Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-ENAMPULUHSATU



Ruangan itu masih tertutup rapat. Mata mereka gusar menatap ruangan yang tertutup rapat itu. Tangan Antonio bertautan, dia khawatir dengan keadaan orang di dalam sana, sedangkan Sebastian dia bersandar sambil menatap lurus ke depan. Sebastian sama khawatirnya seperti Antonio, namun wajah khawatirnya masih bisa dia tutupi oleh wajah datarnya.


“Kenapa lo gak cerita sama kita?” tanya Antonio, suara dingin dan menusuk.


Sebastian yang mendengar itu hanya mengerutkan keningnya, dia tak tahu maksud ucapan Antonio apa.


Antonio menoleh, menatap serius Sebastian yang bingung. “Maksud lo apa, rahasiakan penyakit Nana?” tanya Antonio, alisnya sudah menukik marah.


Sebastian terkejut, tentu. Tak menyangka jika Antonio akan berkata demikian. “Ton, lo tahu?” tanya Sebastian tak percaya. Antonio diam, tak menjawab dan hanya menatap marah Sebastian. “Ton, gue, gue cuma—”


“Lo masih anggap kita gak sih?” tanya Antonio marah, kini dia sudah beranjak dari duduknya berdiri menjulang tinggi menatap marah Sebastian yang mendongak menatapnya. “Atau lo mau jadi sok pahlawan, yang nantinya selalu ada buat Nana? Gitu?” lanjut Antonio.


Sebastian menggeleng, “Gue gak sepicik itu, gue cuma—”


“—terus kenapa!?” teriak Antonio, dia kesal dengan Sebastian yang terkesan santai. “Kenapa lo gak cerita sama kita, sama gue, sama Fano. Kenapa, Yan?” lirih Antonio.


Sebastian diam.


Antonio mendengus, dia mengurut keningnya yang terasa pening. Dia tak habis pikir dengan Sebastien, bisa-bisanya lelaki itu menyembunyikan hal sebesar ini. Dia berjalan pelan ke depan, kemudian bersandar pada pilar.


Sebastian yang tadi menunduk, kini mendongak. Dia beranjak dari duduknya kemudian berjalan menghampiri Antonio. Dia melipat tangan di depan, melirik sekilas Antonio yang tak sedikitpun menatapnya. “Syasya gak mau buat kita khawatir.” ucap Sebastian, Antonio menoleh.


“Dan, akan lebih khawatir lagi, kalau kita tahu setelah Natasya kenapa-napa,” balas Antonio.


Sebastian menghela napas pelan, dia sebenarnya setuju dengan ucapan Antonio. Tapi, mau bagaimana lagi. Emma dan Natasya melarangnya, membuatnya tak bisa melakukan apapun.


“Sejak kapan lo tahu?” tanya Antonio, lagi.


“Baru-baru ini, saat gue gak sengaja nemuin dia di rumah sakit.”


“Nana sakit apa?”


“Kanker otak, stadium akhir.”


Antonio terlonjak, dia tak percaya dengan ucapan Sebastian. Dia menggeleng pelan, “Gak mungkin,” gumam Antonio, dia tersenyum pilu.


“Itu kenyataannya.”


Antonio merosot, tubuhnya kini terduduk. “Gak mungkin, gak mungkin.” gumam Antonio pelan. “Kenapa, bisa?” tanya Antonio lagi, dia masih tak percaya.


Sebastian menyejajarkan tubuhnya, dia menggeleng pelan. “Gue juga gak tahu, Ton.” jawab Sebastian.


Mereka sama diam, menatap kosong ke depan.


“Tian, Anton!”


Mereka menoleh, menatap Emma yang tergesa-gesa menghampiri mereka.


“Nata, kenapa? Dia gak papa kan?” tanya Emma cemas, dia menggoyangkan pundak Antonio dan Sebastian bergantian. Dia butuh jawaban, sedangkan dua lelaki muda dihadapannya tak memberikan sedikitpun jawaban.


Belum sempat mereka menjawab, pintu ruangan Natasya kini sudah terbuka menampilkan seorang dokter bersama suster. Mereka langsung menghampirinya.


