
" Kamu itu harus cerdik sedikit dalam mengambil hati Rey Jess."
" Maksud mami?"
" Mami tahu, kalau kamu ingin membuat Rey kembali kepada mu. Namun sayangnya terlambat. Karena dia sudah menikah."
Jessica yang tidak terima dengan pernyataan maminya. " Rey bahkan belum mencintai istrinya."
" Wao. Pernikahan apa itu? Menikah tanpa cinta. Apa keduanya menikah karena terpaksa?"
" Aku tidak tahu mi. Tapi yang jelas Rey benar-benar sudah membuat ku gila. Padahal dulu, dia begitu sangat mencintai aku. Tapi sekarang, lihatlah sendiri anakmu ini mi! Begitu sangat rendah, mengejar pria yang sudah beristri."
" Jessica...Jessica...ketahuilah, semakin kamu mengejar Rey, Rey semakin melayang, dirinya akan semakin sangat arogan dan berusaha sekuat tenaga membuatmu tergila-gila, Lalu dengan tega, menjatuhkan kamu bagai tak ada arti."
" Rey tidak seperti itu mi, aku yang bahkan telah membuang Rey dan lebih memilih Mike."
" Apapun alasannya Jess, jika kamu dan Rey saling cinta, kalian pasti akan kembali dengan cara apapun. Tentunya, semua pasti harus ada usaha. Apalagi Rey yang...belum mencintai istri nya. Besar kesempatan kamu, untuk mendapatkannya kembali."
" Tapi ayah Rey..."
" Kenapa dengan Tuan Di Andro?"
" Ayah Rey bahkan, pagi tadi memberiku cek senilai 2 Miliar, untuk aku menjauhi Rey."
" What? 2 Milliar." Mami Indy yang shock mendengar perkataan putrinya. " Lalu?"
" Aku kembalikan lagi melalui Rey."
Mami Indy yang menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan tindakan putrinya.
" Awalnya...
Memang aku ingin mendekati Rey, karena uangnya. Namun semakin kesini. Rey seperti telah membius ku dan aku semakin dibuat gila olehnya. Apa lagi setelah mendengar, jika dia belum mencintai istrinya. Aku semakin percaya diri kalau aku bisa mendapatkan hati Rey kembali mi."
Mami Indy yang terharu mendengar perkataan putrinya.
" Meskipun Rey berkata...sudah menghapus namaku dari hatinya. Dan 6 tahun berlalu sudah, dengan dia kuliah di Boston membawa luka yang aku goreskan. Maka dari itu mi, Rey bahkan menolak ku terang-terangan dan tidak ingin mengulang cerita dengan ku kembali. Aku adalah masa lalunya sedangkan Elea adalah masa depannya." Wajah sedih Jessica.
" Ouwh sayang, cup...cup...cup jangan bersedih." mami Indy dengan manja menggoda putrinya yang mulai sendu. Memberikan pundaknya untuk tempat bersandar kepala Jessica.
Bulir-bulir bening dari pelupuk mata Jessica tak bisa ditahan lagi. Bulir-bulir bening jatuh sesuka hati. Jessica benar-benar tidak tahu, apa yang harus dilakukan untuk membuat Rey kembali kepadanya.
" Hanya ada satu cara." Senyum licik mami Indy.
" Apa mi?"
" Tapi ini sangat berbahaya, beresiko dan berakhirnya nama baik yang hancur." mami Indy yang membisikkan rencananya jika Jessica benar-benar ingin mendapatkan Rey kembali. Mami Indy terpaksa memberi ide gila, karena tidak tega melihat putrinya yang tidak memiliki gairah hidup.
Jessica yang melotot bulat sempurna, ketika mendengar ide gila maminya.
Suasana berbeda di dalam kamar suka-duka.
" Tiduuuuur Honey..." Titah Rey kepada Elea yang masih membaca buku padahal matanya saja terlihat tinggal 5 Watt.
Elea menguap. Dan akhirnya tertidur di sofa dengan wajah tertutup sebuah buku.
Rey yang sedari pulang dari rumah sakit gelisah ingin tahu kondisi Jessica, tidak bisa tidur dan sering bangun. Mendapati Elea yang tertidur di atas sofa. Rey mendekatinya. " Elea...Elea..." Rey yang membopong Elea ke atas ranjang. Memandangi wajah Elea sebentar lalu meninggalkannya. "Huuuh..." Rey yang berjalan gelisah, sesekali jemarinya mengusap bulu-bulu tipis tulang rahangnya. Memainkan bibirnya. Berjalan. Mengambil ponselnya dan meletakkannya kembali.
