![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Ting!
Sebuah pesan masuk di ponsel Natasya, membuat perempuan itu tersenyum lebar membaca isi pesannya. Natasya mengubah posisinya menjadi tengkurap di atas ranjang sambil tangannya mulai mengetikkan balasan untuk pesan yang dikirimkan Delfano padanya.
Iya, Delfano lah yang mengirimkan pesan pada Natasya. Jujur, Delfano lah yang diam-diam dikaguminya tanpa sadar, lelaki yang berhasil membuat jantungnya berdebar tak karuan. Delfano lah yang berhasil mencuri hati seorang Natasya.
Satu balasan dari Delfano kembali membuat Natasya tersenyum lebar, dengan cepat dia membuka balasan dari Delfano itu. Namun, senyumnya langsung pudar saat dia membaca isi pesannya.
Iya... Iya... Apa sih yang enggak buat sahabat gue yang paling cantik ini. Hm?🤗
Natasya mendesah, dia meletakkan ponselnya begitu saja, belum ada niatan untuknya membalas pesan itu kembali. Entah kenapa, dia tak suka ketika Delfano selalu menyelipkan embel-embel 'sahabat' dalam setiap percakapan mereka, meskipun kenyataannya memang benar. Faktanya mereka hanyalah sahabat. SAHABAT. Apa perlu digaris bawahi kalau mereka itu memang sahabat?
Tapi, saat ada hati yang meminta lebih. Apa, boleh?
Natasya mendesah, dia memilih menarik selimutnya, membungkus tubuhnya dengan selimut tebal itu sambil mulai memiringkan tubuhnya, memikirkan kembali logikanya, membiarkan pesan itu hanya terbaca olehnya.
***
Antonio menghela napas dengan lega. Dia merentangkan otot-otot yang terasa kaku karena sejak tadi terus duduk diam di depan laptop sambil sibuk mengetikkan runtutan kata. Dia baru saja selesai mengerjakan tugas membuat makalah sejarah dan itu cukup menguras banyak hal, mulai dari waktu, tenaga sampai pikirannya. Ya, meskipun dia anak IPS yang katanya pemalas. Namun, dia tak pernah sedikitpun melalaikan tugasnya, sebisa mungkin dia membuat nilai-nilainya sesempurna mungkin agar dapat mengimbangi kenakalannya di sekolah. Gitu.
Antonio tersenyum saat melihat layar laptopnya yang menampilkan foto mereka berempat. Dia, Sebastian, Natasya dan Delfano. Sebuah foto yang mereka ambil saat tengah liburan di puncak, di vila milik orang tua Natasya tepatnya. Ya, gitu deh, mereka selalu ikut pergi liburan dengan keluarga Natasya.
Dia berjalan kearah meja kecil di ujung kamarnya, mengambil ponsel yang baru selesai di charger-nya. Dia tersenyum lebar saat foto Natasya kembali terpampang di layar ponselnya. Banyak sekali foto perempuan itu yang tersimpan di galeri ponselnya dan kebanyakan foto perempuan itu di depan cermin. Pap sih katanya. Hehehe.
Antonio kembali terkekeh saat melihat satu persatu foto Natasya yang tersimpan di ponselnya, dia melirik sekilas balkon kamarnya, melangkahkan kakinya kearah balkon.
Tak ada suara sedikitpun dari kamar Natasya, menandakan perempuan itu mungkin sudah terlelap di alam mimpinya. Biasanya, kalau belum tidur, Natasya akan membuat banyak kegiatan di kamarnya yang suaranya bisa sampai kamar dia atau terkadang dirinya memilih duduk di balkon kamar Natasya dan menggangunya.
Antonio kembali melirik ponselnya yang masih menampilkan wajah Natasya.
“Good, bagus banget lo, Na. Lo berhasil, berhasil curi hati gue.”
***
Sebastian menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang, menghembuskan napas lelah sambil menatap langit-langit kamarnya. Dia segera mendudukkan kembali tubuhnya beberapa saat, melepas sneakers putih yang melekat di kakinya. Dia berjalan kearah kamar mandinya untuk membilas tubuhnya yang lumayan lengket ini, tak peduli dengan jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Beberapa saat, dia keluar sambil menggosok rambutnya yang masih basah dengan anduk kecil di tangannya. Dia berjalan kearah cermin, menatap pantulan dirinya lewat cermin tersebut.
