Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 12 part 6



Rey yang meneteskan air mata penuh sesal karena telah mencintai wanita yang salah. Wanita dari anak yang mengahancurkan hidupnya dan ayahnya.


" Sudahlah Rey. Yang terpenting satu masalah sudah selesai. Hanya memusnahkan file yang disimpan oleh Jessica. Dan ayah yakin, Jessica akan melakukannya dengan sukarela, karena sosok Daniel begitu bisa membiusnya hingga sangat cepat melupakan obsesinya mengejar mu." Tuan Di menepuk punggung putranya yang sedang duduk menangis meresapi kebodohan yang telah diperbuatnya. Tuan Di kemudian meninggalkan putranya sendirian.


.


.


" Apa aku tidak salah lihat?" Jessica yang menganga melihat plang Klinik Kecantikannya berada disebuah tempat mewah di pinggir jalan dengan tata letak yang sangat strategis. Daniel sudah memindahkan semalaman berikut pegawai-pegawai nya. Jessica yang masih menepuk-nepuk pipi kanan dan kirinya, membuktikan apa ini nyata atau hanya mimpi belaka.


Daniel yang tersenyum unjuk gigi dengan melihat ekspresi dari Jessica.


Jessica kemudian mendaratkan pelukan kepada Daniel.


" Apa kamu suka?"


" Menurutmu, dengan aku memeluk mu begini apa dong tandanya?"


Lagi-lagi Daniel yang tersenyum unjuk gigi. " Kalau begitu, kita masuk yu!"


Jessica yang manggut-manggut. Berjalan beriringan dengan menggandeng kekasih barunya dengan perasaan bahagia memasuki tempat Klinik Kecantikannya.


" Pagi Bu Jessica." sapa semua pegawai kecantikan yang sudah berbaris rapi menyambut Jessica.


" Pagi." Jessica yang dibuat terkejut kembali ketika melihat di sebuah meja panjang terdapat tumpeng dengan berbagai hidangan yang memenuhi meja panjang tersebut.


" Sekarang kita mulai acaranya dengan berdoa supaya tempat baru ini membawa banyak keberuntungan." Daniel yang meraih pergelangan tangan Jessica dan memberinya sebuah pisau plastik berwarna putih untuk memotong tumpeng sebagai syarat acara hari ini.


Jessica yang gemas dengan ulah Daniel yang lagi-lagi telah membuatnya klepek-klepek. Termasuk kedatangan maminya yang juga mengejutkan Jessica dalam acara potong Tumpeng pagi ini.


" Mami." Panggil Jessica memeluk maminya.


" Mami senang dengan acara hari ini. Tatalah hidupmu kembali Jess, lupakan Rey dan cintailah Daniel yang jelas menerima segala kekurangan mu saat ini." Mami Indy yang membelai rambut kepala putrinya.


" Iya Mi." Jessica yang memeluk Maminya dengan suka cita sekaligus haru. Kedatangan Daniel membuat hidupnya kembali ada harapan bahagia. Menyongsong masa depan lebih baik lagi dengan menutup masa lalu dalam-dalam.


" Acaranya dimulai yuk!" Daniel yang memberi titah pada Jessica.


" Iya." Jessica kemudian berdoa begitu pula dengan semua yang berdiri mengelilingi meja panjang itu berdoa semoga kedepannya Klinik Kecantikannya bisa berkembang pesat hingga memiliki beberapa cabang di kota-kota lain.


Jessica yang memberikan potongan tumpeng pertama kepada mami Indy dengan mencium pipi kanan dan kirinya.


Potongan kedua, Jessica memberikannya kepada Daniel sembari tak lupa juga dengan mencium pipi kanan dan kirinya seperti yang dilakukannya seperti kepada maminya.


Acara potong tumpeng yang selesai. " Sebentar ya sayang." Daniel mengangkat ponselnya dan berjalan menuju ke tempat yang tidak terlalu ramai.


Jessica kemudian naik melihat-lihat ke lantai dua. Jessica yang belum menjelajahi tempat baru ini sepenuhnya sangat antusias sekali mengelilingi lantai dua yang dijadikan ruang kerjanya. Senyum mengembang dengan hati girang karena saking excited nya. Tanpa melihat bahwa kaki kirinya sudah diambang tangga turun. " Aaaaaaaaaaa...." jerit Jessica spontan karena tubuhnya terpelanting dan kepalanya membentur lantai hingga berguling-guling sampai tubuhnya terkulai di penghujung anak tangga lantai dasar.