Tahaan Rey...kamu tidak boleh perduli lagi dengan apapun kondisi Jessica. Dia sudah dewasa, dia pasti baik-baik saja. Rey yang mengingat kembali dirinya yang hancur karena penolakan Jessica. Rey bahkan sempat ingin mengakhiri hidup dengan segala cara. Melamun dan menabrakkan mobil ketika di Boston. Tapi takdir masih memberikannya hidup sampai sekarang. Hal itulah yang ditakutkan Rey, ketika mendengar Jessica baru saja mukul kaca rias, Rey takut, sesuatu yang pernah terjadi di Rey, akan dialami oleh Jessica. Rey hanya takut Jessica bertindak bodoh sepertinya dulu. Mencoba bunuh diri dengan melakukan segala cara. Tenang Rey tenang! Jessica pasti baik-baik saja. Besok pantau lah dia dari kejauhan ke PACC Mall! Rey yang akhirnya menguap dan naik ke atas ranjang. Berusaha memejamkan matanya.
Keesokan pagi di dalam kamar suka-duka. Elea yang kelabakan karena bangunnya terlambat dan Rey tidak membangunkannya.
Tititit...tititit...tititit...Suara alarm memekik di telinga.
Sementara Rey yang sudah rapi dan sedang berada di ruang ganti dibuat heran dengan tingkah istrinya.
" Honey...tunggu aku." Teriakan dari kamar mandi.
Rey yang tak menjawabnya.
Brak suara pintu kamar mandi yang di dorong terlalu kuat oleh Elea.
Rey kemudian menatap tingkah Elea yang pagi itu pentalitan tidak karuan.
" Hehehe. Maaf Honey." Cengir Elea.
" Buruan! Aku tunggu di bawah." Wajah kesal menahan tawa melihat tingkah Elea yang lumayan menghiburnya pagi itu.
Di meja makan.
" Mana istri mu Rey?" Tuan Di yang sudah menyambut putranya dengan duduk santai di meja makan.
" Masih berdandan yah."
Tuan Di yang terkekeh.
Sesaat Elea turun dan menuju ke meja makan. " Maaf semuanya aku terlambat."
" Makanlah Elea."
" Baik Tuan Di."
Rey yang terus memperhatikan istrinya dari sejak turun tangga hingga duduk bahkan sedang makan. " Pe lan-pe lan. Nanti tersedak."
Cengir Elea. Yang kemudian mengambil segelas susu yang sudah disiapkan bibi untuknya.
" Kita berangkat dulu ya yah." Rey dan Elea yang mencium punggung tangan Tuan Di bergantian. Namun ketika Rey mencium punggung tangan ayahnya.
" Ingat pesan ayah baik-baik!" Tuan Di yang bicara lirih tepat di telinga putranya.
Jelas pesan itu bertolak belakang sekali dengan pikirannya yang telah semalaman gelisah memikirkan keadaan Jessica. Rey hanya bisa diam. Berjalan menggandeng jemari Elea menuju mobil di garasi.
Selama di dalam mobil. Elea merasakan suaminya terlihat gelisah. Namun Elea bersikap biasa saja seolah tidak tahu apa-apa. Rey sepertinya gelisah ketika mendengar ucapan maminya Jessica semalam.
Keduanya tiba di kantor dan menuju ruang meeting.
" Selamat pagi semua?" Rey dengan kharismanya memimpin meeting pagi itu.
" Selamat pagi pak Rey." jawaban yang sama dari semua peserta meeting pagi ini.
Rey dengan sangat profesionalnya menjelaskan dan menjabarkan semua visi dari Perusahaan ANDRO kedepannya. " Saya ucapkan terimakasih, kepada kalian semua. Berkat kerja keras kalian, Perusahaan ANDRO bisa mencapai prosentase Ekspor yang sidah ditargetkan sebelumnya. Saya mohon ibu Elea, siapa tahu anda memiliki ide yang brilian, supaya target tahun depan bisa naik dari prosentase yang sudah ditetapkan atau minimal stabil. Silahkan!"
" Terimakasih pak Rey atas kesempatan yang diberikan kepada saya." Elea berdiri dan menjelaskan semua gagasannya supaya tahun-tahun berikutnya ekspor Perusahaan ANDRO akan terus meningkat dan menjadi Perusahaan Keramik dengan kualitas terbaik Versi Asia.
Tepuk tangan dari semua peserta tak terkecuali Rey.
" Wao...luar biasa. Ide brilian dari anda ibu Elea."
" Terimakasih pak Rey."
" Kalian sudah dengar sendiri bukan, bahwa kualitas adalah kunci utama supaya Ekspor menembus prosentase yang diinginkan. Saya rasa cukup. Meeting hari ini selesai." Rey bahkan tidak menghampiri Elea dan bergegas keluar kantor.
" Rey mau kemana ya? Kemarin saja ngajak makan siang. Kenapa...hari ini tampak buru-buru...?"
BERSAMBUNG