![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Antonio keluar begitu saja dari kelasnya tanpa menunggu Sebastian seperti biasanya, dia berjalan begitu saja meninggalkan Sebastian yang kebingungan melihat perubahan sikap lelaki itu. Anya yang sejak tadi di luar kelas mereka pun mengerutkan kening bingung melihat wajah datar Antonio yang tak seperti biasa.
Anya menghampiri Sebastian yang menatapnya datar seperti biasa. “Anton, kenapa?” tanya Anya, dia berdiri di hadapan Sebastian yang langsung menghentikan langkahnya.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Sebastian mengendikkan bahunya dan langsung berjalan melewati Anya begitu saja dengan wajah datarnya, membuat Anya kesal karena sikap Sebastian padanya. Dengan helaan napas yang kasar, Anya segera mengikuti langkah Sebastian yang cukup cepat karena langkah lebar lelaki itu.
Natasya mendengus, dia menatap sebal Delfano yang sejak tadi terus mencomot makanannya. Dia berusaha menjauhkan makanannya tersebut dari jangkauan Delfano, namun lelaki itu selalu bisa saja menjangkaunya.
“Udah, ah tinggal dikit lagi.” dengus Natasya, dia menatap makanannya dengan sendu, menusuk lagi makanan tersebut kemudian menyuapkan ke mulut Delfano. “Terakhir.” lanjut Natasya yang mendapat senyuman lebar dari Delfano.
“Beli lagi nanti, gampang.” ucap Delfano, kunyahan di mulutnya belum berhenti. Dia menyenderkan tubuhnya pada mobil, menyugar rambutnya sambil menunggu kedatangan para sahabatnya. Dia mengedarkan pandangannya dan tersenyum lebar menatap kedatangan sahabatnya. Namun, keningnya langsung mengerut melihat wajah datar Antonio yang tak seperti biasanya.
“Lo pulang bareng gue, Na.” ucap Antonio begitu saja saat dirinya sudah berdiri dihadapan Delfano dan Natasya.
Natasya mengerutkan keningnya, dia bingung menatap sikap Antonio yang berbeda.
Sedangkan Delfano, dia menegakkan tubuhnya tersenyum lebar menatap Antonio. “Kenapa, lo?” tanya Delfano, dia terkekeh sambil menyenggol lengan Antonio dengan sikunya.
Antonio diam, hanya menggeleng saja.
Antonio langsung berjalan menuju mobilnya. Untung hari ini dia membawa mobil, jadi tak ada alasan untuk Natasya menolak ajakan—atau perintahnya? Dia memasuki mobil, mulai menyalakan mesin mobilnya.
Diluar, Delfano dan Natasya saling menatap bingung melihat sikap Antonio. Natasya menggeleng sebagai jawaban, begitupun Delfano yang hanya mengendikkan bahunya.
“Anton, kenapa?” tanya Delfano saat mendapati Sebastian yang sudah berdiri dihadapan mereka.
Sebastian menggeleng. Dia kini menatap Natasya. “Pulang sama siapa?” tanya Sebastian.
“Anton, tadi dia udah ajak.” jawab Natasya, dia meremas styrofoam bekas makanannya yang sudah lenyap diperutnya dan juga Delfano mungkin.
Sebastian mengangguk. Dia berjalan menuju mobilnya dengan santainya bersama wajah datarnya itu.
Mereka diam kini, hanya tersisa Delfano yang diapit Natasya dan Anya di samping tubuhnya.
“Aneh banget, kenapa sih Anton? Gak biasanya dia kayak tadi.” ucap Natasya pelan dengan kening mengerut.
Anya mengangguk, “Iya, biasanya kan Anton agak tengil gitu. Tapi, tadi dia datar banget mukanya, aneh banget.” timpal Anya. Ya, meskipun tak bisa dipungkiri dia baru kenal mereka akhir-akhir ini, tapi memang ada yang berbeda kali ini dengan Antonio.
Delfano berdecak, dia berdecak pinggang. “Yaudah, lah. Yuk, cabut.” ajak Delfano sambil menggenggam lengan Anya menuju mobilnya meninggalkan Natasya yang terdiam menatap genggaman tangan Delfano di lengan Anya.
Natasya masih belum mengalihkan pandangannya dari Delfano yang tengah membukakan pintu mobilnya untuk Anya, seperti mengistimewakan perempuan itu.
