Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-SEMBILANBELAS



“Gimana, dok?”


Emma menatap cemas dokter muda di hadapannya yang tengah membuka map cokelat besar yang isinya merupakan hasil rontgen yang diambil beberapa hari yang lalu.


Dokter Tama yang merupakan dokter spesialis otak, menatap sendu Emma. Dengan prihatin, dia menatap perempuan paruh baya di hadapannya saat ini. Dia mengangguk pelan, “Positif, stadium 3.”


Emma terkejut, menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan dokter padanya. Tak kuasa, air mata langsung menggenang dimatanya. Dia menumpu kepalanya di atas meja, menunduk untuk menyembunyikan isakannnya kala membayangkan penyakit ganas itu. Dia mendongak kembali dengan sisa air matanya, menatap dokter Tama yang masih terdiam dengan wajah sendunya.


“Apa ada cara agar bisa sembuh dari penyakit itu?” tanya Emma, tangis tak bisa lagi dia sembunyikan.


“Maaf, bukannya saya mencoba mendahului takdir Tuhan. Tapi, sebagian orang yang menderita penyakit ini, susah sembuh. Kemungkinan untuk sembuh dan bertahan hidupnya itu sangat kecil.”


Emma menggeleng, “Tapi, kemoterapi? Pasti, bisa kan?” tanya Emma, dia tak ingin hilang harap.


“Kemoterapi hanya untuk mengurangi sakitnya, belum tentu menghilangkan penyakitnya.”


Emma semakin terisak, dia bingung harus bagaimana. “Terus, saya harus gimana, dok?” tanya Emma.


”Kalau ibu berkenan, besok kita bisa langsung lakukan kemoterapi, hitung-hitung mengurangi rasa sakitnya.” usul dokter Tama yang langsung mendapat anggukan. “Tapi kita kembali lagi, kita hanya bisa berserah pada Tuhan karena Dia yang tau takdir kedepannya.” lanjut dokter Tama.


***


“... Mantapuu Jiwaaaaaa!”


Natasya mendesah pelan saat video YouTube yang baru saja di tontonnya selesai, padahal dia masih ingin menyaksikan konten dari youtuber favoritnya itu. Tapi, apa boleh buat? Hampir semua video telah di tontonnya dan video yang baru di tontonnya itu adalah upload an terbaru dari youtuber favoritnya itu.


“Gila sih, seru banget sih nonton Jerome.” gumam Natasya, dia mendongak sebentar sambil menunggu kedatangan sahabatnya kemudian kembali men-scroll beranda YouTube sambil menunggu kedatangan sahabatnya itu.


“Ta,” panggil Delfano yang membuat Natasya mendongak. Perempuan itu segera memasukkan ponselnya ke saku rok seragamnya, mengeratkan tasnya kemudian beranjak dari duduknya.


Delfano tersenyum, berdiri di hadapan Natasya. “Lama, ya?” tanya Delfano.


Natasya mengerucut kan bibirnya, mengerutkan kedua alisnya. “Iya, lama banget. Sampe bosan gue nunggunya.” jawab Natasya.


Delfano terkekeh, tangannya terulur mengacak puncak kepala Natasya, membuat si empunya mendengus. “Lebay.” tukas Delfano membuat Natasya mencebik sambil merapikan kembali rambutnya.


Natasya menatap sebal Delfano yang masih terkekeh, meskipun tak bisa dipungkiri dia senang di perlakukan seperti itu.


“Lo kenapa sih hobi banget ngacak rambut gue? Kan, berantakan.” ketus Natasya, dia melirik tajam Delfano kemudian menatap pantulan wajahnya lewat layar ponselnya.


“Karena lo spesial.”


“Hah?”


Mereka berjalan beriringan menuju lantai dasar, melewati koridor anak IPA. Delfano melirik Natasya, merangkul perempuan itu yang masih sibuk merapikan rambutnya yang padahal masih rapi, apa yang dilakukan Delfano sebelumnya taj berefek apapun pada perempuan itu.


“Lo pernah gak, liat gue ngelakuin itu ke cewek-cewek gue?” tanya Delfano, membuat Natasya menoleh kearahnya.


Natasya memasukkan ponselnya kembali ke saku rok, mengerutkan kening menatap Delfano. “Lakuin, apa?” tanya Natasya, bingung.


Delfano mendengus, dia kembali mengacak rambut Natasya yang malah membuat kembali mendengus kesal. Natasya menghentikan langkahnya, dia menatap sebal Delfano yang malah terkekeh melihat wajahnya yang ditekuk.


Natasya mendengus, dia menatap tajam Delfano yang terkekeh sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Dia kembali mengambil ponselnya, menatap pantulan wajahnya dengan rambut yang lebih acak-acakan dari yang pertama.


“Lo pernah gak liat gue lakuin itu ke cewek lain?” tanya Delfano, membuat Natasya mendongak, namun wajah perempuan itu tak lagi di tekuk.


Melihat keterdiaman Natasya, membuat Delfano tersenyum, dia segera merangkul pundak perempuan itu dan kembali berjalan. “Karena lo spesial, jadinya cuman lo yang gue perlakukan kayak gitu.” lanjut Delfano, membuat Natasya yang mendengarnya tersipu malu.


