
" A-a-apa ini tidak salah Tuan Di?" Elea yang mengumpulkan seluruh kekuatannya setelah merasa lemas untuk beberapa detik.
Tuan Di yang menganggukkan kepalanya dengan senyum simpulnya memberi isyarat untuk Elea segera menandatangani surat perjanjian itu.
Elea yang masih bingung dengan semua ini. Masih dibuat heran dengan apa yang direncanakan Tuan Di untuk pernikahannya dengan Rey.
" Silahkan bubuhkan tanda tangan anda nona Elea!" Pak Dony yang memberikan pulpen untuk Elea.
" Ehm...baik pak Dony." Tangan Elea masih bergetar. Kakinya lemas membaca Harta Bernilai Tinggi milik Tuan Di. Yang Elea sama sekali tidak bayangkan sebelumnya. Bahkan Rey saja sepertinya tidak tahu Harta Karun milik ayahnya.
" Apa masih ada lagi Tuan Di Andro?"
" Untuk hari ini terimakasih Pak Dony."
" Kalau begitu saya permisi Tuan Di."
" Silahkan Pak Dony."
Pak Har yang sedari tadi berdiri di dekat Tuan Di mengantar Pak Dony menuju mobilnya.
Sementara Tuan Di berdiri. Mengedarkan pandangannya ke sekitar pantai. " Aku harap tidak terjadi masalah, di rumah tangga kalian." Tuan Di dengan santai menyemburkan asap cerutunya.
" Apa maksud anda Tuan?"
" Nanti kamu akan tahu sendiri Elea, dan aku harap, apapun yang terjadi. Tidak ada kata cerai yang keluar dari mulut kalian."
Elea menelan ludahnya. " Apa ini berkaitan dengan Jessica?"
" Apa kamu siap Elea? Karena wanita yang sangat dipuja oleh Rey adalah..."
Klililit...Klililit...Dering ponsel Elea berbunyi.
Foto pernikahannya begitu nyata terpampang dijadikan foto profil keduanya di ponsel mereka.
Rey.
Memanggil. Terlihat jelas layar ponsel Elea.
" Maaf Tuan Di, Rey menghubungi saya."
" Silahkan."
Elea mengangkat sambungan telepon dari Rey, mereka bercakap sebentar, lalu Elea mematikan ponselnya.
" Sebaiknya berusahalah, mengejar hati anak saya! Buat dia jatuh cinta dan melupakan masa lalunya." Tuan Di yang berjalan meninggalkan Elea di tepi pantai.
Elea yang melotot seketika. Ya Tuhan...apa jalannya harus seterjal ini. Aku hanya ingin bahagia. Tapi mengapa? kau hadirkan orang-orang seperti mereka, yang menekan ku untuk bersandiwara. Rey yang tidak pernah mencintaiku. Meskipun aku bisa saja mencintainya, jika dia juga mencintaiku. Sementara Tuan Di, Tuan Di dengan keegoisannya, yang menikahkan aku dengan Rey. Meskipun dalih hutang Budi. Namun pada akhirnya aku sadar. Bahwa Tuan Di hanya ingin menyelamatkan harta karun nya dari orang-orang yang dinilainya memiliki keserakahan. Pernikahan macam apa ini? Tubuh Elea tersungkur di atas pasir pantai. Bulir-bulir bening jatuh membasahi pipi. Rambut curly nya tersapu angin pantai. " Aaaaaaaaaaaaaaaaa......" Teriak Elea kencang menatap ujung pantai. Melepaskan semua tekanan dalam dirinya. Dia sadar, dirinya hanyalah sebuah boneka yang dimainkan para penguasa. Seorang figuran yang dibutuhkan Rey untuk memainkan sandiwara sesuka hatinya. Tidak lebih dari sebuah boneka yang dimainkan oleh Tuan Di sesuai titahnya.
Elea merasa tidak membutuhkan semua itu. Elea tidak membutuhkan harta Keluarga ANDRO. Elea juga tidak perlu embel-embel nama besar ANDRO dibelakang namanya. Pernikahan ini akan membuat hidupnya menderita perlahan tanpa disadarinya.
Elea yang kembali ke kantor dengan penampilan sedikit berantakan.
" Kamu dari mana?" Tanya Rey sembari memperhatikan penampilan yang tidak karuan.
" Ibu Elea, kamu dari mana?" Elea malah mengajari Rey, sesuai aturan yang dibuat oleh Rey sendiri. Elea tak mengindahkan Rey dan berjalan ke ruang kerja nya.
Rey hanya geleng-gelang kepala dengan menyentuh bulu-bulu tipis tulang rahangnya.
