![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
Natasya menjatuhkan bokongnya perlahan di atas ranjang kamarnya, dia menatap pantulan dirinya di cermin sambil merogoh saku celana saat ponselnya bergetar menandakan ada sebuah panggilan masuk ke ponselnya itu.
Sebastian.
Nama lelaki itu yang tertera di layar ponselnya. Natasya pun segera menggeser tombol hijau dan langsung menempelkan ponsel tersebut ke telinga. “Kenapa, Yan?” tanya Natasya saat panggilan sudah tersambung.
“Lo udah pulang? Kok gak ngabarin gue sih. Gue tadi ke kamar lo, eh kata suster udah pulang.” tukas Sebastian di seberang sana sambil mendengus.
Natasya menarik sudut bibirnya.“Gue gak mau ngerepotin lo, Yan, udahlah lagian sekarang gue udah di rumah ini.” balas Natasya, dia melangkahkan kakinya berjalan kearah balkon kamarnya, berdiri di pagar pembatas sambil melirik rumah Antonio si sampingnya.
“Ngerepotin apaan. Gue kan bisa nemenin tadi, kalau sekarang gue gak bisa ke rumah lo.”
“Kenapa, emangnya?”
“Gue ada acara, nyokap nyuruh pulang cepat.”
“Yaudah, gakpapa, besok-besok kan bisa. Lagian gue udah mulai sekolah kali besok.”
Sebastian terdiam di sana, “Yaudah deh, gue tutup dulu, ya telponnya?” tanya Sebastian yang membuat Natasya terkekeh.
“Kenapa, lo?”
Natasya memutar tubuhnya, menyender pada pagar pembatas dan menghadap kedalam kamarnya. “Sejak kapan lo izin buat tutup telpon? Biasanya juga tiba-tiba udah di matiin aja.” jelas Natasya, menjelaskan alasannya tertawa.
“Ya, pengen aja. Udahlah, lo jangan lupa istirahat, diminum obatnya. Gak mau tahu, gue pengen lihat lo sehat. Bye!”
Tut!
Natasya terkekeh sambil menatap layar ponselnya yang perlahan meredup, dia bergegas memasuki kamar. Dia butuh istirahat kali ini, meskipun sejak di rumah sakit kerjaannya hanya tidur saja. Tapi, efek kemoterapi kemarin masih bisa di rasakannya. Dia memilih merebahkan tubuh sambil memejamkan mata, mempersiapkan tubuhnya untuk hari esok.
***
Antonio turun dari mobilnya, dia berjalan pelan keluar dari rumah dan sedikit mengintip lewat pagar rumah tetangganya, siapa lagi kalau bukan Natasya. Dia bisa melihat, Emma yang tengah duduk di kursi teras depan sambil membuka beberapa majalah. Senyum lebar langsung tercetak jelas di bibirnya melihat keberadaan Emma, dengan langkah lebar dihampirinya wanita paruh baya itu.
“Bun,”
Emma mendongak, tersenyum melihat keberadaan Antonio yang berjalan kearahnya. Dia menghentikan kegiatan membaca majalahnya, memilih menyimpan majalah tersebut di meja.
“Bunda jalan-jalan gak ajak aku, jahat banget sih.” ucap Antonio, dia menunjukkan wajah pura-pura kesalnya dihadapan Emma.
Emma diam, namun kemudian mengulum senyumnya. “Ya, kamu jangan salahi Bunda, dong. Salahi Nata tuh, orang dia yang larang Bunda kasih tahu kalian.” jelas Emma. Dia menjelaskan maksudnya, kalian yang ditunjukkan untuk ketiga sahabat putrinya.
Antonio terkekeh, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan perempuan yang sudah dua hari terkahir ini mengganggu pikirannya. Seolah tahu kebingungan Antonio, Emma tersenyum lebar.
“Natasya di kamarnya, dia langsung ke kamar pas baru datang.” jelas Emma, membuat Antonio terkekeh.
“Yaudah deh, aku susul ke kamar nya, ya?” tawar Antonio yang diangguki Emma. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Natasya.
Tak butuh waktu lama, Antonio kini sudah berada di depan pintu kamar Natasya. Tersenyum lebar sebelum akhirnya mengetuk pintu tersebut. Beberapa kali, belum ada tanggapan yang diberikan, membuat dia dengan perlahan membuka pintu kamar perempuan itu.
Hal pertama yang dilihatnya adalah punggung perempuan yang dilapisi selimut sebatas pinggang. Dia sudah tahu dan bisa memastikan, siapa perempuan itu. Tanpa menutup pintu, dia berjalan pelan menghampiri perempuan itu—Natasya.
Antonio tersenyum lebar saat melihat wajah damai yang ditunjukkan Natasya. Dia berjongkok, menatap lebih dekat dan intens wajah damai Natasya yang tengah tertidur. Sedikit pucat, membuat dia mengerutkan kening kebingungan.
“Lo cantik dan damai banget kalau lagi tidur gini, gak salah kalau gue bisa suka sama lo.” gumam Antonio pelan, dia menatap intens Natasya yang masih terpejam.
Tak ada niatan sedikitpun menyentuh, menatap lebih dekat dan intens saja dia sudah bersyukur.
“Tapi, sayang, bukan gue aja yang suka sama lo. Tapi, Tian sama Fano juga.” lanjut Antonio, dia terkekeh di kalimat akhirnya.
“Lo liburan kemana sih? Kayaknya capek banget, sampai-sampai muka capek lo pucat, kayak orang sakit. Pasti kecapean.”
