![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Tak seperti biasanya. Semuanya terasa asing, dingin dan tentunya awkward. Suasana yang biasanya terasa hangat kini dingin dan sesuatu yang sudah terbiasa kini asing. Seperti saat ini, kumpulan orang-orang di atas rooftop ini. Mereka bertiga—Delfano, Sebastian dan Antonio.
Delfano menatap satu persatu sahabatnya, tatapannya tak menyorotkan persahabatan lagi. “Kalian kenapa sih? Gak suka gue jadian sama Tata?” tanya Delfano yang sukses memecah keadaan hening ini. Dia menghela napas kasar, dia memilih menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa. “Gue gak ngerti, sejak awal kita udah komitmen. Apapun pilihan Tata, ya kita harus terima. Sekarang, dia pilih gue. Apa salah?” Lanjut Delfano.
Antonio menarik sudut bibirnya, tersenyum miris. “Lo enak Fan ngomong gitu, karena lo yang dipilih sama Nana. Sedangkan, kita?” tanya balik Antonio, dia mengendikkan bahunya, kemudian tertawa garing.
Delfano mengerutkan keningnya mendengar ucapan Antonio. “Wait! Lo bilang kita?” tanya Delfano, dia memajukan tubuhnya sedikit kearah Antonio. “Bukannya lo bilang, lo gak suka sama Tata. Terus kenapa sekarang lo jadi permasalahkan semuanya. Sebastian aja santai, kok lo yang katanya gak suka jadi sinis gini.”
Sebastian hanya diam, menyaksikan perdebatan yang terjadi di depannya. Dia memilih diam, tak ada gunanya juga ikut berdebat. Bisa hancur persahabatan mereka jika semuanya keras, harus ada yang menjadi penengah bukan?
“Gue gak pernah bilang, kalau gue gak suka sama Nana.”
Delfano bertepuk tangan, tepuk tangan mengejek lebih tepatnya. “Oh. Jadi, secara gak langsung, lo mengakui kalau lo suka sama Tata. Gitu? Wow, hebat!” ucap Delfano yang seketika membuat Antonio terdiam.
Antonio diam, keadaan hening kembali.
“Iya, kenapa kalau gue suka sama Nana?” tanya Antonio. “Jauh sebelum Nana ketemu kalian, dia udah lebih dulu deket sama gue.” lanjut Antonio, dia menatap tajam Delfano yang bilas tajam pula oleh lelaki itu.
Delfano tersenyum sinis. “Masa bodo lo mau lebih dulu deket sama Tata atau enggak. Yang jelas, dia milih gue. Bukan lo, atau Tian.” desis Delfano, dia beranjak dari duduknya hendak pergi dari tempat ini.
Sebastian lebih dulu mencegah Delfano, “Mau kemana lo? Kita belum selesai.” ucap Sebastian, dia menyentuh pundak Delfano.
Delfano menatap tangan Sebastian di pundaknya, kemudian dia hempaskan dengan kasar tangan itu. “Bukan urusan lo.” jawab Delfan. Dia melirik Antonio yang menatap kearah lain, “Urusin tuh sahabat lo! Dan, ya, gue harap lo tahu batasan sekarang karena Tata udah jadi pacar gue.” lanjut Delfano yang membuat Sebastian mengerutkan keningnya.
“Maksud lo apaan sih, Fan? Batasan apaan?”
“Gak usah belaga deh lo. Maksud lo apa selalu jadi orang yang seolah-olah penentu apa yang mau dilakukan Tata. Ingat, lo cuman sahabatnya, bukan pacarnya.”
Sebastian langsung menarik kerah baju Delfano, “Lo di diemin ngelunjak, ya.” cicit Sebastian, dia sudah cukup bersabar sejak tadi. Tapi, semakin dibiarkan, Delfano semakin berulah.
“Asal lo tahu, Fan. Gue emang suka sama Tata, gue cinta sama dia. Tapi, gue bukan tipikal 'pemaksa', gue gak akan maksa dia buat jadi apa yang gue mau—”
“—maksud lo, gue maksa—”
“—GUE TERIMA NATASYA PILIH LO, GUE TERIMA.”
Antonio dan Delfano cukup terkejut dengan nada suara yang dikeluarkan Sebastian. Bahkan Antonio sampai beranjak dari duduknya, menatap Delfano dan Sebastian. Sedangkan, Delfano kini diam, membuat Sebastian melepas perlahan cengkeramannya.
“Gue terima karena mungkin sama lo, dia bahagia. Gue gak mau maksa kehendak gue yang akhirnya buat dia sengsara. Gue—”
Sebastian mengehentikan ucapannya saat dia sadar hampir saja mengungkapkan fakta tentang Natasya. Dia menghela napas dengan kasar, mengacak rambutnya perlahan.
“Gue harap, ini terakhir kalinya kita berantem gak jelas. Gue cabut duluan.” lanjut Sebastian, melangkah meninggalkan Antonio dan Delfano yang masih terdiam.
***
Natasya menghentikan langkahnya yang tengah mencari buku paket di perpustakaan. Dia berniat meminjam buku paket yang lupa dibawanya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Sebastian yang tengah merebahkan tubuhnya di meja pojok perpus. Dia melangkahkan kakinya menghampiri Sebastian yang tengah terpejam dengan lengan yang menutupi matanya.
