Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-DUAPULUHTUJUH



“Gila, sih!”


Antonio menggeleng heran, dia kembali menikmati batagor dan siomay miliknya. Dia menatap Delfano tak habis pikir, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum lebar seperti biasanya. Dia sudah mendengar cerita Delfano tentang para mantannya itu yang mau menggantikan hukuman yang diterima Delfano dan Natasya, membuat dia tak henti-hentinya berpikir.


Itu mantan atau apa? Polos banget. Bukan polos sih, tapi mau-maunya aja di kadalin sama cowok macam Delfano ini. Heh.


Natasya sibuk dengan baksonya, dia memilih menikmati bakso tersebut tanpa ada niatan untuk ikut nimbrung dengan obrolan yang ada diantara mereka, tapi dia tetap tahu alur ceritanya hanya dengan mendengar saja.


Jika kalian tanya dimana Sebastian dan Anya? Jawabannya adalah di perpus. Jadi, Sebastian itu terpilih menjadi murid yang akan membacakan literasi dari kelas IPS. So, mereka tak ada disini sekarang, tapi di perpus. Begitu.


“Oh, iya, Na. Nanti pulang sekolah temenin gue, ya?”


Entah itu pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan Antonio, yang jelas Natasya hanya mengerutkan keningnya menatap lelaki itu, menunggu bakso di mulutnya tertelan habis.


“Kemana?”


Pertanyaan itu bukan terlontar dari mulut Natasya, melainkan Delfano yang menatap penuh tanya Antonio.


Antonio menatap jahil Delfano, berniat mengerjai lelaki itu. “Kepo!” jawab Antonio, dia terkekeh kembali menikmati makanannya.


Delfano mendengus, “Ya elah, nanya aja juga. Bodo amat lah.” tukas Delfano, dia memilih mencocolkan kerupuk kulit ditangannya ke kuah bakso milik Natasya. 


Natasya mencomot kerupuk kulit ditangan Delfano, melakukan hal yang sama dilakukan Delfano. Sepertinya enak, kerupuk kulit dicocol kuah bakso. Dia melirik Antonio. “Mau kemana emangnya, Ton?” tanya Natasya sambil mengunyah kerupuk yang sudah layu di mulutnya.


Antonio tersenyum, menatap Delfano yang tengah menunggu jawaban darinya. Dia sedikit bergeser kearah Natasya, membisikkan sesuatu yang membuat perempuan itu tersenyum lebar menatap Delfano. Sedangkan, Delfano yang melihat dan dilihat seperti itu mendengus sebal, dia langsung melempar gumpalan tisu dihadapannya kearah Antonio yang kini tertawa sambil menghindari lemparan tisu tersebut.


“Bacot banget sih lo!” tukas Delfano, menatap sinis Antonio dan Natasya yang terkekeh.


“Dih, suka-suka gue dong. Masalah buat lo?”


“Masalah lah! Lo mau ngajak Natasya pergi, tapi gak kasih tahu gue—”


“—emang lo siapa Nana sampai-sampai gue harus lapor dulu sama lo?”


Pertanyaan itu sukses membuat Delfano terdiam, begitupun Natasya yang menunggu harap-harap cemas jawaban dari lelaki itu.


“Ya, dia sahabat gue lah!”


Seketika hati Natasya merasakan sesuatu yang berbeda, terasa menyakitkan sebenarnya, dia pikir akan ada jawaban lain yang diberikan Delfano, tapi, ternyata hanya sebuah jawaban biasa yang selalu dilontarkan lelaki itu. Dia memilih menikmati kembali bakso yang tinggal satu itu, mencoba menikmati makanan terakhir yang biasanya terasa lebih nikmat tapi kini hanya B aja.


Sedangkan, Delfano, dia menatap Natasya. Sebenarnya bukan jawaban seperti itu yang ingin dilontarkannya, melainkan jawaban yang lain. Tapi, dia terlalu pengecut untuk bisa mengungkapkan itu semua. Dia terlalu takut.


