
Sementara Elea yang pura-pura tidur. Melihat Rey sedang berdiri dengan senyum-senyum sendiri dari celah-celah matanya. Kenapa dia tersenyum? aneh! Apa jangan-jangan? dia menertawai tubuhku yang penuh perban. Elea yang bergumam sendiri dengan mata yang pura-pura terpejam.
Rey masih berdiri dan menatap wajah Elea. Entah mengapa ingin sekali rasanya melakukan kewajibannya sebagai seorang suami yang sudah 6 bulan dia lewatkan begitu saja. " Kapan dia sembuhnya ya?" Rey yang berkata lirih.
Tuh, kan. Dia ternyata sudah tidak betah merawat aku sakit. Ternyata dia benar-benar hanya sandiwara bersikap manis. Aku pikir, dia sudah sedikit lebih jinak. Namun ternyata...sama saja. gerutu Elea dalam benaknya setelah mendengar ucapan lirih Rey. Elea salah paham dengan maksud perkataan Rey yang membuatnya kesal. Rey yang bermaksud akan melakukan kewajibannya sebagai seorang suami, sepertinya tidak tepat. Karena mengingat Elea yang belum sembuh dari sakitnya.
Angin dari pintu balkon yang masuk, membuat Rey merasa heran mengapa pintu balkon terbuka dan tidak ditutup. Rey kemudian menutupnya. Rey juga melirik dengan heran ke arah Elea yang tubuhnya tidak terselimuti. Padahal, sebelum keluar kamar, Rey menyelimuti tubuh Elea. Namun Rey tidak terlalu memusingkannya. Rey akhirnya kembali dengan naik ke atas ranjang dan tidur dengan posisi menghadap dan menatapi wajah Elea.
Keesokan harinya setelah malam berganti pagi. Elea yang terlebih dulu bangun. Berusaha sekuat tenaga dan menahan rasa sakit di kaki dan tangannya untuk berusaha melakukan semua aktivitasnya sendiri tanpa meminta bantuan dari Rey. Elea yang salah paham dengan ucapan lirih Rey semalam. " Ao...iiiih sakiiiit." Suara berbisik Elea sambil meringis menahan rasa sakit. Kamu bisa Elea! Jangan minta bantuan sama Singa lagi!
Elea dengan tertatih-tatih, berjalan menggerakkan kaki untuk menopang tubuhnya. " Hah...hah...hah..." Nafas tersengal meskipun akhirnya sampai di dalam kamar mandi. Elea yang menangis sedih dan nelangsa. Harus menjalani pernikahan yang tak diharapkannya dengan pria seperti Singa. Yang setiap hari dipermainkan sesuka hatinya. Setelah Elea membersihkan tubuhnya dengan sangat hati-hati. Elea yang sudah tampil rapi dan tentunya wangi duduk di meja riasnya. Dia juga sudah memberanikan dirinya membuka perban yang melekat pada bagian lukanya satu persatu. Meskipun sebenarnya ada sebagian luka yang belum kering, namun Elea tetap membukanya. Dadanya sungguh kesal mendengar Rey yang sudah mengeluh gara-gara terlalu banyak direpotkan olehnya.
" Haaaom..." Rey yang masih menguap meski matanya sudah terbuka. Tersentak melihat Elea sudah tampil cantik duduk di depan meja rias yang penuh dengan perintilan alat make up nya. Ratusan lipstik bahkan ada di depannya, belum lagi segala merk blush on dan bedak yang dia punya. Mata Rey tak berhenti dari pandangannya yang terkejut melihat Elea sudah bisa berdandan meskipun pelan-pelan. Rey yang melihat Elea menyapu tulang pipinya dengan blush on di tangannya.
" Kamu boleh kerja hari ini! Tidak usah repot-repot menunggu aku sembuh. Aku sudah sembuh." Ketus Elea.
Rey yang bingung dengan Elea. Mengernyitkan dahinya . Ada apa dengan dia?
Rey akhirnya mendekati Elea. Menempelkan telapak tangannya ke kening Elea. " Kamu sakit?"
Elea yang menatap Rey dengan sinis. " Aku tahu kalau kamu sudah capek merawat aku sakit."
" Maksudnya?"
Elea yang berusaha berdiri dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Hidungnya tak berhenti kembang kempis. Elea berusaha berjalan menuju ranjang menjauhi suami Singa nya. Mata Elea yang sesekali terpejam, karena menahan kakinya yang seharusnya belum bisa diajak kerja sama.
