![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
“Makasih ya, Fan udah ajak gue kesini.” ucap Natasya, dia menghentikan suapan permen kapas di tangannya. Bahkan permen itu masih ada di tangannya, dia menoleh kearah Delfano, tersenyum pada lelaki itu.
Delfano mengangguk. “Lo ngapain di kantor ayah tadi?” tanya Delfano, sebenarnya pertanyaan ini ingin ditanyakan sejak tadi. Bingung rasanya saat pulang sekolah Natasya lebih dulu pergi—tanpa mengabari dia, Antonio ataupun Sebastian— dan tadi perempuan itu minta dijemput di kantor ayahnya.
Natasya menggeleng, “Ada perlu aja sama ayah.” jawab Natasya singkat.
Entah kenapa, Delfano bisa melihat ada kegusaran di wajah perempuan itu. Ada sesuatu yang disembunyikannya. Tapi, entah apa.
Delfano menghela napas kasar, dia segera menarik tangan Natasya untuk ikut bersamanya, mencoba menghilangkan segala kesedihan yang sedang dirasakan perempuan itu. Dia berjanji, akan membuat malam ini berarti untuk Natasya.
***
“Fano... Balikin coba!” dengus Natasya, dia kembali berlari mengejar langkah Delfano di depannya. Dia berdecak pinggang saat Delfano tak kunjung memberikan miliknya.
“Fano...” kesal Natasya, dia mencebik sambil menatap sebal Delfano yang sayangnya malah mendapat kekehan dari lelaki itu.
Natasya kembali mengejar Delfano, bahkan mereka kini tengah dalam acara lari-larian, mengelilingi pohon dengan tempat duduk yang biasa mereka duduki. “Fano... cepetan! Gue pengen banget.”
“Yaudah, sini ambil.”
“Lo jangan lari!”
“Enggak, kok.”
Katanya istilah jinak-jinak merpati itu ditunjukkan untuk perempuan. Katanya perempuan itu seperti merpati, semakin di kejar semakin susah di raih. Tapi sekarang, malah Delfano yang sepertinya jadi merpati itu.
Natasya mendengus, dia sudah hilang sabar mengejar Delfano sejak tadi. Dia memilih duduk di kursi pohon tersebut, melipat tangan di depan dada sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Delfano yang melihat itu terkekeh, dia memutari pohon tersebut dan langsung duduk di samping Natasya.
“Nih,” ucap Delfano, dia menatap lurus ke depan dengan senyuman serta menyerahkan cokelat dengan sebelah tangannya. Cokelat, benda yang sejak tadi di perebutkan mereka.
Natasya melirik Delfano dan cokelat itu bergantian, baru saja dia hendak mengambil cokelat tersebut, namun Delfano lebih cepat menariknya, seolah benar-benar tengah mempermainkannya.
“Delfano!” pekik Natasya, dia kembali mencebik sebal.
Delfano terkekeh, bahkan deretan giginya bahkan bola matanya sampai tak terlihat karena tawanya itu.
“Iya... Iya... ini.”
“Enggak!”
“Ini...”
***
“Fano, besok kesini lagi, ya?” ajak Natasya, dia tersenyum mendongak menatap Delfano yang duduk dibelakangnya. Posisi duduk Delfano lebih tinggi dari Natasya.
Delfano mengangguk, dia merapatkan tubuhnya sedikit mendekap tubuh Natasya di depannya. “Suka?” tanya Delfano, dia menumpukan dagunya dipundak Natasya.
Natasya mengangguk, “Banget.” jawab Natasya. Dia mulai mendayung perahu kecil tersebut, dibantu Delfano.
Delfano terkekeh, dia senang bisa melihat senyuman Natasya ini. Mereka tertawa, menikmati waktu di atas perahu kecil ini. Waktu tak akan kembali, maka pergunakan sebaik mungkin. Waktu tak akan kembali dan terus berjalan. Hanya tinggal menunggu waktu, semuanya selesai.
***
“Fano... Coba lihat, ada bintang jatuh!” pekik Natasya, dia menunjuk bintang jatuh di depan matanya.
“Mana?”
“Itu...”
“Ayo, make a wish!”
Delfano menggeleng, dia terkekeh memperhatikan Natasya yang tengah menutup matanya. Beberapa saat, mata perempuan itu kembali terbuka. Natasya melirik Delfano dengan senyuman.
“Lo make a wish apa?” tanya Delfano, dia kembali menikmati jagung bakar di tangannya yang tinggal setengah.
