Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 12



Jessica berdiri memandangi mobil Rey sembari menyeka air mata yang basah di pipinya. Sadar, bahwa tindakannya sangat memalukan. Menjebak Rey dalam situasi ini. Tapi apa daya, Jessica enggan menikah dengan Mike. Pria tak bermoral yang sudah menghancurkan hidupnya.


.


.


Makan malam yang tidak seperti biasanya. Suasana rumah hening. Tuan Di yang biasanya terlebih dulu duduk di meja makan menunggu putra dan menantunya, seharian tak terlihat menghisap cerutunya semenjak Rey keluar setelah bercakap melalui sambungan telepon dengan Jessica.


Hanya Rey dan Elea yang sedang duduk di meja makan. Rey yang selalu memperhatikan pola makan Elea yang harus bergizi dan mencukupi asupan yang dibutuhkan untuk kehamilannya seperti yang disarankan dokter kepadanya, karena Rey tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan kandungan Elea.


" Lalu apa yang kamu katakan kepada Jessica." Tanya Elea lirih setelah menghabiskan makan malamnya.


" Ehm." Rey berdehem. Mengambil jeda dan mengolah kata untuk menyampaikan apa yang dikatakannya kepada Jessica tadi pagi. " Aku sebenarnya malas membahas dan mendengar nama Jessica. Tapi memang dia topik masalah kita akhir-akhir ini. Entah lah, apa yang akan diperbuat oleh Jessica aku sudah tidak perduli." Pasrah Rey dengan masalah yang dibuat oleh Jessica. " Yang terpenting, kamu mempercayai ku. Itu sudah cukup." Rey meraih jemari Elea dan mengecupnya. Mengelus kepala bagian depan Elea dengan lembut.


.


.


" Ada apa ini?" Jessica yang panik karena melihat Klinik Kecantikan miliknya diberi plang segel oleh pihak gedung PACC Mall.


" Bu Jessica, untung ibu segera kesini." Pegawai Klinik Kecantikan yang berjalan mengarak mendekat kepada Jessica dan memberi tahu apa yang terjadi.


" Kenapa bisa begini?" Geram Jessica melihat para petugas mengeluarkan barang-barang milik Klinik Kecantikan. " Pak, kenapa Klinik Kecantikan saya disegel?" Jessica yang berusaha bertanya kepada salah satu petugas di lapangan untuk menyegel Klinik Kecantikan Jessica.


Seketika salah satu petugas berhenti dari pekerjaannya. " Ibu bisa tanyakan kepada pengurus gedung. Kami hanya menjalankan tugas Bu." Petugas penyegel kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Jessica yang membuang nafasnya gerah. Memutar tubuhnya kemudian berjalan keluar dari pintu kaca. Menaiki lift menuju ke ruang pengurus gedung PACC Mall.


Tok...tok...Ketukan tangan Jessica pada pintu ruangan pengurus gedung PACC Mall.


" Masuk!" Terdengar jawaban seorang pria yang sedang duduk di kursi kebesaran pada umumnya. Pria itu dengan posisi membelakangi Jessica.


" Permisi pak." Jessica yang berdiri di hadapan meja kerja pria itu. Namun kesal dengan sikap pria yang seolah tak menghargai kedatangannya. " Maaf pak, bisa saya bicara." Jessica yang sudah tidak sabar karena malam-malam harus dibuat gerah dengan masalah klinik kecantikannya. Dia rela terbangun dari waktu yang seharusnya dia bisa istirahat dengan tenang, namun malah dihubungi oleh salah satu pegawai Klinik Kecantikan nya untuk segera datang ke PACC Mall.


" Silahkan bicara nona!" Suara sumbang pria yang masih tidak bergeming dengan posisi duduknya.


Sialan! Angkuh sekali dia, hanya seorang pengurus gedung PACC Mall saja sombongnya minta ampun. gumam Jessica dalam hati. " Bisa bapak menghargai saya, dengan memutar kursi bapak dan kita berbicara berhadapan!" Ketus Jessica yang mulai kesal.


" Siapa anda? berani memerintah saya!" Sosok laki-laki muda dengan suara timbre tebal dengan berpenampilan menarik dan terlihat tampan dan seusia dengan Jessica. Daniel. Laki-laki berperawakan tinggi besar dengan badan kekar yang atletis. Terlihat dari kemejanya bahwa dadanya bidang dan memiliki sorot mata tajam dan alis hitam tebal. Adalah salah satu orang kepercayaan pak Har yang ditugaskan mengelola sebagian bisnis dari Tuan Di. Daniel yang memutar kursi kebesarannya dan menatap Jessica.


