![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Seperti biasa, mereka berangkat beriringan menuju kantin, tempat utama yang pasti mereka kunjungi setiap pagi. Mereka memilih duduk di meja pojok seperti biasa, saling bertukar cerita dan sesekali tertawa. Lagi dan lagi ketiga lelaki itu memperhatikan tawa dan senyum yang terbit di bibir dua perempuan itu.
Natasya dan Anya. Dua perempuan itu tak lepas pandangannya dari Antonio, Delfano dan Sebastian yang terus memperhatikan mereka, terutama di senyuman bibirnya.
Natasya menghentikan tawanya, begitupun Anya yang merasa aneh karena ditatap seintens ini oleh tiga lelaki tampan, terutama Sebastian—tatapan lelaki itu seakan lebih menusuk dan menggetarkan hatinya.
“Kalian kenapa liatin kita kayak gitu?” tanya Natasya, sedikit aneh saat mendapat tatapan ketiga sahabatnya, meskipun dia tak asing lagi dengan tatapan dari mereka. Tapi, kali ini seperti ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mereka itu.
Anya menyetujui ucapan Natasya, dia mengangguk. “Iya, kenapa? Ada yang aneh gitu sama kita?” tanya Anya, menimpali pertanyaan yang dilontarkan Natasya. Perempuan itu melirik wajahnya lewat cermin yang selalu dibawa di saku seragamnya, kemudian kembali menatap ketiga lelaki itu meminta jawaban.
Delfano, lelaki itu lebih dulu menjawab. “Enggak, gak ada kok. Sama-sama cantik,” puji Delfano yang seketika membuat Natasya dan Anya tersipu malu.
“Every time, every where sih gue mah.” jawab Natasya dengan percaya dirinya, dia memilih mengambil snack tic tac untuk cemilannya kali ini.
“Udah jelas itu mah.” jawab Sebastian, dia tersenyum pada Natasya.
Anya yang melihat respon yang diberikan Sebastian untuk Natasya yang duduk disampingnya, kesal, menggerutu dalam hati. “Kalo gue, Yan?” tanya Anya, dia menampilkan senyumannya, meminta pendapat yang sama dari lelaki itu.
Sebastian terdiam, kemudian berdehem acuh sambil beranjak dari duduknya hendak mengambil sebotol air mineral. Anya tersenyum lebar, mendapat respon seperti itu saja sudah membuat hatinya senang, apalagi respon lain yang lebih, mungkin hatinya tak akan kuat mendapatkan perhatian dari Sebastian itu.
“Oh iya, Na. Kok gue tadi pagi gak lihat ayah sih? Kemana, tuh?” tanya Antonio, dia ingat tadi saat sarapan di rumah Natasya tak menemukan keberadaan Bramantyo.
Anya yang mendengar itu diam, dia sibuk dengan pikirannya.
Natasya mengunyah snack di mulutnya, “Kata bunda sih, lagi ada urusan bisnis gitu, tiba-tiba harus pergi ke luar kota.” jawab Natasya, dia kembali menikmati makanannya.
Antonio mengangguk-angguk, mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Matanya berhenti pada Anya yang terdiam. “Lo belum tau, ya Ayah nya Nana?” tanya Antonio, seolah dia tengah menebak apa isi pikiran dari Anya yang sedari tadi diam.
Anya terlonjak, dia tersenyum kikuk. “Belum,” jawab Anya pelan, dia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
“Yaudah, nanti gue kenalin deh sama ayah.” ucap Natasya. “Oh, iya, nanti kalau udah kenalan tuh, lo harus manggil Ayah gue dengan sebutan ayah. Jangan om atau yang lainnya. Itu, peraturannya.” lanjut Natasya yang hanya mendapat anggukan dan senyuman dari Anya.
“Eh, kelas, yuk! Udah mau masuk nih.” ucap Natasya, melirik jam di pergelangan tangannya menatap satu persatu dari mereka.
Natasya beranjak dari duduknya, namun Delfano lebih dulu mencekal lengannya. “Kenapa?” tanya Natasya, dia mengerutkan keningnya.
“Bayar kali, udah makan juga.” ucap Delfano sambil terkekeh, dia melirik bungkusan snack yang masih di genggaman Natasya.
Natasya tersenyum lebar, dia lupa kalau sudah memakan jajanan di kantin ini. Perempuan itu mengalihkan perhatiannya dan jatuh pada satu titik. “Yan, sekalian bayarin, ya.” ucap Natasya sambil menggerakkan bungkusan snack di tangannya pada Sebastian yang tengah membayar air mineral yang dibeli lelaki itu.
Setelah semuanya selesai, mereka berjalan beriringan kembali. Natasya dan Delfano yang berjalan lebih dulu diikuti kedua sahabatnya, eh maksudnya tiga. Apa Anya pantas disebut sahabat?
Mereka terpisah diantara koridor anak IPA dan IPS. Natasya dan Delfano yang beriringan di koridor IPA menuju kelas mereka, sedangkan yang lain di koridor IPS.
“Ta,”
Natasya melirik Delfano, menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya. Delfano tersenyum, bukannya langsung menjawab lelaki itu malah melingkarkan tangannya di pundak perempuan itu, membuat si empunya tersentak kaget.
