
Rey yang duduk di dekat kursi roda yang di duduki Elea.
Elea yang melirik suaminya dengan segudang tanda tanya. Suaminya tetiba diam tanpa kata.
Elea yang berusaha mencairkan suasana. " Honey."
Rey menoleh ke Elea.
" Aku lapar." Bisik Elea dengan mendekatkan wajahnya ke telinga suaminya.
" Ya sudah, kita ke kantin dulu." Rey langsung bangkit dari duduknya dan mendorong kursi roda yang diduduki Elea.
Cafe Pisang nama kantin di rumah sakit itu. Namanya melengkung di atas papan kayu coklat yang artistik tepat di atas pintu masuk menuju ke dalam cafe yang di depannya terdapat minimarket kecil.
" Selamat datang." sapa ibu-ibu berkerudung coklat berbaju gamis merah menyapa Rey dan Elea. " Silahkan duduk pak, Bu!"
" Terimakasih Bu." Jawab Elea dan Rey bergantian.
Tidak lama Elea dan Rey disodori menu makanan yang ada dalam Cafe Pisang tersebut. Macam-macam menu ada nasi goreng berbagai varian dari nasi goreng Jawa, nasi goreng seafood dan nasi goreng pedas. Tidak hanya nasi goreng. Nasi lengkap dengan ayam goreng maupun bakar pun tersedia. Namun Elea dan Rey memilih menu yang sama yaitu Bakso. Bakso yang diberi nama unik-unik dari kata Batasan yang berarti Bakso tahu alusan, Batita, balita yang memiliki kepanjangan dari isi dalam mangkuk bakso yang diinginkan pengunjung.
Rey dan Elea yang sedikit tertawa dengan kata-kata unik yang disematkan untuk menyebut bakso pesanan.
" kita pesan ini saja ya Bu, dua mangkuk." Rey yang menunjuk kata bakso lengkap berikut gorengan di dalamnya sembari memberikan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk kata dua.
Elea yang langsung cemberut bibirnya mengerucut.
" Kenapa?"
" Kok cuma dua mangkuk?" tanya Elea.
" Terus berapa? Kan emang cuma aku sama kamu yang makan."
" Honey." Ekspresi Elea dengan jari telunjuknya mengarah ke perut besar miliknya.
" Astaga..." Rey dengan bibir menganga sembari memandang perut besar Elea. " Ya sudah, pesan sesuka mu."
" Hehehe." tawa kecil dengan unjuk gigi Elea. " Saya pesan 3 ples 1 jadi total baksonya 4 mangkuk ya Bu. untuk minumnya saya pesan ice cofee. Kamu apa Honey?"
" Nggak...Nggak...Nggak! minumnya di ganti jus saja! Jangan kopi!" Rey yang melihat daftar minuman milik Cafe Pisang.
" Nggak papa Honey. Kan nggak tiap hari." Bibir yang mengerucut dengan rayuan maut supaya bisa minum ice cofee.
" Nggak boleh!" Kedua bola mata yang melotot ke arah Elea. " Ganti dengan Jus alpukat saja Bu, dua gelas. Kurang" Rey yang bertanya Elea takut kalau minumnya kurang.
Elea geleng-geleng kepala dengan manja, tersenyum kecut datar diikuti hidung kembang kempisnya. Gemas dengan suami yang duduk di hadapannya.
" Baik pak, saya ulangi pesanan nya ya. Bakso 4 dengan jus Alpukat 2."
" Iya." jawab Rey.
" Silahkan ditunggu sebentar ya pak, Bu."
Rey dan Elea yang menganggukkan kepalanya bersamaan.
Tidak butuh waktu lama ibu yang berjaga di Cafe Pisang rumah sakit mengantarkan semua pesanan yang di pesan Elea dan Rey.
Ibu penjaga Cafe Pisang meletakkan semua bakso berikut kecap, saos dan sambal diatas meja beserta pesanan jus alpukat sebanyak dua gelas sesuai pesanan Rey. " Silahkan menikmati pak, Bu."
" Terimakasih ya Bu."
" Sama-sama." Ibu petugas Cafe Pisang lantas meninggalkan Rey dan Elea.
Elea dengan wajah laparnya, langsung mengambil satu mangkuk bakso dan ingin menuangkan sambal dari sendok. Namun baru saja ingin memberi sambal.
" Nggak usah pakai sambal!" Rey yang menangkap tangan Elea yang tengah memegang sendok sambal.
Rey meletakkan kembali sendok sambal dan menutup tempat sambalnya. " Nanti perutmu aku sakit, aku yang repot."
Elea yang menahan tangis kesal bin gemas. Memainkan bibirnya. Mencoba merayu Rey. " Kan cuma satu sendok kecil Honey. Jadi nggak bikin sakit peyuuut." Dibaca dengan gaya manja bin menye-menye.