“Dia juga sahabat gue bg!” tukas Antonio membuat Delfano kembali menampilkan raut wajah sebalnya, sedangkan Natasya yang mencoba tersenyum mendengar itu semua.


***


Anya terus memperhatikan Sebastian yang tengah mencari buku non-fiksi di rak buku perpustakaan sekolah mereka. Matanya tak henti-hentinya memperhatikan lelaki itu, meskipun tangannya juga tak henti mencari buku non-fiksi yang cocok untuk literasi nya. Matanya kini memperhatikan Sebastian yang berjalan kearah meja dan kursi di pojok perpus, membuka buku yang didapatnya dengan wajah seperti biasa, tak berekspresi.


Tolong, dengarkan Anya sekarang. Dia bersyukur, bersyukur dipilih menjadi perwakilan literasi dari kelas IPS. Sebelum-sebelumnya dia selalu saja menggerutu jika dipilih menjadi bagian dari literasi atau apapun itu, tapi kali ini dia malah sangat bersyukur. Apalagi yang menemaninya adalah Sebastian, cowok itu. Ya, kalau bukan karena lelaki itu, mungkin dia tak akan menerima ini semua dengan lapang dada.


Anya mengambil asal buku non-fiksi yang tersentuh tangannya, segera menghampiri Sebastian yang masih terfokus dengan bacaannya, belum sedikit pun sadar akan kehadirannya. Dia memilih duduk dihadapan lelaki itu. Just info, meja yang tersedia di perpustakaan sekolah ini adalah sebuah meja kecil dengan dua bangku berhadapan setiap mejanya.


“Yan, gue—”


“Jangan ganggu, gue lagi baca.”


Anya mendengus karena ucapannya dipotong lelaki itu, apalagi nada yang dikeluarkan lelaki itu sungguh berbeda jika kepada Natasya. Terkesan dingin, datar dan acuh kepadanya.


Beberapa saat dia terdiam, ikut melakukan hal sama yang dilakukan Sebastian sejak tadi. Sungguh, dia tak berminat dengan buku non-fiksi ini, dia lebih berminat menatap wajah tampan Sebastian yang selalu datar kepadanya.


Anya berdehem, mencoba mengalihkan perhatian Sebastian kepadanya. Dan ya, berhasil. Dia berhasil membuat Sebastian menatapnya, lelaki itu menatap datar ke arahnya dengan posisi buku yang tak berubah. Dengan senyuman manis yang diyakininya mampu meluluhkan siapa saja dia tunjukkan kepada Sebastian, berharap lelaki itu bisa jatuh hati hanya karena senyum manisnya ini.


“Yan,”


Sebastian segera tersadar, mengenyahkan segala pemikiran bodoh di benaknya tentang senyum itu. Tidak, tidak, dia tidak boleh berdebar hanya karena senyum itu. Hatinya hanya boleh berdebar jika senyum itu berasal dari Natasya, tidak yang lain.


Anya semakin menampilkan senyumnya, dia puas, sepertinya Sebastian mulai luluh karena senyumannya ini. Baru saja dia hendak mengeluarkan kalimat dari mulutnya, Sebastian lebih dulu menyelanya.


“Lo ganggu konsentrasi gua aja, banyak omong lo.” ketus Sebastian, dia segera bangkit dari duduknya dan menutup buku yang dibacanya dengan kasar, berlalu begitu saja meninggalkan Anya yang terheran.


Anya segera berdiri, dia memperhatikan Sebastian yang mulai melangkahkan. “Bastian!” teriaknya yang cukup membuat beberapa pengunjung perpus mengalihkan pandangannya mereka ke arahnya.


Anya berdehem, segera duduk dengan pelan ke tempatnya semula. Dia bodoh, sangat bodoh. Dan, satu yang membuatnya bodoh, yaitu Sebastian. Aduh, kenapa bisa dia seperti ini hanya karena seorang lelaki. Lelaki yang—ah lelaki itu!


