
Bibi yang lari tergopoh menuju ruang ICU menghampiri Tuannya. " Tuan, nona Elea sudah dibawa ke ruang operasi." bibi yang sudah berdiri masih dengan perasaan cemas yang menyelimuti karena Dokter tak kunjung keluar dari perjuangannya menyelamatkan Tuan Di di dalam ruang ICU dengan kaca transparan yang tembus pandang. Tampak dua dokter dan juga beberapa perawat mengelilingi Tuan Di dengan memberikan perjuangan mereka yang terbaik.
" Iya sudah bi, bibi tunggu disini ya, aku akan temani Elea." Rey kemudian berlari sembari bertanya kepada petugas rumah sakit dimana letak ruang operasi.
Belum sampai menjawab pertanyaan Tuannya, Tuannya sudah main lari-larian pergi meninggalkannya sendirian menunggu para dokter dan perawat keluar dari ruang yang membuat jantungnya tanpa henti berdebar.
Rey yang sudah sampai di depan ruang operasi yang pintunya sedetik lagi akan tertutup. " Tunggu sus!" Telapak tangan yang mengganjal pintu yang akan ditutup tanda mulainya operasi akan segera di laksanakan.
" Apa bapak suaminya?"
" Iya Dok." diikuti dengan nafas yang terengah-engah dari mulut Rey.
" Baik silahkan masuk!"
Jantung Rey tidak berhenti berdebar. Para dokter dan juga perawat yang membatu proses operasi Caesar terlebih dahulu berdoa sebelum mengiris perut Elea dengan pisau tajam atau pastinya gunting untuk mengeluarkan bayi kembar yang sudah tidak sabar ingin lahir ke dunia. Kantong tempat berteduh sudah sesak sehingga dia sangat resah dan ingin keluar. Bayi-bayi kembar nan manja pasti akan merasa bahagia karena bisa melihat mommy Eyea dan papap yey.
Rey yang terus menggenggam kesepuluh jemari Elea sembari berdoa semoga diberikan kelancaran segalanya.
Setelah berdoa para dokter dan asistennya pun melancarkan aksi operasi Caesar yang sudah tak asing dan menjadi makanan sehari-hari bagi mereka para pahlawan kesehatan. Tidak butuh waktu lama untuk para dokter mengambil si bayi kembar nan tampan dan jelita dari rahim ibunya.
Oek..oek..oek..oek..Sesaat terdengar ruangan operasi riuh dengan suara bayi timbre besar dan nyaring yang menandakan bayi laki-laki dan bayi perempuan yang sudah lahir ke dunia meninggalkan tempatnya berteduh dan berkembang selama 9 bulan lebih di rahim ibunya. Suara kedua bayi kembar yang saling bersahutan tanpa jeda memenuhi semua sudut ruangan.
" Ini ibu...bapak...bayi kembarnya. Cantik dan tampan seperti papap dan mommy nya." Kata dokter spesialis kandungan yang menangani Elea.
Elea dan Rey yang saling pandang haru melihat kedua Andro-Andro junior lahir ke dunia. Mata Rey yang berkaca-kaca melihat bayi perempuannya yang cantik memiliki mata besar dan bulu mata yang lentik dan begitu lebat rambutnya kecoklatan seperti mommy nya. Sementara Andro Junior laki-laki yang dilihatnya sangat mirip dengan nya.
Begitu juga dengan Elea yang tak kalah haru dengan Rey. Bulir-bulir bening jatuh dari kedua pelupuk matanya. Tangisnya pecah karena melihat andro-andro junior yang cantik dan tampan dengan wajah putih bersih tanpa celah noda.
Rey kemudian mengumandangkan adzan tepat di dekat telinga kedua bayi kembarnya, sebelum memberikan kepada perawat untuk proses selanjutnya.
Sementara Elea yang sudah selesai operasinya, kemudian di bawa ke ruang pemulihan untuk beristirahat.
Pemandangan berbeda dari ruang Unit Gawat Darurat. Dokter keluar dari ruang UGD dengan wajah lesu dan pasrah.
Bibi yang tahu dokter keluar dari ruang Unit Gawat Darurat kemudian menghampirinya. " Bagaimana dok keadaan tuan saya."
