![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Delfano mengerang, memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Matanya perlahan mengerjapkan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Perlahan dia beranjak untuk duduk, menunduk sambil memijat keningnya. Seketika matanya membulat melihat pemandangan didepannya. Delfano menggeleng, mencoba mengenyahkan pikiran halunya. Dia kembali mengerjapkan mata, memastikan apa yang dilihatnya memang benar adanya.
“Itu beneran, Tata?” gumam Delfano dengan kening mengerut, dia berjalan pelan kearah Natasya yang tengah duduk tertidur di atas sofa.
Delfano memperhatikan wajah Natasya seksama, tersenyum simpul menatap perempuan dihadapannya yang ternyata memang nyata. Tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang sedikit menghalangi wajah cantik nan damai milik Natasya.
“Cantik,” puji Delfano pelan, dia terus menelusuri pelan setiap jengkal wajah Natasya. Mulai dari pipi kanan, beralih ke pipi kiri, kemudian kening dan berakhir di hidung karena setelahnya perempuan itu sedikit bergerak, mungkin merasa terusik dengan apa yang dilakukannya.
Natasya mengerjapkan matanya, merenggangkan otot-ototnya yang mulai terasa pegal. Dia mengerutkan kening saat melihat wajah Delfano yang tepat di depan wajahnya. Dengan cepat, dia mendorong tubuh Delfano tanpa memperdulikan Delfano yang kini jatuh karena dorongannya.Dia dengan cepat berdiri, memperhatikan Delfano yang meringis kesakitan.
“Aduh... Sakit banget, Ta!” keluh Delfano, dia mengusap pinggang juga bokongnya yang menyentuh lantai.
Natasya meringis pelan, kemudian berdecak kesal. “Ya, abisnya ngapain tadi deket banget.” elak Natasya. “Lo mau macam-macam ya!?” tuding Natasya, menunjuk Delfano dengan jarinya.
Delfano menggeleng cepat, “Enggak. Lagian gue mau macam-macam apa sih?”
“Ya... Bisa aja kan, lo mau berbuat yang enggak-enggak sama gue, mentang-mentang gue tidur tadi.”
Delfano menghela napas kasar mendengar ucapan yang keluar dari pemikiran negatif perempuan itu. “ Gila! Udahlah, gue gak macam-macam. Tolongin apa!”
Natasya menghela napas, berdecak pelan kemudian mengulurkan tangannya memberikan bantuan pada Delfano. Delfano menerima uluran tangan tersebut, berdiri sambil memegang tangan Natasya yang padahal tak memberikan manfaat apapun baginya. Tapi... Ya, modus aja. hehehe.
Delfano duduk di sofa, begitupun Natasya.
Delfano mengerutkan keningnya menatap penampilan Natasya. “Lo ngapain di rumah gue?” tanya Delfano saat sadar berada dimana mereka sekarang.
Natasya memutar bola matanya jengah, dia menyenderkan kembali tubuhnya di sofa. “Lo tuh nyusahin banget. Pake acara mabuk segala lagi.” ucap Natasya yang sama sekali tak menjawab pertanyaan Delfano.
Delfano diam, menunggu jawaban apalagi yang akan diucapkan perempuan itu.
“Gue di telpon sama bartender di sana, suruh jemput lo yang udah tepar.” lanjut Nataysa, dia menatap sebal Delfano.
Delfano terkejut? Tentu. Mendengar jawaban dari Natasya, itu artinya perempuan itu datang ke tempat laknat itu?
“Lo datang ke sana dong?”
“Menurut lo?”
“Ya ampun, Ta, lain kali jangan deh. Gue gak suka ya, lo masuk ke tempat kayak gitu, apalagi sendiri—”
“Orang buat jemput lo!”
“Iya, harusnya lo suruh Anton atau Tian gitu, jangan sendirilah. Gue takut lo kenapa-napa di sana. Banyak yang nakal, Ta di sana tuh. Aduh... Gimana sih lo!”
“Ih, kok jadi salahin gue sih! Gue kan jemput lo!”
“Iya, tapi gue tuh khawatir sama lo, Ta. Jangan lah, ya datang lagi ke tempat gitu. Gue takut lo diapa-apain di sana. Ya?”
Natasya terdiam, dia bersorak dalam hati mendengar lanjutan kalimat yang terlontar dari mulut Delfano. Lelaki itu mengkhawatirkannya? Oh my God.
Tapi dia ingat sesuatu, sesuatu yang menjadi tanda tanya besar di benaknya.
“Oh, iya! Lo lagi suka sama siapa sih?”
Pertanyaan itu sukses membuat Delfano ternganga, terdiam sejenak. “Hah?”
“Ih, maksud gue tuh gini, tadi lo ngigau gitu. Lo bilang, lo suka sama dia, kenapa lo gak peka, kenapa—”
Delfano membulatkan matanya, “Lo, tahu orangnya?” tanya Delfano cemas.
Plak!
Natasya menampar pelan pipi Delfano, membuat lelaki itu meringis pelan sambil mengusap pipinya yang ditampar itu.
“Kalau gue tau, gak bakal gue nanya.”
“Jadi, lo gak tau?”
Natasya menghela napas kasar, “Enggak,” desah Natasya dengan jengah.
Delfano bernapas lega, ternyata perempuan itu tak tahu siapa orang yang disukainya. Kalau tahu? Bisa—
“Jadi, siapa?”
Delfano terdiam, mempersiapkan jawaban apa yang harus diberikannya untuk pertanyaan Natasya itu. “Cewek.”
