
Sesampainya di rumah. Rumah juga terasa sepi. Hanya ada bibi yang menyambut dan membukakan pintu. " Malam Non."
" Malam bi. Apa suami saya sudah pulang."
" Belum non." Maaf ya non, harus bohong, kalau nggak bisa digorok leher saya sama Tuan Rey. Padahal Tuan Rey sudah pulang.
" Saya ke atas dulu ya bi."
" Iya non."
Ceklek. Suara gagang pintu. Elea melihat pertama kali kamarnya gelap. Mencari letak tombol nyala lampu. Tek. Lampu akhirnya menyala dengan sangat terang.
" Happy birthday to you...happy birthday to you...happy birthday...happy birthday...happy birthday to you. Happy birthday Honey." Cup. Rey yang memberikan kecupan bibir kepada istrinya dengan membawa kue ulang tahun di atas kedua tangannya lengkap dengan lilin-lilin kecil berkelir merah putih dan putih biru yang berdiri di atas kue ulang tahun.
" Awh. Honey, so sweet." Mulut Elea yang menganga dan tersipu malu.
" Tiup lilinnya. Make a wish dulu." Rey yang mendekatkan kuenya tepat di hadapan bibir Elea yang akan meniup lilin.
Lilin-lilin kecil padam. Rey lagi-lagi mengecup kening Elea. Senyum mengembang dan rona bahagia dari wajah keduanya.
Elea kemudian mengiris kue pertama dan dia suap kan kepada Rey. Rey dengan sangat antusias menyambut kue yang sudah ada di depan mulutnya.
" Thank you Honey." Elea yang berdiri dengan menunduk kan kepala ke arah Wajah Rey yang dagu Rey dia pegangi menggunakan kedua telapak tangannya. Rey yang duduk di atas ranjang sepertinya terbuai dengan menyiasati bahwa malam ini adalah malam yang tepat sebagai malam balas dendam dari 6 bulan yang sudah tersiakan. Suasana kamar berubah nama menjadi kamar suka untuk mereka berdua malam ini. Lampu kamar meredup seiring gelapnya malam dan dentang jam yang berbunyi. Malam pelampiasan. Malam yang benar-benar ditunggu oleh keduanya. Malam yang akan merubah hidup Elea akan menjadi semakin bahagia karena keduanya melakukan dengan rela. Malam yang sangat panjang bagi mereka berdua untuk membuat ranjang menghangat.
***
Malam yang panjang bagi keduanya, berubah menjadi esok pagi dimana keduanya sudah selesai dari membersihkan diri dan berangkat ke kantor.
" Pagi yah." Rey yang mencium punggung tangan ayahnya sembari mengedarkan seluruh bola mata ke atas meja makan. Untuk sekelas makan pagi yang bisa dibilang wao. Menunya yang sengaja ayah datangkan seorang chef untuk merayakan ulang tahun Elea.
" Happy birthday menantuku." Tuan Di yang mencium pipi kanan dan kiri Elea lalu memeluknya.
" Terimakasih Tuan Di." Elea yang kembali ke tempat duduknya.
" Sama-sama menantuku. Apa perlu kita buat pesta mewah mengundang semua orang kantor dan juga teman-teman kamu Elea."
" Terimakasih Tuan Di. Tidak usah berlebihan Tuan. Makan pagi ini sudah lebih dari cukup." Elea yang memegang sendok dan garpu di tangan kanan dan kirinya yang siap untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke kantor.
Tuan Di yang menatap teduh wajah menantunya, begitu juga dengan Rey yang sepertinya sama bahagianya.
Makan pagi usai, rutinitas yang sama setiap harinya. Berangkat ke kantor, pulang ke rumah, makan malam bersama, tidur malam dan kembali bekerja lagi keesokan harinya sampai dimana...
Satu bulan kemudian. Tepat pukul 07.00 A.M. waktu Australia. " Uog..uog...uog." Jessica yang berlari ke kamar mandi. Rasa mual untuk pertama kalinya di pagi hari. Perlahan dengan kekhawatirannya beberapa hari ini yang merasa curiga karena jadwal datang bulan yang dinantinya tak kunjung tiba. Jessica yang menatap wajahnya pucat, rambut yang acak-acakan dan penampilan yang sudah tidak karuan seperti tidak memiliki gairah hidup lagi setelah malam terakhir dimana Mike memaksanya untuk menuruti hasratnya. Pikiran Jessica sudah kalang kabut. Dia kemudian berlari kecil mengambil test pack yang dia beli semalam di apotik. Jessica kemudian melakukan anjuran langkah dalam menggunakan test pack tersebut. Salah satunya mencelupkan test pack tersebut ke dalam air kencingnya, dan menunggu hasilnya.
