
" Thanks ya Rey, Elea." Edo dan Miranda saling berpelukan melepas sahabatnya di Bandara.
Kejadian malam yang membawa dirinya hingga bersama satu ranjang dengan Jessica iku terbang dalam lamunannya sepanjang di udara.
" Hah." Rey yang merebahkan tubuhnya di kamar suka-duka setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan saat di pesta pernikahan sahabatnya.
Dering ponsel berbunyi dari saku celananya.
" Hallo pak Rey."
" Iya Fan."
" Besok Bapak ke Kantor kan?"
" Iya, baik saya maupun ibu Elea ke Kantor."
" Baiklah pak, akan saya atur jadwal dengan klien setelah cuti panjang bapak."
" Iya Fan, terimakasih ya."
" Sama-sama pak Rey."
Hari berlalu, esok hari telah tiba. Rey dan Elea untuk pertama kalinya setelah hampir 10 hari tidak masuk kerja. Dari drama kaki Elea yang kecelakaan dan undangan pernikahan Edo yang semua serba mendadak membuat keduanya rindu dengan suasana kantor.
Makan pagi seperti biasa dengan Tuan Di sudah selesai. Rey dan Elea akhirnya tiba di kantor.
" Selamat pagi pak Rey, Bu Elea." Sapa ramah Fany sekretaris Rey yang paling bisa diandalkan.
" Pagi Fan." Jawab Elea.
" Bagaimana keadaan ibu? apakah sudah sembuh?"
" Sudah Fan. Terimakasih ya perhatiannya."
" Sama-sama Bu Elea."
Rey dan Elea yang masuk ke ruang kerja mereka masing-masing. Rey dengan lamunannya duduk di depan layar laptop. Isi kepalanya mengingat semua hal malam dimana terjadi aksi pemukulan hingga membuat dirinya tak sadarkan diri dan tiba-tiba berada dalam satu ranjang bersama Jessica.
Fany yang masuk kedalam ruangan setelah beberapa kali mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari atasan nya, sementara Rey benar-benar dibuat melamun hingga tak sadar jika Fany sekretarisnya sudah berdiri di depannya. " Pak Rey." Fany yang memperhatikan atasannya sedang melamun. Pak Rey kenapa ya? Masak tidak tahu kalau saya ada di depannya. " Pak." Fany untuk kedua kalinya memanggil atasan nya. Namun Rey masih belum sadar. " Pak Rey." Fany yang berjalan lebih mendekat tepat di depan kursi hingga Rey akhirnya tersadar dari lamunannya.
" Fany." Rey yang heran kenapa Fany tiba-tiba sudah ada didepannya. " Sejak kapan kamu ada disini?"
" Maaf pak, Saya sudah ketuk pintu, namun pak Rey tidak menjawabnya."
" Terus kalau aku belum menjawabnya, apa lantas kamu boleh masuk tanpa saya suruh."
Fany yang sedikit takut dengan ucapan atasan Singa nya." Ma-maaf pak, saya hanya sedang ingin memberikan berkas-berkas yang bapak minta sebelumnya.
" Letakkan di meja saya!" Nada tegas Rey yang masih tidak suka dengan apa yang baru saja Fany lakukan."
Fany dengan ketakutan yang bertambah meletakkan beberapa berkas dan juga map merah di atas meja. " Kalau begitu saya permisi pak."
Fany yang baru membalikkan badannya, langkahnya yang baru dimulai kemudian terhenti ketika Rey memperingatkannya.
" Lain kali ketuk pintu, tunggu saya sampai menyuruhmu masuk!" Ketus Rey pada Fany.
Fany dengan kepala tertunduk. " Iya pak Rey, saya janji tidak akan mengulangi lagi. Fany melangkah cepat membuka pintu dan keluar dari ruang kerja atasan Singa nya. " Hah." Nafas lega Fany, dibalik pintu ruang kerja Rey.
Hari terasa singkat, rutinitas yang sama setiap harinya hingga dimana satu Minggu kemudian. Rey yang terbangun lebih dulu dari Elea karena mendengar ponselnya berbunyi. Memberi tahu jika hari itu adalah hari ulang tahun Elea. Hari ulang tahun Elea. Rey yang menatapi layar ponselnya cukup lama. Kemudian meletakkan kembali ponselnya di meja samping tempat tidur. Ngasih surprise apa ya? Rey yang kemudian tidur kembali dan memikirkan surprise kejutan pesta ulang tahun untuk Elea.
