Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-LIMAPULUHTIGA



Natasya berjalan pelan menuruni anak tangga, dia sesekali melirik jam di pergelangan tangannya sambil membenarkan ikatan rambutnya. Dia tersenyum lebar saat mendapati Delfano yang sudah duduk di meja makan bersama orangtuanya. Dengan langkah pelan, dia menghampiri mereka. Namun, keningnya mengerut saat tak mendapati kedua sahabatnya yang lain disini.


“Pagi, sayang.”


“Pagi, honey.”


“Morning, baby.”


Natasya langsung mencium pipi kedua orangtuanya bergantian, dia kini duduk di samping Delfano yang tengah menikmati sarapannya. Dia mengambil sehelai roti, mengoleskannya dengan selai cokelat keju.


Delfano menggigit roti selai cokelatnya, dia sedikit merapatkan tubuhnya kearah Natasya. “Gue gak di cium juga?” bisik Delfano tepat di telinga Natasya yang membuat perempuan itu menghentikan kegiatan mengoles selai ke rotinya.


Natasya menoleh kearah Delfano, dia menganga mendengar godaan Delfano. Bahkan kini lelaki itu malah tersenyum lebar menatap menggoda kearahnya sambil menaik turunkan alisnya. Dengan cepat, dia menginjak kaki Delfano yang membuat si empunya langsung menjerit.


“Kamu kenapa, Fano?” tanya Emma, dia kaget mendengar jeritan Delfano. Bahkan, dia sampai menghentikan suapan nasi goreng yang tengah dinikmatinya.


“Kenapa sih, Del?” timpal Bramantyo.


Delfano terkekeh, dia melirik Natasya yang tengah tertawa di tahan. Dia menggeleng menatap orang tua Natasya. “Enggak kok, pengen aja ngejerit.” elak Delfano, dia kembali menikmati sarapannya.


“Aneh kamu, Fano.”


“Kayak gak tahu Fano aja sih, bun. Dia kan emang manusia aneh.” ucap Natasya, dia terkekeh menatap Delfano yang mendengus, namun tetap tersenyum padanya.


“Oh, iya. Anton sama Tian, mana? Kok belum pada kesini?” tanya Bramantyo saat tak mendapati lengkap sahabat dari putrinya.


Natasya menggeleng, pun begitu dengan Delfano.


“Gak lagi berantem kan, kalian?” tukas Bramantyo, dia memicingkan matanya. Sangkaan Bramantyo itu sontak saja mendapat gelengan dari Natasya dan Delfano.


“Enggak, lah, yah. Kayak anak kecil aja berantem. Lagipula, apa sih yang bisa bikin kita berantem?” tanya Delfano, dia menggeleng. “Gak ada, yah.”


“Ada, cinta.”


***


Delfano dan Natasya.


Mereka kini menjadi pusat perhatian, sebenarnya itu bukan hal yang aneh. Tapi, saat fakta yang menyatakan mereka telah menjadi sepasang kekasih membuat kini semua mata tertuju pada mereka. Tatapan kagum dan iri langsung tertuju pada Natasya.


Sudah sejak lama kaum hawa iri dengan Natasya yang selalu di kelilingi tiga lelaki tampan, lebih lagi ketiga lelaki itu adalah cogannya SMA—most wanted. Dan, sekarang? Perempuan itu telah berhasil membuat salah satu dari ketiga lelaki itu jatuh hati dan menjadi kekasihnya. Keirian mereka tentu akan bertambah, bukan?


Mereka menghentikan langkahnya saat bertatapan dengan Antonio dan Sebastian. Semua pasang mata yang memperhatikan mereka sejak tadi pun ikut berhenti karena langkah mereka.


Natasya melemparkan senyumnya kearah Antonio dan Sebastian, namun hanya Sebastian yang membalas senyumannya itu meskipun hanya sebatas tarikan tipis di bibir. Beda halnya dengan Antonio yang hanya menatap datar kearahnya, lelaki itu langsung melangkahkan meninggalkan dia.


“Ton,” panggil Natasya yang diacuhkan Antonio, dia berniat mengejar langkah Antonio, namun lebih dulu di hentikan Delfano. Dia menatap bingung Delfano.


