![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Senin mungkin hari yang sangat dibenci sebagian orang. Di hari itu, mereka semua harus kembali ke aktifitas semula setelah dua hari terlewatkan dengan yang namanya istirahat, maybe. Bukan hanya aktifitas fisik saja yang akan kembali dilakukan, tetapi otak pun akan kembali diputar. Biasanya, di hari itu banyak sekali tugas-tugas yang harus di serahkan setelah dua hari kemarin diberikan waktu untuk mengerjakannya.
Seperti Natasya saat ini, dia masih sibuk mengerjakan tugas Matematika yang belum sempat dikerjakannya. Sebenarnya, dia sudah mengerjakan tugas itu, hanya sebagian. Memang sih ya, tugas nya itu tak seberapa, hanya 10 soal. Tapi, beranak. Oh ayolah untuk setiap guru matematika, kenapa sih selalu memberi soal yang beranak? Kadang kasih gak beranak, tapi bejibun soalnya, gak jauh beda.
“Nat, Bu Ai datang tuh.” ucap Kinara, dia mengguncangkan lengan Natasya yang tengah menyalin jawaban dari buku Kinara. Bu Ai itu guru matematika minat yang dikenal dengan kedisiplinan dan sikap datarnya. Minat, gak minat harus minat! Itulah slogan yang selalu diucapkan saat ada murid yang malas-malasan mengerjakan tugas darinya.
Natasya mendengus, dia melirik kesal Kinara yang kini terkekeh. Dia menghapus coretan yang diakibatkan guncangan Kinara tadi.
“Selamat pagi, semuanya.”
Rasanya Natasya kehilangan napas seketika saat mendengar suara itu, dia mendongak menatap Bu Ai yang tak berekspresi sedikitpun. Suasana kelas yang tadinya ramai seketika hening saat mendengar suara Bu Ai, sebenarnya bukan sejak mendengar suara Bu Ai sih, tetapi sejak kedatangan guru itu.
“Kumpulkan tugas yang kemarin.” titah Bu Ai, dia menatap satu persatu muridnya yang mulai mengestapet buku tugas yang diperintahkan nya. Matanya jatuh pada Natasya yang hanya menunduk sambil semakin merapatkan tubuhnya kearah buku di atas meja.
“Natasya,”
Seketika Natasya menegakkan tubuhnya, tersenyum kikuk kearah Bu Ai yang sudah berjalan ke arah mejanya. Bu Ai memperhatikan buku yang ada di meja Natasya, melirik buku tersebut dan Natasya bergantian.
Bu Ai mengulurkan buku ditangannya, “Kerjakan di perpus, jangan kembali sebelum tugasnya selesai.” ucap Bu Ai dengan datarnya. Natasya mengangguk kikuk, menerima bukunya kemudian segera bergegas ke perpustakaan.
***
Delfano bernapas lega saat dia berhasil dari aksi bolos di kelasnya. Dia keluar dari tempat persembunyiannya, berjalan santai melewati koridor. Dia tak takut ketahuan guru lain, yang dia takutkan adalah ketahuan guru pelajaran di kelasnya karena itu semua akan menimbulkan masalah yang fatal.
Langkahnya di usahakan sesantai mungkin, sesekali dirinya bersiul, mengedipkan matanya saat tanpa sengaja mendapati beberapa siswi yang dengan terang-terangan menatapnya.
Matanya menangkap seseorang yang berjalan kearah perpustakaan, membuatnya semakin mempercepat langkahnya untuk menyusul orang itu. Dia memasuki perpustakaan, suasana hening yang menyambutnya. Dia mulai menyusuri perpustakaan, mencari keberadaan orang itu. Hanya ada sedikit orang disini, memudahkannya dengan cepat menemukan orang itu.
Natasya, orang itu Natasya. Natasya tengah mengerjakan sesuatu di pojok perpustakaan. Perempuan itu sesekali menghapus tulisannya, membuka buku paket yang ada dihadapannya dan kembali menulis di bukunya.