Dia terus memperhatikan wajahnya yang terlihat datar atau memang datar?
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Seulas senyum terbit di bibirnya secara perlahan, dia mencoba menampilkan senyuman di wajahnya meskipun memang terlihat aneh.
“Bener banget kata Syasya, gue aneh kalau senyum, apalagi ketawa.” gumam Sebastian, dia menggaruk pelan belakang lehernya yang tak gatal. Sebastian mengerutkan keningnya, masih dengan senyum yang tercipta oleh bibirnya.
“Sya-sya.”
Sebastian memutar tubuhnya, menyenderkan tubuhnya pada meja di sampingnya, menatap lurus ke depan masih dengan senyuman. “Lo cewek pertama yang berhasil bikin gue senyum.” gumam Sebastian.
“Dan, good job! Lo berhasil buat gue jatuh cinta.”
***
Ting!
Hah, sahabat?
Rasanya aneh tapi nyata saat dia menyebut perempuan itu sahabat.
Sahabat seperti apa yang akan merasakan detak jantung tak karuan saat berdekatan?
Oke, dia akui bahwa mungkin dia sudah terbiasa berdekatan dengan perempuan. Sudah merupakan fakta bahwa dia dekat dengan perempuan manapun. Tapi percaya, hanya dengan Natasya lah hatinya bisa berdetak tak karuan, meskipun dia bisa menyembunyikan perasaan itu dengan begitu hebatnya dari yang lain, terkhusus perempuan itu sendiri.
Tapi, apa bisa rasa sahabat itu lebih? Apa detak kan jantungnya bisa memberikan arti yang lain?
Dia mengerutkan kening saat pesannya tak dibalas, hanya di baca semata.
“Fan,”
Delfano menatap orang dihadapannya, beranjak dengan pelan sambil menyapa orang tersebut. Dia tersenyum manis menatap orang dihadapannya.
“Duduk, duduk.” titah Delfano saat orang di hadapannya sudah duduk di sampingnya.
Delfano menyodorkan minuman yang sudah dipesannya khusus untuk orang dihadapannya ini. Entah suka atau tidak, yang jelas dia pesan minuman yang biasanya dipesan Natasya jika mereka disini. Aduh, kenapa dia jadi teringat kembali perempuan itu. Heh.
“Nih buat lo, gue udah pesenin tadi.” ucap Delfano, membuat orang itu yang tengah melepaskan sling bag menatapnya.
Orang itu tersenyum lebar, “Makasih, ya.” ucap orang itu, menyeruput minuman tersebut dan langsung terlonjak kaget saat rasa asam menghinggapi lidahnya.
“Enak?”
Orang itu tersenyum kikuk, mengangguk paksa. “Enak, kok.” jawab orang itu. “Btw, lo ada apa ngajak gue ketemuan disini?” tanya orang itu.
“Gakpapa sih, ngajak nongkrong aja. Kenapa? Lo, keberatan?” tanya Delfano, menaikan sebelah alisnya yang langsung dibalas gelengan cepat oleh orang itu.
“Enggak kok, cuman aneh aja. Kita kan baru kenal.”
“Ya, makanya karena baru kenal jadinya gue pengen kenal lebih lagi. Gitu.” timpal Delfano. “Btw, lo udah punya pacar?”
Orang itu terlonjak mendengar pertanyaan dari Delfano. Seharusnya dia senang saat ada lelaki tampan seperti Delfano yang mencoba mengenalnya lebih jauh. Tapi entah kenapa, dia sedikit risih dengan sikap lelaki itu. Dan, jujur, dia lebih suka dengan Sebastian, sahabat Delfano yang sepertinya berhasil merebut hatinya. Tapi—
“Hello?!” Delfano menjentikkan jarinya, membuat orang itu terlonjak.
“O-oh, enggak. Gue single.”
“Bagus deh.”
“Bagus?”
“Iya, kalo gue PDKT sama lo boleh ga?”
“Hah!?”
Delfano menatap geli orang dihadapannya yang terlonjak kaget mendengar ucapannya yang mungkin terdengar frontal. Tapi itulah dia, to the point jika berhubungan dengan cinta, kecuali dengan Natasya.
Dia menaik turunkan alisnya, menunggu jawaban dari orang dihadapannya—Anya, perempuan yang mungkin mampu mencuri hatinya. Mungkin.