" Aneh."
Elea dengan perang batinnya. Begitu sangat merasa tertekan dengan surat perjanjian yang di buat oleh Tuan Di. Elea melamun sepanjang perjalanan pulang.
Rey hanya memperhatikan istrinya yang bersikap aneh semenjak kepergiannya makan siang.
Di dalam kamar suka-duka.
Elea terngiang terus dengan kata-kata Tuan Di Andro. Membuat Rey jatuh cinta padanya. Ah..mustahil.
Elea menatap wajah dan dirinya sendiri yang sedang berdiri di meja riasnya dengan seksama. Menyentuh helaian rambutnya. Membungkukkan badan dan mendekatkan wajahnya ke cermin. Menatap bayangan matanya sendiri dan memainkan bibirnya.
Hingga tersadar jika Rey berdiri di belakangnya dan memperhatikan tingkahnya.
" Kamu kenapa?" Rey yang hanya melingkarkan handuk dan bertelanjang dada.
" Aaa..." Elea seketika menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. " Honey, pakai baju dulu!"
" Hehm." seringai senyum Rey melihat tingkah istri anehnya.
" Aku perhatikan, kamu aneh."
" Oya...Hanya perasaan mu saja Honey." Elea yang mendekatkan wajahnya tepat di hadapan wajah Rey sembari menepuk pipi kanan Rey dengan manja. Elea lantas naik ke atas ranjang sembari memainkan ponselnya.
Berselancar dengan pencarian Panduan Memikat Hati suami. Ketikan dalam pencarian ponselnya.
Rey yang berdiri tepat di hadapan Elea menatap curiga ketika Elea seperti asyik sendiri dengan gawai nya. " Tidak biasanya, sebelum tidur bermain hp."
Cengir Elea. Haduh... harus aku hapus segera nih. Bisa-bisa Rey mentertawakan aku lagi. Kenapa aku pusing sendiri ya?
Elea yang menggaruk-garuk lehernya walau tak terasa gatal. Menghapus kembali ketikan yang sudah di ketiknya di laman pencarian, ponselnya.
" Honey, kamu ada masalah."
" E-enggak. Enggak ada." Elea dengan cepat meletakkan ponselnya di meja nakas samping tempat tidurnya. Dengan cepat pula menarik selimut hingga menutupi sampai lehernya. Sepertinya...ada beban besar di pundak ku. Bagaimana caranya membuat Rey jatuh cinta. Oh...Gooooood. Pliiiiiiiis! Please give me how make him fall in love.
" Aaaa..." Teriak kaget Elea yang jenggirat karena lampu kamar yang tiba-tiba padam. Matanya melotot panik kebingungan, karena kamar benar-benar gelap. " Honey..."
" Honey..." panggilan kedua untuk Rey dari Elea yang tidak digubrisnya. " Honeeeey..." Teriak Elea dengan nafas sengak ketakutan.
" Ha...ha...ha..." Rey yang menyalakan kembali lampu kamar dengan tawa girangnya.
Sementara Elea dengan wajah penuh amarahnya melempar semua bantal guling yang ada di atas ranjangnya ke arah Rey berdiri.
" Eit." Lemparan bantal pertama yang sama sekali tidak mengenai sasaran. " Eits." Rey yang berusaha menghindari lemparan guling dari Elea yang meleset.
Karena saking kesalnya Elea. Dari semua lemparan bantal guling yang tidak mengenai Rey, Elea akhirnya turun dari ranjang dan berjalan ke arah Rey dan mengejar Rey untuk dia beri hukuman.
Gelak tawa keduanya terpancar dari saling kejar-kejaran di kamar suka-duka. Elea yang sama sekali tidak berhasil mengejar Rey untuk dia beri balasan akibat menganggu tidurnya. Namun bukan Elea namanya, kalau dia tidak cerdik mengelabuhi lawan nya.
" Aw...kaki ku, kaki ku." Elea yang berjalan menuju ranjang seperti sedang menahan kesakitan betulan akibat keram. Padahal ahaay...dia hanya berpura-pura belaka.
Rey lantas mendekat. " Kamu nggak papa?"
" Haaaaaaaa....." Teriak canda gelak tawa campur beriak menjadi satu. Ketika Elea menangkap tubuh atletis Rey supaya tidak bisa berlari lagi.
" Curang...Curang... Hahaha..." Tawa keduanya membuat gaduh malam. Elea dengan cepat menarik lengan Rey dan berusaha menggigit nya karena tingkah jahil Rey yang sudah mengganggu tidurnya.
BERSAMBUNG