![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Anya menghampiri Delfano yang duduk sendiri di kursi pohon. Dia berhenti sejenak, menatap Delfano yang menatap kosong ke depan. Hanya Delfano yang sepertinya tak membenci dia, hanya Delfano yang sepertinya masih peduli kepadanya dan hanya Delfano yang lebih bersahabat dengannya. Bukan kah sejak awal memang hanya Delfano yang bisa menerimanya bukan?
Anya duduk disamping Delfano. Bahkan, lelaki itu masih belum sadar akan kehadirannya. Ditepuknya pelan pundak Delfano, membuat lelaki itu sedikit terlonjak dan menatap kearahnya.
“Anya.” gumam Delfano saat menemukan Anya duduk disampingnya. “Lo sejak kapan disini?” tanya Delfano.
Anya tersenyum, dia menatap lurus ke depan. “Sejak lo melamun, gue udah disini.” jawab Anya, dia melirik sekilas Delfano.
Delfano terkekeh.
“Lo pikirin apa sih?”
Delfano menoleh, dia menggeleng.
“Bohong banget!” ketus Anya. “Lo sejak tadi melamun, masa iya gak mikirin apapun. Jujur deh sama gue, pikirin apa sih?” tanya Anya, dia sedikit memaksa.
Delfano menghela napas kasar. “Natasya,”
Anya terdiam, dia memutar bola matanya jengah. Sebenarnya dia sudah bisa menebak sejak awal. “Apa sih istimewanya dia?” tanya Anya yang sontak membuat Delfano menatapnya.
Delfano mengerutkan keningnya bingung mendengar pertanyaan Anya. Dia tersenyum, enggan menjawab pertanyaan itu. “Gue gak tahu masalah lo apa. Tapi, gue mohon. Jangan bawa-bawa Natasya dalam permasalahan lo.” ucap Delfano, dia berniat beranjak dari duduknya, namun suara Anya kembali menginstruksikannya untuk mengurungkan niatnya.
“Kalau gue bilang, akar permasalahannya ada di Natasya. Apa lo percaya?” tanya Anya.
“Kalau akar masalah yang lo maksud adalah karena Sebastian, gue rasa itu gak bener. Sebastian yang suka sama Natasya, bukan Natasya. Jadi, gue mohon. Hilangin rasa benci lo itu sama cewek gue.” jawab Delfano, dia bergegas pergi meninggalkan Anya seorang diri.
Iya, memang Natasya akar semua permasalahan ini.
“Bukan cuma karena Sebastian, Fan. Tapi, lebih ke perasaan gue dan rasa kecewa gue.” gumam Anya pelan, dia menatap kepergian Delfano yang semakin menjauh dari pandangannya.
***
Delfano berjalan di rooftop. Dia berjalan lurus, kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas sofa buluk seperti biasa. Pandangannya lurus ke depan, dia merogoh ponsel di sakunya.
Masih sama, tak ada yang berubah.
Bahkan pesan yang dikirimkannya tak ada satupun yang mendapat balasan. Pesan saja tidak dibalas, apalagi telpon yang sudah dia lakukan sejak seminggu terakhir ini. Rasanya seperti sia-sia, tak berguna.
Delfano menghela napas pelan, dia menengadah dengan mata yang menyipit menatap langit tanpa awan. Langit bersih tanpa awan. “Lo kemana sih, Ta?” gumam Delfano, dia masih menatap langit itu tanpa berkedip, pikirannya melayang pada sosok perempuan yang tiba-tiba terlukis di langit itu.
Kring... Kring...
Sebenarnya dia malas, namun apa boleh buat. Dia tetap beranjak dari duduknya saat mendengar bel masuk sudah berbunyi. Namun, baru saja dia melangkah tiba-tiba pinggangnya kembali sakit membuat dia jatuh seketika sambil terus meringis merasakan sakit di pinggangnya.
“Fano?!”
***
Antonio dan Sebastian menatap Delfano yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan wajah pucat. Mereka menatap tak percaya lelaki yang masih belum sadar dari pingsannya itu.
Delfano mengerjapkan matanya, meringis saat merasakan sakit di pinggangnya. Matanya sudah terbuka sempurna dan langsung bingung saat melihat dimana dia sekarang. Dia melirik kedua sahabatnya yang berdiri mematung di samping ranjangnya.
“Gue kenapa disini?” tanya Delfano, suaranya sedikit serak. Dia mengerutkan keningnya menatap kedua sahabatnya yang menatap tajam kearahnya.
“Bego!”
Umpatan yang keluar dari mulut Antonio membuat Delfano semakin mengerutkan keningnya. Dia tak tahu kemana arah pembicaraan lelaki itu. Dia melirik Sebastian yang menatap datar dan tajam kearahnya.
“Lo kenapa sih sembunyikan ini dari kita?” tanya Sebastian, dia masih menatap datar Delfano.
“Sembunyikan, apa?”
Antonio menggeleng tak percaya, dia menarik kasar kursi yang tak jauh darinya. Dia menatap tajam Delfano. “Lo sakit, gagal ginjal. Maksudnya apa?” tanya Antonio marah, menggebu-gebu.
Deg.
Delfano terkejut mendengar ucapan Antonio. Apa semuanya sudah berakhir? Apa rahasianya sudah terbongkar?
“Kalian...”
“Dokter yang sama, waktu kita ketemu pas Natasya sakit. Dia kasih tahu kita, semuanya.” jelas Sebastian, dia bisa melihat kebingungan dari Delfano.
Tunggu! Tapi, mereka sama. Antonio dan Sebastian bahkan menyembunyikan rahasia tentang Natasya dari lelaki itu. Lalu, apa gunanya teman? Apa?
