Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 21



Daniel, Jessica dan Dokter Fisioterapi yang menangani kaki Jessica berada dalam satu ruangan tepatnya di ruang Fisioterapi pasien di salah satu rumah sakit.


" Jika dilihat dari layar. Kaki nona Jessica memang sudah dikatakan sembuh. Semuanya sudah terlihat normal kembali." Dokter yang menunjuk pada layar monitor kecil dimana terlihat tulang-tulang kaki Jessica secara ilmu kedokteran.


Senyum mengembang Jessica mengarah dengan menatap kedua mata Daniel. Begitu juga sebaliknya Daniel. Tersenyum lebar karena dengan kesembuhan kaki Jessica. Dia dan Jessica akan segera melenggang ke pernikahan yang tertunda semenjak 6 bulan lalu.


" Syukurlah dok." Jessica menjawab penjelasan dari dokter fisioterapi nya.


" Iya. Ini bagus sekali. Bagus sekali perkembangannya."


Jessica semakin berbunga-bunga.


Setelah pengecekan pada tulang-tulang kakinya selesai. Jessica dan Daniel diminta duduk di depan meja kerja dokter fisioterapi.


" Tapi tetap dilanjutkan obatnya sampai benar-benar kaki ibu Jessica tidak merasakan sakit atau nyeri kembali."


" Iya Dok. Terimakasih." Jessica dan Daniel yang sama-sama bangkit dari tempat duduknya dan bersalaman kepada dokter fisioterapi.


" Sama-sama nona Jessica, pak Daniel." Dokter yang membalas jabatan tangan dari Jessica dan Daniel.


Sementara pemandangan berbeda berada di kediaman Keluarga Andro. Elea yang tiba-tiba sakit perutnya luar biasa hingga mengeluarkan keringat dingin. Gelas berisi susu ibu hamil yang terisi penuh belum sempat diminumnya. Tetiba pecah berserak di lantai.


Rey yang baru sampai di rumah setelah tragedi Jessica menyelamatkannya berniat membersihkan dirinya kembali untuk mandi terlebih dahulu. Namun baru beberapa langkah kakinya masuk melintas di area dapur dan meja makan. Rey melihat istrinya yang berpegangan pada pinggir meja mini bar.


" Honey." Rey perlahan menuntun Elea yang menahan sakitnya berjalan pelan menuju mobil yang terparkir di garasi tanpa memperdulikan lagi penampilannya dengan kemeja putih yang penuh dengan lumpur dan juga wajah sedikit banyak terlihat nggak karuan ditambah rambut tipis yang acak-acakan.


Rey menancap pedal gas kembali mengeluarkan mobilnya diselimuti kekhawatiran pada keadaan istrinya.


Padahal jadwal kelahiran masih sekitar 10 hari lagi. Rey dan Elea baru akan merencanakan operasi Caesar 3 hari sebelum jadwal kelahiran. Namun malah Elea sudah merasakan sakit pada perutnya duluan.


" Aku sudah tidak tahan Honey...sakit...sakit..." Erangan kesakitan Elea dengan keringat dingin yang keluar dari semua pori-pori kulitnya. Menahan rasa sakit yang di deritanya sampai ke ubun-ubun.


" Sabar Honey, kamu kuat!" Rey sembari menyetir mobil yang sudah memasuki pelataran rumah sakit.


Dokter dan suster yang keluar dan membantu Elea yang sepertinya akan melahirkan. Dokter kemudian membawa Elea ke ruang bersalin.


" Sabar ya Bu..." Dokter berusaha mengecek Elea pada pembukaan berapa.


" Ini baru bukaan 3 bu. Bagaimana pak, Bu? apakah akan memilih melahirkan secara normal mengingat bayinya kembar atau akan mengambil jalan operasi caesar?"


Rey yang tak melepaskan sebentar pun pegangan tangannya kepada Elea. Sembari mengelus kening dan rambut kepala Elea yang tak hentinya.


" Sakit...aku sudah nggak kuat lagi Honey." Perut Elea yang sudah tidak tahan membuat Rey tidak tega melihat wajah istrinya yang terlihat sekali sangat kesakitan.


" Sebaiknya kita lakukan tindakan operasi saja dok." Rey yang membuat keputusan ditengah keadaan terdesak. Dia hanya memikirkan supaya ketiganya selamat mengingat dia bayi sekaligus dalam kandungan Elea.


