Friendshut [TAMAT]

Friendshut [TAMAT]
F-LIMAPULUHSATU



Delfano tersenyum lebar, dia berjalan menghampiri kedua sahabatnya di rooftop seperti biasa. Dia langsung merangkul pundak Antonio yang tengah duduk di sofa, kemudian merebahkan tubuhnya sambil tertawa. Sedangkan, Antonio hanya diam, dia tahu kenapa Delfano seperti ini. Beda hal nya dengan Sebastian yang mengerutkan kening bingung melihat Delfano.


Delfano tersenyum lebar, dia menatap satu persatu sahabatnya yang tak memberikan respon apapun sejak tadi. “Kok pada diam sih? Gak ada yang mau tanya nih, kenapa gue senyum lebar banget?” tanya Delfano bingung, dia menaikkan sebelah alisnya.


“Kenapa?” tanya Antonio malas. Sebastian menuju sofa kosong, duduk di sana.


Delfano menenggak tubuhnya, dia berjalan kearah pembatas rooftop sambil menatap lurus ke depan. Kemudian, membalikkan tubuhnya dan bersandar pada pembatas dengan senyuman lebar di bibirnya. “Lo, lo, kalah.” ucap Delfano sambil menunjuk satu persatu sahabatnya.


“Gue udah jadian sama Tata, jadi jangan harap kalian bisa dapatin Tata.” lanjut Delfano. Dia mengerutkan keningnya saat tak mendapat respon lagi, hanya wajah datar yang ditunjukkan mereka.


“Kok kalian gak kaget sih?” tanya Delfano bingung.


“Waw, gue kaget.” ucap Antonio dengan wajah dibuat se kaget mungkin. Sedangkan, Sebastian hanya diam dengan wajah datarnya.


Delfano mendengus, tersenyum sinis. “Basi!” tukas Delfano, dia segera bergegas meninggalkan mereka dengan kekesalan dihatinya karena sikap sahabatnya sendiri.


***


Natasya tak henti-hentinya tersenyum, bahkan disaat semua teman dikelasnya pusing karena tugas matematika yang diberikan sebab gurunya absen, beda dengan dia yang merasa bahagia. Bahkan, seolah tanpa beban dia mengerjakan dengan santai soal yang menurutnya mudah.


Kinara menggeram, saat hasil akhir dari coretannya tak ada satupun di pilihan ganda. Dia kesal, tentu. Coba bayangkan, kalian sudah mencari jawaban sesuai dengan rumus yang diberikan. Tentunya, sampai berlembar-lembar, sedangkan di akhir tak ada satupun jawaban yang sama, mendekati pun tidak. Dia melirik Natasya, hendak melihat sudah sampai mana perempuan itu mengerjakan.


“Lo kenapa? Gila, ya?” tukas Kinara dengan kening mengerut, sedangkan Natasya hanya melirik sekilas Kinara dengan senyuman di bibirnya.


Kinara bergidik, “Ih, beneran gila lo. Orang lain lagi pusing karena tugas, lo malah cengengesan gak jelas, gila sih bener ini.” ucap Kinara, dia menggeleng tak percaya melihat Natasya.


Natasya memutar tubuhnya, masih dengan senyuman di bibirnya, beda nya kali ini dia sedikit menahan senyumannya itu. “Percaya gak—”


“—enggak.”


Natasya mendengus, “Gue belum selesai,” ucap Natasya yang mendapat kekehan dari Kinara.


“Yaudah... Yaudah... Gimana-gimana?”


Natasya mengulum bibirnya, “Gue jadian sama Delfano.”


“WHAT!?”


Natasya langsung menarik Kinara ke pelukannya saat pekikan keras perempuan itu sukses membuat seisi kelas menatap mereka. Dia tersenyum kikuk sambil terkekeh, “Sorry... Sorry... Nara emang gaje banget, suka berisik.” ucap Natasya yang diacuhkan semuanya. Dia menatap Kinara yang berada dalam dekapannya, lebih tepatnya himpitan tangannya.


“Lo sih, pakai teriak segala.” dengus Natasya, dia menatap tajam Kinara yang masih menunjukkan wajah kaget, tak percaya. Dia melepaskan dekapannya.


Kinara duduk tegak, menggeleng dengan mulut menganga. “Serius? Lo jadian sama Delfano?” tanya Kinara mencoba memastikan.


Natasya mengangguk, “Iya.”


“Serius?”


Natasya mengerutkan keningnya, “Kenapa sih emangnya? Aneh gitu gue jadian sama Fano?” tanya Natasya bingung, sebab Kinara seolah tak percaya dengan ucapannya itu.


“Bukan... Bukan... Bukan gitu. Tapi, masih gak percaya aja.”


“Gak percaya kenapa?”


