapan Natasya. Delfano mengendikkan bahunya, begitupun Antonio dan Sebastian.


“Maksudnya?” tanya Antonio.


Natasya terkekeh, dia mengambil roti selai yang tersedia di atas meja kemudian membuka pembungkusnya. “Kalian tuh kayak orang yang gak makan berhari-hari tau gak sih.” tukas Natasya, dia menyuapkan roti itu ke mulutnya dan mengunyahnya pelan.


Delfano semakin mengerutkan keningnya, masih belum paham maksud Natasya. “Apa sih, Ta? Ngomong yang jelas kek.” Delfano menggeleng keras. “Otak gue gak nyampe buat men-translate omongan lo.” lanjut Delfano, dia pun mengambil roti sama seperti yang tengah dinikmati Natasya.


Natasya memutar bola matanya jengah, dia menelan habis roti di mulutnya. Menatap bergantian sahabatnya yang memasang wajah bingung, kecuali Sebastian tentunya karena hanya Sebastian yang bisa mempertahankan wajah datarnya itu.


Natasya menghela napas pelan. “Bunda gak ada, masih di Surabaya dan gak ada yang siapin makanan. Itu maksud gue.” jelas Natasya, dia mengendikkan bahunya dan kembali menikmati rotinya di tangannya.


“Gak ngerti sumpah,” dengus Delfano.


Roti yang siap landing di mulut Natasya terpaksa di pending. Natasya ternganga, dia menatap tak percaya Delfano yang baru saja berucap. Mulutnya siap mengeluarkan kembali kata-kata yang mungkin sedikit sarkas nantinya, namun Sebastian lebih dulu menimpalinya.


“Maksudnya tuh kita kan sehari-hari makan di rumah bunda. Sekarang bunda gak ada, gak ada yang siapin kita kayak biasanya. Jadi kita tuh kayak orang kelaparan sebab gak dikasih makan. Gitu maksudnya.” jelas Sebastian yang langsung mendapatkan jentikan tangan dari Natasya, dia langsung memberikan tembakan tangan kearah Sebastian setelah mendengar penjelasan lelaki itu. Sedangkan Antonio dan Delfano hanya ber'oh' ria mendengar penjelasan Sebastian.


Natasya berdecak, “Emang, ya Sebastian doang yang paling peka sama ucapan gue. Pokoknya dia yang bisa langsung klop sama gue.” ucap Natasya, dia merangkul pundak Sebastian yang duduk disampingnya, tersenyum lebar kearah lelaki itu yang dibalas tak kalah lebar oleh Sebastian—ya, meskipun kedataran masih tetap mendominasi wajah Sebastian.


Delfano mendengus, “Ya, bodo amat. Yang jelas, yang paling peka itu gue. Gue yang paling peka sama perasaan ciwi-ciwi gue. Ya, gak Ton?” tanya Delfano, dia melirik Antonio untuk meminta persetujuan lelaki itu.


Antonio mengangguk cepat, menjentikkan jarinya karena sangat setuju dengan ucapan Delfano. “Bener banget!” timpal Antonio. Dia menatap mengejek Sebastian. “Dia mana tau perasaan cewek, kaku gitu.” lanjut Antonio sambil tertawa bersama Delfano, mereka berdua bertos ria karena merasa menang.


Sedangkan yang diejek hanya kembali menampilkan wajah datarnya. Dan, Natasya hanya bisa tersenyum lebar saat serangan adu mulut sudah mulai terjadi antara Antonio dan Delfano yang melawan Sebastian yang sangat acuh.


Lo, peka? Really?


***


Bruk!


Mereka menoleh kearah pintu rooftop yang dibuka dengan kasar oleh seseorang yang kini tengah tersenyum lebar menampilkan deretan giginya, tak lupa tanda peace yang ditunjukan nya saat mendapat tatapan kesal dari mereka.


Sebastian menggelengkan kepala, menatap Natasya yang masih dengan senyum lebarnya itu berjalan kearah mereka. Ya, pelakunya itu adalah Natasya.


Natasya langsung menjatuhkan bokongnya di sofa buluk. Meskipun sudah buluk tapi tetap oke kok. Buktinya mereka betah duduk di atas sofa tersebut. Natasya melirik Delfano yang tengah melakukan panggilan video grup dengan beberapa ciwi-ciwinya.


“Kalian kalo disini gak pernah ngajak gue.” kesal Natasya, dia mengambil satu bungkus keripik yang ada di atas meja kemudian memakannya.


Antonio yang tengah menikmati semangkuk mie berkuah pun harus menghentikan suapannya. Dia mengelap sudut bibirnya. “Ngapain ngajak? Yang jelek-jelek, lo gak harus ikut.” ucap Antonio, dia kembali menikmati mie kuahnya.


“Ya sekali-kali dong, bosan tau di kelas. Gurunya lagi-lagi gak dateng, ada keperluan.” jelas Natasya dengan mulut yang masih dipenuhi keripik itu.