Senyum Delfano mengembang, dia segera melangkah menghampiri Natasya. Dia langsung duduk seketika di samping perempuan itu, membuat si empunya segera menoleh ke arahnya.
“Ngapain lo disini?” tanya Natasya melirik Delfano sekilas, dia kembali mengerjakan tugasnya.
Delfano menangkup wajahnya dengan sebelah tangan, memperhatikan wajah Natasya yang serius mengerjakan tugas. Natasya mengerutkan kening, bingung saat tak mendengar jawaban apa yang terlontar dari mulut Delfano. Natasya melirik Delfano yang tengah senyum-senyum menatapnya.
“Lo kenapa, Fan? Senyum-senyum gak jelas,” ucap Natasya, dia menarik sudut bibirnya. “Oh... atau jangan-jangan lo kesambet hantu penunggu perpustakaan, ya? Senyum-senyum sendiri.” lanjut Natasya, dia terkekeh membayangkan jika apa yang diucapkannya benar.
Masih belum ada balasan dari Delfano, lelaki itu masih setia dengan posisinya.
“Lo kenapa, sih?” tanya Natasya, dia meraup wajah Delfano kemudian mendorongnya pelan, membuat mereka tertawa.
“Sssttt...”
Mereka diam, saling tatap sambil menahan tawa.
“Jangan berisik, Ta nanti dimarahin lagi.” ucap Delfano yang diangguki Natasya, mereka belum berhenti dengan tawa yang ditahannya.
“Lagian lo ngapain sih ngeliatin gue mulu? Muka gue aneh, ya? Atau, gimana?” tanya Natasya, dia menyentuh wajahnya bersiap mengeluarkan cermin kecil dari saku bajunya. Namun, Delfano lebih cepat mencegahnya lebih dulu.
“Enggak, kok. Muka lo gak aneh. Cantik kok.”
“Terus? Ada yang aneh gitu?
“Ada?
“Apa? Tadi, katanya muka gue gak aneh,”
“Bukan di lo, tapi di gue.”
“Lo? Maksudnya?”
“Hati gue, aneh banget. Deg-degan tiap kali liat lo.” jawab Delfano yang seketika membuat Natasya terdiam.
Hening.
Sebenarnya, dia sendiri belum tau apakah yang diucapkan Delfano tadi benar atau hanya becanda. Tapi satu hal yang pasti, detak jantungnya yang tak karuan ini memang benar adanya.
***
Natasya melangkahkan kakinya menuju koperasi sekolahnya, dia butuh pulpen. Entah kenapa, tiba-tiba pulpennya habis begitu saja. Dan saat dia mencari isian pulpen di tempat pensil miliknya, dia tak menemukan satupun. Padahal dia stok isi pulpen selusin, tapi kenapa tak ada satupun? Aneh tapi nyata.
“Na,”
Natasya menghentikan langkahnya yang hendak memasuki koperasi, dia membalikkan tubuhnya dan tersenyum saat melihat keberadaan Antonio yang kini tengah berjalan kearahnya. Jadi, area koperasi tuh ada di area anak IPS, sehingga wajar saja jika dia bisa bertemu dengan Antonio di tempat ini.
Dasar anak IPS, jarang belajar. Buktinya sekarang, disaat semua anak IPA dengan baiknya berada di dalam kelas, sedangkan anak IPS hampir semuanya di luar kelas. Ada yang duduk di depan kelas, kesana-kemari tak jelas. Dasar anak IPS.
Antonio berjalan menghampiri Natasya. “Mau, ngapain?” tanya Antonio, dia memasukkan sebelah tangannya ke saku celananya dan bersandar pada tembok.
