
Apa harga diriku senilai 2 Milliar? Bukankah kalau aku bisa mendapatkan Rey, aku bahkan bisa memiliki lebih dari cek ini. Tapi, tadi ayahnya Rey berkata, Jika aku ingin mendekati Rey hanya karena harta, ayahnya Rey bahkan sudah memiliki rencana yang aku sendiri tidak tahu. Tidak...tidak Jess. Kamu harus dapatkan dua-duanya. Uang ini dan juga Rey. Jessica lantas pergi meninggalkan parkiran. Mengambil tas di dalam meja kerja nya dan kembali menuju mobilnya terparkir.
Sementara Elea sedang sibuk memeriksa bagian produksi dengan berkeliling pabrik. Memeriksa satu persatu proses dari hulu ke hilir sampai dimana proses pengerjaan barang-barang berbahan dasar keramik terproses dengan baik.
" Nona, Pak Rey sedang tidak ada di meja kerjanya." Sekretaris Rey mencoba menghalangi Jessica yang ingin masuk ruang kerja Rey.
" Kemana dia?"
" Dia sedang berkeliling pabrik."
" Hubungi dia segera!"
" Baik nona!" Apa ini mantan kekasih yang lulusan luar negeri namun sama sekali tidak punya etika. Cantik sih. tapi etikanya minus. Untung Pak Rey tidak memilih istri seperti dia.
" Cepat, saya tidak ada waktu!"
" I-iya nona."
" Pak Rey."
" Iya, kamu tahu kan, saya sedang menemani ibu Elea berkeliling pabrik."
" Ada mantan kekasih anda pak Rey."
Rey yang terkejut. Akhirnya menutup ponselnya. Berlari dan meninggalkan Elea begitu saja.
Elea yang tahu suaminya pergi begitu saja setelah menerima telepon bertanya dalam hati. Ada apa gerangan sampai Rey berlari tanpa pamit kepadanya?
" Jess." Rey yang menarik pergelangan tangan Jessica.
" Hai Rey. Hentikan Rey!"
Rey kemudian berhenti dan melepaskan pergelangan tangan Jessica.
" Apa lagi sih Jess?"
" Ada yang ingin aku katakan serius. Sebaiknya bicara di dalam." Jessica yang menunjukkan cek dari ayahnya.
" Okay!" Rey yang berjalan mendekati pintu ruang kerjanya dan membukanya.
Disusul dengan Jessica yang masuk ke dalam ruangan.
" Fany."
" Iya pak Rey."
" Baik Pak Rey."
Rey lantas masuk ke ruang kerjanya.
Jessica yang berdiri di sudut sofa. Memegang paper bag berisi hadiah pernikahannya bahkan masih berada di atas sofa seperti tak ada harganya. " Apa kamu tidak suka hadiah pemberianku Rey?"
" To do point' Jess, apa mau kamu?"
Jessica menghela nafas panjang. Melangkahkan kakinya mendekat ke hadapan Rey. " Kamu tahu, ayah kamu memberi ku cek senilai 2 Milliar." Jessica memberikan cek dari ayahnya.
Rey kemudian memastikan bahwa cek itu benar adanya dari ayahnya. " Aku masih tidak mengerti Jess?"
" Ayah kamu berusaha memisahkan kita Rey. Dia meminta ku untuk menjauh dari kehidupan mu selamanya. Ayah kamu menginginkan aku tidak mengganggu kehidupan rumah tangga mu."
Apa yang ayah lakukan? Aku hanya ingin balas dendaaam. Mengapa semua orang jadi salah paham seperti ini? Geram Rey " Lalu?"
" Aku menolaknya Rey. Aku mengembalikan cek ini lewat kamu. Karena aku yakin, yakin dengan sisa-sisa cinta yang masih ada buat aku Rey. Aku tahu, aku bersalah. Aku menyesal dulu meninggalkan kamu dan memilih dengan Mike. Aku menyesal Rey. Aku mohon, beri kesempatan kedua untuk aku. Aku janji, aku masih sama, seperti Jessica yang dulu. Wanita yang selalu kamu puja Rey. " Jessica dengan sangat yakin akan perasaan Rey yang masih cinta dengannya.
