Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 7 part 8



Rey dan Elea yang setibanya di rumah. Rey kemudian membawa Elea masuk ke dalam kamar suka-duka.


Waktu makan malam sebentar lagi. Rey membantu Elea mendorong kursi roda ke kamar mandi.


Entah mengapa Elea merasa deg-degan ketika Rey terus memandangi dirinya. Singa jinak ku kenapa ya? Huh, mengapa tiba-tiba jadi gerah ya?


Rey yang berdiri tepat di depan Elea dengan terus memandanginya dengan penuh perasaan bersalah. Wajahnya semakin mendekat dan menunduk seperti ingin mencium bibir Elea.


Elea yang sadar bahwa Rey ingin mencium bibirnya, namun kedua bola matanya perlahan dia pejamkan. Ciuman bibir yang belum mendarat di bibir Elea. Namun terhenti karena ketukan pintu dari bibi.


" Non Elea..."


Rey seketika menjauhkan kepala dan wajahnya sementara kedua bola mata Elea terbelalak. " Iya bi, masuk!"


Jantung Elea berdebar tak karuan. Rey kemudian pergi keluar kamar mandi dan membiarkan Elea di seka oleh bibi.


Waktu makan malam tiba. Tuan Di Rey dan juga Elea yang sudah bersiap dengan duduk di meja makan.


" Bagaimana keadaanmu menantu ku?"


" Jauh lebih baik Tuan Di."


" Syukurlah."


Tuan Di yang melanjutkan mengambil makanan yang tersaji di meja makan dengan sangat mewahnya. Tuan Di juga memperhatikan sikap Rey yang begitu lemah lembut dan terlihat manis dalam memperlakukan Elea dan menyuapinya. Seketika mulutnya berhenti mengunyah, kepala dan telinga terngiang ketika bibi melihat hal janggal antar keduanya. Meskipun Tuan Di tahu kalau ini adalah pernikahan terpaksa yang harus mereka lakukan. Namun Tuan Di juga tak habis pikir, jika mereka hanya bermain sandiwara di hadapannya. Tuan Di pikir, mereka hanya butuh membiasakan diri untuk bersama, menghadirkan cinta dan hidup bahagia. Namun ternyata pernikahan keduanya, tak sesederhana pikirannya. Harus ada drama Jessica mantan kekasih Rey yang membayangi bahkan mengejar Rey kembali meskipun Jessica sudah tahu jika Rey memiliki istri. Tuan Di yang hampir tak berkedip melihat aksi putranya yang mencium kelima jari Elea yang masih di perban.


Elea yang merasa malu tersipu, karena menurutnya Singa yang sedang Jinak di depannya membuatnya salah tingkah di depan mertuanya. Bagaimana tidak? Rey terlalu berlebihan dalam bersikap jika di depan ayahnya.


Sementara Tuan Di berusaha akan membuktikan sendiri, terhadap apa yang disampaikan bibi.


Makan malam yang sudah usai dengan hati Elea yang damai. Entah mengapa hatinya berbunga-bunga. Namun dia menyembunyikan tawa geli dalam benaknya.


" Kamu kenapa senyum-senyum?" Rey yang memberhentikan langkahnya ketika mendorong kursi roda Elea menuju kamar suka-duka.


" Em...enggak." Elea yang sekali lagi menyembunyikan perasaan bahagianya.


Rey mendorong kursi roda masuk ke dalam kamar. Meletakkan tubuh Elea di atas ranjang dan menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya. " Tidur!" Kata-kata Rey juga terlihat tidak sekasar biasanya. Biasanya dengan nada oktaf 7. Namun kali ini pakai tangga nada 1. Bahkan tatapan nya yang teduh membuat Elea benar-benar merasa diperhatikan.


Rey yang kemudian keluar dari kamar.


Kemana dia? Kok malah keluar. Elea yang hendak bangun dari tidurnya seketika meringis kesakitan karena lengan nya masih sangat sakit jika dibuat bergerak. Elea kemudian pasrah dengan menaruh kepala dan pundaknya menempel di bantal kembali.


