
" Ini rahasia yang tidak sembarangan orang boleh tahu. Putra Tuan Di saja baru mengetahuinya setelah melihat cctv yang tersambung langsung dengan monitor yang anda sadap waktu itu."
" Serahasia itukah." Daniel yang penasaran sekali mengapa sampai harus mencopot jabatan sebagai pimpinan eksekutif setelah jabatan bergengsi dari semua perusahaan dan proyek-proyek Tuan Di yang di pegang oleh menantu kesayangan nya Nona Elea. Jabatannya adalah di bawah langsung dari kepemimpinan ibu Elea. Namun selama ibu Elea belum aktif mengurus semua perusahaan-perusahaan dan proyek-proyek Tuan Di. Tuan Di begitu mempercayakan seluruhnya kepada nya. Bahkan bisa dianggap dirinya seperti anak angkat atau keluarga sendiri oleh Tuan Di.
Namun semenjak, dirinya mengemban tugas untuk menggoda Jessica dan memang sengaja membuat nya jatuh cinta. Jessica pun tidak lama jatuh cinta kepadanya dan melupakan pengancaman untuk merusak reputasi keluarga maupun Perusahaan Andro. Ternyata permasalahan keduanya bahkan sudah menjadi sejarah dengan waktu yang tidak lama. 20 tahun. Waktu yang sangat lama. Bahkan kata Pak Har. Permasalahan yang menyangkut dua keluarga itu melibatkan ayah Jessica. Tapi ya sudahlah. Toh, Tuan Di masih menyayangi diriku meskipun hanya menyisakan satu perusahaan untuk aku pegang.
" Saya permisi pak Daniel, saya harus kembali ke kantor."
" Terimakasih atas waktunya pak Har." Daniel bangkit dari kursi duduknya menjabat telapak tangan pak Har.
" Sama-sama pak Daniel." Telapak tangan yang sama saling menautkan.
Pak Har lantas pergi meninggalkan Daniel yang masih tak bergeming berdiri di dekat kursi duduknya.
Daniel yang mengambil ponsel di saku celananya. Memanggil dengan nama SAYANG yang tertulis dikontak ponselnya. " Hallo." Daniel mengawali pembicaraan dengan siapa lagi kalau bukan dengan Jessica.
" Hallo Sa-sayang." Jessica yang awalnya ragu berusaha membiasakan memanggil sayang kepada Daniel. Panggilan yang sudah disepakatinya.
" Kamu dan mami kamu, tunggu sebentar ya! Habis ini aku ke rumah sakit.Buat jemput kamu dan antar kalian pulang."
" Iya sayang, kamu hati-hati."
" Iya. Love you." Daniel yang mendekatkan ponsel tepat di depan bibirnya sembari tersenyum bungah.
Diawali merasa tersanjung sudah pasti. Jantung berkembang mulai membunga dan merambat ke luar dengan bibir senyum merekah. " Love you too." Tut...Tut...Tut...suara sambungan telepon yang kemudian berhenti. Percakapan keduanya berakhir. Daniel yang kemudian bergegas keluar resto mewah skala internasional. Sedangkan Jessica yang melebarkan senyumnya sepanjang sepuluh senti duduk bersandar di tempat tidur rumah sakit.
" Cie..cie..Anak mami yang punya kekasih baru dan mau menikah." Ledek mami Indy dengan mencubit manja lengan putrinya.
" Apaan sih mi, kaki aja belum sembuh."
" Mami senang Jess, kamu kembali tersenyum bahagia dengan hadirnya Daniel. Daniel kelihatan sekali menyayangimu, Daniel juga pria sopan dan bersikap baik sejauh ini."
" Iya mi, selain tampan. Daniel memang mengalihkan perhatianku ke Rey. Daniel bisa membuat aku melupakan Rey begitu cepat. Pertemuan yang terbilang sangat singkat. Itulah mungkin yang dinamakan jodoh mi. Benar kata Rey. Mungkin memang dia bukan jodohku. Namun kehadiran jodohku masih berkaitan dengan dia."
" Tunggu! Tunggu! Mami tidak mengerti apa yang kamu katakan."
" Oya, aku belum sempat cerita ke mami. Daniel adalah orang suruhan Tuan Di, ayah Rey untuk membungkam ku, bernegosiasi dengan ku supaya aku berhenti mengancam keluarga Andro dengan foto-foto yang akan aku sebarkan. Dengan menyuruh pak Har. Tuan Di tahu, kalau aku tidak akan takluk dan menyerah. Tuan Di tahu kelemahan ku, lalu dihadirkan Daniel untuk membuyarkan semua rencana ku. Dan benar saja. Baik aku dan Daniel sama-sama jatuh hati semenjak kita bertemu."
