Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 6 part 6



" Pak Rey..." Panggil Elea dengan berlari kecil tergesa.


" Ehm." Rey berdehem dan menghentikan langkahnya. " Saya ada urusan. Makanlah siang sendiri!" Jawab tegas Rey.


Tuh kan, dia seperti jin. Tahu pula kalau aku mau ngajak makan siang. " Ada yang ketinggalan pak." Elea yang sudah mempersiapkan cara supaya tidak malu dengan penolakan Rey. Elea kemudian menarik telapak tangan Rey. Dan memberikan ponselnya. " Saya akan sangat kebingungan menghubungi anda, jika anda melupakan ini."


Mata Elea melirik ke arah bola mata Rey dengan sedikit menggodanya kemudian membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Rey.


Rey yang menggelengkan kepalanya. Masih berdiri menatap punggung istrinya hingga lenyap dari pandangannya.


Rey melanjutkan langkahnya berjalan menuju loby dan berpapasan dengan pak Har.


" Pagi pak Rey."


" Pagi pak Har. Kebetulan sekali bertemu dengan anda."


" Maaf, saya terpaksa memberikan foto itu kepada Tuan Di, karena Tuan Di memaksa."


Rey yang geram dengan pak Har yang ikut campur urusan pribadinya. Wajah nya terlihat jelas menahan amarah. Ingin berteriak kepada Pak Har. Namun Rey sanggup mengendalikan. " Terserah anda, laporkan yang anda suka. Oya, aku beri tahu sekalian. Siang ini aku akan pergi ke PACC Mall untuk melihat keadaan Jessica."


Pak Har yang terkejut dengan ucapan Rey.


Rey berlari cepat menuju mobil.


Pak Har, yang menghubungi orang suruhannya untuk mengintai Rey. " Anda pasti akan menyesal pak Rey, jika terus-terusan masih berkutat dengan masalah mantan kekasih anda. Anda harusnya sibuk, untuk menumbuhkan benih-benih cinta dengan nona Elea." gumam lirih Pak Har, lantas melanjutkan langkahnya.


Rey yang sedang makan siang di PACC Mall dan mengintai Jessica dari kejauhan. Ruang kerja Jessica yang terlihat dari luar karena dinding kaca yang sangat lebar dan tembus pandang. Semua gerak-gerik Jessica bahkan terlihat jelas. Jessica yang duduk dengan menatap layar laptop di depan meja kerjanya.


Rey...padahal baru kemarin kamu menolaknya. Sekarang kamu ingin tahu bagaimana keadaanya. Apa ini yang dinamakan move on. Kamu bahkan menelan ludah mu sendiri dengan datang kemari. Meskipun juga Jessica tidak tahu kalau kamu sedang memperhatikannya. Bahkan kamu masih tidak tega dengan perasaannya. Batin Rey yang berperang menasihati dirinya sendiri.


Tidak bisa dipungkiri nama Jessica Anindita terukir dalam di relung lubuk hati Rey. Andai Rey tahu perasaan Jessica dan memintanya kembali sebelum menikahi Elea. Mungkin keadaan berbeda. Rey mungkin akan sangat bisa memaafkan Jessica kembali dan keduanya akan menikah dengan sangat bahagia. Rey mungkin akan mengubur rasa sakit hati yang digoreskan Jessica terhadapnya. Semuanya akan dilupakan. Dan keduanya membuka lembaran baru di pernikahan yang berbahagia.


Namun kali ini. Cerita menjadi lain, apalagi dengan janji hutang budi ayahnya kepada ayah Elea. Rasanya sulit mengingkari. Karena bagaimanapun Pak Sis, ayah Elea sangat berjasa dengan hidupnya dulu. Bahkan dia entah akan jadi seperti apa, jika Pak Sis, ayah Elea tidak merawatnya. Karena ayah sudah tidak punya siapa-siapa lagi.


" Hufffft..." Rey yang tertunduk lesu. Perang batinnya berkecamuk. Pernikahan terpaksa membuat hatinya tersiksa, setelah mendapati mantan kekasihnya ternyata ingin kembali kepadanya. Niat ingin balas dendam juga tidak tega. Wajah Jessica terus membayangi kepala Rey. Rey akhirnya memutuskan untuk keluar dari PACC Mall.