Begitu juga Daniel yang sedang berdiri tepat di pintu masuk sembari mengangkat ponsel dari anak buah yang melaporkan keadaan proyek. Daniel menoleh dan shock melihat tubuh Jessica yang berguling-guling menuruni anak tangga dari lantai dua hingga lantai dasar. " Jessica." Gerakan bibir Daniel yang spontan langsung berlari mendekati tubuh Jessica.


Semuanya berkerumun.


" Jessica...Jessica..." Teriak Daniel yang memapah tubuh Jessica yang terus mengeluarkan darah segar dari kepalanya. Daniel berlari sembari menangis membawa Jessica masuk ke dalam mobilnya. Diikuti mami Indy yang menangis histeris tiada henti duduk di kursi penumpang sembari menyentuh bagian tubuh putrinya itu.


Mobil Daniel sangat cepat menuju pelataran rumah sakit. Daniel yang kemudian memberhentikan mobilnya dan keluar berlari menuju ruang UGD dengan berteriak. " Dokter...suster tolong, tolong kekasih saya." Daniel yang tak bisa menyembunyikan tangisnya melihat keadaan Jessica.


" Ibu dan bapak, silahkan tunggu di luar."


Dokter akhirnya masuk ke dalam ruangan UGD. Ada sekitar dua jam dokter akhirnya keluar.


" Bagaimana dok." Tanya Daniel cepat.


" Masih sangat lemah pak, Bu. Sebaiknya bapak dan ibu berdoa semoga ada keajaiban. Sebentar lagi, akan ada dilakukan tindakan operasi untuk kuret mengambil janin yang tidak bisa diselamatkan lagi. Pasien menderita luka pada kepala cukup serius. Jadi itu yang membuat kondisinya lemah. Kalau begitu saya persiapkan operasi kuret dengan membersihkan rahimnya pasien."


" Iya Dok. Dok, tolong selamatkan Jessica." Pinta Daniel pasrah dengan kondisi Jessica. " Tolong dok, lakukan yang terbaik untuk keselamatan Jessica."


" Baik pak, Bu. mohon doanya." Dokter yang kemudian meninggalkan Daniel dan mami Indy bersiap akan melakukan operasi pembersihan rahim dan mengambil janin.


Setelah ruang operasi dan dokter spesialis kandungan sudah siap menjalankan operasinya. Jessica kemudian dibawa ke ruang operasi. Terdengar Isak tangis dengan memangil-manggil nama Jessica yang terus-terusan digaungkan oleh mami Indy hingga akhirnya sampai di ruang operasi. Mami Indy dan juga Daniel yang duduk lemas dan pasrah menanti di depan ruang operasi.


Setelah satu jam. Operasi pengangkatan janin dari rahim Jessica selesai. Dokter yang keluar dari ruang operasi. Mami Indy dan juga Daniel dengan cepat menghampiri dokter spesialis kandungan yang berdiri di depan pintu ruang operasi


" Bagaimana Dok." Tanya Daniel.


" Syukurlah untuk operasi pengangkatan janin yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi berjalan lancar. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan."


" Baik Dok, terimakasih."


" Namun perlu ditekankan, bahwa kondisi pasien belum bisa dikatakan aman dari luar parah pada kepalanya."


" Iya Dok, terimakasih.


" Sama-sama." Dokter kemudian pergi meniggalkan Daniel dan juga mami Indy. Sementara dua orang perawat yang akan membawa Jessica ke ruang pemulihan.


Baik Daniel dan mami Indy hanya bisa mengikuti kemana dua orang perawat membawa Jessica ke kamar pemulihan.


" Ibu, bapak. Sebaiknya pasien ditinggalkan saja terlebih dahulu. Karena cukup lama masa pemulihan mengingat terdapat pula luka yang cukup parah di bagian kepala belakang Jessica yang terbentur dengan lantai dengan sangat kerasnya."


" Baik sus." Daniel yang mata dan hidungnya memerah seketika karena tangisnya melihat kondisi Jessica yang belum dipastikan.


BERSAMBUNG