" Sekali Enggak! tetap Eng-Nggak!" Wajah garang Rey benar-benar dia tunjukkan.
" Huffft....sifat singa nya mulai keluar lagi." ucap lirih Elea.
" Apa kamu bilang?" Ujar Rey mengangetkan Elea.
" Eng Nggak." Elea yang kemudian beralih menuangkan kecap dan saos saja pada mangkuk baksonya.
Rey menggaruk-garuk dagu yang tidak gatalnya sembari memperhatikan istrinya meneguk satu gelas jus alpukat sampai habis tak tersisa semuanya.
" Kenapa?" Elea yang melirik ke tatapan Rey.
" Enggak." Rey yang langsung mengalihkan kedua retina matanya. " Sudah belum?"
Elea yang menganggukkan kepala diikuti memainkan matanya.
" Ya udah yuk!" Rey yang bangkit dari kursi duduknya dan membayar di bagian kasir lalu keluar dari Cafe Pisang dan menuju ke Apotik kembali.
" Sudah mbak."
" Iya pak. Ini vitaminnya." pegawai apotik rumah sakit yang memberikan vitamin ibu hamil kepada Rey.
" Terimakasih mbak."
" Iya pak sama-sama."
Rey kemudian mendorong kursi roda Elea kembali menuju ke pelataran rumah sakit tempat dimana mobil Rey terparkir.
" Rey." panggil mami Indy yang sedang keluar dari mobilnya saat memarkir mobil yang ditumpanginya.
" Tante Indy."
" Kamu apa kabar Elea?"
" Baik Tante."
" Sudah besar ya, perut kamu Elea." Mami Indy yang memperhatikan perut Elea.
" Iya Tante. Aku turut prihatin ya tante, kalau Jessica habis dapat musibah." Elea yang bersimpati dengan keadaan Jessica.
" Lho, kok tahu?"
" Tadi tak disengaja, kita bertemu di dalam."
" Oh ya, Tante belum tahu kondisi Jessica terkini. Soalnya kemarin belum sadarkan diri."
" Tadi dia sudah jalan-jalan dengan di dorong menggunakan kursi roda oleh seorang pria."
" Oh ya." Mami Indy yang terkejut.
" Iya Tante."
" Syukurlah, kalau begitu Tante masuk dulu ya."
" Iya Tante."
" Rey, Tante permisi."
" Iya Tante." Rey yang sedari hanya diam memperhatikan mami Indy dan Elea mengobrol.
Mami Indy kemudian masuk ke dalam rumah sakit. Menuju ke ruang VVIP no.1.
" Selamat pagi." Mami Indy melihat pemandangan Daniel dengan mesra sekali memperlakukan Jessica meskipun hanya sekedar menyuapinya sarapan bubur namun terlihat sekali Daniel begitu menyayangi Jessica dan menerimanya apa adanya.
" Mami." Jessica dengan lirih memanggil maminya.
" Tante." Daniel yang mencium punggung tangan mami Indy.
Mami Indy berjalan mendekat ke arah putrinya tepat di samping tempat tidur Jessica. " Bagaimana Jess keadaan kamu hari ini sayang?"
" Jauh lebih baik mi, hanya kaki aku belum bisa di gerakkan dan harus rutin pengobatan fisioterapi supaya bisa berjalan normal kembali. Karena ada tulang bagian dalam yang kurang pas."
" Terus." Mami Indy yang panik terus melihat kaki sebelah kanan Jessica.
" Ya sakit mi, nyeri banget tadi pas awal aku bangun. Tapi kalau sedikit-sedikit di buat gerak, lumayan berkurang nyerinya."
" Terus kata dokter."
" Ya itu tadi mi, rutin menjalani fisioterapi. Nggak usah cemas mi, Jessica nggak mengalami kelumpuhan kok. Ini hanya sementara kata dokter."
Lega mami Indy mendengar penjelasan dari Jessica. " Syukurlah Jess." Raut wajah tenang mami Indy mendengar putrinya tidak mengalami amnesia atau hal-hal buruk lainnya yang lebih berat. Mungkin memegang ini yang terbaik untuk Jessica. Musibah yang membawa keberuntungan buat Jessica meskipun harus mengalami keguguran. Meskipun memang Jessica tidak menginginkan anak dalam kandungannya, Jessica tidak lantas menggugurkannya. Hanya saja takdir berkata lain. Disaat Daniel hadir dengan paket lengkap yang ingin menikahi Jessica, mungkin memang anak Mike dalam kandungan Jessica lebih baik berada disisi Tuhan supaya Jessica dan Daniel bahagia kedepannya tanpa bayang-bayang Mike yang menjelma wujud anak dalam janinnya. Meskipun Tuhan dengan cara berbeda mengambilnya lewat beberapa perkara dengan cara Nya.
BERSAMBUNG