Natasya mengunyah jagung bakar di mulutnya. Dia memutar tubuhnya menatap Delfano. “Ada, deh. Kalau lo?” tanya balik Natasya.
“Gue?” tanya Delfano, dia menunjuk dirinya sendiri. Natasya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Delfano sambil kembali memakan jagung bakarnya. “Gue berharap, bisa selalu ada di samping lo. Gue berharap selamanya sama lo. Dan gue mau, lo tetap sama gue.” jawab Delfano yang seketika melunturkan senyum di bibir Natasya.
“Semoga.” balas Natasya, dia tersenyum kecut.
***
Buk!
Emma meremas pelan jari-jari tangannya. Air matanya tak henti-henti mengalir sejak tadi. Napasnya memburu kuat, pikirannya berkecamuk dan perasaannya bergemuruh. Dia menatap ruangan yang baru saja dimasuki Natasya yang tak sadarkan diri.
“Ya Allah... Semoga Nata baik-baik aja.”
***
“Bunda, mual.” cicit Natasya, dia menutup rapat mulutnya saat rasa mual kembali menyerangnya. Dokter bilang ini efek dari kemoterapi.
Emma hanya bisa membantu menenangkan Natasya tanpa bisa melakukan apapun. Hatinya teriris setiap kali melihat Natasya yang terkulai lemas dan kadang tak sadarkan diri.
“Sabar, ya, sayang.”
Natasya mengangguk, dia menahan suara tangisnya meskipun nyatanya air mata tak berhenti mengalir.
***
Kring... Kring...
Emma hanya melirik sekilas ponsel Natasya yang tak henti-hentinya berdering. Dia menatap pilu Natasya yang sedang melakukan kemoterapi di sana. Di genggamnya ponsel Natasya tersebut, dia tak berniat sedikitpun mengangkat panggilan yang berasal dari Delfano.
Emma menghela napas pelan, “Semoga kamu baik-baik aja, sayang.” lirih Emma, dia menyentuh pelan pintu yang tertutup di depannya.
***
“Keadaan Syasya gimana, Bun?” tanya Sebastian, dia berada disini setelah satu minggu mencari tahu tentang Natasya.
Emma menunduk, dia meremas jarinya pelan. Emma menggeleng, “Semakin buruk, gak ada harapan.” jawab Emma, matanya sudah memanas.
Sebastian menegang, dia memilih duduk saat lutut kakinya terasa lemas seketika. Dia menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sulit diartikan.
***
“Jujur sama gue, Natasya kenapa?”
Antonio mendorong tubuh Sebastian ke tembok, dia menatap tajam Sebastian sambil mencengkram erat kerah seragam lelaki itu.
“Maksud lo apa sih?”
“Jangan pura-pura bego.” desis Antonio. “Natasya udah seminggu ini gak sekolah, gak ada kabar apapun. Dia baik-baik aja kan? Dia—”
“—dia di rumah sakit.” lotong Sebastian, perlahan cengkraman tangan Antonio melepas. Kedua tangan Antonio dibiarkan menggantung disamping tubuhnya.
Sebastian menghela napas. “Keadaannya memburuk.”
Antonio menggeleng, dia tak percaya. “Kita harus kasih tahu Delfano,” ucap Antonio, dia bersiap pergi dari sini berniat menemui Delfano dan menceritakan semuanya. Namun, Sebastian lebih dulu mencegahnya.
Antonio mengerutkan keningnya.
“Natasya gak mau, dia mohon-mohon buat gak ada satupun yang kasih tahu keadaannya sama Fano.”
Antonio menggeleng tak mengerti, dia melepas cekalan Sebastian di tangannya. “Kenapa sih? Why?” tanya Antonio, dia tak habis pikir. Dia mengacak rambutnya kemudian berdecak pinggang.
***
“Ta, lo ingat gue?” tanya Antonio pelan, dia menatap intens Natasya yang kebingungan menatapnya.
Natasya hanya diam, dia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Dia menatap bergantian Antonio, Sebastian dan Emma yang menatap penuh kekhwatiran padanya.
Antonio menghela napas pelan saat tak mendapat respon apapun dari Natasya, perempuan itu seperti kebingungan setiap kali diajak bicara olehnya, Sebastian bahkan bundanya sendiri.
Antonio menatap Emma yang kini terisak di dekapan Sebastian. Dia sama sakitnya seperti Emma, bahkan dadanya terasa sesak melihat keadaan Natasya ini. Sungguh, demi apapun dia tak sanggup melihat ini semua.