Rasanya, Natasya ingin menyumpal mulut Delfano dan mengacak wajah lelaki itu. Kenapa jawabannya itu? Apa karena kebanyakan alkohol otaknya jadi gesrek? Atau karena apa?
Natasya terdiam, entah kenapa pikirannya tiba-tiba tertuju pada Anya. Entah sebab pasti apa kenapa bisa otaknya tertuju pada perempuan itu. Dan satu pertanyaan, apakah mungkin Anya —perempuan yang dimaksud Delfano? Perempuan yang mampu membuat lelaki itu jatuh hati?
Natasya beranjak dari duduknya, membuat Delfano ikut melakukan hal yang sama dengan kening mengerut.
“Mau kemana?”
“Pulang,”
Delfano melirik jam di pergelangan tangannya, pukul 23.55. “Udah malam, nginap disini aja.” ucap Delfano membuat Natasya terdiam, kembali memikirkan keputusannya.
Natasya mengeluarkan ponsel milik Delfano dari cardigan nya, membuat Delfano mengerutkan keningnya melihat ponselnya yang berada di perempuan itu.
“Kok hp gue di lo?”
“Tadi di titip bartender, dikasih ke gue.”
Delfano mengangguk-angguk, “Sekarang mau ngapain?” tanya Delfano saat Natasya mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.
“Mau telpon bunda, ngabarin.” jawab Natasya, dia kini menempelkan ponselnya ke telinga, menunggu panggilan tersebut tersambung dengan bundanya.
“Hallo Bun,”
“...”
“Iya maaf, Bun. Ini lagi di rumah Fano, abis bantuin nih anak.”
“...”
“Masalah kecil lah. Jadi boleh, gak nginep? Udah malem.”
“... ”
“Iya... Iya. Kalau macam-macam tinggal kasih pelajaran aja Bun. Okay, makasih Bun.”
Tut.
Panggilan selesai, dia segera meletakkan ponselnya di atas meja. Kini dia berjalan meninggalkan Delfano yang mengerutkan keningnya melihat langkah Natasya kearah dapur.
“Mau ngapain, Ta?” tanya Delfano, dia mendudukkan tubuhnya di atas kursi bar, memperhatikan Natasya yang tengah mengisi panci mie dengan air.
Natasya meletakkan panci berisi air tersebut di atas kompor listrik, “Mau masak mie, lapar.” jawab Natasya, dia kini beranjak menuju lemari berisi deretan mie instan. Dia mengambil satu mie instan, berjalan kembali kearah kompor.
Delfano tersenyum, “Mau dong, lapar juga nih.” pinta Delfano.
“Berdua aja, ya? Soalnya ini mie nya yang isi dua. Gakpapa?” tanya Natasya, menunjukkan mie instan ditangannya yang langsung diangguki Delfano.
Natasya mulai melakukan aktifitas memasak mie instannya dengan Delfano yang hanya mampu diam tersenyum memperhatikan perempuan itu.
Jujur, Natasya berkali-kali lipat lebih cantik jika sedang fokus memasak. Ya, meskipun yang dimasaknya hanya berupa mie instan saja.
Beberapa menit berlalu, mie instan telah siap disajikan dalam mangkuk yang lumayan besar. Dia membawa mangkuk mie yang diberi topping bakso dan sayuran kearah meja bar dimana Delfano berada.
“Makan,” ucap Natasya riang, dia segera mengaduk mie tersebut menjadi satu kesatuan sedangkan Delfano hanya menunggu dengan sumpit ditangannya.
Natasya mulai menyeruput kuah mie tersebut. Gurih, dasar rakyat micin. Dia mulai memakan mie nya, tersenyum puas menikmati mie di mulutnya yang berkali-kali lipat lebih lezat dari biasanya.
Delfano langsung menyeruput mie dengan sumpitnya, tersenyum lebar menikmati rasa nikmat yang memanjakan mulutnya. Jujur nih ya, mie instan buatan Natasya memang tak ada tandingannya, enak banget. Ya, meskipun hanya mie instan, tapi mie instan buatan Natasya ini diracik dengan berbagai bumbu lain yang membuat rasanya jauh lebih nikmat.
Mereka menikmati mie instan satu mangkuk berdua itu, saling tertawa sambil sesekali Natasya menceritakan kekesalan di tempat laknat dimana dia menjemput Delfano tadi.
Delfano mengunyah pelan mie di mulutnya, terus memperhatikan Natasya yang tak henti-hentinya bercerita. Hingga tangannya terulur menyentuh sudut bibir perempuan itu, mengusapnya pelan menghilangkan kuah mie yang tersisa di sudut bibir perempuan itu.
Natasya terdiam, membulatkan matanya melihat perlakuan Delfano yang berhasil membuat jantungnya berdetak tak karuan. Dengan cepat, dia menjauhkan tangan Delfano dari sudut bibirnya, mengusap sendiri sudut bibirnya itu. Dia gelagapan, begitupun Delfano.
“Fan, gue ke toilet dulu, ya, pengen pipis.”
Setelah mengucapkan itu, Natasya segera berlari meninggalkan Delfano yang mulai terkekeh melihat tingkah Nataysa.
“Tata... Tata... Lucu deh lo.” makin suka.
Sedangkan Natasya bukannya masuk ke toilet, dia hanya berdiri tak jauh dari Delfano, dia menyenderkan tubuhnya ke tembok, mendekap tubuhnya sendiri sambil merasakan detak jantungnya yang tak karuan.
Plis jantung, jangan geer.