![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Hening mengisi ruangan ini. Tak ada sepatah katapun yang mengudara di ruangan ini sejak kedatangan seorang lelaki berseragam sekolah SMA dengan dilapisi jaket hitam yang kini tengah duduk di sofa dengan tatapan tajamnya yang dilayangkan pada seorang perempuan yang terbaring diatas ranjang rumah sakit.
“Lo kok disini sih?” tanya Natasya, suaranya pelan namun masih bisa di dengar Sebastian—lelaki itu. Natasya tak sedikitpun berani menatap Sebastian, dia tak sanggup melihat tatapan tajam yang dilayangkan lelaki itu, baru sekarang dia mendapat tatapan tajam dari Sebastian.
Bukannya langsung menjawab, Sebastian melangkahkan kakinya menghampiri ranjang Natasya, berdiri di samping perempuan itu.
Natasya mengulum bibirnya, dia semakin berdebar dalam artian yang sesungguhnya saat Sebastian hanya diam saja di sampingnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Perlahan, Natasya mendongakkan wajahnya, menatap Sebastian dengan wajah sendunya. “Bas, jangan diam dong. Gue gak suka.” keluh Natasya, dia mencebikkan bibirnya pelan.
Sebastian menghela napas dengan kasar, menumpu sebelah tangannya diatas kepala ranjang. Tatapan matanya yang tajam, kini mulai meredup seiring tatapan sendu yang di tunjukkan Natasya. “Kenapa gak bilang?” tanya Sebastian lembut—tak ada nada dingin dan datar, kalimat tanya itulah yang pertama terlontar dari mulutnya.
Natasya terdiam, entah kenapa ada rasa sakit di hatinya yang seperti teriris. “Bilang apa?” tanya Natasya, matanya mulai merasa panas. Jangan sampai, jangan sampai dia mengeluarkan air matanya dan menangis dihadapan Sebastian.
“Lo sakit, Sya dan lo gak bilang sama gue, sama yang lain. Maksudnya apa?” tanya Sebastian, nada suaranya naik satu oktaf.
Natasya diam. Matanya semakin memanas, sekuat tenaga dia menahan air matanya itu.
“Enggak sakit kok, cuma—”
“—cuma apa? Muka pucat, selang infus dan itu apa? Bekas oksigen?” potong Sebastian, dia menunjukkan sebuah tabung oksigen di samping ranjang Natasya yang terlihat sudah di gunakan. Dia menggeleng heran, menatap tak percaya Natasya yang diam. “Masih mau bilang, gak sakit?” lanjut Sebastian.
“Yan, gue—”
“Permisi, yuk dimulai kemo nya.”
Sebastian mengerutkan keningnya saat tiba-tiba seorang suster memasuki ruang kamar inap Natasya dan mengucapkan kalimat yang membuat berbagai pertanyaan berspekulasi di otaknya.
“Kemo?”
***
Antonio mengerutkan keningnya saat memasuki kelasnya dan tak menemukan keberadaan Sebastian di dalamnya. Dia menjatuhkan bokongnya di tempat biasa, masih mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Sebastian.
“Sul, Tian mana?” tanya Antonio pada seorang lelaki yang tengah merebahkan tubuhnya diatas meja di pojok ruangan dengan ponsel yang tengah dimainkan. Sepertinya, lelaki itu tengah memainkan game online, terbukti dari ucapannya yang sejak tadi mengumpat.
“Mana gue tahu, orang gue aja baru datang.” jawab lelaki itu. Sultan—nama lelaki itu. Dia salah satu cowok yang bisa dibilang bandel karena sering absen pelajaran guru dan berakhir di UKS sambil memainkan game online nya. Tapi jangan salah, gitu-gitu dia pernah juga ikut acara pertandingan game online dan memenangkannya, serta hadiah yang didapat pun jangan di ragukan. Tentu saja besar.
Antonio mengeluarkannya ponselnya, dia langsung men-dial nomor Sebastian, namun hanya suara operator yang menjawabnya.
“Kemana sih tuh anak?” gumam Antonio pelan. Dia mendengus kesal saat merasa bosan.
Ya, meskipun Sebastian itu datar. Tapi, setidaknya lelaki itu masih mau mendengar celotehannya yang tak bermutu itu, ya walaupun hanya ditanggapi seadanya.
Dia beranjak, hendak meninggalkan kelas menuju rooftop seperti biasa saat merasa boring seperti ini. Namun, kedatangan Pak Jae menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya. Dia tidak mungkin kabur begitu saja saat wajahnya sudah terabsen mata guru, bisa berabe nantinya.
Yang bisa dilakukan kini hanya duduk manis dengan malas, mendengar setiap kalimat yang dilontarkan gurunya dan berusaha menikmati kegiatan di kelasnya.