“Kenapa, nih? Ada maunya pasti.” tuding Natasya, perempuan itu tersenyum lebar menatap Delfano.
Delfano menggeleng, membuat Natasya mengerutkan keningnya. Mereka duduk di kursi depan kelas Natasya. Perempuan itu masih menatap Delfano meminta jawaban dari pertanyaannya yang belum mendapatkan jawaban.
“Masih ngerasa lucu aja, kalo ingat kemarin sore.”
Delfano terkekeh, “Itu loh, pas lo nangis cuma gara-gara gue udah khianati janji gue.” jelas Delfano yang membuat Natasya terdiam.
Bukan itu yang bikin gue nangis Fan, tapi lo yang tiba-tiba bilang jadian sama Anya. Itu yang bikin gue sakit hati.
Ingin rasanya Natasya mengatakan itu. Namun, tak bisa.
“Woy! Malah bengong.”
Natasya menoleh, menggeleng. “Enggak, kok.”
“Gemas...”
Natasya mencebik kesal, memukul-mukul pelan tangan Delfano yang mencubit gemas pipinya “Sakit, Fano...” kesal Natasya, dia melepaskan tangan Delfano.
“Ya abis, ngeselin sih. Tapi, bikin gemas!”
Natasya mendengus, melirik tajam Delfano.
“Natasya. Kenapa belum masuk ke kelas?”
Mereka terkejut mendapati keberadaan Bu Rini—guru fisika yang terkenal centil dan selalu berpenampilan menarik. Beliau mempunyai penampilan yang paling menarik di antara guru perempuan itu sekolah mereka, selalu bergaya layaknya anak muda di usianya yang tak lagi muda. Dan, jangan lupakan fakta bahwa centilnya itu pada murid pria tampan, salah satu contohnya—
“Eh... Fano, kok belum ke kelas sih?”
Lihat? Contohnya seperti itulah. Dari nada bicaranya saja sudah berbeda saat bertanya kepada Natasya tadi, dibanding Delfano. Terkesan dibuat-buat sih sebenarnya, tapi ya mau gimana lagi, sudah kodratnya mungkin.
“Fan, gue masuk dulu, ya.” bisik Natasya yang mendapat lirikan cukup tajam dari Bu Rini itu. Dia segera membungkuk sopan kemudian meninggalkan Delfano dan Bu Rini tanpa mendengar jawaban dari lelaki itu terlebih dahulu.
Delfano tersenyum kikuk menatap Bu Rini. Ok, dia memang playboy. Tapi ayolah, dia playboy juga pilih-pilih gak akan asal juga kali. Please deh, ah. “Maaf Bu, saya permisi mau ke kelas.” ucap Delfano kemudian segera bergegas pergi meninggalkan perempuan paruh baya itu.
***
“First, gue bakalan buat orang-orang di sekitar lo benci, terutama sahabat-sahabat lo dan Bastian tentunya.”
Kinara menghentikan gerakan memutar kenop pintu kamar mandi sekolahnya, dia masih diam termenung mencoba menajamkan pendengarannya. Dia tak salah dengar tadi? Dia tak salah dengar kan tentang apa yang diucapkan seseorang diluar sana. Dia segera membuka pintu, namun sayang dia tak menemukan keberadaan siapapun. Sepertinya orang itu sudah pergi lebih dulu, sebagai bukti dia melihat pintu keluar yang sepertinya baru saja ditutup seseorang.
“What? Gue gak salah denger tadi. Sahabat? Sebastian? Itu artinya Natasya bukan?” gumam Kinara, dia bertanya pada dirinya sendiri. Keningnya mengerut mencoba mencerna apa yang didengarnya tadi.
Kinara menggeleng, “Enggak-enggak, gue gak akan biarin itu terjadi.” ucapnya, dia tak mungkin membiarkan apa yang direncakan perempuan itu terjadi. “Tapi, itu cewek siapa?”
***
Kinara mengetuk pelan pulpen ditangannya ke meja, perempuan itu menumpu kepalanya dengan sebelah tangan sambil memperhatikan ke depan dimana Pak Danto sedang menjelaskan konsep pelajarannya di bab baru ini. Dia melirik Natasya—perempuan yang tengah terfokus pada penjelasan Pak Danto.
Kinara menghela napas dengan kasar, ditegakkan tubuhnya dengan pelan. “Nat,” panggil pelan Kinara, pandangannya masih terfokus ke depan.
Natasya mengerutkan keningnya, melirik sekilas Kinara kemudian berdehem pelan.
“Gue bingung mau ngomong darimana, ya. Tapi, satu hal yang harus lo tahu.” ucap Kinara, menelan susah payah saliva nya, bersiap melanjutkan inti kalimat percakapannya. “Lo harus selalu waspada, banyak orang diluar sana yang iri sama persahabatan kalian. Gue mohon, jangan terlalu gegabah atau percaya sama seseorang. Bisa jadi orang itu bakal hancurin persahabatan kalian.” lanjut Kinara yang membuat Natasya seketika menoleh kearah perempuan itu dengan kening mengerut.