“Ya, belajar sendiri dong, Sya.” ucap Sebastian, dia menarik sudut bibirnya menatap Natasya.


Natasya mencibir. “So banget sih. Kalian juga kalau gak ada guru pasti gak pernah tuh belajar sendiri kan? So-so-an. Ada guru juga belum tentu kalian belajar.” cibir Natasya, dia terkekeh yang hanya mendapat balasan sekedarnya.


Diam, semuanya diam dan fokus pada kegiatannya masing-masing. Natasya melirik mereka satu-persatu, mendengus saat melihat keseriusan mereka. Antonio dengan mie kuahnya, Sebastian dengan game onlinenya dan Delfano bersama ciwi-ciwinya.


Natasya mendesah pelan, tak suka kalau sedang bersama seperti ini dan malah sibuk dengan urusan masing-masing. Akhirnya, dia pun mengeluarkan ponselnya, membuka akun media sosialnya dan melihat beberapa postingan orang-orang sambil menikmati keripik di tangannya.


Seketika dia tersedak sendiri dengan keripik yang tengah dinikmatinya. Bukan apa-apa, dia baru saja melihat sesuatu yang membuatnya bisa jadi tersedak seperti ini.


Mereka yang tadinya tengah asyik dengan kegiatan masing-masing pun terkejut saat melihat Natasya yang tersedak. Dengan cepat, minuman pun terulur kearah perempuan itu.


Natasya tak terkejut saat melihat tiga jenis minuman yang berbeda terulur kearahnya. Dia sudah bisa menebak sebenarnya. Dia berdehem, menatap minuman-minuman tersebut bersama pemiliknya satu persatu.


Tangan terulur mengambil minuman yang disodorkan Delfano, membuat Antonio dan Sebastian dengan cepat menarik kembali minumannya. Dia meneguk minuman milik Delfano itu perlahan, cukup bisa meredakan batuknya.


“Udah dulu ya, gue sibuk. Bye.”


“Kenyang banget,”


“Bip!”


Delfnao langsung mematikan sambungan video call bersama ciwi-ciwinya itu, dia meletakkan ponselnya di atas meja. Antonio selesai dengan mie nya dan kini menyenderkan tubuhnya, mengelus perutnya sambil menikmati kekenyangan itu. Sedangkan Sebastian memasukkan ponselnya setelah log-out dari game online yang dimainkannya.


Natasya menatap mereka dengan tatapan tajamnya, dia meletakkan dengan kasar bungkus keripik tersebut di atas meja. Tentu saja, hal itu membuat mereka mengerutkan keningnya bingung.


“Kenapa sih, Ta?”


“Iya, kenapa sih? Tajem banget tuh mata,”


“Why?”


Natasya mendengus, dia masih melemparkannya tatapan tajam sebelum kemudian memutar bola matanya jengah. Dia mendesah pelan, kembali bersandar pada sandaran sofa. “Maksudnya kalian apa sih, igs foto gue. Males banget deh.” dengus Natasya, dia melipat tangan di depan dada sambil mencebik.


Mereka terdiam kemudian hanya ber'oh' ria untuk menanggapi keluhan Natasya itu. Mereka senang sekali melihat wajah Natasya yang kesal seperti ini.


Ya, bagaimana tak kesal. Mereka itu kompak memposting sebuah foto Natasya di Instagram story mereka dan itu semua yang membuatnya kesal. Karena apa? Karena pastinya akan banyak fans dari mereka itu yang akan terus menerus menerornya. Meneror dalam artian, banyak minta tolong untuk dicoblangin ke salah satu diantara mereka.


delfano


(Picture)


bastian_


(Picture)


Tonio_an


(Picture)


Natasya mendengus, dia menatap sebal mereka yang malah tertawa melihatnya kesal seperti ini. “Ih... Kalian tuh, ya! Kalian kan tau, nanti gue di teror fans kalian, khususnya itu, Lo!” tunjuk Natasya kearah Delfnao.


“Yaelah Na, foto gitu doang.”


“Foto gitu doang. Huh! Lagian nih ya, kalian tuh sempat-sempatnya ya, foto gue kemarin. Ck ...”


“Cantik, kok.” Timpal Sebastian datar.


Natasya berdecak. “Emang, gue kan selalu cantik. Sampe-sampe banyak cowok yang ngejar-ngejar gue.”


“Nah tuh tau, Yaudah sih.”


Natasya menggertak bibirnya, mendesah kesal. “Tapi kan—”


“Udahlah,”


Natasya menghela napas kasar. “Yaudah, mau gimana lagi. Tapi kalian harus tanggung jawab ya kalo gue diapa-apain sama fans kalian.” Pinta Natasya, dia menggerak-gerakkan telunjuknya pada mereka.


“Iya..”


“Okay,”


“Hm.”


TO BE CONTINUED ...