Mami Indy yang melongo mendengar semua penjelasan dari Jessica. Terdiam sejenak. " Jadi, Daniel itu..."
" Iya mi, aku sudah yakin dengan Daniel. Jadi please! Jangan ada kata penolakan dari mami setelah tahu kalau Daniel adalah tangan kanan Tuan Di bahkan bekerja untuk keluarga Andro hingga detik ini."
Mami Indy menghamburkan nafasnya kasar. " Entahlah Jess. Mami tidak tahu harus bicara apa. Mami ikut kata kamu saja. Kamu yang menentukan pilihan hatimu. Mami juga lihat Daniel tidak seperti Mike. Dia tulis mencintai kamu."
" Iya mi."
Daniel yang berdiri membawakan seikat bunga segar mawar merah dari florist untuk Jessica. " Selamat siang Tante." Daniel berjalan menuju mami Indy dan mencium punggung tangan mami Indy lalu mencium kedua pipi Jessica. " Ini untuk mu."
" Terimakasih sayang." Jessica mengecup kembali kening kekasih barunya itu.
" Iya, sama-sama. Ya udah yuk! kalau begitu kita langsung saja ke mobil." Daniel yang memapah Jessica untuk naik ke kursi roda.
Sementara mami Indy membawa barang bawaan Jessica selama menginap di rumah sakit.
Ketiganya berjalan keluar dari dalam ruangan menuju ke pelataran parkiran rumah sakit. Setelah semua masuk ke dalam mobil, Daniel yang menginjak pedal gas untuk menembus jalanan kota menuju pulang mengantar Jessica dan mami Indy.
Sementara pemandangan berbeda di rumah besar dan megah milik keluarga Andro. Elea yang sibuk memasak di dapur membuatkan semua makanan kesukaan Rey sebagai bentuk permintaan maafnya atas kejahilan pagi yang dilakukannya.
Rey yang baru keluar dari ruang kerjanya. "Aku pulang dulu ya Fan." pamit Rey kepada sekretarisnya.
" Besok sebelum berangkat, lihat cermin dulu ya pak!" Fany yang berani cekikikan dan meledek atasan Singa nya.
Rey yang sore hari itu kalem, hanya menatap tajam ledekan Fany sekretarisnya tanpa menggubrisnya. Rey mengabaikan ocehan Fany dan berjalan keluar menuju loby berlanjut ke tempat dimana mobilnya terparkir.
Mobil Rey menembus jalanan kota hingga masuk kedalam rumah besar dan megahnya. Rey yang keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
" Honey." Elea yang memanggil suami nya berjalan melewati ruang makan.
" Aku mau mandi dulu." Rey yang menggaruk leher samping kanannya sembari membawa jas yang di tumpang kan di lengan kirinya. Rey berjalan naik hingga ke lantai dua kamarnya.
Elea yang merasa bersalah kepada suaminya. Sepertinya memang benar apa kata Rey. Candaan pagi tadi memang tidak pantas, mengingat Rey adalah seorang atasan. Elea pikir Rey juga akan tahu sebelum memasuki kantor. Namun malah Rey jadi bahan tertawaan staf dan karyawan kantor gegara ulah jahilnya.
Rey yang keluar dari kamar mandi dengan hanya melingkarkan handuk dibagian bawah dan bertelanjang dada mengusap kasar rambut kepalanya dengan handuk kecil karena habis keramas.
Sementara Elea yang semenjak hamil muda ini memang jablay alias jarang dibelai oleh Rey, membuat Elea yang berada di depan suaminya menelan ludah dengan susah payah melihat pesona suami singa tampannya keluar dari kamar mandi dalam keadaan seperti itu.
" Kamu kenapa?" Rey yang melanjutkan langkahnya setelah menutup kamar mandi melewati Elea acuh dan lebih fokus pada mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangan kanannya.
" Aku minta maaf Honey." Elea yang tahu kalau dirinya salah. Berjalan mengekori suaminya.
" Aku nggak marah."
" Oya." senyum tipis Elea yang masih mengekori suaminya yang berjalan memunggunginya.
" Tapi ada satu syarat." Rey dengan cepat memutar tubuhnya.
" Syarat apa?" Elea yang memainkan bola matanya naik turun melihat suami nya.
BERSAMBUNG