Delfano tersenyum lebar, langkah kakinya menghampiri Natasya yang diam termenung. Tangannya terulur mengajak rambut Natasya yang membuat perempuan itu terlonjak kaget sekaligus sebal melihat kelakukan Delfano itu.
Natasya mendengus, dia menatap sebal Delfano. “Kusut!”
“Ya, abisnya ngapain masih berdiri disini. Sana, masuk!” titah Delfano dengan kekehan sambil menunjuk mobil Antonio dengan dagunya.
“Iya... Iya... Ini juga mau kok. Santuy!”
Delfano terkekeh.
***
Natasya mengerutkan keningnya, melirik Antonio yang sejak tadi hanya diam. Suasana hening di mobil milik lelaki itu adalah penampakan baru karena selama ini suasana ramai selalu diisi oleh lelaki itu.
“Lo kenapa, Ton?” tanya Natasya pelan, dia sedikit memutar tubuhnya menghadap Antonio yang tengah fokus pada jalanan.
Antonio melirik sekilas Natasya, kemudian menggeleng sebagai jawaban.
Natasya mencebikkan bibirnya, namun seulas senyum terbit di bibirnya itu. Dengan cepat, dia menarik tangan kiri Antonio, membuat si empunya cukup kaget karena tindakannya itu, terbukti dengan Antonio yang tiba-tiba memelankan laju mobilnya.
Antonio melirik Natasya, seulas senyum terbit di bibirnya saat mendapat perlakuan seperti ini dari Natasya. Dia senang dan tak sedikit pun terganggu saat Natasya kini tengah memainkan jemarinya, membuat dia kini melajukan mobil dengan sebelah tangannya dan karena itu pula dia melambatkan laju mobilnya.
“Janganlah sedih-sedih, ya.” ucap Natasya, perempuan itu menjeda sejenak ucapannya. Dia terus memainkan jemari Antonio dengan kedua tangannya. “Boleh deh sedih, tapi harus cerita dong, kenapanya.” lanjut Natasya. Dia masih asyik memainkan jemari Antonio itu. Mulai dari menekan satu persatu ujung jari tersebut sampai menyatukan telapak tangan mereka dan menggenggamnya erat.
Mobil Antonio berhenti karena lampu merah.
Natasya sedikit mendongak, menunggu respon apa yang akan diberikan lelaki itu. Dia yakin, caranya ini cukup ampuh untuk membuat Antonio memberikan alasan atas sikapnya ini.
Dan, ya, semuanya seperti apa yang diduganya.
Kini Antonio menatap Natasya, dia mengusap pelan punggung tangan Natasya dengan tangan kanannya. Tersenyum lebar menatap perempuan itu yang juga tersenyum membalas senyumannya.
Antonio menggeleng, “Gak, kok. Gue gak papa, cuma mungkin lagi badmood aja,” jawab Antonio sambil terkekeh yang mendapat tamparan pelan dari Natasya. Perempuan itu melepaskan genggamannya sambil terkekeh.
Antonio mengusap pelan pipinya yang ditampar oleh Natasya, ya meskipun tak terasa apapun sih, biasa aja. “Kok di tampar, sih?” tanya Antonio, kedua alisnya mengerut.
“Ya, emang cowok gak boleh? Boleh dong, gak ada larangan.”
“Iya, boleh. Tapi,—ih, apaan sih!? Badmood... Badmood... Kayak cewek, ah!”
Natasya tak bisa menghentikan tawanya saat mengetahui sebab sikap lelaki itu. Sedangkan, Antonio pun sama terkekeh, dia mulai melajukan kembali mobilnya saat lampu berwarna hijau.
“Janji pokoknya, jangan kayak tadi lagi. Gak suka.”
Antonio hanya berdehem menanggapi ucapan Natasya, dia kembali fokus pada jalanan. Namun, sesekali dia melirik Natasya yang kini tengah menikmati makanan ringan yang selalu dibawanya di mobil.
Andai lo tahu, Na alasan sebenarnya sikap gue ini. Tapi, sayang, gue terlalu bego buat ngomong itu semua. Gue gak mau, karena perasaan ini persahabatan kita hancur dan gue gak bisa lagi sedekat ini sama lo.