“Ya, gitu.” balas Kinara seadanya. “Terus Bastian sama Anton, gimana?” lanjut Kinara.


“Gimana apa nya?” tanya Natasya semakin bingung, dia bahkan terkekeh kini.


“Ya, lo kan sahabatan tuh sama tiga cogan, masa sih cuma Delfano aja yang punya perasaan sama lo. Pasti yang lainnya juga dong, bener, gak?”


Natasya terdiam, namun kemudian menggeleng. “Enggak, gak bener.” jawab Natasya. “Lagian bukan berarti persahabatan antara cewek dan cowok itu bakal melibatkan perasaan.” lanjut Natasya sambil menyalin coretannya ke buku jawaban.


“Lah, lo sama Fano gimana?”


“Ya, pengecualian buat gue sama Fano lah,”


“Berarti bisa juga dong, pengecualian buat Bastian sama Anton?” tukas Kinara, dia tersenyum puas karena mampu membalikkan ucapan Natasya.


Natasya diam, dalam hati dia membenarkan ucapan Kinara. Namun, dengan cepat dia menggeleng, mengenyahkan pembenaran tersebut. “Enggak, enggak. Gak mungkin banget mereka punya perasaan sama gue. Walaupun punya, ya, pasti cuma perasaan kayak sahabat pada umumnya, gak lebih.” elak Natasya.


Kinara mengendikkan bahunya, “Siapa yang tahu, ya, kan?”


Natasya terdiam.


***


Natasya keluar dari kelasnya bersama Kinara. Jam istirahat sudah berbunyi beberapa saat yang lalu dan ini waktunya untuk semua murid beristirahat, entah itu ke kantin atau terserah mereka—yang penting istirahat.


“Apaan sih? Enggak, ya, lagian pacar gue tuh tipe yang setia. Gak mungkin lah.” elak Kinara, dia mengelak semua andaian Natasya tentang kekasihnya jika 'selingkuh'. Ayolah, kekasihnya itu tak mungkin selingkuh, dia percaya itu.


Natasya terkekeh, “Iya, iya. Percaya deh yang udah dua tahun.” ucap Natasya. Baru saja kaki mereka melangkah hendak pergi ke kantin, panggilan yang tertuju padanya menghentikan langkahnya.


Mereka menoleh dan menemukan Delfano yang berjalan kearah mereka, ke arah Natasya lebih tepatnya. Natasya tersenyum melirik Kinara yang menatap menggoda kearahnya.


“Khm.. Khm... yang disamperin pacar.” bisik Kinara sambil terkekeh.


Natasya menyenggol Kinara dengan lengannya, “Apaan sih!?” cicit Natasya dengan wajah kesal dan tersenyum kembali saat Delfano sudah dihadapan mereka.


“Kantin, ya?”


“Yaudah, bareng aja.” ajak Delfano, dia sudah merangkul Natasya dan mengajak perempuan itu ke kantin tanpa memperdulikan Kinara yang berdiri disamping perempuan itu.


Mereka sampai di kantin dan menjadi pusat perhatian beberapa orang. Orang-orang tak akan aneh saat melihat Delfano yang merangkul Natasya karena itu adalah hal biasa. Orang-orang tau mereka sahabat, tapi bagaimana jadinya jika semuanya tau status sahabat itu telah berubah menjadi kekasih? Entahlah, lihat saja nanti.


“Eh, gue cabut duluan ya. Pacar gue udah nungguin. Bye.”


Setelah kepergian Kinara, mereka melangkah kakinya menuju meja dimana sahabatnya sudah duduk di sana sambil menikmati makanan istirahat mereka.


“Hai,” sapa Natasya, dia tersenyum lebar dan langsung duduk di samping Antonio seperti biasa. Dia mengerutkan keningnya saat mendapat respon yang tak seperti biasanya. Sedangkan, Delfano duduk dihadapan Natasya disamping Anya.


“Tukeran,”


Ucapan diktator yang dilontarkan Delfano membuat Antonio yang tengah melahap makanannya mendongak, menatap lelaki itu dengan wajah datarnya.


“Tukeran dong, gue kan udah jadi pacar Tata.” tukas Delfano dengan santainya yang sukses membuat semua orang yang mendengar itu terkejut, tak terkecuali Anya.


Anya melongo, bahkan suapannya harus melayang di udara untuk memastikan pendengarannya. “Jadian? Lo sama Natasya?” tanya Anya mencoba memastikan.


Delfano mengangguk, “Iya, kenapa emangnya?” tanya Delfano balik.