" Apa anda kerabatnya?"
" Sebentar dok, saya panggilkan putranya."
" Baiklah silahkan!"
Bibi kemudian berjalan cepat menuju ruang operasi. Sampai dimana ternyata bibi yang kesana kemari mencari keberadaan Tuan Rey, namun ternyata Tuan Rey sudah berada di ruang bayi yang sedang memandangi kedua bayinya dengan perasaan yang teramat bahagia.
Bibi yang berdiri berada dibelakang tuannya. " Tuan Rey."
Rey kemudian menoleh ke arah bibi. Rey terus bangkit dari lutut sebelah kanan yang dia topang kan ke lantai. Rey sadar, telah melupakan kondisi ayah nya sejenak. Tanpa kata, Rey kemudian berjalan cepat menuju ruang ICU kembali dengan diikuti bibi.
" Permisi. Rey yang masuk ke ruang ICU dimana ayahnya terbaring."
" Silahkan pak."
" Bagaimana dok?"
" Saya sudah berjuang pak. Tuan Di belum dikatakan meninggal, namun lihatlah!" Dokter yang menunjukkan alat deteksi detak jantung di meja sebelah kanan tepat tempat tidur Tuan Di. " Sangat lemah sekali jantungnya. Dan mohon maaf sekali saya sampaikan, mungkin tidak akan lama lagi Tuan Di benar-benar akan menghembuskan nafas terakhirnya."
Daaarr Bagaikan tersambar petir telinga Rey mendengar ucapan dokter. Bagaimana bisa?kedua Andro Junior telah lahir hari ini di jam yang sama dengan dia harus ikhlas jika ayahnya harus menghembuskan nafas terakhirnya sewaktu-waktu. Rey mematung. Tak bergeming sedikitpun, tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Hatinya yang baru saja bahagia karena melihat kedua Andro Junior yang baru saja terlahir ke dunia. Tidak rela rasanya jika ayah yang selama hampir 70 tahun menemaninya, harus pergi meninggalkan nya.
" Saya sudah upayakan yang terbaik pak."
" Iya, terimakasih Dok. Saya tahu itu."
Namun tiba-tiba jemari Tuan Di bergerak sangat lemah diikuti suara lemahnya pula yang keluar dari mulutnya. " Rey."
" Mana." Suara lemah Tuan Di.
Rey kemudian menyuruh bibi diikuti dengan bantuan dokter yang menangani Tuan Di untuk membawakan Andro-Andro junior ke ruang ICU.
Setelah sekitar lima belas menit. Andro-Andro junior sudah berada dalam box bayi berjalan yang di dorong oleh suster-suster rumah sakit dan sudah berada di ruangan Tuan Di.
" Lihat ini yah! ini Andro-Andro junior yang ayah idam-idamkan selama ini." diikuti dengan deraian air mata deras yang membasahi pipi Rey, seakan tahu jika ayahnya akan menghembuskan nafas terakhirnya.
Tuan Di melihat kedua cucunya dengan tersenyum. Hingga kemudian dia memegangi dadanya dan merasakan sakit di dadanya lalu memejamkan mata.
" Hihihihi." Tangis Rey pecah. " A..yah...A...yah." Memeluk Ayahnya yang sudah memejamkan mata dan tidak akan mungkin terbangun untuk selamanya. Ruang ICU pecah tangis. Dari para perawat, dokter dan juga bibi yang menyaksikan kesedihan mengharukan di tengah kebahagiaan karena terlahir nya dua malaikat kecil sekaligus ke dunia dalam waktu bersamaan, hanya selisih menit dan detik. Kelahiran yang dicintai dan kehilangan orang yang dikasihi untuk selamanya.
.
.
Sementara pemandangan berbeda. Jessica dan Daniel yang begitu singkatnya mempersiapkan akad pernikahan yang akan berlanjut ke sebuah resepsi pernikahan keduanya.
Setelah kesembuhan Jessica, Daniel dan Jessica benar-benar tidak sabar ingin menghalalkan hubungannya dimata agama. Keduanya tidak mengundang banyak tamu, hanya keluarga dekat Jessica dan teman-teman dan kolega Daniel yang dimana Daniel sudah tidak memiliki orang tua.