Aduh... Please, jangan blushing. Dan jantung, jangan deg-degan keras, nanti kedengaran.


***


Sebastian menatap datar perempuan yang berdiri tepat di pintu kelasnya, menghalangi jalannya yang hendak keluar dari kelas karena jam pulang sudah berbunyi. Dia segera melangkahkan kakinya, melewati begitu saja Anya yang mendengus melihat itu semua.


“Sabar, ya dia emang gitu.”


Anya menoleh, tersenyum mendapati Antonio yang berdiri di sampingnya. “Datar banget, ya?” tanya Anya sambil tersenyum kikuk, mereka berjalan beriringan melewati koridor anak IPS dengan Sebastian yang lebih dulu berjalan di depan mereka.


Antonio terkekeh, “Bahkan, kalau dibandingin sama triplek, lebih datar dia daripada triplek itu.” tukas Antonio yang mendapat tawa pelan dari Anya.


“Beda banget sama kalian, lebih luwes.”


“Yoi,”


“Lo lucu juga ya, gimana... gitu.”


Antonio terdiam, dia melirik Anya yang tersenyum manis kearahnya. Entah kenapa, senyum Anya itu membuat sesuatu dihatinya merasa berbeda. Ya, meskipun dia sudah biasa mendapat senyuman dari perempuan manapun, tetap saja seperti ada yang berbeda.


Kenapa senyum Anya sama kayak Natasya? Maksudnya—Enggak-enggak, tetep Natasya yang manis, gak ada yang lain.


Anya mengerutkan keningnya, dia menatap bingung Antonio yang tiba-tiba menggeleng, seolah memikirkan sesuatu yang tak sependapat dengannya. “Lo kenapa?” tanya Anya bingung.


Antonio terlonjak, “Hah? Gakpapa kok, I'm okay.”


Anya mengendikkan bahunya, dia memilih tak terlalu peduli. Toh, tak ada hubungannya dengan dia.


“Kalian lama banget sih!” tukas Delfano, dia beranjak dari duduknya setelah kedatangan mereka


Antonio memberangus kesal, “Yaelah, telat semenit juga.” tukas Antonio, dia langsung menghampiri Natasya yang tengah duduk menikmati orange juice dalam cup. Dia segera merebut jus tersebut yang langsung diberikan begitu saja.


Anya yang melihat itu terkejut, dia cukup kaget dengan persahabatan diantara mereka yang sepertinya memang benar-benar bersahabat.


Natasya beranjak dari duduknya, dia mencubit pelan telinga Delfano, membuat si empunya meringis. “Lo juga lama tadi, malah sepuluh menit.” ucap Natasya, mendapat kekehan dari Delfano.


“Udahlah. Yuk, pulang aja.” ajak Sebastian, yang sedari tadi hanya diam.


Natasya setuju, dia menatap Anya. “Lo pulang bareng Tian lagi, kan?” tanya Natasya.


Bukan Anya yang menjawab, melainkan Delfano. “Dia pulang bareng gue aja,” jawab Delfano yang membuat Natasya terdiam menatap lelaki itu.


“Bareng lo?” tanya Natasya mencoba memastikan, Delfano mengangguk mantap. Dia kini menatap Anya, mencoba meminta penjelasan dari perempuan itu.


Anya tersenyum, mengangguk. “Iya, gue sama Delfano aja.” jawab Anya.


Natasya mengangguk-angguk, hanya ber 'oh' ria. Dia kini menatap Sebastian, berjalan menghampiri Sebastian kemudian merangkul lengan lelaki itu. “Gue bareng lo aja deh. Kan Fano mau langsung anterin Anya.” tukas Natasya, mendapat anggukan dari Sebastian. Dia sebenarnya sedang menyendiri, tapi sepertinya yang di sindir tak merasa.


“Bareng gue aja kenapa sih?” tukas Antonio, menatap sebal Natasya yang tengah merangkul Sebastian.


Natasya menggeleng, “Ogah, panas.” sahut Natasya, dia segera menarik Sebastian kearah parkiran meninggalkan Antonio yang mendengus dan Delfano serta Anya yang terus menatap kepergian mereka dengan berbagai kalimat yang terlontar di otak mereka.


“Besok-besok, gue bawa mobil deh.” tukas Antonio yang hanya mendapat keacuhan dari Natasya yang kini malah memeletkan lidahnya, mengejek Antonio.


Mereka berjalan menuju parkiran, mengikuti Natasya dan Sebastian yang sudah lebih dulu sampai.


Anya menghentikan langkahnya yang hendak memasuki mobil Delfano, menatap pemandangan di depannya. “Kenapa sih, semuanya kayak me-spesialkan Natasya?Sampai-sampai, mau masuk aja di bukain pintu. Dan, lagi ini? Dia bolehin Natasya duduk di depan, sedangkan gue dilarang?” batin Anya berbicara.


Delfano pun melakukan hal yang sama, dia terus menatap Natasya yang memasuki mobil Sebastian.