***
“Fan,”
Panggilan Anya itu hanya mendapat deheman dari Delfano, lelaki itu lebih memilih fokus pada jalanan. Anya terdiam, masih bingung harus memulainya darimana untuk mengungkapkan pertanyaan yang ada di benaknya. Perempuan itu takut lelaki disampingnya itu curiga karena pertanyaan nanti.
Delfano mengerutkan keningnya saat tak mendengar suara Anya lagi, dia melirik sekilas Anya. “Kenapa, Nya?” tanya Delfano bingung, keningnya mengerut tapi masih tetap fokus pada jalanan.
Anya berdehem, “Lo pernah, gak suka sama seseorang?” pertanyaan bodoh terlontar begitu saja dari mulut Anya, perempuan itu merutuki pertanyaan bodohnya itu.
Delfano terkekeh, “Suka sama orang? Ya pernah lah!” tukas Delfano, dia terkekeh karena pertanyaan Anya yang dinilainya aneh. “Lo emangnya gak tahu, Nya, trade record gue? Cari deh di google, pasti ketemu.” sambung Delfano.
Anya ikut terkekeh, dia seperti malu saat ini karena pertanyaan nya itu. “Iyalah, gue tahu siapa ko, ya kali enggak. Playboy yang terkenal seantero SMA, bahkan lebih.” ucap Anya. “Tapi, gini loh maksud gue. Suka yang bener-bener suka gitu, itu maksudnya. Lo pasti ngerti deh.” lanjut Anya, dia mencoba menjelaskan maksud dari pertanyaan bodohnya itu.
“Suka yang bener-bener suka?”
Anya mengangguk.
“Pernah,”
“Sama siapa?”
Delfano diam.
“Natasya, ya?”
Delfano semakin diam.
***
Delfano turun dari mobilnya di depan apotek. Dia berjalan dengan santainya sambil mengacak pelan jambul rambutnya yang membuat dia kini menjadi pusat perhatian orang-orang, terutama para remaja, selalu.
Dia berhenti di apotek setelah mengantarkan Anya ke apartemen. Kebetulan apartemen Anya itu dekat dengan apotek, jadi dia bisa sekalian mampir sebentar karena ada beberapa obat yang harus dibelinya.
Dia kini berhenti di depan seorang Apoteker, kemudian mengulurkan sebuah kertas berisi resep dokter.
Apoteker itu membaca sejenak tulisan yang tertera di kertas tersebut, mengangguk pelan kemudian menatap Delfano. “Tunggu sebentar, ya, mas.” ucap Apoteker tersebut lalu melenggang dari hadapan Delfano.
Delfano mengetukkan tangannya di atas etalase berisi obat-obatan. Dia mengedarkan pandangannya, menatap orang-orang disekitarnya sekilas. Sebelum kemudian dia menemukan keberadaan perempuan paruh baya yang sangat dikenalnya.
Kakinya melangkah menghampiri perempuan paruh baya itu yang tengah memilih beberapa obat-obatan.
“Bun,” panggil Delfano yang membuat Emma—perempuan paruh baya yang tadi dilihatnya—terlonjak kaget.
“Fano, kamu ngapain disini?”
Delfano diam, dia mengerutkan keningnya. “Oh, itu, aku beli obat buat temen.” jawab Delfano. “Bunda sendiri ngapain disini? Bunda sakit?” tanya balik Delfano yang langsung membuat Emma terlonjak kaget dan terdiam.
Emma gelagapan. “Hm, iya bunda sedikit pusing aja. Jadi, kesini deh, beli obat.” jawab Emma, bohong tentunya. Dia mengusap pelan keningnya seolah membenarkan ucapannya.
Delfano mengangguk-angguk.
“Mas, maaf ini obatnya.”
“Oh, iya, berapa ya?”
Delfano langsung membayarkan sejumlah uang yang disebutkan Apoteker tersebut atas obatnya. Dia langsung memasukkan kresek putih yang biasanya diberikan oleh para dokter yang isinya obat-obatan itu kedalam saku jaketnya. Dia kembali menatap Emma.
“Udah kan bun? Ayo, aku anterin pulangnya.”
Emma mengangguk, dia tak menolak tawaran Delfano. Meskipun dia tahu bahwa jarak rumahnya lumayan jauh dari sini. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Delfano, memasuki mobil tersebut dan melaju meninggalkan area apotek ini menuju rumah Emma, Natasya.