Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-TIGAPULUHDELAPAN



“Lo suka sama Natasya?”


Pertanyaan itu masih saja terngiang dibenak Sebastian meskipun orang yang melontarkan pertanyaan tersebut kini sudah tak ada dihadapannya. Andai saja, andai saja dia bisa jujur dengan mudahnya tanpa rasa takut dihatinya, tentu dia akan menjawab dengan yakin.


Iya. Dirinya suka dengan Natasya, dia punya perasaan lebih untuk sahabatnya itu.


Sebastian jatuh cinta dengan Natasya.


Tapi, sayang, sepertinya ucapan itu hanya akan terlontar dengan gamblang di dalam hatinya, tanpa bisa terucap langsung lewat mulutnya. Dia masih menatap lurus ke depan, lebih tepatnya pada mobil Antonio yang baru menghilang dari pandangan matanya.


Tadi, saat Antonio melontarkan pertanyaan seperti itu. Dia terdiam cukup lama. Masih belum yakin untuk memberikan jawaban. Hingga saat hatinya siap menjawab, sebuah panggilan yang entah dari siapa membuat Antonio meninggalkan rumahnya. Jadi, tinggal lah dia seorang diri di balkon kamarnya dengan dua kaleng minuman bekas dan snack.


Di tengah keterdiamannya, nada dering musik jazz yang berasal dari ponsel miliknya membawa dia memasuki kamar dan menerima panggilan tersebut.


“Hallo?”


***


“Kenapa harus gue sih?”


“Kenapa gak orang lain?”


“Apa Tuhan adil?”


“Enggak! Dia gak pernah adil!”


Racauan tak jelas terus saja terucap dari mulut Delfano yang kini sudah terkapar di atas meja bar dengan mata terpejam. Mulutnya tak henti-henti mengeluarkan berbagai kalimat, umpatan lebih tepatnya.


Banyak tangan yang dengan sengaja menyentuh bagian tubuhnya, lebih tepatnya berasal dari tangan para wanita dengan pakaian kurang bahan. Dan, masih banyak ajakan manja yang ditawarkan para wanita itu pada Delfano. Tapi, maaf, dia masih sadar dan tak akan melakukan itu semua.


Menjijikkan, pikir Delfano.


Delfano adalah peminum handal. Jadi, tak mudah baginya langsung terkapar tak berdaya jika hanya minum beberapa gelas saja. Tapi, entah kenapa, kepalanya kini seolah berat yang membuat dia harus terkapar di atas meja bar.


Suara dentuman musik, aroma alkohol yang menyengat dan para pencari kenikmatan duniawi menjadi paket komplit tempat ini. Tempat yang menjadi pencarian orang-orang yang bermasalah, entah itu percintaan atau tentang kepercayaan.


“Tambah Ben!” titah Delfano dengan mata terpejam nya, dia menyodorkan gelas kecil— yang biasa ada di tempat ini— kepada Benny yang merupakan Bartender di sini.


Benny duduk di atas kursi bar dibalik meja, dia menumpu tangannya menatap Delfano sambil menggeleng. “Lo kenapa sih, Del? Gak biasanya kayak gini. Udah deh, mending sekarang lo pulang, lo udah mabuk tuh.” tukas Benny yang diacuhkan Delfano.


Delfano menggeram, dia menggerakkan gelas ditangannya agar segera diisi kembali dengan sebuah alkohol. Namun, Benny menolaknya membuat dia semakin geram.


“Heh, gue bayar nanti. Dua kali lipat malah. Cepetan, isi lagi!”


Benny terkekeh, dia akui Delfano memang anak orang kaya jadi dia tak terlalu mempedulikan bayaran dari lelaki itu karena dia yakin Delfano selalu membayar lebih setiap apa yang dibelinya di bar ini. Tapi, bukan itu permasalahannya, keselamatan lelaki itu jauh lebih penting.


Benny menggeleng, dia beranjak dari duduknya. “Enggak, gue gak mikirin bayaran, Del. Udahlah, mending sekarang lo tenang dulu aja, temen lo bentar lagi juga datang.” ucap Benny sambil melayani pelanggan lain. Btw, dia tadi menelpon salah satu teman Delfano untuk menjemput lelaki itu disini.


Delfano semakin menggeram.


