![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Sebastian dengan santainya memasuki kelas, langsung duduk di kursi biasa tanpa menghiraukan Antonio yang sejak kedatangannya terus memperhatikannya. Dia mengeluarkan ponsel, mulai mengetikkan sesuatu di kolom chat.
Antonio menyipitkan matanya, memutar tubuhnya menatap Sebastian. “Katanya lo gak masuk. Kenapa sekarang masuk?” tanya Antonio, dia mengerutkan keningnya.
Sebastian diam, dia meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja. Sebelah alisnya terangkat, menatap Antonio. “Lo berniat menjerumuskan gue buat bolos, gitu maksudnya?” tanya Sebastian yang langsung mendapat dengusan dari Antonio.
“Terserah lo deh, orang cuma tanya doang juga.” balas Antonio. “Oh, iya, kemarin lo kemana? Kenapa gak ada dikelas? Lo bolos, ya?” tanya Antonio beruntun.
“Ya.” jawab singkat Sebastian yang membuat Antonio dongkol. Coba bayangkan, Antonio sudah bertanya cukup lebar sedangkan lelaki dihadapannya hanya memberikan jawaban singkat yang cukup menyesakkan.
'Ya'
Dasar!
Antonio mendengus, menghela napas dengan pelan berkali-kali mencoba menghilangkan rasa dongkol dihatinya terhadap Sebastian. Dia melirik Sebastian yang terfokus pada ponselnya, “Oh, iya, Natasya—”
“Berisik lo, kayak cewek.” potong Sebastian, dia beranjak dari duduknya meninggalkan Antonio yang geram dibuatnya.
“Temen bangsat lo!” teriak Antonio yang hanya diacuhkan Sebastian.
Sebastian menghiraukan teriakan Antonio, dia memilih berjalan keluar kelas menuju rooftop biasanya. Asli, ya, dia itu tak berselera sekolah sebenarnya hari ini. Tapi, kalau bukan karena Natasya dia melakukan ini semua, mungkin dia lebih memilih di rumah sakit menemani perempuan itu.
Sebastian sudah berada di rooftop kini. Langkahnya terhenti seketika melihat seorang perempuan yang berdiri membelakanginya. Dia melangkah pelan menghampiri perempuan itu.
“Ngapain lo disini?”
Pertanyaan Sebastian sukses membuat perempuan itu terlonjak kaget. Perempuan itu memutar tubuhnya menghadap Sebastian yang menatap datarnya dirinya.
“G-gue lagi malas di kelas, makanya kesini.” jawab perempuan itu, dia masih berdiri ditempatnya.
“Tahu dari mana lo tempat ini?”
“Gue gak sengaja dengar omongan Anton tentang rooftop dan kebetulan pas kemarin gue kesini ada Delfano. Jadi, —”
“—ini bukan tempat lo.” potong Sebastian, dia memilih menjatuhkan bokongnya begitu saja di atas sofa buluk biasanya.
Perempuan itu mengerutkan keningnya, dia melangkahkan pelan mendekati Sebastian. “Maksud, lo?” tanya perempuan itu bingung.
Sebastian mendongak, dia beranjak dari duduknya. “Dengar Anya. Lo gak bisa seenaknya masuk ke suatu perkumpulan, gak semua yang ada didalamnya bisa terima lo. Dan, itu berlaku buat persahabatan gue.” cicit Sebastian pelan sambil menatap tajam perempuan itu yang seketika terdiam. Ucapan Sebastian memang pelan, namun cukup mengena di hati perempuan itu.
Perempuan itu Anya. Dia menatap nyalang ke depan.
Sedangkan, Sebastian langsung membalikkan tubuhnya meninggalkan Anya. Baru beberapa langkah Sebastian melangkah, pertanyaan Anya menghentikan langkahnya.
“Kenapa sih, kenapa lo benci banget sama gue? Gue salah apa? Gue gak pernah buat masalah, gue—”
“Karena gue gak suka orang asing.” jawab Sebastian tanpa membalikkan tubuhnya dan kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Anya yang terdiam.
Anya diam dalam keheningan, hanya suara angin yang menggoyangkan tanaman yang bersamanya. Dia menarik sudut bibir kanannya. “Oke, oke, Yan. Gue akan ikutin apa mau lo.” gumam Anya pelan, dia terkekeh. “Lo bilang, lo gak suka orang asing? Ok, gue akan buat diri gue bukan orang asing buat lo. Gue akan buat diri gue, jadi orang nomor satu di hidup lo. Gue ikutin permainan lo.” tekad Anya.
***
Delfano melangkahkan kakinya menghampiri Antonio dan Anya yang sudah berada di kantin. Mereka duduk di pojok kantin, tengah berbincang sambil menikmati makanan yang mereka pesan. Dia langsung menjatuhkan bokongnya di samping Anya.
“Lama banget lo,” ucap Antonio, dia sudah sejak 15 menit yang lalu di kantin bersama Anya. Sedangkan, Delfano baru datang.