Daniel dan Jessica yang sudah berada di sebuah masjid untuk melaksanakan akad nikah dan mengikrarkan janji suci sehidup semati.
Keduanya dengan senyum merekah di raut wajahnya menghadap ke bapak penghulu yang siap menikahkan mereka.
Daniel menjabat telapak tangan bapak penghulu. " Apa sudah siap?" tanya bapak penghulu kepada Daniel.
" Sudah pak." Tidak butuh waktu lama, Daniel sudah sah menjadi suami dari Jessica Anindita.
Kedua mata binar mereka bertaut. Diikuti dengan memakaikan cincin ke masing-masing pasangan. Jessica kemudian mencium penuh cinta punggung tangan suami yang baru mengucap janji suci pernikahan dengannya. Sementara Daniel membalas mengecup kening Jessica yang baru lima menit saja menjadi istrinya.
Waktu berlalu dengan akhir dari dua buah peristiwa.
Pemakaman Tuan Di yang dilaksanakan sore itu juga. Tangis Rey dan Elea yang mesti berpisah ditempat berbeda. Rey yang berada di pemakaman ayahnya diikuti dengan banyak sekali pelayat dari berbagai koleganya di berbagai belahan kota dan dunia turut mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalam nya atas meninggalnya orang yang cukup di kenal dikalangan pengusaha dan salah satu crazy rich ternama di kotanya.
Sementara Elea yang menangis sembari terbaring memulihkan jahitan perutnya bekas sayatan operasi Caesar yang baru saja di lakukan nya.
Suasana pemakaman diikuti rintik hujan. Mobil berderet tak terhitung memadati pemakaman elit di kawasan kota. Rey dengan wajah ikhlas yang tak bisa disembunyikan matanya yang sembab memerah dan ujung hidung yang memerah pula akibat menangis tiada hentinya.
Rey harus berdiri dengan ikhlas ketika jenazah ayahnya dimasukkan ke liang lahat. Sudah menahan sekuat tenaga untuk tidak menjatuhkan air matanya, Namun siapa sangka. Air matanya tetap menerobos keluar melalui celah-celah meskipun dia menahannya.
Proses pemakaman selesai. Para pelayat yang memenuhi pemakaman sedikit demi sedikit menghilang dari pandangan. Tersisa Rey dan Pak Har dan juga beberapa direksi orang kepercayaan Tuan Di yang Rey sama sekali tidak mengenalnya.
Rey menaburkan bunga diatas makam ayahnya. Menguatkan seluruh tubuhnya untuk tidak tumbang dan lemah menghadapi kepergian ayahnya untuk selama-lamanya.
Sebab, akan tiada lagi omelan Rey kepada ayahnya masalah whiskey dan cerutunya setiap harinya.
Rumah, juga akan kehilangan satu penghuni di dalam nya.
Sementara pemandangan berbeda di sebuah Hotel Bintang Lima. Resepsi sederhana di sebuah Hotel Bintang Lima telah usai. Pasangan setia dan bucin memasuki room panas yang akan menggetarkan jiwa. Bagaimana tidak? pernikahan ini, seharusnya terwujud 6 bulan lalu. Namun karena Jessica yang jatuh dari lantai dua di Klinik Kecantikan miliknya membuat pernikahan ini tertunda dari jadwal semestinya.
Jessica dengan memakai lingerie berkain licin seksi dan tembus pandang dengan warna abu-abu. Telah siap menyambut suaminya Daniel yang hanya melingkarkan handuk putih khas hotel bertelanjang dada.
Kecantikan Jessica membius Daniel yang tidak pandang bulu meskipun Jessica sudah tidak virgin lagi bahkan bisa dibilang turun mesin karena habis saja dia kuret karena keguguran. Bucin nya seorang Daniel membuat Jessica tidak menyia-nyiakan kesempatan dicintai oleh pria tampan nan baik hati seperti Daniel yang bagaikan twinflame dari sosok Rey yang memiliki tempat tersendiri dihatinya dan tak akan pernah tergantikan.
Daniel yang perlahan menarik tali kecil dan terdengar
" Aw....Aw....aw.... manja." Jebret.
S E L E S A I