![Friendshut [TAMAT]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/friendshut--tamat-.webp)
“DELFANO! NATASYA!”
Baik Delfano maupun Natasya menghentikan lari mereka saat mendengar teriakan itu. Mereka saling tatap dan meringis pelan. Dengan pelan, mereka memutar tubuhnya menghadap orang yang memanggil mereka yang kini tengah melangkah lebar kearah mereka.
“Gimana, nih, Fan? Aamat dihukum pastinya.” cicit Natasya, tak melepaskan senyum paksa di bibir juga pandangan matanya yang tertuju pada orang itu.
Delfano melirik Natasya, merasa bersalah juga jika memikirkan mereka yang nantinya harus dihukum, meskipun memang disini mereka yang salah, yaitu datang terlambat. Tapi, tetap saja, disini Delfano yang menjadi sumber utama masalahnya. Kalau saja dia tak bangun kesiangan dan lebih cepat melajukan mobilnya ke rumah Natasya kemudian sekolah, mungkin merekatak akan terlambat dan mendapat hukuman nantinya.
“Tahu jam berapa sekarang?” Tanya Pak Zae— salah satu guru pelajaran yang merangkap jadi Wakil Kepala Sekolah di bidang Kesiswaan— sambil melipat tangan di depan dada, menatap tajam Delfano dan Natasya, menunggu jawaban apa yang akan diberikan muridnya yang terlambat ini.
Natasya menghela napas, dia mengangguk kemudian menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah garang yang ditampilkan Pak Zae. Sedangkan, Delfano, dia terkekeh saat matanya tak sengaja bertatapan dengan Pak Zae.
“Ya sudah, silahkan lakukan hukuman kalian. Bersihkan lapangan basket, outdoor dan indoor. Paham?”
Natasya mendongak, membulatkan matanya sambil menatap Delfano yang menampilkan raut biasa saja. “Tapi,pak, kita kan cuman telat berapa menit. Masa hukumannya berat banget sih, dua lapangan.” elak Natasya, dia mendesah pelan membayangkan harus membersihkan lapangan basket, dua sekaligus.
“Oh... Protes? Mau saya tambah hukumannya?”
Dengan cepat Natasya menggeleng, menolaknya. Dia melirik kesal Delfano yang hanya diam saja. Dia menyikut lengan Delfano, menaik turunkan kedua alisnya, meminta lelaki itu mengeluarkan suaranya.
Delfano mengerti. “Ya udah pak, kita lakuin deh hukumannya. Sekarang kan?” tanya Delfano, dia baru saja mengiyakan perintah dari gurunya itu, sedangkan Natasya yang mendengarnya malah terkesima dengan jawaban lelaki itu.
Pak Zae mengangguk, “Ya sudah, silahkan kalian selesaikan hukuman kalian. Saya nanti cek loh dan kalau sampai hukumannya gak selesai, saya kasih yang lebih lebih lagi. Paham?” tukas Pak Zae panjang lebar, dia segera membalikkan tubuhnya berniat pergi menuju kelas yang akan diajarnya setelah melihat Delfano dan Natasya yang mengangguk.
Natasya memutar tubuhnya, melotot kearah Delfano yang justru tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya saat melihat tatapannya itu. “Kenapa lo gak protes sih? Malah mengiyakan gitu aja.” geram Natasya, dia segera membalikkan tubuhnya berjalan menuju lapangan basket indoor meninggalkan Delfano yang langsung mengikuti langkah perempuan itu.
***
Delfano menghela napas menatap Natasya yang tak henti-hentinya menggerutu sambil menyapu lapangan basket dengan sapu ditangannya. Dia berjalan menghampiri perempuan itu.
“Udahlah, Ta, gue tau gue salah, jangan marah lagi dong.” ucap Delfano, dia menatap Natasya yang masih tak mengeluarkan suaranya kecuali gerutuan perempuan itu.
Delfano merampas sapu di tangan Natasya, membuat perempuan itu kini menatapnya. “Sini!” Natasya hendak merampas kembali sapu tersebut dari Delfano.
Bukan Delfano namanya kalau tidak gesit. Lelaki itu segera menjauhkan sapu tersebut dari jangkauan Natasya, membuat perempuan itu mau tak mau mencoba mengambil sapu tersebut dari lelaki itu. Apalagi saat ini, Delfano malah mengangkat tinggi sapu tersebut yang membuat Natasya harus berjinjit untuk mengambilnya, membuat dia sulit menjaga keseimbangan tubuhnya dan berakhir jatuh tersungkur bersama Delfano ke lantai. Menindih tubuh lelaki itu.