Delfano mencomot tic tac dihadapannya, memakan makanan tersebut. “Biasa, gue kan anak IPA, banyak guru yang datang. Gak kayak kalian, free mulu.” jawab Delfano, dia melirik bakso yang tengah dinikmati Anya.
“Enak tuh, Nya.” tukas Delfano yang langsung diangguki Anya.
“Enak. Pengen?” tawar Anya, dia sedikit menggeser mangkok berisi bakso berkuah cukup pedas miliknya kehadapan Delfano.
“Cobain, ya.” ucap Delfano, dia mulai menyesap kuah bakso tersebut yang langsing membuatnya tersendak seketika. Asli, rasa pedasnya langsung mengejutkan tenggorokan.
Uhuk! Uhuk!
Anya menatap Delfano sedikit meringis, apalagi wajah lelaki itu kini sudah memerah. Dia melirik Antonio yang malah terkekeh. Dia mengerutkan keningnya. “Malah senyum. Kasihan tahu, itu mukanya sampai merah.” ucap Anya, dia sedikit kesal sepertinya.
“Ngapain kasihan, caper aja dia mah.” balas Antonio yang membuat Anya ternganga.
“Anjir, caper darimana. Asli ini pedas banget, gila.” tukas Delfano, dia tak terima dengan ucapan Antonio.
“Bodo amat,”
“Dasar temen gak guna lo,”
“Masa bodo,”
Baru saja Delfano hendak kembali mengeluarkan balasannya, Anya lebih dulu mencegahnya.
“Udah... Udah... Kalian kok malah ribut sih.”
Antonio dan Delfano saling tatap saat Anya menjadi penengah mereka. Seulas senyum terbit di bibir mereka.
***
Disinilah mereka bertiga kini. Di rooftop sekolah seperti biasa. Bolos dari kelas dan datang ke tempat ini. Mereka duduk di sofa buluk seperti biasa. Antonio yang sibuk dengan ponselnya, Delfano yang sibuk dengan game online nya dan Sebastian yang sibuk dengan pikirannya.
Antonio mendongak, mengerutkan keningnya bingung melihat wajah Sebastian yang seperti penuh tanya. Dia menyenggol lengan Delfano, membuat lelaki itu mendengus.
“Ih anjay, gue kalah nih!” tukas Delfano, dia menatap kesal Antonio yang terkekeh. Antonio lupa, Delfano sedang bermain game online.
Antonio mengenyahkan sejenak kekehannya, dia menunjuk Sebastian dengan lirikan matanya yang langsung dimengerti Delfano seketika.
“Lo kenapa, Yan? Lagi ada problem?” tanya Delfano yang membuat Sebastian melirik kearahnya.
Sebastian menoleh, menggelengkan kepalanya.
“Jujur aja, Yan, lo dari pagi ngamuk gak jelas sama gue. Gue yakin, lo pasti ada problem. Ngomong aja, siapa tahu kita punya solusinya.” timpal Antonio, dia mengubah posisi sedikit lebih menyandar pada sofa.
“Sorry, ya Ton,” ucap Sebastian, dia baru sadar ternyata dia seperti apa yang diucapkan Antonio.
“Sans,” balas Antonio, dia terkekeh.
“Gue cuman lagi mikirin Natasya aja,”
Mendengar jawaban Sebastian, mereka terlonjak tentunya.
“Lo beneran suka sama Tata?” tanya Delfano, dia baru ingat sekarang bahwa mereka itu menyukai perempuan yang sama.
“Ya, iyalah,” jawab Sebastian cepat.
Delfano terdiam, entah kenapa dia jadi sedikit sulit mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Dia kini menatap Antonio yang tiba-tiba terdiam. “Lo juga suka sama Tata?” tanya Delfano, nada suaranya sedikit menurun.
Antonio menggeleng. Entah itu gelengan tidak tahu atau memang tidak cinta. Jelas Delfano maupun Sebastian tak tahu.
Delfano melebarkan senyumnya, dia berdehem. “Ok, jadi karena kita suka sama cewek yang sama. Kita fight aja, fight secara sehat. Biar Natasya sendiri yang mutusin pilihannya jatuh sama siapa diantara kita. Gimana?” tawar Delfano yang membuat Sebastian dan Antonio mengerutkan keningnya.
“Maksudnya?” tanya Sebastian.
“Maksud Lo, Natasya jadi bahan taruhan.” tukas Antonio.
Delfano menggeleng kuat, tentu bukan itu maksudnya. “Ya, enggaklah, lo kira gue gila apa. Cewek yang gue suka, gue jadiin bahan taruhan. Gila sih.”
“Ya, terus?”
Delfano beranjak dari duduknya, dia menatap lurus kedepan. “Ya, kayak yang gue bilang, kita bertarung dapetin hati Natasya. Siapa yang dipilih, itu urusan dia. Kita gak berhak nolak ataupun bantah.” jelas Delfano. Dia menatap kedua sahabatnya. “Gimana?” tanya Delfano, lagi.
Mereka terdiam, namun akhirnya mengangguk pelan.