Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-TIGAPULUHSATU



Natasya terdiam, dia masih mencerna ucapan yang dilontarkan Delfano padanya. Berbeda dengan tadi, raut wajahnya yang terlihat tegang namun penuh bahagia, kini tegang penuh tanda tanya. Kekecewaan jelas dia rasakan, ada bagian hatinya yang tak terima dengan pernyataan Delfano barusan.


Natasya terkekeh pelan, dia tersenyum kikuk sambil melepaskan tangan Delfano dari lengannya. “Terus? Apa hubungannya sama gue?” tanya Natasya, dia menaikan sebelah alisnya, dia tersenyum datar.


“Lo harus tahu, Ta.”


Natasya memutar tubuhnya memunggungi Delfano. “Lo khianat, lo ingkar janji. Lo bilang mau berubah? And, see? Lo gak bisa. Baru sedikit lihat cewek, lo pepet, lo jadiin pacar.”


“Ta—”


“Udahlah, terserah lo. Gue juga gak peduli.” potong Natasya. Dia menghela napas dengan kasar, “Sekarang gini aja, terserah. Terserah lo mau ngapain. Lo mau pacaran sama 10 cewek sekaligus, PHP-in mereka, blablabla... Pokoknya terserah lo! Gue bodo amat sekarang, bukan urusan gue. Angkat tangan gue!”


Setelah mengucapkan itu, Natasya segera berjalan pergi memasuki rumahnya. Dia membuka gerbang rumah dan langsung menutupnya, tak ada niatan sedikitpun dalam dirinya untuk menunggu penjelasan yang akan dilontarkan Delfano. Dia terlanjur kecewa pada pemuda itu.


Natasya, marah? Tentu. Kecewa? Pasti, bahkan sangat. Ayolah perempuan mana yang tak akan marah dan kecewa diwaktu bersamaan. Oke, dia memang bukan siapa-siapa Delfano, dia bukan pacar atau mantan lelaki itu, tapi dia 'hanya sahabat'. Dia tak punya hak istimewa untuk melarang Delfano melakukan apa yang lelaki itu mau. Tapi, coba pikir. Delfano sudah berjanji dan janji harus di tepati, bukan? Tapi, sekarang? Heh!


Alasan lain yang membuat Natasya kecewa adalah karena dia sakit. Sakit harus kembali mengetahui Delfano yang menjatuhkan hatinya untuk perempuan lain. Dia sakit saat ternyata cintanya tak pernah terbalaskan. Mungkin disini dia yang salah, yang tak pernah menunjukkan perasaan hatinya yang sesungguhnya. Tapi, apa dia salah saat merasa seperti ini?


Natasya langsung memasuki kamarnya. Untung saja bundanya tak ada di rumah, jadi dia bisa lebih leluasa menumpahkan perasaannya tanpa takut ketahuan sang bunda. Dia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, menyusupkan wajahnya ke bantal, menangis kecewa dengan sikap Delfano ini.


***


Ting!


Natasya menggeram, sudah satu jam dia dalam keadaan seperti ini, menyusupkan wajahnya ke bantal sambil terus menggerutu kala pikirannya mengingat Delfano. Dia kesal, sangat kesal.


Ting!


Natasya kembali menggeram, dengan kasar dia bangun dari tidurnya dan berjalan mengambil ponsel yang diletakan nya di atas meja. Dia semakin kesal saat ternyata suara notifikasi tersebut berasal dari Delfano. Tanpa menunggu lama lagi, dia langsung membuka pesan yang dikirimkan lelaki itu.


“Ngapain lagi sih nih anak, nyebelin banget.”


Tanpa niatan membalas pesan tersebut, dia meletakkan kembali ponselnya dan memilih kembali ke ranjang. Namun, suara gedoran pintu membuatnya menghentikan langkah.


“Siapa, sih?” gumam Natasya, dia berjalan pelan menuju pintu kamarnya. Dia membuka pintu tersebut dan langsung terkejut saat melihat keberadaan Delfano di depan kamarnya itu.


Ekspresi datar langsung ditunjukkannya. Dia tak berniat sedikitpun mengeluarkan suaranya. Bahkan kini dia bersiap menutup pintu tersebut kembali, namun dengan cepat ditahan oleh Delfano.


“Ta, dengerin gue dulu.”


“Apaan, sih!? Gak ada yang perlu didengerin.”