Rey yang tangannya bersedekap. Menatap foto pernikahannya dengan Elea. " Apa kamu lupa Jess? kalau aku sudah menikah. Foto kamu bahkan tidak ada tempat di ruangan ku. Lihat!" Rey yang berusaha menunjukkan foto-foto pernikahannya dengan Elea. " Apalagi di hati ku Jess."
" Lalu mengapa? mengapa kamu mengajak ku makan siang. Janji makan malam seolah kamu memberikan aku harapan."
" Maafkan aku Jess." Rey yang melepaskan sentuhan dari jemari Jessica. " Aku hanya menghargai kamu saja." Mata keduanya bertatap dengan makna dalam. " Sebagai teman. Tidak lebih Jess."
Jessica menghentikan tatapannya. Memalingkan tatapannya. " Apa kamu mencintai Elea?"
Rey yang berdiri terpaku.
" Hehm, kamu bahkan tidak bisa menjawabnya Rey. Aku yakin, baik aku maupun kamu, belum bisa saling lupa. Kita belum bisa melupakan satu sama lain Rey. Apa kamu ingat, perjuangan yang kamu lakukan untuk aku? mati-matian semuanya kamu lakukan buat aku." Jessica dengan mata berkaca-kaca mencoba meyakinkan Rey kembali. Tepat wajahnya persis di hadapan wajah Rey.
" Mengapa baru sekarang kamu ingatkan semuanya? Kemana kamu Jess? Kemana?" Suara Rey yang awalnya bernada pelan seketika lepas kendali dengan berteriak mencengkeram kedua lengan Jessica. " Kemana? saat kamu begitu mudahnya memberikan kembali 100 tangkai mawar segar yang aku persembahkan buat acara wisuda kamu?" Rey tak kuasa meneteskan air mata. Begitu pula dengan Jessica. Wajah keduanya sangat dekat bertatap. " Apa perlu? aku ingatkan kembali. Penghinaan yang kamu lakukan terhadapku. Bahkan kamu tidak tahu hidup aku selanjutnya bukan?" Rey yang tak kuasa menjatuhkan air matanya dengan membanting tubuh Jessica dengan kasar di atas sofa.
Blak Seketika tubuh Jessica tersungkur. Cengkeraman kuat Rey pun dilepaskan. " Hikz...Hikz...Hikz..." Isak tangis Jessica tak terkendali. Wajahnya penuh dengan air mata yang membasahi. Matanya merah menyesali perbuatan tidak eloknya terhadap Rey. Kepala Jessica mengingat semua memory dimana dia melenggang pergi dengan senyum bahagia meninggalkan Rey yang sangat mencintainya. Jessica bahkan pergi dengan Mike Walls dengan sangat bangganya. Namun sekarang. Sekarang keadaan berbalik. Gantian dia yang mengejar Rey dengan sangat rendahnya. Namun Jessica tetap pada upayanya yang mati-matian. Jessica lantas berlari kecil dan bersimpuh di kaki arogant Rey yang sedang berdiri dengan angkuhnya. " Hanya kata maaf, yang aku harapkan dari kamu Rey." Jessica yang merangkul bersimpuh di kaki jenjang Rey sebelah kanan dengan mendekap penuh tangis penyesalan.
" Hentikan Jess!"
" Sebelum kata ma-af dari ka-mu, a-aku tidak akan berdiri." Nada bergetar Jessica.
" Berdirilah!" Rey yang meraih tubuh Jessica. Rey yang tidak tega dengan wanita yang pernah mati-matian dia puja dan perjuangkan. Bahkan Rey sama sekali tidak tahu, jika Jessica akan datang kepadanya dan meminta kembali dengannya." Rey yang menghapus air mata Jessica dengan kedua jemarinya. " Aku sedang berusaha memaafkan kamu Jess, meskipun itu sulit. Luka yang aku bawa ke Boston, tidak akan terlupa begitu saja. Begitu juga hari ini. Meskipun kamu bersimpuh. Rasanya terlambat, untuk kita menjalin suatu hubungan kembali. Mungkin ini yang dinamakan takdir. Aku yang dulu sangat memuja mu bahkan ingin menjadikan kamu istri untukku. Kamu lebih memilih orang lain. Namun saat, aku sudah memiliki istri, kamu kembali. Mungkin memang kita tidak berjodoh Jess."
BERSAMBUNG