Sedangkan, diluar bar. Sebastian dengan wajah datarnya keluar dari mobil, menatap sebuah bar besar dihadapannya. Banyak sekali pasang mata, tangan nakal dan suara manja yang menggodanya. Tapi, itulah Sebastian, terlalu datar sehingga membuat wanita yang hendak menggodanya terlebih dahulu kesal karena sikap lelaki itu.


Sebastian melewati lautan orang-orang yang tengah menari dengan lihainya diiringi musik yang berdentum keras. Matanya masih mencari keberadaan Delfano. Sedikit sulit karena ruangan ini remang-remang dan banyaknya orang. Dan saat matanya menemukan keberadaan lelaki itu dia segera melangkahkan kakinya menghampiri Delfano.


“Akhirnya lo datang juga,” ucap Benny. Dia kenal dengan Sebastian, lelaki datar yang pernah dikenalkan Delfano padanya selain Antonio tentunya.


“Kasian tuh, mending sekarang lo bawa balik deh.” lanjut Benny, menunjuk Delfano yang masih belum berhenti meracau.


Sebastian mengangguk, dia segera membantu memapah tubuh Delfano yang mulai tak sadarkan diri. “Gue cabut, thank's.” pungkas Sebastian dan berlalu begitu saja meninggalkan Benny yang menggeleng karena sikap lelaki itu yang datar.


Sebastian langsung memasukkan Delfano ke mobilnya di kursi penumpang depan setelah sedikit mendapat kesusahan saat memapah lelaki itu. Dia segera memasuki mobil dan melajukan nya meninggalkan tempat ini.


Sebastian menggeleng menatap Delfano yang terus saja meracau. Dia masih terfokus pada jalanan yang lumayan lenggang saat ini.


“Gue benci!”


“Kenapa harus gue!?”


“Gue belum siapa hilang dari hidup lo!”


Sebastian mengernyit dahinya, bingung dengan maksud dari racauan Delfano. “Nih anak kenapa sih?“ gumam Sebastian pelan.


Beberapa menit berlalu, mereka telah sampai di rumah Sebastian. Untung saja orangtuanya tak ada di rumah, jadi dia bisa dengan mudahnya membawa Delfano yang mabuk ini masuk. Dia kembali memapah tubuh Delfano menuju kamarnya. Kali ini dia mendengus dan menyesal mempunyai kamar dilantai atas di pojok ruangan. Karena dia kesusahan memapah Delfano menuju kamarnya.


Sebastian menghela napas dengan lega saat baru saja menghempaskan tubuh Delfano di atas ranjang king size nya. Dia berdecak pinggang.


“Nyusahin!” dengus Sebastian menatap Delfano yang terkapar di atas ranjangnya.


“Gue suka sama lo, Ta.”


“Gue gak mau pergi dari lo.”


***


Delfano mengerjapkan matanya saat cahaya matahari masuk ke kornea matanya. Dia merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Perlahan, dia mendudukkan tubuhnya untuk mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul. Dia terdiam cukup lama, meraba tempat empuk yang didudukinya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan ini.


Kamar Sebastian.


Kalimat yang langsung terlintas seketika saat Delfano melihat ruangan ini. Dia hapal betul keadaan kamar Sebastian, bayangkan saja mereka berteman sejak kecil. Jadi, tak ayal dia hapal betul dengan tempat ini.


Delfano menurunkan kakinya, sedikit meringis saat rasa pusing tiba-tiba hinggap di kepalanya. Dia lagi-lagi terdiam, namun kemudian segera beranjak mencari keberadaan pemilik kamar ini. Langkahnya terhenti saat pintu kamar dibuka. Ternyata pelakunya adalah pemilik kamar ini. Sebastian.


Sebastian dengan wajah datarnya berjalan menghampiri Delfano dengan segelas susu putih di tangannya.


Delfano tersenyum lebar, “Tahu aja lo. Bener banget, kepala gue masih pusing karena minum semalem.” ucap Delfano, dia hendak mengambil segelas susu tersebut. Namun, dengan cepat Sebastian menjauhkannya dari jangkauan Delfano.


“Ge-er banget sih lo. Ini buat gue kali.” ucap Sebastian. “Kalau lo mau, ambil sendiri di dapur.” lanjut Sebastian sambil meneguk susu tersebut hingga tersisa setengah.


