Forced to Marry

Forced to Marry
BAb 8 part 3



Malam yang penuh arti bagi keduanya. Elea yang berjalan mondar-mandir gelisah di ruang ganti pribadinya. Memandangi satu persatu lingerie warna merah berenda dan juga warna hitam menggoda. Keduanya benar-benar sangat mengujinya. Bukan kah ini malam yang kamu tunggu Elea? Ayolah pliis Elea! Kamu tahu sendiri kan apa yang baru saja dia lakukan padamu. Rey juga menginginkan malam ini terjadi. Dan jadilah istri seutuhnya bagi Rey. Elea yang menyentuh lingerie merah berenda dalam genggaman kedua tangannya.


Rey yang sedari tadi mengamati Elea. Rey yang tahu jika Elea sedang kebingungan memilih lingerie yang akan dikenakannya. " Ini bagus."


Mata Elea yang terbelalak seketika melihat Rey sudah berdiri di depannya tanpa terdengar langkah kakinya.


" Pakailah, dan jangan lama-lama." Rey yang menepuk pipi kanan Elea sebanyak dua kali. Rey lantas pergi meninggalkan istrinya dan berjalan mengarah ranjang. Memandangi langit-langit atap yang tergantung cristal tepat di atas ranjangnya. Menyiapkan mental dan semua hasrat yang dipendam dan memastikan agar malam ini siap berlabuh.


Elea yang benar-benar tidak percaya diri menggunakan lingerie sensual ini. Memandangi dan memutar berulang kali tubuhnya. Berjalan saja rasanya ingin pingsan. Apalagi sampai Rey melihat dia memakai lingerie ini. 10 menit berlalu, Elea tak keluar juga dari ruang gantinya. Hingga 5 menit kemudian Elea memberanikan diri memakai lingerie yang Rey pilihkan dan berjalan perlahan keluar ruang ganti dengan kedua tangan yang canggung dan wajah yang gelisah.


Rey menoleh karena langkah Elea yang tertunduk membuatnya tersenyum dan tak berhenti memandangi istrinya yang memiliki kaki jenjang, wajah cantik dan juga rambut yang sangat indah.


Elea yang malunya sudah sampai diubun-ubun, gugup tidak karuan hingga terbata-bata langkah dan juga tangannya yang tidak sengaja menjatuhkan beberapa perintilan make up di meja riasnya.


" Honey..?"


Elea yang mengatur nafasnya. Menelan ludahnya. " Aku gugup Honey!"


Rey yang kemudian menarik lengan Elea dan melingkarkan kedua lengan Elea ke pinggangnya. Rey tahu jika Elea sedang panas dingin dengan berpenampilan seperti ini di depannya. Makanya dia berusaha menenangkan dengan memberinya pelukan.


Tubuh keduanya saling berpeluk kuat. Mendekap hangat satu sama lain. Dengan kaki berdansa seirama. Setelah lama keduanya merasa hanyut. Hingga tubuh Elea akhirnya jatuh di atas ranjang. Jemari Rey mematikan lampu tidur di samping ranjang di atas meja nakas. Namun baru saja Rey ingin menaklukkan istrinya, dering ponselnya yang tidak jauh berada di ranjang. Benar-benar sudah mengganggu malam nya. Siapa lagi kalau bukan Edo.


Rey yang kesal, karena sudah mencoba membiarkan ponselnya berdering namun tak berhenti juga. Edo tetap menghubunginya puluhan kali hingga membuat malam ini berantakan.


Keduanya yang kembali berdiri. Rey dengan mengangkat ponsel dan menyalakan lampu kamarnya. Sementara Elea sibuk menyembunyikan tubuhnya yang hanya berbalut lingerie sensual tembus pandang di balik selimut putih tebalnya.


" Hallo Rey, sorry ganggu tidur malam mu."


" Iya Do, ada apa?"


" Tolong cek email yang aku kirimkan kepada mu!"


" Iya nanti pasti aku cek."


" Sekarang Rey."


Rey yang menoleh ke arah Elea. Lalu berjalan menuju laptop yang ada di atas meja kerjanya.


" Sudahkah?"


" Iya ini baru aku buka." Rey yang menempelkan ponselnya di kuping Kananya.


" Hah, besok? Gila kamu. Mendadak sekali Edo." Rey yang sekali lagi menoleh ke arah istrinya.


" Tenang kawan, aku sudah persiapkan semuanya untuk tiket keberangkatan dan apapun yang kamu butuhkan."