Jessica yang ketar-ketir dengan memegang alat test pack di tangan kanannya. Retina matanya benar-benar harus dia jereng guna menyaksikan apa hasil dari alat test pack yang dipegangnya.
Bulir-bulir bening tak kuasa untuk menetes satu persatu dari pelupuk matanya. Sesenggukan dia menangisi hasil dari apa yang coba dijelaskan oleh test pack. Dua garis biru yang berarti dia positif hamil. Iya, dia hamil dengan pria bedebah seperti Mike. Pria pecundang yang suka bermain wanita dan memaksa wanitanya untuk menuruti hasratnya. Jessica mulai meratapi kesedihannya. Kakinya sudah tidak kuat menopang tubuhnya dan tersungkur di lantai luruh bersama tangis kesedihannya dan test pack dalam genggamannya. Telinganya tak berhenti mendengar ucapan Mike yang sebulan yang lalu berkata. Kamu yang akan mengejar kepadaku untuk menikahi mu. Ingat itu Jess. Matanya yang membayangkan wajah Mike yang begitu sadisnya dan akan sangat angkuh jika dia harus bersimpuh di kaki Mike untuk menikahinya.
Sementara di kamar suka-duka.
Elea yang lemas berdiri tepat di pintu kamar mandi. Rey yang menatap cemas dengan keadaan istrinya yang sudah beberapa kali mual-mual tidak jelas dan tidak biasanya.
" Kita ke rumah sakit ya!" Rey yang menyentuh leher belakang istrinya dengan sedikit memijit nya.
" Enggak papa. Hanya masuk angin Honey." Kepala Elea yang tertunduk.
Rey yang dengan sigap mengambilkan minyak kayu putih untuk diberikan ke istrinya.
Namun bukannya sembuh, Elea yang kembali menuju wastafel dan mencoba memuntahkan rasa mual hebat yang melanda sejak pagi.
Rey yang terus mengintilinya dari belakang karena takut Elea kenapa-napa.
" Lebih baik kita ke dokter! Lihat! kamu pucat."
Elea sudah tidak bisa menolak lagi dengan apa yang dikatakan suaminya.
Rey kemudian membawa Elea menuju mobil yang terparkir dalam garasi. Sesampainya di rumah sakit yang makan 15 menit perjalanan dari rumah, Rey langsung membawa ke UGD karena belum ada dokter umum yang praktek sepagi ini, selain dokter jaga di UGD.
" Ada apa pak?"
" Istri saya mual terus dok."
" Silahkan bapak tunggu disini ya!" Dokter bergegas mengecek kondisi Elea.
Setengah jam kemudian. " Silahkan bapak masuk. Silahkan duduk pak!"
" Terimakasih Dok. Bagaimana keadaan istri saya dok?"
" Istri bapak baik-baik saja, Selamat ya pak, bapak akan menjadi seorang ayah sebentar lagi dan sepertinya, bayi dalam kandungan ibu, kembar."
Mulut menganga Rey dan mata binar yang bahagia. Rey tak hentinya menarik kepala istrinya lembut dengan menempelkan keningnya dengan kening Elea. Perasaan haru keduanya setelah mendengar apa yang disampaikan dokter baru saja.
Dokter yang ikut terbawa suasana bahagia dari pancaran pasangan suami istri yang sedang duduk di hadapannya. " Sebaiknya, untuk lebih detailnya, ibu dan bapak bisa periksakan ke dokter spesialis kandungan."
" Terima kasih dok." jawab Rey dengan rona senyum bahagia.
Suasana berbanding terbalik yang dirasakan Jessica dan Elea. Jessica yang menerima hasil kehamilannya dengan tangis dan air mata. Sementara Elea mendengar kabar kehamilannya dengan disambut riuh suka cita . Tawa bahagia dari seisi rumah keluarga Andro. Apalagi Tuan Di yang sangat mendamba Andro Junior yang hadir di tengah keluarga putranya.
BERSAMBUNG