“Udahlah, biar gue yang urus.” ucap Delfano seolah menenangkan Natasya. Natasya menatap Sebastian, yang hanya mengangguk membuat dia mengangguk atas ucapan Delfano.


Delfano mengerutkan keningnya, dia tak suka saat apapun Natasya harus meminta persetujuan Sebastian.


“Yaudah, Ta. Ayo ke kelas, ah!” ajak Delfano. Tanpa menunggu jawaban Natasya, dia langsung menarik perempuan itu pergi menuju koridor kelas IPA tanpa menghiraukan Sebastian sedikitpun. Ingat, dia masih kesal dengan Sebastian dan Antonio tentang kejadian kemarin.


Sebastian menatap kepergian mereka, dia langsung bergegas berjalan menyusul Antonio yang entah kemana.


***


“Apaan sih? Alay banget!” gerutu Antonio, wajahnya tak sedikitpun menunjukkan adanya aura bersahabat, hanya kekesalan yang terpancar jelas dari wajahnya itu.


Antonio terus melangkahkan kakinya tak tentu arah, hingga dia memutuskan berhenti dan duduk disalah satu kursi di depan kelas. Dia menghela napas dengan kasar kemudian mengedarkan pandangan. Ternyata dia berada di koridor kelas 10. Just info, di sekolahnya antara koridor IPA dan IPS berbeda, begitupun setiap angkatan berbeda. Jadi, tak ada tuh yang namanya kakak kelas satu koridor dengan adik kelas yang akhirnya malah membuat mereka jatuh cinta. Bullshit, tak ada.


“Ngapain gue disini? Males banget.” dengus Antonio, dia lebih sebal lagi saat dengan sadar menangkap adik kelasnya terkhusus kaum hawa yang dengan terang-terangan menatapnya. Dia beranjak dari duduknya, berniat pergi dari koridor ini menuju koridor kelasnya.


Namun, baru saja Antonio membalikkan tubuhnya, seseorang lebih dulu menabraknya. Dia tak apa, hanya kaget. Sedangkan, orang yang menabraknya kini jatuh terduduk.


“Lo kalau jalan lihat-lihat dong. Dasar, bocil.” ejek Antonio. Lihat, ini buka Antonio. Dia jarang sekali melontarkan ejekan pada siapapun, tapi karena suasana hatinya yang tak menentu apapun bisa terjadi.


Perempuan yang ditabraknya mendongak, menatap Antonio yang menatap sebal kearahnya. “Maaf, kak, tadi aku gak sengaja.” ucap perempuan itu, dia bangun dari duduknya sambil membersihkan roknya dari debu.


“Lagian lo ngapain sih main kejar-kejaran? Ingat, lo tuh udah SMA. Gak PANTAS kejar-kejaran, kayak bocah.” tukas Antonio, dia berdecak pinggang kini menatap perempuan itu yang menunduk.


Antonio menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. “Pantes sih, lo kan masih kelas 10. Jadi, jiwa SMP loh masih ada. Tapi, harusnya lo pikir, lo—”


“HEH!”


Antonio menghentikan ucapannya, dia menatap bingung seorang perempuan yang berjalan dengan marah kearahnya. Dia mengerutkan keningnya menatap perempuan itu yang sudah berdiri marah disamping temannya yang baru saja dirinya maki itu.


“Sombong banget lo. Mentang-mentang kakak kelas, bisa seenaknya sama adik kelas.” tukas perempuan itu marah, dia bahkan mendorong kasar bahu Antonio.


Antonio menganga, dia terdiam dengan wajah kesalnya. Dia ingin tahu, apa lagi yang akan di ucapkan adik kelasnya satu ini yang lebih berani.


“Kenapa emangnya kalau kita main kejar-kejaran!? Terus, kalau jiwa kita masih SMP, kenapa? Masalah!?” teriak perempuan itu, dia menggeram saat tak mendapat respon dari Antonio. “Belagu banget sih lo! Kayak gak pernah SMP aja. Ayo, Ay, males gue ngomong sama si songong ini.” lanjut perempuan itu.


Antonio langsung mencekal lengan perempuan itu, membuat perempuan itu yang baru saja berbalik kembali menatapnya. Bahkan kini perempuan itu berada di dekapannya, apalagi Antonio menggenggam lumayan erat lengan perempuan itu.


