Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-EMPATPULUHLIMA



Ceklek...


Natasya menoleh saat suara pintu kamar inapnya terbuka, dia menunjukkan senyum manisnya. Senyum yang sekali lagi mampu membuat orang yang tengah berjalan menghampirinya berdebar.


Sebastian, lelaki dengan seragam yang sudah melekat ditubuhnya berjalan menghampiri Natasya. Dia berdiri disamping Natasya, mengusap pelan puncak kepala perempuan itu. ”Pagi,” sapa Sebastian, dia menunjukkan senyum terbaiknya kali ini.


“Pagi,” balas Natasya.


“Udah sarapan?” tanya Sebastian, dia menaikkan sebelah alisnya.


“Nanti, bentar lagi diantar makanannya.”


Sebastian mengangguk-angguk, dia melepaskan tas yang tersampir di pundaknya dan memilih meletakkan begitu saja tas tersebut. Dia menarik kursi yang berada tak jauh dari posisinya kini, memilih menjatuhkan bokongnya di sana sambil menggenggam tangan Natasya.


“Kenapa, kesini?”


Sebastian mengerutkan keningnya, “Kan kemarin udah ngomong, gue kesini lagi.”


Natasya menggeleng, tak setuju dengan jawaban yang diberikan Sebastian. “Enggak mau, gak boleh. Sekolah, sana!” titah Natasya yang mendapat gelengan dari Sebastian.


Natasya mendengus, dia memicingkan matanya menatap Sebastian. Sedangkan, yang ditatap hanya menunjukkan deretan giginya. “Sekolah atau gue marah? Pilih mana?” tukas Natasya.


“Gak asik,”


Natasya mendesah pelan, dia melepaskan tangannya dari genggaman Sebastian. “Ya, gue gak mau, Yan, lo bolos lagi cuma karena gue. Udah 2 hari lagi, apa kata Anton sama Fano nanti?” Natasya mencebikkan bibirnya.


“Ya, kan gue bisa kasih alasan nantinya. Gampang lah itu.”


“Enggak mau! Pokoknya harus sekolah, titik!”


“Tapi—”


Ceklek...


“Permisi, mau antar sarapan untuk pasien.”


Sebastian langsung beranjak, mengambil sarapan yang disediakan rumah sakit untuk Natasya. “Makasih, mas.” ucap Sebastian. Dia langsung mendorong troli berisi makanan kehadapan Natasya.


Pintu sudah ditutup, kembali menyisakan mereka berdua.


“Makan, ayo!” titah Sebastian, tangannya sudah hendak menyuapkan makanan yang akan dimakan Natasya. Tapi, Natasya lebih dulu mencegahnya.


Sebastian mengerutkan keningnya bingung. Natasya menatap dalam Sebastian, dia menautkan kedua alisnya. “Gue mau makan, tapi janji dulu, abis itu lo berangkat sekolah.” ucap Natasya yang langsung membuat Sebastian menghela napas dengan kasar.


“Promise?” sambung Natasya, dia melepaskan genggamannya dan menunjukkan jadi kelingkingnya. Dia menatap Sebastian, menunggu jawaban lelaki itu.


Sebastian mengangguk malas, dia mendudukkan tubuhnya.


Natasya mencebik, terkikik geli menatap wajah Sebastian yang kembali datar. “Enggak, janji dulu.” kekeh Natasya, dia menggerakkan jari kelingkingnya yang sejak tadi diacuhkan Sebastian.


Sebastian diam, dia memilih memainkan makanan untuk Natasya yang tengah dipangkunya.


“Yan...”


“...”


“Sebastian...”


Sebastian menghela napas, dia melirik Natasya. Dengan terpaksa, dia mengangguk, menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking Natasya. “Yaudah, tapi, sekarang makan dulu.” titah Sebastian yang langsung diangguki semangat dan senyuman lebar oleh Natasya.


***


“Tata gak sekolah lagi?” tanya Delfano, dia menaikkan kedua alisnya menatap Antonio yang baru saja keluar dari rumahnya dan menghampiri Delfano yang sudah menunggunya di dalam mobil.