Antonio mengerutkan keningnya, saat matanya menangkap tangan Natasya yang tertempel sebuah plester, percis seperti bekas infus. Tangannya refleks menyentuh tangan itu, membuatnya tanpa sengaja menyentuh kulit perempuan itu yang kini mulai terganggu tidurnya.
Natasya mengerjapkan matanya, dia tersentak melihat Antonio yang ada di depannya, tepat di depan wajahnya. Dia mengubah posisinya menjadi duduk di atas kasur, menatap Antonio yang kini sudah berdiri. “Lo ngapain disini?” tanya Natasya, dia menatap Antonio bingung dengan wajah bantalnya.
Antonio menggeleng, “Gak ngapa-ngapain.”
Natasya memicingkan matanya, “Masa, sih?”
Antonio mengangguk mantap. “Iya, cuma pengen liat yang abis liburan aja.” sindir Antonio yang membuat Natasya terkekeh.
Antonio menjatuhkan tubuhnya di sofa kamar ini, menatap Natasya menggoda. “Oleh-oleh dong,” pinta Antonio, dia menyenderkan tubuhnya pada tembok.
Natasya memutar bola matanya, “Oleh-oleh dari mana, orang gak bawa apapun.” jawab Natasya, dia bergegas membetulkan rambutnya yang sedikit berantakan. Melakukan kegiatan mengikat rambut dengan asal namun mampu membuat Antonio terkesima melihatnya.
Memang ya, ada aura tersendiri melihat perempuan melakukan gerakan mengikat rambut.
Natasya mengerutkan keningnya, terkekeh melihat Antonio yang menatap intens dirinya. “Kenapa, lo? Terkesima?”
Antonio terlonjak, “Geer banget. Ayo buruan, mana oleh-oleh.”
Natasya beranjak dari kasur, berjalan menuju balkon kamar seperti biasa kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa balkon. Antonio mengikut dari belakang, duduk di samping perempuan itu.
“Lo bohong, ya sama gue?” tukas Antonio, dia melirik Natasya disamping.
Natasya terlonjak, “Bohong apaan?”
“Lo gak liburan kan?”
“Liburan kok,”
Antonio terkekeh, “Terus kenapa, bokap lo gak ikut?”
Natasya mengulum bibirnya, dia menatap lurus ke depan. “Emangnya liburan harus selalu bareng Ayah? Ayah kan sibuk, banyak meeting, jadi gak ikut.” elak Natasya, dia bersyukur masih bisa memberikan alasan yang masih terdengar logis.
Antonio menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. Tangannya terulur menarik lengan Natasya, mengacungkan tepat di hadapan mereka. “Terus ini apa? Gak mungkin kan, liburan pake infus?” tanya Antonio, dia menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Natasya yang juga menatapnya.
Natasya terdiam, dia segera menarik tangannya. “Ini gak sengaja kali. Lagian bukan bekas infusan kok, orang bekas...”
“Bekas apa?”
“Bekas...”
Natasya beranjak dengan kesal. “Ih! Kepo banget sih. Udah, ah, ayo ke bawah kita makan.” ajak Natasya, dia langsung menarik Antonio menuju meja makan. Dia tak punya alasan lain lagi kini, hampir saja ketahuan.
***
Suara dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring menghiasi ruang makan ini. Hanya tersisa Natasya dan Antonio, sedangkan Emma sudah pergi entah kemana.
Ada urusan, ucap Emma saat ditanya hendak pergi kemana.
Natasya mengunyah capcay di mulutnya, dia menatap Antonio yang sejak tadi menatapnya. “Kenapa sih, kenapa ngeliatin gue mulu? Ada yang aneh, ya?” tanya Natasya. Jujur, dia sedikit terganggu ditatap intens cukup lama oleh Antonio.
Antonio meneguk air putih di tangan kanannya, kemudian meletakkan kembali di tempat semula. “Enggak, tapi gue masih ragu aja lo emang bener-bener pergi liburan.” jawab Antonio, dia kembali melanjutkan makannya. Menu tumis udang balado menjadi menu pilihannya yang masih tersisa di piringnya.
“Ya ampun... Udah deh, gue gak mau bahas itu. Mending sekarang bahas kalian aja.”
“Kalian?”
“Iya. Lo sama Delfano.”
“Sebastian, enggak?”
“Iya, Sebastian juga.”
Natasya lupa, dia harus bersikap seolah-olah Sebastian belum tahu semuanya.
“Ngebahas apa tentang kita, gak penting banget.”
“Ya... di sekolah gimana kek, ada kejadian apa kek, atau apa gitu.”
“Nothing special. Soalnya gak ada lo.”
Natasya mengulum senyumnya. “Masa? Bohong banget.”
“Asli,”
“Kenapa tuh, kenapa gak spesial? Bukannya ada Anya?”
“Oh iya, ada dia sih. Tapi kan beda, Na. Apalagi Tian, dia kayak gedek banget gitu sama Anya, padahal tuh cewek gak salah apapun.”
“Sebastian emang rasa sentimen gitu, ya sama Anya.”
“Yoi.”
Natasya mengangguk-angguk.
“Kalau Fano? Gimana?”
Antonio mendongak, menaikkan sebelah alisnya. “Gimana, apanya?” tanya Antonio bingung.
“Ya, dia kan gak sentimen tuh sama Anya. Kira-kira dia suka gak sama Anya?”
“Lah, kok malah nanya ke situ sih? Kan gak ada hubungannya.”
Natasya memutar bola matanya jengah, “Ya sambungin aja, apa susahnya.”
“Yaudah, tanya langsung aja sama orangnya. Lo pikir gue cenayang yang bisa tau kata orang. Kan enggak.”
Natasya mendengus.