Semuanya menjerit histeris, tak menyangka akan melihat pertunjukan seperti ini di pagi hari.


“Lo kenapa sih? Gila, ya? Ngomong gak jelas banget.” ejek Antonio.


Percaya, napas Antonio menerpa wajah perempuan itu yang kini menegang dibuatnya. Apalagi tatapan Antonio yang di tunjukkan untuk perempuan itu membuat debaran aneh di hati perempuan itu.


“Lagian gue gak punya masalah sama lo, teman lo aja yang nabrak gue.”


“Tapi, gue gak suka cara lo menghina temen gue.” cicit perempuan itu.


Antonio menarik sudut bibirnya, matanya terarah pada name tag yang terpasang di seragam perempuan itu. “Anjani ,” gumam Antonio, dia tersenyum meremehkan perempuan bernama Anjani itu.


“Kita belum selesai, gue masih ada urusan sama lo.” lanjut Antonio, dia melepaskan cekalannya pada lengan Anjani, kemudian pergi meninggalkan Anjani yang kini terdiam kaku.


***


Sebastian terus mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Antonio. Sampai saat ini, dia belum menemukan keberadaan lelaki itu. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, masih ada waktu lima menit sebelum akhirnya bel pelajaran di mulai. Namun, sampai saat ini dia belum juga menemukan keberadaan Antonio.


“Eh, sorry... sorry...”


Sebastian menatap Anya yang baru saja menabraknya, dia kembali menampilkan wajah datar di depan perempuan itu.


“Lo ngapain, disini? Bentar lagi kan masuk?” tanya Anya, dia baru saja sampai dia sekolah dan tanpa sengaja menabrak Sebastian di persimpangan lorong koridor ini.


“Bukan urusan lo,” jawab Sebastian ketus, dia berdecak pinggang dan kembali mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Antonio.


Anya diam, sebenarnya dia ingin marah melihat sikap Sebastian yang masih belum berubah. Padahal jelas sekali dia sudah melakukan berbagai hal sejak kemarin hanya untuk mencari perhatian lelaki itu.


Sebastian mengerutkan keningnya melihat keterdiaman Anya, tak biasanya perempuan itu diam. Biasanya perempuan itu melakukan atau berbicara tentang berbagai hal hanya untuk mencari perhatiannya. Tapi, sekarang? Perempuan itu diam.


“Kenapa lo diam?”


Pertanyaan Sebastian membuat Anya terkejut tentunya. Apakah ini bisa disebut sebagai kemajuan? Seorang Sebastian mau bertanya hal sepele seperti itu. Biasanya Sebastian akan bersikap acuh terhadapnya, tapi ini? Hah, kemajuan.


Anya menggeleng. “Enggak, gue cuma lagi mikir aja. Kenapa sampai saat ini, sikap lo masih sama ke gue.”


“Sikap gue?”


Anya mengangguk.


“Iya. Sejak pertama kita ketemu, lo gak pernah notice gue. Tatapan mata lo gak pernah bersahabat, seakan lo gak 'suka' sama gue. Gue gak ngerti, apa yang buat lo gak suka sama gue. Apa gue buat salah atau apa gitu? Gak ngerti deh.” ucap Anya, dia mengutip dengan jarinya kata suka. Suka disini maksudnya adalah Sebastian yang tak bersahabat, Sebastian yang menjauh dan Sebastian yang seolah anti dengan seorang Anya.


Anya menatap Sebastian, menunggu jawaban apa yang akan diberikan lelaki itu. Sedangkan, Sebastian hanya bisa diam, sebenarnya dia memiliki alasan. Tapi, entah kenapa mulutnya seolah kelu hanya untuk memberikan jawaban yang sebenarnya sering di lontarkan hanya untuk pertanyaan yang sama yang dilontarkan Anya.


Kring... Kring...


Bunyi bel pelajaran akan di mulai membuat Sebastian tersadar dari keterdiamannya.


“Yaudah, Yan, gue duluan, ya. Bye.”


Setelah kepergian Anya, Sebastian kembali terdiam. Matanya tertuju pada Anya yang berjalan semakin menjauh dari pandangannya. “Gue kenapa sih? Susah banget mau ngomong.” gumam Sebastian, dia bingung sekarang dengan dirinya sendiri.


Ada apa dengan Sebastian?