Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 20



6 bulan kemudian.


Di waktu 6 bulan itu. Kegiatan Elea dan Rey yang berkutat sama setiap harinya. Rey yang setiap paginya pergi ke kantor dan Elea yang berkutat dengan kegiatan senam hamil dan aktifitasnya sebagai ibu hamil yang menurutnya sangat membosankan karena sepanjang hari di rumah dengan hanya makan, tidur dan memainkan gawai nya. Rey juga rutin setiap pagi sebelum berangkat ke kantor mampir ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya yang masih dalam perawatan jantung di rumah sakit yang tidak jauh dari kediamannya. Setelah pulang kantor pun. Rey menyempatkan untuk menyuapi ayahnya makan malam hingga dia tertidur, baru Rey akan kembali ke rumah.


Begitu juga dengan Jessica yang optimis dengan kesembuhannya karena tulang kaki kanannya sudah mulai bisa diajak kompromi dengan tidak menyuarakan kata sakit dan nyeri setelah kakinya beranjak dari kursi roda yang menemani selama 6 bulan terakhir ini. Sampai dimana ketika Daniel mengajaknya jalan-jalan menikmati pemandangan hijau di sebuah taman kota. Setelah keluar dari ruang Fisioterapi dan melakukan treatment rutin yang harus dijalani dengan semangat meskipun hatinya sebenarnya lelah menjalani aktivitas rutin yang tak membuahkan hasil signifikan pada kakinya.


" Aku pesan bubur ayam dulu ya, katanya bubur ayam disini enak." Daniel bergegas menuju tempat dimana tukang bubur ayam yang setiap pagi selalu panjang antriannya dan terkenal enak di dekat taman kota.


" Iya." Jessica mengangguk. Jessica yang menggerakkan kursi rodanya sendiri ingin mengarah ke sebuah bunga kamboja berwarna merah muda yang ada di depannya.


Setelah menjalankan kursi rodanya sendiri, Jessica berhasil meraih bunga kamboja berwarna merah muda yang menarik perhatiannya. Setelah Jessica memetik bunga Kamboja itu, Jessica kemudian meletakkan bunga mekar berwarna merah muda itu di dekat ujung hidungnya. Mencium aroma khas semerbak yang sudah tentu tidak sama seperti bunga lainnya. Karena memang setiap bunga memiliki aroma masing-masing.


Setelah mencium aromanya, retina matanya tetiba melihat sosok pria yang tidak jauh dari tempatnya sedang berada di dekat pohon Kamboja. Rey, Rey sedang berdiri di pinggir jalan taman kota. Namun sepertinya Rey memang tidak mengetahui keberadaannya karena dia sibuk dengan ponsel seperti menghubungi seseorang.


Jessica yang tersengal nafasnya. Karena kedua matanya juga bersamaan melihat sebuah mobil yang melintas cukup kencang dan bisa menyerempet bahkan menabrak tubuh Rey yang tidak memperhatikan mobil dari arah belakangnya dengan kecepatan begitu kencang.


" Rey..." Diikuti ketakutan luar biasa akan terjadi hal buruk yang akan menimpa Rey. Jessica menjadi sesak nafas tiba-tiba.


" Rey...Awas Rey!" Tangan Jessica yang mengawang ke udara dengan mengarah ke tempat Rey berdiri yang sebenarnya tidak jauh dari nya.


Jessica kemudian sekuat tenaga menghimpun seluruh kekuatan pada sendi-sendinya, berdiri tegak dan berlari menyambar tubuh Rey dengan berteriak " Reeeeey."


Rey yang terkejut. Namun sudah terlambat ketika mendapati tubuhnya dan Jessica harus tersungkur dan berguling-guling untuk sepersekian menit.


Braaaaaak. Hantaman Mobil box dengan sebuah pot bunga besar yang tidak jauh dari tempat Rey berdiri dan bisa saja Rey ikut tertabrak.


" Aw...aw...Esh.." Erangan kesakitan keduanya bertumpuk jadi satu.


" Jessicaaa " Teriak Daniel yang melihat Jessica dengan seorang pria yang berguling-guling di rerumputan. Daniel kemudian berlari kencang tergopoh menuju ke arah Jessica.


Dan banyak sekali orang-orang yang berkerumun menolong pengendara mobil box ukuran sedang yang oleng.