Natasya menunjukkan pulpen di tangannya, “Mau beli isi pulpen, abis.” jawab Natasya, dia melangkahkan kakinya memasuki koperasi yang lumayan ramai di isi anak IPS yang sedang duduk-duduk saja sambil mengobrol dan menikmati beberapa makanan ringan yang dijual disini. Antonio mengekori dari belakang.
Natasya memilih satu-persatu isi pulpen yang tersedia, dia memilih 4 isi pulpen sekaligus untuk berjaga-jaga. Sedangkan, Antonio hanya tersenyum kearah teman jurusannya, tangannya mengambil sebuah permen, entah kenapa tiba-tiba mulutnya terasa pahit dan butuh yang manis-manis.
Antonio tersenyum menatap tulisan di balik permen tersebut, “Na, sekalian nih bayarin satu.” ucap Antonio saat Natasya tengah membayar isi pulpen yang dibelinya. Natasya mengerutkan keningnya, namun kemudian mengangguk, perempuan itu segera membayar belanjaannya.
Mereka beriringan keluar dari koperasi.
“Gue duluan ya, Ton, ada guru di kelas.” ucap Natasya, dia segera membalikkan tubuhnya namun Antonio dengan cepat menahan pergelangan tangannya membuat dia mau tak mau kembali menatap lelaki itu.
“Kenapa?”
Bukannya menjawab, Antonio malah mengulurkan permen yang tadi dibelinya, lebih tepatnya tulisan yang tertera di permen tersebut.
Pacaran, yuk!
Natasya terdiam, dia menatap bergantian Antonio dan permen itu. Dia berdehem sebentar, mencoba menetralkan perasaannya. “Gaje lo. Udah ah, gue ke kelas. BYE!”
Setelah mengucapkan itu, Natasya langsung berjalan cepat meninggalkan Antonio dengan perasaan aneh, sedangkan lelaki itu hanya menarik sudut bibirnya menatap punggung Natasya yang semakin menjauh dari pandangannya.
“Dikiranya becanda kali, ya.” kekeh Antonio, dia menggeleng tak paham sambil membuka bungkusan permen tersebut dan memakannya.
***
Kini mereka tengah duduk di kantin, seperti biasa. Natasya dan Sebastian yang tengah menikmati soto mereka ditemani sepiring nasi sedangkan Antonio dan Delfano yang tengah mengantri bakso yang antriannya cukup panjang, maklum lah bakso kan makanan semua umat.
Natasya bersyukur dua lelaki itu mengantri, setidaknya dia tak harus berlama-lama dengan mereka karena jujur saja, dia belum siap mengingat apa yang sudah dua lelaki itu lakukan meskipun dia belum tau kebenarannya. Satu hal yang jelas, dia benar-benar deg-degan.
“Lo kenapa sih, Sya?” tanya Sebastian, dia menatap bingung Natasya yang sedari tadi terus mengerutkan kening sambil menggeleng entah memikirkan apa.
Natasya tersenyum lebar, menggeleng. “Gak papa, kok.” jawab Natasya, dia kembali menyuapkan suapan nasi yang dicampur dengan kuah soto.
“Serius?”
Natasya terdiam, dia tak bisa seperti ini terus. Dia menatap Sebastian cukup lama, membuat lelaki itu mengerutkan kening. Dia ingin bertanya karena dia yakin, Sebastian tak seperti dua lelaki itu. Dia yakin, Sebastian yang cukup risih dengan namanya perempuan tak akan berlaku seperti dua lelaki itu karena keusilannya.
“Yan, kalo diantara persahabatan ada cinta, mungkin, gak?”
Seketika, ucapan Natasya itu membuat Sebastian yang tengah menyeruput kuah soto tersedak. Natasya dengan cepat membantu lelaki itu dengan memberikan minum milik lelaki itu.
Sebastian menatap Natasya setelah dirasa tenggorokannya sudah membaik akibat tersedak tadi. “Kenapa, gak mungkin?”
“Hah?”
“Kalo gue bilang, gue suka sama lo, gimana?”
“Hah?”