Huh!
***
Delfano mengerjapkan matanya, sedikit memicingkan matanya karena silau matahari yang cukup menyengat siang ini. Dia tak masuk kelas hari ini dan memilih berada di rooftop sampai jam pulang.
Nanggung, pikirnya.
Toh, dia tak masuk kelas sejak pagi. Jadi, sepertinya nanggung sekali kalau harus masuk ke kelas hanya untuk mengikuti pelajaran yang tinggal beberapa jam, toh belum tentu juga gurunya datang. Terkadang, guru jarang yang datang saat jam-jam terakhir.
Delfano ingat, ingat dengan ucapan Antonio tentang Natasya. Dia membenarkan posisinya kini menjadi sedikit menegakkan tubuhnya dan langsung merogoh saku celananya, kemudian mengeluarkan ponselnya.
Dia langsung mencari kontak Natasya dan langsung melakukan panggilan dengan perempuan itu.
Beberapa menit, tak ada jawaban hanya suara operator yang menghiasi panggilan. Dia terdiam, mencoba beberapa kali melakukan panggilan yang sama dan hasilnya sama, tak ada jawaban.
“Liburan kemana sih? Masa, gue telpon aja gak di angkat.” gumam Delfano, dia menatap bingung nomor Natasya yang tertera dilayar ponselnya.
Dia men-scroll beberapa menu di ponselnya, tak ada satupun yang menarik perhatiannya. Hingga, tangannya memilih membuka galery hanya untuk melihat-lihat. Dia tersenyum, terkekeh pelan saat menemukan banyak foto Natasya yang tersimpan di galery ponselnya.
Delfano terkekeh, dia tak habis pikir. Bagaimana bisa banyak foto perempuan itu di ponselnya. Sedangkan, foto dirinya sendiri hanya beberapa. Maklum lah, lelaki tak terlalu banyak berpose seperti layaknya perempuan. Mungkin hanya beberapa pose yang terkadang, itu-itu saja.
“Lo liburan kemana sih? Kok gue gak tahu,” gumam Delfano pelan, masih terus men-scroll foto-foto Natasya.
***
Sebastian duduk di kursi ruang tunggu dengan Emma yang duduk di seberangnya. Dia terus memainkan jemarinya sambil menunggu seseorang di dalam sana yang tengah melakukan kemoterapi. Pandangannya lurus ke depan, menatap penuh tanya tentang semua ini.
Emma mendongak, menatap Sebastian yang terdiam. Dia beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri lelaki itu, kemudian duduk di sampingnya. Lelaki itu masih belum sadar kehadirannya, hingga tepukan di pundaknya menyadarkan lelaki itu.
Emma memaksa senyumnya, mencoba memberi ketenangan bagi Sebastian.
“Bun, aku gak ngerti deh.” ucap Sebastian bingung, dia menggeleng tak mengerti menatap Emma. “Syasya sakit, tapi kenapa aku gak tahu. Apa Fano sama Anton juga gak tahu?” tanya Sebastian yang mendapat gelengan dari Emma.
“Tapi, kenapa Bun?”
Emma diam, menghela napas kemudian membasahi bibirnya yang tiba-tiba kering. “Nata gak mau ada yang tahu, dia gak mau buat kalian khawatir.” balas Emma yang membutuhkan Sebastian tak percaya mendengarnya.
Sebastian menggeleng, menghela napas dengan kasar. “Sejak kapan?”
Emma menoleh kearah Sebastian, bingung dengan maksud lelaki itu.
Sebastian menoleh karena tak ada jawaban dari Emma. “Sejak kapan, Syasya sakit—” Sebastian tak kuasa melanjutkan kalimatnya, dia tak sanggup untuk mengucapkan penyakit Natasya, dia tak siap.
Emma mengangguk, mengerti maksud Sebastian. “Baru-baru ini. Tapi, sayangnya saat kita tahu, itu udah parah.” ucap Emma, dia tak kuasa menahan tangisnya. Dan ya, pipinya kini sudah basah oleh air matanya.
Sebastian pun sama, bagian hatinya ada yang teriris mengetahui fakta ini. Dia tak salah mencari tahu, buktinya dia bisa menemukan fakta ini. Dia tak menangis, namun hatinya ikut sakit mengetahui ini. Dengan segera, dia membawa Emma ke pelukannya, mengusap pelan punggung wanita paruh baya itu. Dia sudah menganggap Emma seperti ibunya sendiri, sehingga dia tak sanggup melihat kesedihan wanita itu.