Delfano yang melihat itu mendengus, “Anjir, gue kira itu buat gue.” dengus Delfano. Dia melirik Sebastian yang sudah siap dengan seragam sekolah, membuat dia menepuk pelan jidatnya.


”Eh, iya gue lupa!” setu Delfano, dia melirik jam yang terpasang di dinding di atas televisi di kamar ini. “Buset, udah siang banget. Alamat terlambat kita.” lanjut Delfano yang tak mendapatkan respon apapun dari Sebastian.


Delfano langsung bergegas memasuki kamar mandi, hendak membersihkan dirinya dan bersiap pergi sekolah. Sedangkan, Sebastian, lelaki itu hanya menatap pintu kamar mandi yang baru di tutup Delfano, dia menatap datar pintu tersebut kemudian bergegas pergi menuju ruang makan.



Delfano menuruni anak tangga dengan setelah seragam milik Sebastian yang dipinjamnya. Dia bersenandung kecil sambil membenarkan beberapa kancing baju yang belum selesai di kancing kan. Dia langsung menghampiri Sebastian yang tengah menikmati segelas susu. Dia tersenyum lebar, mengambil alih duduk di hadapan Sebastian.


Tak ada orang tua Sebastian pagi ini, seperti biasa. Orangtuanya sama dengan orang tua Sebastian, mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, sampai-sampai melupakan keberadaan anak-anak mereka.


Delfano mengambil sehelai roti tawar, dia langsung mengoleskan selai cokelat seperti biasa. Menikmati sarapan tersebut.


Sebastian menunduk, memainkan pinggiran gelasnya. Dia mendongak, “Fan,” panggil Sebastian yang membuat Delfano menatap lelaki itu.


“Kenapa?”


Sebastian terdiam, membuat Delfano mengerutkan keningnya. “Kenapa, sih?” tanya Delfano, lagi. Dia di buat penasaran dengan diamnya Sebastian.


Sebastian berdehem. “Lo suka, ya sama Syasya?”


Uhuk!


Pertanyaan Sebastian itu sukses membuat Delfano yang tengah menikmati rotinya tersedak seketika.


Delfano melebarkan bola matanya, dia menatap terkejut Sebastian yang menatap datar dirinya, menunggu jawaban. Sambil mengunyah pelan, Delfano beranjak dari duduknya. “Anjir, gue lupa ngambil susu.” ucap Delfano, mencoba mengalihkan pembicaraan ini dan berniat pergi meninggalkan pembicaraan ini.


“Gak usah mengalihkan pembicaraan.”


Kalimat yang terkesan dingin itu sukses membuat Delfano menghentikan langkahnya. Delfano terdiam mematung, kemudian memutar tubuhnya menatap Sebastian yang menatap datar dan dingin terhadapnya.


“Kenapa, emangnya?”


Sebastian tersenyum sinis, dia menarik sudut bibirnya menatap mengejek Delfano. “Bener? Lo suka kan sama Syasya, Natasya?” tanya Sebastian, lagi. Dia mencoba memastikan jawaban dari lelaki itu.


“Kenapa lo bisa berpikir kalau gue suka sama Tata. Kenapa? Karena gue yang terlalu deket sama dia? Karena gue paling ganteng, gue selalu—”


“Lo sendiri yang bilang!” potong Sebastian yang membuat Delfano mengerutkan keningnya.


“Gue?” tanya Delfano, menunjuk dirinya sendiri. “Yan, Natasya sahabat gue—”


“—Lo sendiri yang bilang. Lo SUKA sama Natasya. Apa yang diomongin orang mabuk, gak akan pernah bohong.”


Pernyataan Sebastian membuat Delfano terdiam, dia bingung harus mencari alasan apalagi.


“Kalo gue suka sama Natasya, kenapa? Masalah?” tanya Delfano. Hanya itu yang terlintas dipikirannya.


Sebastian tertawa, tawa sinis yang sangat aneh. Sebastian yang datar tiba-tiba tertawa. Aneh.


“Masalah?” tanya Sebastian, dia mengangguk. “Iya, masalah karena dia sahabat kita!” jawab Sebastian kerasnya.


“TERUS APA BEDA NYA LO SAMA FANO!”


Delfano dan Sebastian langsung menatap kearah datangnya suara. Dibsana, Antonio berdiri dengan wajah datarnya membuat mereka semua terkejut.