Rey yang tahu istrinya sepertinya butuh bantuannya berusaha membantu Elea.
" Nggak usah." Elea membuang tangan Rey dengan kasar.
" Kamu kenapa sih?" Nada Rey yang mulai meninggi.
" Kenapa?" Elea yang juga kesal. " Bukannya kamu senang, aku tidak merepotkan kamu. Kamu lupa, kamu bicara apa semalam."
" Semalam." Rey yang berucap lirih sambil mengingat apa yang dia bicarakan dengan Elea. " Apa sih? Aku benar-benar tidak mengerti."
" Ya sudah suami pelupa, sekarang lebih baik kamu mandi! terus bersiap ke kantor! Aku juga bosan dengan kamu mengintili aku terus."
Rey yang menganga mulutnya mendengar ucapan istrinya.
Keduanya yang saling tatap. Elea yang mendelik ke arah Rey. " Mandi." Diikuti wajah jutek Elea.
Sepanjang mandi, kepalanya dibuat menerjemahkan arti marah Elea sampai dia harus berusaha keras berjalan sendiri tanpa mau di bantu olehnya. Rey yang membuka pintu kamar mandi ragu. Kepalanya masih berpikir terus sampai di depan Elea. " Apa kamu masih marah?"
" Menurutmu?" Elea yang enggan menatap ke arah Rey.
Rey yang tetiba berlutut di depan Elea yang sedang duduk di ranjang. Membelai jemari-jemari Elea dan melakukan hal yang tidak diduga oleh Elea. Cup. Rey menempelkan bibirnya cukup lama di sepuluh jemari Elea yang dia raih.
Elea yang ingin marah. Namun Rey lebih dulu meletakkan telunjuk jarinya di bibir Elea. Memberhentikan kata yang ingin dia ucapkan. "Sssst." Rey kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Elea dengan perlahan.
Jantung Elea yang Dag Dig Dug Der, rasanya seketika berhenti. Elea memejamkan matanya, dan ciuman bibir 60 detik itu tak bisa dihindarkan lagi. Rey benar-benar melakukannya. " Jangan marah-marah lagi ya!" Suara lirih Rey tepat di dekat telinga.
Elea yang masih mengatur nafasnya, tak percaya terhadap apa yang baru saja dilakukan Rey tanpa harus menggodanya.
" Tuan Rey." panggilan bibi dari balik pintu.
" Iya bi, masuk!"
" Ini pesanan Tuan." Bibi yang berjalan mendekat ke arah Rey dan Elea yang sedang duduk di pinggir ranjang, menyerahkan pinggan dengan berisi satu buah telur ceplok dan juga satu mangkuk mie instan kuah.
" Makasih ya bi."
" Sama-sama Tuan, bibi keluar dulu."
" Iya."
Rey yang memegangi pinggan dengan piring diatasnya hanya satu buah telur ceplok dan satu mangkuk mie instan kuah.
Sementara Elea yang terheran melihat Rey memesan makan pagi dengan telur ceplok dan mie instan kuah. " Kamu..."
Rey yang tersenyum. Dengan mata sedikit berkaca-kaca. " Apa kamu lupa?"
Elea yang masih tidak mengerti dan hanya diam dengan tingkah aneh suami Singa nya.
Hidung Rey yang mulai memerah dengan air mata yang tidak bisa dia tahan. Mengatur nafasnya dan mulai bicara. " Sebenarnya, aku menutup sejarah pahit dalam hidupku 20 tahun silam. Namun sepertinya, semesta mencoba mengingatkan, lewat anak kecil yang menangis di rumah sakit." Rey yang tidak sadar menjatuhkan air matanya. " Membuat aku tersadar, bahwa ayah kamu adalah dewa penolong yang dikirim Tuhan untuk ku dan ayah ku." Rey yang menatap Elea penuh tangis. " Aku menyesal, dengan apa yang sudah aku lakukan dengan kamu. Dan aku janji, mulai detik ini. Aku akan berusaha membuat kamu bahagia. Tidak sulit untukku, untuk jatuh cinta dengan wanita yang sangat spesial dari masa kecil ku." Rey yang menempelkan keningnya ke kening Elea penuh haru. Air matanya benar-benar tidak bisa dia bendung lagi.
Begitu juga dengan Elea yang terharu setelah mendengar apa yang disampaikan Rey kepadanya.
BERSAMBUNG