“Tian,”
Panggilan dari Natasya sukses membuat Sebastian mengerjap. Sebastian membuka matanya dan membenarkan posisinya menjadi duduk, sedangkan Natasya masih berdiri sambil tersenyum kearah lelaki itu.
“Lo ngapain disini? Gak ada guru emangnya?” tanya Natasya.
Sebastian menggeleng, “Gak ada, cuma dikasih tugas aja. Tapi, gue malas di kelas, makanya kesini.” jawab Sebastian dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
“Lo sendiri, ngapain disini?” tanya balik Sebastian.
Natasya membalikkan tubuhnya. Dia lupa dengan tujuan awalnya kalau saja Sebastian tak bertanya. “Gue mau pinjam buku paket, Yan, lupa bawa gue.” jawab Natasya, dia mulai mencari buku yang dicarinya di deretan buku dalam rak.
Sebastian terus memperhatikan Natasya yang tengah mencari buku. “Buku apa emangnya?” tanya Sebastian.
Natasya tidak langsung menjawab, dia masih fokus mencari buku yang diinginkannya. Dia tersenyum lebar saat buku yang dicari ditemukannya. Dia membalikkan tubuhnya menatap Sebastian, “Nih!” jawab Natasya, dia menunjukkan buku di tangannya.
Sebastian mengangguk-angguk. Natasya berniat melangkahkan kakinya, namun tiba-tiba tubuhnya limbung seketika yang membuat Sebastian buru-buru menangkap tubuh perempuan itu yang hampir terjatuh.
Buk!
“Sya,” panggil Sebastian, dia menepuk pelan pipi Natasya. Perlahan dia mendudukkan tubuhnya dengan Natasya yang kini dalam dekapannya. Dia tak henti-hentinya menepuk pipi Natasya, namun perempuan itu tak ada tanda akan sadar dari pingsannya.
Dengan cepat, Sebastian langsung mengangkat tubuh Natasya berjalan dengan cepat menuju UKS tanpa mempedulikan tatapan beberapa orang yang menatap kearah mereka.
***
“Apa? Terus sekarang dimana?” tanya Delfano, dia mengerutkan keningnya, rasa khawatir yang tersirat jelas di wajahnya. Dia beranjak dari duduknya dan langsung memasukkan ponsel ke saku celananya.
Delfano melirik jam di pergelangan tangannya, mendengus kasar saat tahu ini masih jam sekolah. Mana mungkin dia diizinkan keluar area sekolah tanpa kepentingan.
“FAN!”
Delfano membalikkan tubuhnya, dia menatap Antonio yang berjalan menghampirinya.
“Nana, Fan, dia katanya—”
“Gue udah tahu.” potong Delfano, dia tahu apa yang akan di ucapkan Antonio. Seperti dirinya, Antonio pun sama cemasnya, terlihat jelas dari raut wajahnya. “Tapi, gimana kita nyusul ke rumah sakit? Lo tahu lah, gak mungkin kan kita di izinin keluar.” lanjut Delfano.
Antonio terdiam, dia membenarkan apa yang diucapkan Delfano. Namun, seulas senyum jahat muncul di bibirnya. “Kayak biasa aja,” ucap Antonio, dia tersenyum lebar sambil menaik turunkan alisnya.
Delfano mengerti dengan maksud dan senyuman Antonio, dia pun tak kalah menunjukkan senyuman lebarnya itu.
***
Hahaha...
Delfano dan Antonio tak henti-hentinya tertawa lebar. Mereka berhenti disalah satu warung yang lumayan jauh dari sekolah. Mereka berhasil, berhasil melakukan aksi kabur mereka. Ya, memang sih ini tak patut dicontoh. Tapi, mau bagaimana lagi. Mereka harus menemui Natasya saat ini juga di rumah sakit.
Antonio duduk di kursi kayu panjang yang disediakan warung ini, setelah sebelumnya membeli sebotol minuman jeruk dingin yang ada di sini. Dia masih tertawa, begitupun Delfano. Bedanya tawa mereka kini tak terlalu kencang seperti saat mereka berhasil lolos dari kejaran salah satu penjaga sekolah.
Masa bodo kalau mereka akan di hukum besok, terpenting sekarang adalah Natasya.
Antonio menyerahkan botol minuman yang tinggal setengah itu kearah Delfano yang langsung diterima lelaki itu. “Buruan, langsung cabut aja ke rumah sakit.” ucap Antonio yang diangguki Delfano.
Mereka beranjak, berjalan mencari taksi yang bisa mereka gunakan untuk sampai di rumah sakit.
Tak butuh waktu lama taksi datang dan mereka bergegas menaiki taksi tersebut menuju rumah sakit. Hanya butuh waktu beberapa menit, mereka telah sampai di rumah sakit. Mereka langsung bergegas menuju ruang UGD untuk mencari keberadaan Natasya.
Delfano langsung membuka pintu UGD untuk mencari keberadaan Natasya, namun pemandangan di depannya membuatnya tertegun. Antonio yang melihat Delfano terdiam mengerut keningnya, bingung kenapa lelaki itu diam. Dia pun mengikuti kemana arah pandangan Delfano dan ikut tertegun melihat itu semua.
“Nana?”