Elea yang membuka mata, namun tak mendapati Rey ada disampingnya. Bangunnya memang sedikit terlambat, tapi tidak biasanya Rey bahkan tidak ada di dalam kamar. Apa dia sudah berangkat kerja? Sepagi ini? Elea yang masih mengantuk, mencoba lebih kuat lagi membuka matanya. Beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Suasana hening di dalam kamar suka-duka. Hanya suara gerak langkahnya sendiri yang sibuk mempersiapkan rutinitas pagi sebelum berangkat ke kantor. Usai mandi dan berganti pakaian di ruang ganti, rumah juga terasa sepi. Tuan Di yang biasanya menunggu dirinya dan Rey turun dari kamar kami, hampir tak pernah absen duduk lebih dulu dimeja makan menunggu putra dan menantunya. Namun hari ini benar-benar senyap. Langkah bibi yang tergesa karena rutinitasnya juga tak ada suaranya. " Kemana semua? Tumben sekali rumah sepi." Bertanya lirih pada dirinya sambil mengedarkan semua pandangan ke semua sudut rumah berharap ada orang. Lalu Elea mengedarkan kedua bola matanya di atas meja makan yang terlihat masih utuh semua makanan tak tersentuh sedikit pun. Hidangan pagi bibi yang serba mewah untuk skala makan pagi terlihat memenuhi meja makan. Namun Elea hanya melihatnya. Langkahnya kemudian berbalik, tanpa dia duduk dan menikmati makan pagi.
" Pagi Nona Elea?" Sapa seorang supir.
" Huh." Perasaan lega Elea karena ternyata masih ada seorang supir yang siap mengantar dia ke kantor. " Pagi pak."
" Silahkan nona!"
Elea mengangguk dan berjalan naik ke dalam mobil. " Terimakasih pak. Oya pak, kenapa rumah sepi ya?"
" Iya non, Tuan Rey berangkat ke kantor pagi sekali, Tuan Di juga keluar karena sedang ada urusan, sementara bibi sedang belanja ke super market."
" Oh." Mobil membawa dirinya ke kantor. Perjalanan menuju kantor yang baru pertama kalinya Elea diantar oleh supir. Terbiasa melihat wajah Rey yang ada disampingnya, yang selalu berangkat sama-sama menuju ke kantor. Namun pagi ini, Rey yang lain dari biasanya. Berangkat kantor sendirian tanpa mau menunggu atau bahkan membangunkan tidurnya Elea supaya bisa berangkat kerja sama-sama.
" Sudah sampai nona." Supir pribadi yang melihat wajah melamun dari nona Elea.
Namun Elea masih terdiam tanpa gerak sedikitpun. Matanya terbuka namun isi kepalanya entah kemana dan apa yang dipikirkannya.
" Sudah sampai Nona Elea."
Elea yang akhirnya tersadar. " Maaf pak." Elea yang langsung membuka pintu mobil dan melangkahkan kaki keluar dari mobil. Berjalan menuju kantor.
" Fany." Elea yang langsung ke meja kerja Fany.
" Iya Bu Elea, ada yang saya bisa bantu?"
" Apa pak Rey ada di dalam?"
" Maaf Bu Elea, pak Rey sedang pergi keluar karena ada janji dengan klien."
" Oh, terimakasih Fany." Elea yang kemudian berjalan menuju ruang kerjanya.
Elea benar-benar lupa dengan hari kelahirannya. Padahal Rey tengah memberi kejutan pada Elea, namun Elea sepertinya tidak menyadarinya. Hingga jam makan siang. Elea yang kembali ke meja kerja Fany dan menanyakan apakah Rey sudah kembali dari menemui kliennya. Namun ternyata Rey tak berujung kembali ke kantor karena sibuk mempersiapkan pesta untuk memberikan kejutan ulang tahun kepada Elea.
Elea yang semakin resah, karena ponsel Rey yang tidak bisa dihubungi padahal jam pulang kantor bahkan sudah lewat namun Rey bahkan sebentar saja tidak menyempatkan waktu untuk menghubunginya, hanya sekedar berkabar kepadanya. Wajah malas Elea yang berjalan keluar dari kantor yang sudah dijemput dengan supir pribadi yang pagi tadi mengantarnya. " Silahkan nona Elea." Kata-kata yang sama dari supir pribadinya ketika membukakan pintu mobil.
" Iya pak, terimakasih." Supir pribadi yang menutup pintu mobil, membawa mobil yang ditumpanginya menembus jalanan kota yang sudah berwarna gelap karena malam. Elea yang sedikit kesal dengan Rey yang seharian ini membuatnya galau karena tidak memandang wajahnya di pagi hari ketika bangun tidur, mandi dan apapun aktivitas bersama di dalam kamar, di dalam mobil dan di kantor. Wajah cemberutnya tidak bisa dia sembunyikan di balik kaca jendela mobil yang menatap kosong jalanan malam.
BERSAMBUNG