Sementara Rey menuruni anak tangga. Mengambil box container dari dalam bagasi mobilnya. Membawa ke taman belakang dan sudah siap dengan korek api untuk membakarnya. Rey yang sampai di taman belakang. Membuka box container dan mengambil satu persatu isi dalam box tersebut. Dengan mata berkaca-kaca. Rey kemudian menyalakan korek api dan mulai membakarnya satu persatu. " Sorry Jess. Sepertinya kenangan pahit ini tidak harus terulang lagi. Sepertinya aku harus realistis, jika memang pernikahan aku dan Elea adalah yang terbaik yang ayah aku berikan dalam hidupku." Rey yang berdiri bersedekap tepat di depan kobaran api yang mulai membesar.


Elea yang penasaran kemana Suami Singa nya pergi.


" Non Elea..."


" Apa nona butuh bantuan? sebelum bibi istirahat."


" Iya, bi. Apa bibi tahu suami saya?"


" Setahu bibi, Tuan Rey baru saja berjalan ke arah taman. Apa perlu saya antar ke sana?"


" Nggak usah bi! bibi tolong bantu saya duduk di kursi roda. Lalu antar saya ke balkon saja."


" Baik nona Elea." Elea yang sudah berada di balkon dan menatap dua pria yang sedang berdiri di taman. Suami Singa nya dan Tuan Di. " Hah." Elea yang dibuat terkejut dengan api yang mulai membesar di dekat keduanya.


Apa yang terjadi? Apa yang dibakar Rey? Elea yang terus memperhatikan kedua pria itu dari atas balkon tempat tidurnya.


Tuan Di yang sedari tadi berdiri di belakang putranya. " Apa yang kamu bakar Rey?"


Rey yang terkejut karena melihat ayahnya yang ternyata berdiri tidak jauh darinya. " Ayah." Rey yang menoleh ke belakang, berjalan lalu memeluk erat kuat ayahnya dan meneteskan air mata karena mengingat kejadian 20 tahun silam. Ayahnya adalah orang satu-satunya yang dimilikinya saat ini. Rey tersadar jika dia belum bisa membahagiakan ayahnya. Saat ini, ayahnya hanya menginginkan pernikahannya dengan Elea bahagia. Maka Rey akan berusaha untuk terlebih dahulu mencintai Elea. Setelah 20 tahun lamanya mereka terpisah dan melanjutkan hidup masing-masing. Perlahan kenangan pahit 20 tahun silam membuka ingatan Rey kembali.


" Ada apa Rey?" Tuan Di yang melepaskan pelukan putranya dan menatapnya dalam-dalam.


" Aku minta maaf yah. Huh...Harusnya aku merasa beruntung menikah dengan Elea."


" Maksud kamu? ayah benar-benar tidak mengerti."


" Aku janji kepada ayah, akan menjadi suami yang baik untuk Elea." Rey yang menempelkan telapak tangannya di dada Ayahnya.


Tuan Di yang terharu dengan ucapan putranya. Namun Rey sepertinya tidak ingin menjelaskan terlalu banyak kepadanya. Dengan mendengar janji putranya saja, sudah membuat hati Tuan Di lega.


Rey kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan ayahnya yang sedang berdiri di taman belakang dengan segudang tanda tanya.


Elea yang mengetahui Rey sepertinya akan naik ke kamar suka-duka.


" Bi, tolong antar saya untuk naik ke atas ranjang."


" Baik nona Elea." Bibi yang mendorong kursi roda meninggalkan balkon dan membawa nona Elea tidur kembali di atas ranjang.


" Sekarang, bibi boleh keluar. Terimakasih ya bi." Suara berbisik Elea.


" Baik Non!"


Elea kemudian pura-pura memejamkan mata.


Rey yang baru membuka pintu dan berjalan perlahan mengarah tepat di samping dimana Elea tertidur. Memandangi wajah Elea yang cantik dan tumbuh menjadi wanita dewasa. Rey mulai teringat dan terbayang dengan tawa gelak keduanya waktu kecil. Elea yang rambutnya selalu di kepang dua seperti ekor kuda kalau pagi saat berangkat sekolah. Keduanya berebut telur ceplok dan mie instan hampir setiap pagi jika ingin berangkat sekolah. Bahkan dirinya selalu menang dan diistimewakan Pak Sis ayah Elea. Elea dibuat harus mengalah jika berhadapan dengan Rey. Namun karena Rey begitu menyayangi Elea dan Elea yang juga cerdik dengan pura-pura menangis. Membuat Rey selalu tidak tega karena Pak Sis selalu mendahulukannya dalam hal apapun. Rey yang dibuat senyum-senyum sendiri. Mengingat masa-masa kecil bersama Elea.


BERSAMBUNG