Beberapa saat mereka dalam posisi itu, namun perlahan Emma melepas rengkuhan itu dan menghapus air matanya. Emma sudah cukup merasa lega sudah melepaskan air matanya. Dia kini menatap Sebastian. “Kok kamu bisa tahu kalau Natasya disini?” tanya Emma. Pertanyaan itu yang sejak tadi ingin di lontarkan sejak melihat keberadaan lelaki itu di ruangan putrinya—Natasya.
Flashback On
Sebastian melempar asal tas ranselnya. Dia menjatuhkan bokongnya begitu saja diatas sofa buluk di rooftop seperti biasa. Pikirannya masih belum jernih, masih ada bayang Anya yang tiba-tiba terlintas di benaknya.
“Apaan sih, gue? Lagian tuh cewek, kenapa juga gak hilang-hilang dari otakgue!? Argh!”
Sebastian mendengus kesal karena lagi-lagi dia tak bisa menghilangkan jejak perempuan bernama Anya itu dari benaknya. Dia memejamkan matanya, mencoba menghilangkan bayangan Anya dari benaknya.
“Natasya, Natasya, Natasya... ”
Mulut Sebastian tak henti-hentinya menggumamkan nama Natasya, mencoba mengalihkan Anya dari benaknya. Tiba-tiba matanya terbelalak, teringat sesuatu.
“Natasya? Kok, gue belum lihat tuh anak, ya?” gumam Sebastian. Dia segera merongoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya dan langsung melakukan panggilan.
Tak ada jawaban, berkali-kali melakukan percobaan pun hasilnya sama. Nihil, tak ada jawaban, hanya suara operator yang membalas.
“GPS!”
Sebastian langsung melacak keberadaan perempuan itu lewat ponselnya dengan menggunakan GPS. Dengan itu, dia bisa tahu dimana keberadaan perempuan itu kini. Dan, posisi perempuan itu membuat Sebastian mengerutkan keningnya bingung.
“Rumah sakit?” tanya Sebastian bingung.
Dia terdiam, mencoba menyakinkan. Dia segera menarik kasar tasnya dan akan langsung melakukan aksi pembolosan nya kali ini demi mencari keberadaan perempuan itu.
Flashback off
***
Natasya mengerjapkan matanya perlahan, dia mengerutkan keningnya saat tiba-tiba kepalanya dilanda kepeningan. Dia mencoba beranjak, namun kepeningan itu semakin menjadi.
Argh!
Sebastian dengan sigap merengkuh tubuh Natasya, merebahkan kembali tubuh perempuan itu. Natasya yang baru sadar, menatap Sebastian dengan kening mengerut.
“Udah, lo tiduran lagi aja. Jangan banyak gerak.” ucap Sebastian, dia kini sudah mengambil alih duduk di samping Natasya yang terbaring.
Natasya mengangguk pelan, “Kok bisa disini sih?” tanya Natasya, dia sejak tadi ingin menanyakan pertanyaan itu. Tapi, kedatangan suster tadi menghentikan niatnya.
“Panjang ceritanya,” jawab Sebastian yang membuat Natasya mendengus.
Baru saja Natasya akan kembali melontarkan protesnya, tiba-tiba rasa mual menghinggapinya membuat Dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Sebastian khawatir, tentu. “Kenapa?” tanya Sebastian, dia sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Mual,” cicit Natasya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Sebastian langsung mencari kantong kresek, menyerahkan kantong tersebut yang langsung diterima oleh Natasya. Dia membantu Natasya mengeluarkan isi perut perempuan itu. Tanpa rasa jijik sedikitpun, dia terus memijat pelan tekuk perempuan itu.
Natasya menghela napas dengan kasar, dia kembali merebahkan tubuhnya. Sedangkan, Sebastian meletakkan kantong kresek yang hanya berisi cairan putih sedikit, hasil muntahan Natasya.
Hiks... Hiks...
Sebastian terkejut melihat Natasya yang kini terisak, dia langsung menyejajarkan tubuhnya dengan Natasya. Direngkuhnya tubuh terisak itu, menggenggam erat tangan perempuan itu. “Jangan nangis,” bisik Sebastian pelan, tangannya tak henti-hentinya mengusap pundak perempuan itu.
“Mual, Yan.” isak Natasya. Dia mengeratkan pelukannya pada Sebastian.
Sebastian diam, dia membiarkan Natasya mengeluarkan tangisannya itu. Dia mencoba membiarkan Natasya mengeluarkan rasa sakitnya, daripada di pendam lebih baik di keluarkan.
Perlahan, Sebastian melepaskan rengkuhannya. Di usapnya pelan air mata yang menghiasi wajah perempuan itu. “Lo kuat, Sya, gue percaya lo cewek strong.” bisik Sebastian, dia menggenggam tangan Natasya dengan eratnya sambil di usap pelan.
Natasya menggeleng, dia tak sekuat itu.