Anya terdiam, dia tak percaya tentunya. Dia pikir Delfano akan jatuh hati kepadanya berhubung lelaki itu seperti mencoba mendekatinya. Tolong ingat kejadian di cafe, pertemuan pertama mereka setelah baru kenal. Dia pikir itu kode untuk seorang Delfano lebih dekat dengannya, tapi ternyata dia salah. Playboy tetap playboy. Tapi, sebenarnya dia tak mempermasalahkan itu, toh dia tak ada rasa sedikitpun dengan Delfano. Dia lebih jatuh hati pada Sebastian.


Antonio beranjak dari duduknya, “Gue cabut duluan, ada tugas.” ucap Antonio datar, dia segera bergegas meninggalkan meja keluar dari kantin.


Natasya tak lepas menatap Antonio yang semakin menjauh dari kantin, sebenarnya dia bingung dengan sikap lelaki itu. Matanya bertemu dengan Kinara yang menatapnya. Kinara mengendikkan bahunya, seolah mengisyaratkan apa yang diucapkannya tadi memang benar adanya. Dia hanya mampu menghela napas pelan, menatap Sebastian yang sibuk dengan makanannya.


Delfano tak peduli, dia memilih berpindah tempat menjadi duduk disamping Natasya. “Mau pesan apa?” tanya Delfano, dia menaikkan kedua alisnya.


“Pesan yang biasa aja,”


“Yaudah, gue pesenin ya.”


“Eh, enggak-enggak. Biar gue aja.”


***


Natasya kembali bingung saat pulang sekolah dan tak menemukan keberadaan Antonio. Lagi-lagi lelaki itu pulang lebih dulu dengan berbagai alasan. Entah kenapa, tiba-tiba perasaannya jadi tak menentu. Ada rasa yang sulit di ungkapkan.


“Ta, nanti malam gue jemput, ya.” ucap Delfano dibalik kemudi, dia menatap Natasya yang baru saja keluar dari mobil Sebastian, sedangkan pemiliknya hanya diam duduk santai di belakang.


Natasya mengangguk, “Iya, jam 7 ya.” balas Natasya yang diangguki Delfano.


“Yaudah, gue cabut dulu. Bye.”


“Bye.”


Natasya menatap kepergian mobil Sebastian, saat mobil itu sudah menghilang dari penglihatannya dia bergegas masuk ke rumah. Namun, dia mengurungkan niatnya. Dia memilih melangkahkan kakinya memasuki rumah Antonio.


Hening.


Itulah yang pertama kali dirasakannya saat memasuki rumah Antonio. Hanya ada beberapa pekerja disini, tukang kebun, sopir, dan 4 asisten rumah tangga a.k.a pembantu.


“Anton ada, gak, bi?” tanya Natasya pada salah satu pembantu disini yang tengah menyajikan makanan di atas meja makan.


“Oh... Ada, non. Tadi, saya lihat den Anton ke ruang baca.”


Natasya mengangguk-angguk, dia segera bergegas setelah mengucapkan terimakasih. Dia berjalan menaiki anak tangga menuju ruang baca, ruangan yang hening. Dia tahu ruangan apa itu, bukan hanya sekedar ruangan yang berisikan buku-buku. Ruangan itu lebih ke ruang dimana orang ingin merenung, entah merenung tentang apa. Itu yang dia tahu dari cerita Antonio waktu itu.


Natasya sudah berdiri di depan pintu ruang baca, tanpa mengetuk pintu lebih dulu dia segera membuka kenop pintunya dan masuk. Dia menemukan Antonio yang langsung menatap kearahnya saat pintu terbuka, dia berjalan menghampiri lelaki itu dengan senyuman yang sedikitpun tak dibalas.


“Ton, gue—”


“Ngapain kesini?”


Ucapannya yang dipotong Antonio sukses membuat langkah Natasya terhenti, hanya beberapa saat sebelum pada akhirnya perempuan itu kembali melangkah mendekati lelaki itu. Natasya duduk di samping Antonio, merangkul lengan lelaki itu dan menyenderkan kepalanya tepat di pundak Antonio.


Antonio buru-buru melepas rangkulan Natasya, dia beranjak dari kasur menuju sofa.


Natasya mencebik, “Lo kenapa sih, Ton? Aneh banget.” ucap Natasya, dia memutar tubuhnya menghadap Antonio yang duduk di sofa samping kasur yang didudukinya.


Antonio membuka lembar buku yang tengah dibacanya tadi, memilih mengacuhkan Natasya. Natasya menghela napas kasar, dia beranjak dan duduk disamping lelaki itu sambil merampas buku tersebut.


“Apaan sih, Na? Balikin, sini!”


Natasya menggeleng, “Enggak. Kenapa dulu?” tukas Natasya.


“Gak kenapa-napa.”


“Bohong.”


“Serius.”


“Bohong! Jujur, kenapa?”


Antonio menghela napas. “Apanya yang harus jujur? Perasaan gue?”


Natasya diam.