" Pilihan tepat bapak, karena ibu Elea sedang mengandung anak kembar. Kalau begitu biar di persiapkan dulu. Nanti kita bertemu di ruang operasi."


" Sama-sama." Dokter kemudian meninggalkan mereka berdua yang masih berada di dalam ruang bersalin. Elea belum dipindahkan ke ruang operasi, mengingat ruang operasi juga di pakai oleh pasien lain untuk melakukan operasi.


Rey yang lagi-lagi tidak tega memandang wajah istrinya tiba-tiba mendengar bunyi ponsel dari saku celananya.


Rey mengangkat panggilan telepon dari bibi.


" Iya Bi, ada apa?" Rey menempelkan ponselnya di telinga.


Bibi dengan nada terbata-bata. " Tuan Rey..." Bibi dengan tangisannya dibalik sambungan teleponnya dengan Rey.


" Ada apa bi?" Rey mengernyitkan dahinya tipis. Wajahnya seketika berubah serius.


" Tuan, Tuan Di...Tuan Di masuk UGD dan ini sedang di pacu jantung."


Rey menggigit gigi-gigi dalam mulutnya. Nafasnya terasa sesak dan mulai lemas pasrah dengan keadaan ayah nya. Kedua matanya tergambar jelas oleh kesedihan. Harus menerima kenyataan karena memang ayahnya dirawat cukup lama di rumah sakit ini. " Iya bi." Nada sumbang Rey menahan air mata supaya tidak jatuh. Rey kemudian mematikan ponselnya. Kepalanya dia letakkan di atas lengan yang dia sandarkan pada dinding putih rumah sakit. Isi kepalanya bercabang. Mendengar ayahnya masuk ruang ICU dan sedang di pacu jantung mempertahankan usia. Sementara istrinya, masih menahan kesakitan yang sebentar lagi masuk ruang operasi. Untuk lima menitan Rey terdiam lalu bergegas menuju ruang ICU untuk melihat keadaan ayahnya.


Tidak lama. " Bibi." Rey yang sudah berdiri di depan tempat duduk bibi tepat di depan ruang ICU.


" Tuan Rey." Bibi yang berdiri namun tidak berani mengomentari Tuannya yang penampilannya sangat lusuh dan acak-acakan.


" Bibi, sekarang ke ruang bersalin. Temani Elea. Jika jadwal pemindahan Elea ke ruang operasi sudah dilakukan. Bibi hubungi saya, saya akan segera kesana."


" Baik Tuan." Bibi kemudian pergi melangkah ke ruang bersalin.


Rey melihat dokter yang sangat berusaha maksimal memacu jantung ayahnya supaya tekanan jantung ayahnya kembali normal.


Bulir-bulir bening dari pelupuk mata akhirnya jatuh juga. Hati Rey begitu tersiksa melihat pria paruh baya yang sudah menemaninya selama ini terbaring tak berdaya sedang dipompa jantungnya. Dikelilingi perawat dan juga dokter yang berjuang untuk sedetak jantungnya.


Rey masih menyaksikan detik per detik menit per menit dokter-dokter dan juga perawat memperjuangkan hidup ayahnya.


Sementara Elea yang tak henti dengan kesakitannya. " Sakit..." Diikuti tangis tiada hentinya.


" Non Elea kuat non." Bibi yang mengelus telapak kaki Elea yang merasa tidak tega namun inilah perjuangan dari seorang wanita. Mengandung selama 9 bulan lebih dengan tidur pastilah tidak nyaman sepanjang hari karena perut yang membesar. Lalu melahirkan dengan kesakitan nya yang luar biasa seperti yang nona Elea derita. Belum bertaruh nyawa antar hidup dan mati. Begitulah perjuangan menjadi seorang wanita yang akan menjelma menjadi seorang ibu.


" Mari ibu Elea, sekarang akan saya bawa ke ruang operasi." Suster yang datang dan membantu Elea naik ke kursi roda.


" Dimana suaminya Bu?" tanya suster kepada bibi.


" Sebentar sus, akan saya hubungi Tuan Rey. Nanti biar beliau menyusul ke ruang operasi." Bibi yang mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya.


Rey yang masih berdiri sesekali duduk dan melihati pintu dari ruang ICU yang kunjung terbuka.


BERSAMBUNG