Nafas pasrah Rey. " Okay."


Elea tanpa suara mengernyitkan dahinya.


Malam yang seharusnya adalah malam penyatuan keduanya, berubah menjadi malam yang sibuk dengan mengemasi barang-barang yang harus dipersiapkan untuk dibawa terbang ke Australia.


Bulan Juni, awal Australia bermusim dingin. Jadi Rey dan Elea sudah mempersiapkan dengan membawa perlengkapan yang dibutuhkan untuk musim dingin. Mantel-mantel tebal, penutup kepala dan juga kaos kaki panjang dan tebal semua tidak boleh tertinggal. Elea dan Rey benar-benar dibuat sibuk dengan ulah si Edo yang bagai Hantu. Tiba-tiba mengundang di acara pernikahan setelah satu tahun lamanya tidak berkomunikasi. Dengan baru dua hari, percakapan menjadi intens kembali dan membuat malam ini menjadi kacau berantakan. Rencana Rey gagal total, dan semuanya karena Edo.


" Jam berapa kita berangkat?"


" Penerbangan pukul 05.30 pagi."


" Hah." Elea yang kaget.


" Kenapa mendadak sekali teman mu itu."


Rey yang memainkan bibirnya kesal. membanting tubuhnya ke kasur dengan kasar. " Entah lah apa maunya." Rey yang kesal langsung memejamkan matanya.


Malam tidak lah begitu panjang. Tidur Elea dan Rey bahkan sangat kurang. Elea yang selalu bangun lebih pagi, menuju kamar mandi. Karena dia akan mendatangi pernikahan sahabatnya Rey. Elea benar-benar ingin merubah penampilannya dengan mengecat rambutnya sendiri sepanjang waktu yang tersisa. Menghias kuku-kukunya dengan kutek sendiri tanpa harus pergi ke salon karena tidak ada waktu. Setelah mengecat rambut dengan sentuhan warna cokelat. Elea kemudian memandangi wajahnya di depan cermin salon pribadi dalam kamar mandinya. Rey yang berdiri dengan mata masih mengantuk. Memandang dan memeluknya dari belakang, mengecup pipi Elea yang belum tersentuh dengan bedak dan blush on.


Aaaaaa....Mimpi apa sih Elea. Kenapa jadi berbunga-bunga begini? Sepertinya kamu akan selalu dikecupnya setiap pagi. Elea yang tersenyum dan tersipu malu dengan terus memandangi mata Rey yang penuh dengan cinta.


Setelah keduanya sudah siap. Rey dan Elea kemudian berpamitan masuk ke kamar Tuan Di yang masih berbaring tidur. " Ayah...Ayah..."


" Hei...Rey, Elea." Tuan Di yang terkejut melihat putra dan menantunya sudah rapi di depannya. " Mau kemana kalian sepagi ini?"


" Ini semua ulah Edo yah. Memberi tahu undangan pernikahan mendadak. Dia juga telah menyiapkan penerbangan pagi untuk aku dan Elea. Lagi-lagi Edo juga baru memberi tahu semalam. Aku juga kesal dengannya. Aku berangkat ya yah."


" Hati-hati Rey, Elea." Rey dan Elea yang bergantian mencium punggung tangan Tuan Di. " Berapa lama kalian di sana?"


" Nanti aku kabari yah, aku sendiri juga tidak tahu dengan rencana Edo."


Rey yang menarik lengan Elea berjalan meninggalkan kamar Tuan Di dengan sedikit tergesa.


" Semua koper sudah dimasukkan Bu?"


" Sudah Tuan."


" Ya sudah, terimakasih ya bi, jangan lupa jaga ayah."


" Baik Tuan. Hati-hati Tuan, nona."


" Iya bi. Terimakasih" Sahut Elea, yang pergelangan tangannya sedetik pun tak pernah terlepas dari genggaman Rey semenjak keluar dari kamar Tuan Di.


Rey dan Elea yang masuk ke dalam mobil dan diantar supir menuju ke Bandara. Sesampainya di Bandara. Langkah keduanya juga tak lepas dari kata tergesa, Rey yang lagi-lagi tidak pernah sedetik pun melepaskan genggamannya dari Elea. Keduanya berjalan menyusuri pintu masuk Bandara hingga menuju Pesawat yang akan mereka tumpangi dan membawa terbang ke Australia.


BERSAMBUNG