Mereka masih dalam posisi saling menahan pintu. Delfano yang mencoba menahan pintu agar tidak ditutup, sedangkan Natasya mencoba menahan pintu yang hendak ditutupnya agar tidak dibuka Delfano. Tapi, memang dasarnya Delfano lebih kuat dari Natasya, jadi dengan mudah lelaki itu membuka pintu tersebut yang membuat Natasya memundurkan tubuhnya, menjaga jarak dengan Delfano yang kini sudah berada di dalam kamarnya.


“Dengerin gue dulu,”


“Dengerin, apa!? Gue gak butuh apapun yang harus di dengerin, gue—”


“Hah?”


Natasya kembali dibuat bingung oleh kalimat yang dilontarkan Delfano itu, dia mengerutkan keningnya mendengar kalimat tersebut. Delfano menghela napas kemudian tersenyum penuh arti sambil berjalan kearah sofa di kamar perempuan itu. Lelaki itu menjatuhkan tubuhnya begitu saja di sofa, melipat tangannya di belakang kepala sambil bersandar pada sandaran, menatap Natasya yang masih kebingungan.


“Gue becanda tadi,”


Kalimat selanjutnya yang dilontarkan Delfano masih belum menjawab kebingungan Natasya. Dia masih didera bingung oleh setiap pernyataan yang dilontarkan lelaki itu.


“Gue becanda tadi soal gue jadian sama Anya. Ya, kali gue khianati janji gue sama lo, bukan gue banget.” jelas Delfano yang terkekeh saat Natasya seketika menatapnya setelah mendengar kalimat tersebut.


Natasya menatap sinis Delfano, “Gue gak percaya.”


“Asli, Ta, masa iya gue bohong.”


“Gak percaya!”


Delfano menghela napas, dia membenarkan posisinya menjadi duduk tegak. “Gue mesti ngapain supaya lo percaya?” tanya Delfano, dia menaikkan kedua alisnya.


Bukannya menjawab, Natasya malah menitikkan air matanya, menangis pelan yang membuat Delfano langsung beranjak seketika dari duduknya. “Dih... Dih...Kkenapa nangis?” tanya Delfano was-was, dia langsung menarik Natasya ke pelukannya, mencoba menatap wajah perempuan itu yang kini di tutup oleh perempuan itu sendiri.


“Ih, kenapa nangis? Gak di apa-apain juga.” ucap Delfano, dia terkekeh mencoba membuka tangan Natasya yang menutup wajah perempuan itu. Berhasil, dia berhasil membuka tangan itu dan langsung terlonjak kaget melihat wajah Natasya yang basah dan merah karena tangisannya itu.


“Kenapa nangis, sih? Udah, ah, gak di apa-apain juga.” ucap Delfano, lagi. Dia mencoba menghapus air mata yang membasahi pipi Natasya. Tak ada penolakan dari perempuan itu, membuat Delfano dengan leluasa menghapus air mata tersebut meskipun tak kunjung berhenti pula air matanya itu.


Delfano menggiring Natasya untuk duduk di sofa, dia memilih berjongkok dihadapan perempuan itu sambil terus mencoba menghapus air mata itu.


“Kenapa?” tanya Delfano pelan, dia mendongakkan wajahnya menatap Natasya. Tangannya menggenggam jemari perempuan itu dengan eratnya.


Natasya menggeleng.


Delfano menarik bibirnya, tersenyum. “Bohong, gak mungkin kalau gak kenapa-napa.” tukas Delfano, dia yakin perempuan dihadapannya ini berbohong. “Kenapa, coba? Ngomong ayo.” tukas Delfano.


Bukannya menjawab, Natasya langsung memeluk Delfano dengan eratnya yang membuat lelaki itu mengerutkan kening dilanda bingung dan bahagia dalam waktu bersamaan. Hampir saja lelaki itu terjatuh kalau tidak dengan sigap menahan tubuh Natasya yang memeluknya. Dia membalas pelukan perempuan itu, pelukan yang menurutnya lumayan erat ditambah perempuan itu yang masih terisak karena tangisnya yang belum reda sepenuhnya.


“Jangan ingkar janji.”


“Iya, cantik. Ya, kali gue ingkar, dihujat abis-abisan nanti.” balas Delfano, dia terkekeh membuat Natasya ikut terkekeh.


Natasya melepas pelukannya, dia menatap Delfano dengan wajah yang sedikit merah sambil mencebikkan bibirnya. “Awas, lo!”


“Dih? Nih awas nih!”


“Ih...”