“Mari ke ruangan saya.”


***


Antonio menatap lurus ke depan—ke jalanan yang cukup lenggang. Dia menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala, pikirannya masih tertuju pada kejadian beberapa saat yang lalu dimana Natasya yang menangis tersedu-sedu.


Antonio ingat bahkan hapal bagaimana tangis Natasya saat itu. Bahkan rasanya dia bisa merasakan rasa sakit yang tengah dirasakan perempuan itu.


Antonio menghela napas gusar. “Semoga lo cepat sembuh, Na. Gue gak mau kehilangan lo.” gumam Antonio pelan, dia mengedarkan pandangannya sekejap, namun kemudian memfokuskan penglihatannya pada satu objek.


Anton memicingkan matanya, mencoba memastikan. Dia tidak punya riwayat penyakit yang berhubungan dengan mata dan dia juga sudah dua kali melihat ini semua, dia yakin apa yang dilihatnya memang benar adanya. Di depan matanya dan untuk kedua kalinya dia melihat ayah Natasya—Bramantyo bersama seorang wanita, tentunya bukan Emma.


“Itu beneran ayah Natasya kan?” gumamnya pelan, dia sedikit mencondongkan tubuhnya.


Tin... Tin...


Saking fokusnya, Antonio tak sadar bahwa lampu hijau sudah menyala. Buru-buru dia menyalakan mesin mobilnya melaju ke tempat dimana dia menemukan ayah Natasya berada. Dia tak peduli jika harus putar balik yang terpenting dia bisa memergoki pria paruh baya itu saat ini juga.


Sayang, dia kalah cepat dengan ayah Natasya yang kini sudah berjalan memasuki mobil dengan wanita itu.


Antonio menggeram kesal.


Mobilnya mengikuti kemana arah mobil ayah Natasya melaju. Semua yang dilihatnya, semakin membuat dia yakin tentang pengkhianatan yang dilakukan ayah Natasya. Apalagi saat pria paruh baya itu turun dari mobil dan memeluk serta mencium puncak kepala wanita itu.


Antonio mendesis, dia turun dari mobilnya saat wanita itu memasuki sebuah rumah didepannya. Dia langsung menghampiri ayah Natasya membuat pria itu terkejut.


“Anton,”


Antonio bisa melihat keterkejutan itu, dia menarik sudut bibirnya tersenyum sinis. “Gak nyangka. Ayah yang selalu Nana banggain ternyata khianati bunda.” ucap Antonio, dia menggeleng tak percaya.


Bramantyo gelagapan. “Anton, ini gak seperti yang kamu kira. Ayah—”


“Aku lihat semuanya. Ayah dengan terang-terangan peluk, bahkan cium wanita tadi.” potong Antonio, dia tak suka ada pembelaan atas semua kesalahan yang memang sudah jelas. “Apa ayah gak mikirin gimana perasaan Nana?” lanjut Antonio.


Bramantyo diam, dia menghela napas gusar. “Anton, ayah sebenarnya—”


“Papa,”


Antonio sontak menoleh saat seseorang memanggil ayah Natasya dengan sebutan papa. Sontak dia terkejut saat melihat orang didepannya, sama sepertinya orang itu juga terkejut.


“Anton,”


“Anya.”


Ya, orang dihadapan Antonio adalah Anya. Antonio menggeleng pelan, dia tak percaya sekarang. Apa yang dilihat dan didengarnya ini nyata. Dia tak percaya, ayah Natasya adalah Papa Anya. Berarti mereka saudara. Apa Natasya tahu akan hal ini?


Anya diam, dia tak tahu harus berkata apa sekarang. Semuanya sudah terbongkar. Antonio tahu siapa dirinya sekarang. Bahkan mungkin nanti Sebastian dan Delfano pun akan tahu.


Antonio kembali menatap ayah Natasya, dia menggeleng tak percaya. “Aku kecewa sama ayah.” ucap Antonio sambil tersenyum miris kemudian membalikkan tubuhnya meninggalkan Bramantyo. Dia hanya melirik sekilas Anya tanpa berkata apapun. Dia segera pergi meninggalkan tempat ini tanpa mau mendengar penjelasan apapun.