![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Anya turun dari ojek online yang dipesannya, dia segera menyerahkan sejumlah uang yang harus dibayar, kemudian bergegas pergi memasuki cafe di depannya. Sebuah cafe yang menjual berbagai jenis minuman, mulai dari kopi, jus sampai teh. Semuanya ada di cafe minimalis ini.
Anya mengedarkan pandangannya, mencari tempat kosong untuknya duduk. Namun, objek di depannya membuatnya tersenyum lebar. Bukan, bukan dia bertemu Sebastian yang membuatnya senang, melainkan dia bertemu Delfano.
Oke, dia memang senang bertemu Delfano. Tapi, arti senang yang dia maksud tak ada hubungannya dengan perasaannya. Toh senang yang dia rasakan antara bertemu Sebastian dan Delfano juga berbeda.
Anya melangkah menghampiri Delfano yang tengah duduk sendiri di meja pojok. Lelaki itu tengah diam bersandar sambil mengaduk-aduk minumannya.
“Fan,”
Delfano mendongak, sedangkan Anya langsung duduk di kursi samping Delfano yang kosong.
“Kok Lo disini sih? Terus kenapa tadi gak sekolah?” tanya Anya, dia mengedarkan pandangannya. “Yang lain mana? Katanya Natasya sakit?” lanjut Anya.
Delfano mengangguk, dia tak berminat menanggapi pertanyaan Anya dengan ucapannya. Susana hatinya sedang berbeda dan hanya dengan mengangguk dia rasa cukup.
Anya mengerutkan keningnya, tak biasanya Delfano seperti ini. “Lo kenapa, Fan?” tanya Anya pelan.
Delfano menggeleng.
Anya terdiam, mencoba memaklumi. Tapi, dia cukup penasaran, sehingga membuatnya tak akan berhenti mencoba bertanya hingga Delfano sendiri yang menceritakannya.
“Kenapa, sih?” tanya Anya, lagi. Bahkan tangannya kini terulur memegang punggung tangan Delfano yang diletakkan di atas meja.
Anya bisa melihat keterkejutan Delfano saat tangannya menyentuh tangan lelaki itu. Tapi, dia seolah tak peduli. Dia masih menunggu lelaki dihadapannya bicara.
Delfano menarik tangannya yang disentuh Anya. Bukan karena jijik atau apa. Tapi, dia hanya sedang mencoba menjaga perasaan seseorang yang sudah berstatus sebagai pacarnya. “Gue gak papa kok, Nya. Lo tenang aja.” ucap Delfano, akhirnya lelaki itu mengeluarkan kata dari mulutnya.
Anya menghela napas. “Lo udah dari tadi disini?” tanya Anya.
Delfano menggeleng, “Enggak, baru aja datang.”
“Kalian kenapa sih gak sekolah? Terus, Natasya sakit apa?”
“Natasya sakit, kecapean dan sekarang di rumah sakit. Makanya kita semua di rumah sakit, jagain dia.” jawab Delfano.
“Terus yang lainnya, dimana? Masih di rumah sakit?”
Delfano mengangguk.
“Terus kenapa lo disini? Kan lo pacarnya.”
Delfano terdiam. Sebenarnya betul apa yang dikatakan Anya, kenapa juga dia pergi begitu saja. Dia kan pacar dari Natasya, harusnya dia yang ada di sana bersama perempuan itu.
***
Antonio memasuki kamar inap Natasya, di sana Natasya tengah berbaring bersama Sebastian yang duduk disampingnya sambil menyaksikan beberapa video lucu dari ponsel Sebastian.
“Yan, gue udah salat. Mending sekarang lo deh, gantian biar gue yang jaga Nana.” ucap Antonio yang diangguki Sebastian.
Sebastian beranjak dari duduknya. “Gue salat dulu ya, Sya.” ucap Sebastian, Natasya mengangguk. Sebastian langsung bergegas pergi meninggalkan Natasya berdua bersama Antonio.
Antonio menatap lama Natasya yang tengah terfokus pada video di ponsel sambil sesekali tertawa. Dia menatap dalam perempuan itu.
Flashback on
Antonio mengerutkan keningnya saat tak melihat adanya tanda-tanda kedatangan kedua sahabatnya. Dia bingung, sebenarnya sedang apa mereka hingga lama sekali datang kembali.
“Ton,” panggil Natasya pelan yang membuat Antonio menatap perempuan itu.
Antonio tersenyum, akhirnya dia mendengar suara perempuan itu yang sejak tadi hanya diam. “Kenapa?” tanya Antonio pelan.
“Haus,”
“Mau minum? Jus atau air putih?”
“Air putih,”
Antonio mengangguk, dia pikir ada air putih disini ternyata hanya ada jus yang tersisa. “Yaudah, gue ambil dulu di kamar, ya. Nanti gue balik lagi kesini.” ucap Antonio, dia sudah beranjak dari duduknya.
Natasya mengangguk.
Antonio bergegas pergi, dia mempercepat langkahnya karena tak ingin membuat Natasya menunggu terlalu lama.
“Wow, gue kaget loh. Ternyata kalian berdua nyimpen rahasia gitu? Wow.”