***


Sebastian langsung duduk begitu saja dihadapan Natasya, disamping Delfano. Dia duduk begitu saja dengan wajah datar tak berekspresinya. Mungkin jika orang lain akan ditanya sebab wajah datarnya, tapi tidak dengan Sebastian. Wajah datar lelaki itu sudah biasa mereka lihat, tak membuat mereka serta merta penasaran dengan wajah datar lelaki itu.


Natasya melirik Sebastian, “Udah selesai nyari bukunya?” tanya Natasya, menaikkan sebelah alisnya yang hanya dijawab anggukan dan tunjukan buku di tangan lelaki itu.


“Si Anya, mana?”


Natasya melirik Delfano yang menanyakan keberadaan perempuan itu, ada sedikit bagian hatinya tak suka dengan pertanyaan lelaki itu. Tapi, cepat-cepat dia enyah kan itu semua, dia tak boleh seperti itu.


“Perpus kali,” jawab acuh Sebastian, dia memilih meminum minuman milik Natasya yang tinggal setengah gelas.


Antonio mengerutkan keningnya, “Kok kali sih?” tanya Antonio aneh. Lagi-lagi, Natasya menoleh kepalanya kearah Antonio, entah kenapa dengannya? Dia lagi-lagi tak suka jika sahabatnya menanyakan perempuan itu. Padahal jelas sekali, dia yang membawa Anya diantara mereka semua. Oh, ayolah Natasya, biasa aja, biasa, tekadnya.


Sebastian menarik sudut bibirnya, “Ya mana gue tau, gue bukan siapa-siapa dia. Bukan urusan gue dia dimana.” jawab Sebastian.


“Biasa aja kali,”


Sebastian hanya diam.


Natasya menghela napas, dia memilih mengambil buku yang dibawa Sebastian. Dia berniat membaca sekilas buku tersebut. Jangan menyerah. Sebuah tulisan yang tertulis jelas di cover buku tersebut. Sebuah tulisan yang sepertinya sangat menggambarkan keadaannya kini.


Sebastian, Antonio dan Delfano menatap bingung Natasya yang sepertinya sendu menatap buku tersebut. Mereka saling lirik, aneh dengan perubahan sikap perempuan itu yang tiba-tiba.


“Kenapa, Sya?”


Natasya mendongak cepat, dia menggeleng sambil tersenyum. “Gak papa kok,” jawab Natasya.


“Bohong?” tanya Antonio, memastikan apa yang diucapkan Natasya.


“Enggak, serius. Gue gak papa.“ jawab Natasya, dia mencoba menyakinkan ketiga sahabatnya.


“Lo tahu, Ta? Kalau perempuan bilang 'gakpapa' itu artinya 'ada apa-apa'. Jadi sekarang jujur, ada apa?“ tanya Delfano, dia menatap dalam Natasya, mencoba memberikan kekuatan untuk perempuan itu.


Natasya terdiam, dia menatap satu persatu sahabatnya. “Gue sayang kalian. Kalian yang selalu nemenin gue sejak kecil, kalian yang selalu ada di setiap saat sama gue.” ucap Natasya, entah kenapa kini matanya memanas memikirkan nasibnya.


“Ta...”


“Gue mohon, janji sama gue kalo kalian akan selalu ada buat gue. Gak akan pernah tinggalin gue.”


“Na...”


“Janji?” tanya Natasya, dia menunjukkan telapak tangannya, meminta ketiga sahabatnya menggenggam tangan tersebut sebagai 'janji'.


Mereka mengangguk, menggenggam tangan perempuan itu dengan eratnya. Mereka berjanji, janji akan selalu ada untuk perempuan itu, janji tak akan meninggalkan perempuan itu, janji yang—


entah ditepati atau tidak?