Antonio menggeleng, melepaskan tas yang tersampir di pundaknya. “Enggak, gak tahu juga sampai berapa hari tuh anak izin.” jawab Antonio, dia membenarkan kerah seragamnya.


Delfano mengangguk-angguk, mulai menjalankan mesin mobilnya. “Lo tahu, liburan kemana?” tanya Delfano. Mobilnya sudah mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah Antonio.


“Boro-boro tahu, dia pergi aja gue gak tahu, tiba-tiba lagi liburan aja.” jawab Antonio, dia terkekeh.


Antonio membenarkan tatanan rambutnya lewat kaca spion tengah. “Tian, mana?” tanya Antonio, melirik sekilas Delfano yang tengah terfokus pada jalanan.


“Gak sekolah dia,”


Antonio sontak menatap Delfano dengan kening mengerut. “Lah, kenapa?” tanya Antonio bingung.


Delfano mengendikan bahunya, “Mana gue tahu, orang dia cuma ngomong gak sekolah, udah itu aja.” jawab Delfano. “Kayak gak tau Tian aja, hemat ngomong, bro.” lanjut Delfano yang diakhiri kekehan begitu pula Antonio.


“Berduaan doang, dong kita?”


“Enggaklah, ada Anya kalau lo lupa.”


“Oh, iya. Berarti kita nyamperin Anya?”


Delfano menggeleng, “Enggak, ketemuan di sekolah aja.”


“Oh.”


***


Anya mengetukkan sepatunya, duduk disebuah kursi dekat parkiran. Matanya tak henti-henti menunggu kedatangan seseorang, seseorang yang lagi lagi berhasil membuat dia tersenyum tak karuan semalam. Dia langsung menegakkan tubuhnya saat melihat kedatangan mobil. Dia yakin, orang itu juga pasti di sana.


“Hi, Nya.“ sapa Antonio.


“Morning, Nya.” lanjut Delfano.


Anya tersenyum, “Kok cuman berdua aja?” tanya Anya, dia sedang menyiapkan kalimat yang pas untuk menanyakan Sebastian—orang yang sedari tadi ditunggunya.


“Nana masih izin, kalau Tian gak sekolah, tahu kenapa tuh anak.” jawab Antonio. Mereka berjalan beriringan memasuki koridor.


“Bolos, maksudnya?” tanya Anya, dia menatap Antonio dan Delfano yang berjalan di kedua sisi tubuhnya.


“Sebastian?”


Delfano mengendikkan bahunya, begitupun Antonio. Antonio dan Delfano saling tatap melihat tatapan sendu Anya.


“Lo kenapa, Nya?”


Anya terlonjak, mengerutkan keningnya. “Kenapa, apanya?” tanya Anya bingung maksud dari pertanyaan Delfano.


Delfano terkekeh, “Jangan bilang, lo suka lagi sama Tian?” tukas Delfano, menatap menggoda Anya yang langsung salah tingkah dibuatnya.


Anya menggeleng kikuk, “Apaan, sih! Enggak, ya!” elak Anya, dia memilih mengedarkan pandangannya dari dua lelaki itu.


“Jujur aja kali,”


“Enggak, ya.”


“Jangan terlalu berharap banyak Nya sama Tian, dia udah ada cewek lain di hatinya yang jelas bukan lo.” ucap Antonio, menepuk pelan pundak Anya yang seketika terdiam mendengar ucapan Antonio.


Anya berdehem, “Lagian siapa yang suka sama sama Sebastian, aneh!” ketus Anya, memilih melangkahkan kakinya lebih cepat meninggalkan dua lelaki itu yang kini terdiam di tempat.


Delfano melirik Antonio, “Yakin, dia suka sama Tian.” ucap Delfano yang diangguki pula oleh Antonio.


***


Anya terus menggerutu sejak tadi, lebih tepatnya sejak Pak Zae selesai memberikan wejangan karena dirinya lupa mengerjakan tugas. Iya sih, dia yang salah karena tidak mengerjakan tugas yang padahal sudah diberi waktu hampir 2 minggu untuk mengerjakannya. Tapi, mau bagaimana lagi coba. Dia terlalu sibuk dengan berbagai hal sampai-sampai lupa dengan tugas yang diberikan guru itu.