Natasya menatap Delfano tepat di matanya, begitupun Delfano. Posisi mereka saat ini adalah Natasya yang berada di atas tubuh Delfano, menahan tubuhnya dengan tangan perempuan itu berada di dada lelaki itu.
Delfano tersenyum tipis, memperhatikan dengan seksama wajah Natasya yang lebih dekat. “Jangan marah lagi dong, gue tahu gue salah.” ucap Delfano yang kembali menyadarkan Natasya ke kenyataan.
Natasya segera bangun dari tubuh Delfano, mendudukkan tubuhnya sambil menatap Delfano yang kini malah semakin menikmati posisi terlentang nya, bahkan kini Delfano melipat tangan dan menyimpannya dibalik kepala, menjadikan tangannya sendiri sebagai bantalan.
“Gue gak marah, cuman sebel aja. Bukannya nego, malah ngeiyain aja. Kan males bersihinnya.” jawab Natasya, dia sedikit ketus.
Delfano tersenyum lebar, “Tenang aja kali, Ta. Kayak gak tahu siapa gue aja. Tenang, ini mah kerjaan cetek kali.” ucap Delfano.
“Terus, gimana?”
Bukannya menjawab, Delfano malah mengeluarkan ponselnya mengetikkan sesuatu di ponsel lelaki itu yang membuat Natasya mengerutkan kening melihatnya.
Delfano meletakkan ponsel disamping tubuhnya, tersenyum penuh arti yang membuat Natasya semakin mengerutkan kening, bertambah bingung.
Hingga tiba-tiba suara gerombolan orang-orang yang memasuki lapangan basket indoor ini membuat Natasya menoleh. Natasya segera berdiri, dia harus mencegah para siswi dengan pakaian olahraga yang sepertinya akan melakukan permainan basket disini. Dia belum selesai membersihkan tempat ini.
Tapi, tunggu!
Sapu?
Lap pel?
Untuk, apa?
“Eh, tunggu dulu, lapangannya lagi di bersihin.” cegat Natasya, dia mencoba menahan para siswi itu yang malah saling berbisik dan terkikik menatap Delfano.
Natasya memutar tubuhnya, menaikkan kedua alisnya bertanya pada Delfano. Delfano langsung beranjak, dia berdiri disamping Natasya, dihadapan para siswi itu. Delfano berdecak pinggang.
“Udah tahu, kan?” tanya Delfano, dia sedikit mencondongkan tubuhnya sambil menampilkan senyum manis yang membuat para siswi itu menjerit histeris.
Natasya semakin dibuat bingung saat para siswi itu langsung berjalan menyebar membersihkan lapangan. Dia kini menatap Delfano, meminta kejelasan maksud dari ucapan lelaki itu yang berefek pada para siswi tersebut.
Delfano tersenyum lebar, memainkan kedua alisnya sambil melipat tangan di depan dada. Dia mengendikkan bahunya, “Nasib cowok ganteng, tinggal ini itu, langsung deh.” jawab Delfano yang masih belum menjawab pertanyaan Natasya.
“Maksudnya, apaan sih?”
Delfano merangkul Natasya, berjalan kearah tas mereka kemudian mengambil tas tersebut dan menyampirkan di sebelah pundak mereka. “Gue kan punya banyak mantan tuh—”
“—sombong banget sih punya banyak mantan!”
Delfano menyentil kening Natasya, membuat perempuan itu meringis sambil mengusap keningnya. “Dengerin dulu dong. Jadi, karena gue punya mantan banyak, gue manfaatin aja dong. Kan, lumayan. Seneng kan lo gak ngerjain hukuman?” tukas Delfano, menarik sudut bibirnya.
“Jadi, mereka kerjain hukuman kita?”
“Iya, dong!”
Natasya terdiam, merasa tak enak. “Tapi, kasian tahu, dibohongin sama lo dan mereka harus bersih-bersih buat sesuatu yang jadi salahnya kita.”
“Udah, gak papa. Mereka yang mau ini.”
Baru saja mereka sampai di depan pintu masuk lapangan ini, Delfano memutar kembali tubuhnya menghadap para siswi yang tengah membersihkan lapangan.
“Mantan, thank you, ya! Muaaahh!” teriak Delfano sambil memberikan ciuman udaranya yang membuat para siswi itu langsung menjerit histeris melihat itu.
Sedangkan Natasya, dia menghela napas sambil menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap Delfano yang satu ini.
Ajaib.