" Jessica, kamu tidak papa." Daniel yang panik kemudian memeluk Jessica yang tengah duduk tak karuan dengan pakaian yang kotor terkena lumpur dan tanah dibalik rerumputan hijau taman kota.


" Untung kamu tidak papa." Daniel yang tak henti-hentinya mengusap punggung dan mengelus rambut kecoklatan milik Jessica yang berantakan tak karuan. Sampai dimana suara serak milik seorang pria yang sama duduknya dengan kemeja putih penuh lumpur dan tak karuan juga.


" Apa kalian akan bermesraan terus dihadapan ku?" Rey yang gerah, karena lama sekali Daniel memeluk Jessica sampai dia harus menunggu lama hanya untuk mengucapkan terimakasih kepada Jessica.


Daniel melepaskan pelukannya perlahan. Menatap Rey anak atasannya yang masih bersikap arogan padahal sudah ditolong oleh Jessica. " Maaf." Meskipun demikian, Daniel sedikitpun tidak sengak dan membalas dengan kata kasar atas sikap Rey.


" Thank's Jess." Kata pertama Rey untuk Jessica.


" Sama-sama Rey." Jessica yang memberanikan diri dengan kedua retina mata yang sesekali melirik ke arah Rey. " Ini tidak seberapa, untuk membalas sakit hati kamu dan ayah mu."


Rey kemudian menegaskan wajahnya. Menatap tajam ke arah Jessica. Bangkit dari duduk di atas rerumputan hijau yang menyelamatkannya dari luka-luka lecet misal dia harus terguling-guling di jalan aspal. " Sekali lagi terimakasih Jess." Rey kemudian memutar tubuhnya, pergi meninggalkan Jessica dan Daniel yang masih duduk di atas rerumputan hijau.


Daniel dan Jessica yang hanya bisa memperhatikan punggung kekar laki-laki berkemeja putih bersepatu pantofel dengan celana melipis nya itu berjalan keluar taman kota menuju mobil yang dia parkir di seberang jalan tanpa menoleh sedikit pun.


Suara yang tadinya ramai dan riuh diikuti suara mobil ambulan yang datang dan banyak sekali orang berkerumun, perlahan reda. Hanya tersisa mobil milik Dinas Perhubungan yang menderek mobil Box berukuran sedang yang peyok dibagian depan kiri karena mengahantam pot bunga besar taman kota hingga mengakibatkan mobil box oleng dan berguling ke kanan jalan dengan mengepulkan asap tebal yang menakutkan.


" Kakimu?" Daniel yang terkejut sekaligus memandangi seluruh bagian kaki kanan milik Jessica.


Jessica sendiri yang heran, spontan langsung melihat dan meraba kaki kanannya perlahan. Menyentuh kaki mulus tanpa noda bahkan bulu kaki hampir tak terlihat karena saking putihnya. " Aku tidak merasakan sakit pada kakiku." Jessica yang terharu bahagia sekaligus terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia mencoba bangkit dan berdiri sendiri meskipun Daniel masih memegangi lengan dan pundaknya. Namun Jessica berhasil berdiri tegap tanpa rasa sakit yang mendera. " Daniel." Reaksi senyum bungah sumringah Jessica memanggil kekasihnya. Dengan ekspresi senyum unjuk gigi dengan lebarnya, mata binar yang mengeluarkan cahaya semua ditunjukkan oleh Jessica melalui wajahnya. Raut wajahnya tergambar jelas dia bahagia. Nafasnya dengan irama cepat menghambur ke udara. Jessica kemudian dengan perlahan menggerakkan kaki kanannya perlahan.


Satu langkah...dua langkah...tiga langkah...


" Hahahaa." Diikuti gelak tawa bahagia dari Jessica yang tak hentinya melepaskan senyum ke arah kekasihnya.


" Daniel..." Jessica yang tersenyum lepas diikuti dengan Daniel yang berlari di depannya sembari menggendong tubuh Jessica dengan gaya ala-ala sepasang pengantin bahagia dan memutar tubuhnya ke udara.


Senyum lebar Daniel dan Jessica yang mengudara. Kesembuhan Jessica membawa asmaranya berlanjut memikirkan pernikahan yang sudah di depan mata.


BERSAMBUNG