Langkahnya terhenti seketika melihat seorang lelaki yang tengah berdiri hormat didepan tiang bendera. Dia menajamkan penglihatannya, memastikan orang yang dilihatnya adalah dia. Dengan senyum lebar, dia berjalan menghampiri lelaki itu. Namun, langkahnya terhenti saat otaknya memikirkan sesuatu.


“Gue beliin dia minum dulu deh,” gumam Anya pelan, membalikkan tubuhnya dan berlari dengan cepat menunju kantin, membeli minuman untuk lelaki itu.


Sebastian—lelaki yang tengah hormat didepan tiang bendera itu melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu 10 menit baginya terbebas dari hukuman ini. Dia sedikit memicingkan matanya saat cahaya matahari yang bersinar cukup terang pagi ini begitu menyengat kulitnya bahkan sampai membuatnya tak berhenti menyeka keningnya sendiri yang sejak tadi mengeluarkan keringat. Wajahnya masih datar seperti biasa, tak ada sedikitpun perubahan meskipun sejak tadi sudah banyak siswi yang berlalu-lalang dihadapannya, menatap menggoda kearahnya—yang diabaikannya.


Ces!


Rasa dingin seketika hinggap di lengannya, membuat dia sedikit terkejut tentunya. Dia menatap orang disampingnya yang tengah tersenyum, melirik minuman botol dingin ditangan perempuan itu. Dan, detik kemudian, dia kembali mengacuhkan perempuan itu.


“Lo pasti haus, ya, Yan?” tebak Anya, dia kini sudah berdiri dihadapan lelaki itu, menggenggam erat minuman dingin ditangannya.


Sebastian diam, tak menjawab. Memilih fokus menatap bendera diujung tiang sana.


Anya—perempuan itu dia. Dia mencebikkan bibirnya, menatap sebal karena diacuhkan. “Ini nih, gue beliin lo minuman. Pasti lo segar deh abis minum ini.” ucap Anya, dia menyodorkan minuman ditangannya. Tak ada pergerakan dari Sebastian.


“Yan, ini.” cicit Anya, dia menggerakkan minuman ditangannya yang tak disentuh Sebastian. Boro-boro disentuh, dilirik saja tidak.


“Yan,”


“Gue gak haus,”


Anya mendesah pelan, “Tapi, gue udah beliin ini buat lo, hargain kek.”


Sebastian melirik sinis Anya, “Pengen di hargain berapa rupiah lo?” tanya Sebastian yang sontak membuat Anya terkesima.


“Bastian, maksud gue—”


“Berisik!”


Anya menyatunya telapak tangannya didepan dada, “Please ya, please banget lo terima minuman gue.” mohon Anya, dia menatap memohon Sebastian. “Sekali aja.”


Kring... Kring...


Jam istirahat sudah berbunyi, itu artinya hukuman Sebastian telah usai. Dia segera meraih tasnya yang tergeletak begitu saja di lapangan. Memilih berjalan meninggalkan Anya yang kini mengejar langkahnya.


“Please, Yan, please...”


Anya mencekal lengan Sebastian, menatap sendu lelaki itu tepat di bola matanya. Sebastian menatap datar Anya. “Yaudah, sini!” pinta Sebastian yang langsung menerbitkan senyum lebar dibibir Anya.


“Nih, makasih, ya.” ucap Anya menyerahkan minuman untuk Sebastian.


Sebastian menerimanya, kemudian berjalan meninggalkan Anya yang masih berdiri ditempat menatap punggung Sebastian yang menjauh.


“Akhirnya, kayaknya gue bisa deh masuk ke hati lo. Baru—”


Buk!


Anya terkesima, menatap tak percaya Sebastian yang hanya meliriknya, kemudian kembali melanjutkan langkahnya setelah membuang minuman yang diberikannya ke tong sampah.


Dasar Sebastian! Awas aja, gue buat jatuh cinta tahu rasa lo!