“Fan—”
“Udahlah, bacot!”
Antonio mengerutkan keningnya saat melihat Delfano yang tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan Sebastian yang hanya diam. Dia bingung permasalahan apa yang tengah mereka debatkan. Apakah ini ada hubungannya dengan Natasya? Tanya hatinya.
“Lo gak tahu apa-apa, Fan. Lo gak tahu kalau ternyata Syasya sakit parah, Fan. Andai lo tahu itu.”
Antonio sukses menghentikan langkahnya menghampiri Sebastian. Tadi dia berniat menghampiri lelaki itu, tapi kenyataan yang baru saja di dengarnya membuat dia mengurungkan niatnya. Dia—
Flashback off
“Ton!”
Antonio terlonjak saat tiba-tiba Natasya memanggilnya sambil menarik lengannya. Dia seperti kebingungan, namun dengan cepat dia bisa mengubah raut wajahnya itu. Dia tersenyum, “Kenapa?” tanya Anton, dia sudah menarik kursi dan duduk disamping ranjang Natasya.
Natasya menggeleng, dia tersenyum. “Yang harusnya tanya tuh gue. Lokenapa?” tanya balik Natasya, dia terkekeh.
Antonio kembali terdiam. “Na,” panggil Antonio yang hanya mendapat gumaman dari Natasya, mereka saling tatap.
“Lo kan selalu tanya dulu sama gue kalo pengen peluk.” lanjut Antonio, Natasya mengangguk. Antonio tersenyum, “Sekarang gantian, gue yang tanya. Kalau gue peluk lo, boleh, gak?” sambung Antonio yang membuat Natasya terkekeh.
Bukan karena pertanyaan Antonio, lebih tepatnya terkekeh karena melihat wajah Antonio yang menurutnya lucu. Coba bayangkan, wajah Antonio yang biasanya tengil kini memelas seolah ada beban pikiran yang tengah dipikul lelaki itu.
“Kalau gue bilang gak boleh, gimana?” tanya balik Natasya, dia masih dan akan selalu ingat kalimat itu. Kalimat yang selalu ditanya balik saat dia meminta pelukan lelaki itu.
Lain Natasya, lain juga Antonio.
Biasanya Natasya tetap kekeh dengan permintaan, beda dengan Antonio yang lebih mengiyakan saja meskipun jawabannya tak sesuai harapannya.
Antonio mengendikkan bahunya. “Ya, gak papa sih. Yang penting udah tanya dulu.” jawab Antonio, dia masih tersenyum.
Natasya terkekeh, dia menggerakkan jarinya meminta Antonio lebih mendekat kearahnya. Antonio mengerutkan keningnya, dia bingung untuk apa Natasya memintanya lebih dekat. Tapi, Antonio tak peduli, dia tetap mengikuti perintah Natasya.
Antonio terkejut tentunya saat Natasya memeluknya, dia awalnya menegang, namun kemudian tersenyum sambil membalas pelukan perempuan itu pelan.
“Kenapa sih minta di peluk, gak biasanya.” tukas Natasya, mereka masih dalam posisi berpelukan. “Lagi ada problem, ya?” lanjut Natasya.
“Kata siapa?”
“Kata gue, kan biasanya gitu. Gue aja kalau minta pelukan lo, itu berarti gue ada masalah. Mungkin lo juga gitu.” jawab Natasya, dia melepas pelan pelukannya. Rasanya cukup pelukan kali ini.
Antonio tersenyum, manis. “Makasih, ya.”
“Kembali kasih.”
Antonio kembali duduk, dia masih menatap Natasya. Dia tiba-tiba teringat sesuatu. “Na, menurut lo, bohong itu bagus gak sih?” tanya Antonio.
“Bohong? Dalam hal apa?”
“Apapun,”
Natasya diam, dia mencoba memikirkan jawaban apa yang pas untuk pertanyaan Antonio ini. “Kalau menurut gue, kita harus tahu dulu dalam konteks apa. Kalau bohongnya itu, bohong. Iya, bohongnya itu...”
Antonio mengerutkan keningnya saat melihat Natasya yang terlihat berbeda, perempuan itu seperti linglung—bingung dengan ucapannya sendiri. Dia masih mendengarkan ucapan Natasya dan benar apa yang diucapkan Natasya terlalu berbelit-belit, seolah perempuan itu bingung sendiri dengan ucapannya.
Antonio beranjak, dia memegang erat pundak Natasya yang kini bergetar. “Lo gakpapa kan?” tanya Antonio khawatir. Dia khawatir sejak tadi, apalagi kini dia melihat wajah Natasya yang sudah berkaca-kaca namun masih kebingungan.
“Bohong?” gumam Natasya pelan, keningnya mengerut bingung atas ucapannya sendiri. “Bohong,”
“Na!”
“Bohong?”
“Na!”
“Hiks... Hiks...”
“NATASYA!!”
Antonio menggeleng, dia bingung harus melakukan apa. Dia langsung memencet tombol di atas ranjang Natasya, tombol yang langsung terhubung nantinya dengan suster dan dokter.
“Na... Tenang, Na. Tenang...”