Dari kejauhan, orang suruhan pak Har telah memberikan bukti foto yang dikirimkan ke Pak Har.


Pak Har yang melihat foto Rey sedang makan siang sendirian tanpa Jessica. Namun terlihat gelisah dan terus memperhatikan Jessica dari kejauhan. Informasi yang di dapatnya lantas dilanjutkan untuk disampaikan ke Tuan Di Andro.


" Okay, terimakasih informasinya pak Har." Tuan Di yang menerima sambungan telepon dari pak Har dan menutup ponselnya. Menghisap cerutunya dan menyemburkan kepulan asap itu. " Rey...Rey... kamu bahkan tidak tahu siapa Jessica sebenarnya. Jangan sampai ayah membuka luka lama Rey."


Rey yang kembali ke kantor setelah jam makan siang selesai. Mendapati Elea tidak ada di ruangannya. Rey lantas kembali ke ruang kerjanya.


Sementara di tempat berbeda. Elea, pak Har dan juga Tuan Di sedang menikmati makan siang dengan pemandangan pantai lepas. Suasana yang membuat hati damai dan terasa tenang. Angin sepoi-sepoi pantai sangat menyejukkan. Di daerah sekitar pantai, banyak sekali dijumpai properti seperti apartemen dan kawasan yang sudah dipersiapkan untuk pembangunan rumah maupun resort. Kawasan yang bakal dilengkapi dengan fasilitas umum, seperti rumah sakit, sekolah dan pusat perbelanjaan.


" Terimakasih tuan Di, undangan makan siangnya."


" Sama-sama Elea."


Beberapa menit kemudian, datang seorang laki-laki berjas kurang lebih sama umurnya dengan Pak Har. Membawa tas berisi berkas-berkas penting.


" Selamat Siang Pak Dony." Keduanya berpelukan. " Silahkan duduk."


Elea yang memainkan bibir dan mimik wajahnya. Ada apa ini? Tidak seperti biasanya juga, Tuan Di mengajak makan siang. Siapa dia?


" Elea perkenalkan, ini pak Dony."


" Elea." Elea yang menjabat tangan pak Dony dan memberi senyum sopan kepadanya.


" Senang bertemu dengan anda nona Elea."


Keduanya lantas duduk di kursi mereka masing-masing.


Sepertinya ada pembahasan penting. Tapi apa?


" Saya sudah persiapkan surat wasiat dan juga surat perjanjian seperti yang anda minta pak."


Surat wasiat?


Pak Dony yang menyerahkan berkas-berkas dan Tuan Di membacanya dengan seksama.


" Bagus. Kamu baca Elea."


" Sa-saya Tuan Di?"


Elea membaca dengan seksama surat dalam perjanjian itu. Surat yang berisi tentang pokok inti dari pernikahan terpaksa ini. Di dalam surat tertulis bahwa saya yang bertanda tangan dibawah ini: Elea Noor Maina tidak akan pernah mengajukan gugatan cerai atau menandatangani sebuah perceraian dari suami saya Rey Andro terhadap apapun yang berkaitan dengan permasalahan rumah tangga. Jika salah satu pihak melanggar perjanjian. Maka sama sekali tidak mendapatkan sepeser pun dari Harta bernilai tinggi berikut yang dipergunakan untuk persiapan Andro-Andro Junior.


Berikut Harta bernilai tinggi yang tidak akan diterima keduanya. Jika terjadi Perceraian.



1 buah Mansion yang sekarang ditempati bersama.


1 buah Perusahaan ANDRO berikut tanah dan bangunannya beserta Pabrik.


5 resort berikut Hotel mewah yang ada di pulau Dewata Bali dan Lombok.


1 buah Perusahaan ANDRO cabang Ekspor di Singapura.


Dan semua properti di kawasan PIK salah satunya PACC Mall. termasuk Ribuan apartemen, pusat perbelanjaan, Rumah sakit, sekolah, resort dan juga Hotel. Penjelasan lebih detail tata letak dan juga luas tanah dan bangunan di salinan berkas selanjutnya.


Belum termasuk Harta bergerak maupun tidak bergerak lainnya.



" Hah." Elea yang melongo dengan isi surat perjanjian yang dibuat ayah mertuanya.


BERSAMBUNG