Delfano memejamkan matanya perlahan, dia tersenyum menatap kedua sahabatnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Lelaki tidak boleh menangis bukan? “Sorry, gue cuma gak mau nyusahin kalian aja.”
“Nyusahin apa sih, Fan? Lo sahabat kita? Dari kecil kita bareng-bareng dan sekarang lo ngebahas tentang nyusahin? Kalo gitu, dari kecil lo udah nyusahin gue!” tukas Antonio, dia marah.
Delfano tersenyum kecut. “Udahlah, semuanya udah terlambat. Lagian, ini kesalahan gue. Salah gue yang terlalu banyak minum, ngerokok, and others!” jawab Delfano. Toh, memang benar salahnya, salahnya yang terlalu hidup bebas dan tak beraturan. Minum-minum beralkohol dan soda sesuka hati, merokok setiap saat bahkan terlalu sering makan makanan cepat saji.
“Tapi, Fan, seharusnya—”
“Udahlah, lagian—akhhh!!”
Delfano langsung meringis saat rasa sakit itu kembali menjalar di pinggangnya. Dia terus meringis membuat Antonio dan Sebastian terkejut dalam waktu bersamaan. Antonio mencoba menenangkan Delfano yang kesakitan, sedangkan Sebastian langsung berlari keluar ruang rawat inap ini untuk memanggil dokter.
***
Sebastian dan Antonio duduk di hadapan dokter wanita paruh baya. Dokter yang mereka temui saat Natasya sakit saat itu dan juga tempat yang sama, rumah sakit ini—tempat dimana Natasya kini juga di rawat. Berharap saja, semoga Delfano tak tahu.
“Saya sudah bilang, ginjal Fano itu sudah sangat rusak. Fungsi yang seharusnya bekerja secara optimal kini sudah menurun.”
“Kita harus melakukan apa dok, supaya teman saya sembuh?”
“Kami sudah melakukan banyak cuci darah sebelumnya, tapi keadaan gak berubah. Mungkin Delfano masih sering melakukan kegiatan hidup bebasnya. Jadi, cara satu-satunya adalah dengan donor ginjal.” jelas dokter tersebut yang diangguki Antonio dan Sebastian.
***
Natasya mengerjapkan, dia terbangun dari tidurnya saat rasa mual kembali menyerangnya. Dia mencoba beranjak dari baringan nya, namun rasa lemas membuatnya kesusahan, sedangkan rasa mual itu semakin menjadi.
Buk..
Pintu kamar inap Natasya terbuka, menampilkan Antonio yang langsung bergegas menghampirinya. “Na, kenapa?” tanya Antonio cemas, dia segera merangkul Natasya yang mencoba bangun.
Natasya tak menjawab, namun ekspresi hendak muntah membuat Antonio paham apa yang akan dilakukan Natasya. Antonio langsung mengambil ember kecil dibawah ranjang Natasya, tempat biasa yang digunakan perempuan itu saat hendak muntah.
Tak ada rasa jijik ataupun semacamnya. Antonio hanya menatap pilu Natasya sambil mengusap pelan punggung Natasya. Tak ada muntahan apapun, hanya muntahan air yang keluar dari mulut perempuan itu.
Dirasa sudah mereda, Natasya kembali membaringkan tubuhnya, tentunya dengan bantuan Antonio.
“Ini minum dulu.” titah Antonio, dia mengarahkan sedotan plastik ke mulut Natasya, membiarkan perempuan itu minum lewat sedotan.
Natasya diam, dia memejamkan matanya namun tak sepenuhnya terpejam. Sedangkan Antonio duduk disamping ranjang Natasya, mengusap pelan puncak kepala perempuan itu.
Natasya membuka matanya perlahan, dia menolehkan kepalanya kearah Antonio yang masih setia mengusap puncak kepalanya. Senyum manis terukir kembali di bibir pucat milik perempuan itu, membuat Antonio terkejut dan senang di waktu bersamaan. Sudah lama dia tak melihat senyum itu.
“Makasih, Ton.”
Antonio terharu, tentu. Dia tak menyangka. Dia tersenyum pilu menatap Natasya. “Lo ingat gue?” tanya Antonio tak percaya, Natasya mengangguk.
“Gue peluk lo ya, boleh?” tanya Antonio yang lagi diangguki Natasya. Dengan cepat, lelaki itu memeluk erat Natasya yang terbaring.
***
“Apa? Jadi, Fano juga sakit dan di rawat disini?” tanya Emma tak percaya, dia menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja dijelaskan Sebastian.
Emma bertemu dengan Sebastian saat hendak membeli air mineral dan beberapa keperluan lain yang sudah habis. Dia meninggalkan Natasya seorang diri di ruangannya, dia pikir tak apa. Toh, tadi putrinya sedang tidur.
Sebastian mengangguk, dia memainkan tangannya di atas gelas plastik berisi kopi yang dibelinya. “Iya, Bun. Dan harus dapat donor ginjal, secepatnya.” jawab Sebastian.
Emma terkejut. “Apa dia tahu, kalau Natasya sakit?” tanya Emma, pelan yang langsung mendapat gelengan dari Sebastian.
Emma menghela napas pelan, “Apa perlu kita kasih tahu Natasya tentang keadaan Delfano?”
Sebastian menggeleng. “Jangan, Bun. Aku gak mau keadaan Syasya nanti malah makin drop.” jawab Sebastian, dia menghela napas pelan.
Semuanya seperti buah simalakama, terlalu membingungkan untuk mereka. Di satu sisi, mereka ingin memberitahukan penyakit keduanya. Tapi, disisi lain mereka juga tak mau keadaan semakin memburuk karena berita buruk ini.
Huh!