Jessica yang menganga melihat ketampanan pria yang duduk di hadapannya. " Maaf Pak." Jawab cepat Jessica.


" Apa saya sudah keliatan tua? sehingga kamu panggil saya pak." Daniel yang menyemprot Jessica dengan panggilan kata Tua darinya.


" Em, maksud saya bukan begitu pak. Upz." Jessica yang menutup mulutnya dengan jari-jari telapak tangannya. Sadar kalau dirinya memanggil dengan sebutan pak kembali.


Daniel yang berdiri dengan memasukkan kedua tangannya di saku celananya. " Hah...terserah anda mau panggil saya apa, ada apa ke ruangan saya?" Jawab Daniel sembari memberi tatapan tajam ke arah Jessica.


Jessica yang sedikit pikun dengan mau bicara apa kepada pengurus gedung PACC Mall. Jessica mendadak amnesia dengan apa yang akan dia tanya. Konsentrasinya buyar karena menatap wajah pria tampan yang berdiri di hadapannya. Jessica yang tiba-tiba gugup dengan hanya berdiri tak bergeming.


" Apa aku harus mengulangi pertanyaan ku?"


" Apa anda dengar saya nona?" Daniel yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di depannya.


Seketika Jessica menyembul karena saking kagetnya. " Maaf...maaf...maaf p." Jessica yang akan mengeluarkan kata pak kembali namun seketika dia mengunci mulutnya.


" Panggil saja saya Daniel! Sekarang ceritakan apa masalah kamu dengan gedung ini."


" Kenapa Klinik Kecantikan saya di lantai satu di segel?"


" Oya?"


" Iya Daniel, malam-malam begini dan tidak ada pemberitahuan sebelumnya."


Oh, dia berarti Jessica. " Anda punya masalah apa sama pemilik gedung ini?"


" Maksud anda??" Jessica mengernyitkan dahinya tipis.


" Apa anda belum tahu? kalau pemilik dari PACC Mall adalah keluarga Andro."


" Apa kamu bilang?" Jessica mempertegas pertanyaannya.


" Iya pemilik dari PACC Mall adalah Tuan Di Andro."


Jessica mematung seketika tanpa kata.


" Saya bisa bantu anda mencarikan tempat untuk Klinik Kecantikan anda di tempat lain."


" Saya permisi."


" Nona Jessica." panggil Daniel kepada Jessica.


Jessica yang mendengar Daniel memanggilnya kemudian berhenti tanpa menoleh.


" Sepertinya anda salah pilih lawan."


" Bukan urusan anda."


" Tentu menjadi urusan saya, karena Tuan Di Andro sendiri yang mengutus saya. Dan anda akan sering berhadapan dengan saya nantinya."


" Saya tidak perduli." Brak suara pintu yang dilempar Jessica hingga berbenturan dengan dinding. Jessica keluar dari ruangan Daniel dengan berjalan cepat. " Sialan! Si tua bangka itu ternyata sudah memilihkan lawan untuk saya. Dan dia sengaja memang memilih si Daniel tampan itu, supaya mengalihkan saya tidak mengejar Rey." ucap lirih Jessica kepada dirinya sendiri sembari berjalan menuju lift.


Tidak menunggu lama, lift kemudian terbuka. Jessica kemudian melangkah masuk ke dalam lift. Namun ketika lift hendak menutup, Daniel dengan cepat masuk ke dalam lift dan akhirnya lift menutup.


Jessica yang geram dengan aksi Daniel, meskipun tidak dipungkiri bahwa wajah menawan Daniel menyita pandangannya.


Keduanya berdiri di dalam lift dengan saling diam. Hingga suatu ketika lift tiba-tiba mati. " Aaa" Teriak Jessica yang tiba-tiba memeluk Daniel. Jessica benar-benar merasa ketakutan karena lampu lift yang mati dan gelap. " Maaf Daniel." Jessica yang panik dan melepaskan pelukannya dari Daniel.


" Iya it's ok." Daniel dengan cekatan menyalakan tombol darurat seolah memberi tahu kepada pihak petugas atau siapapun yang berada di luar untuk membantu mengeluarkan nya dari situasi ini." Tet..tet..tet..tet..suara darurat lift mati berbunyi dengan cepat ke seluruh penjuru sudut gedung.


BERSAMBUNG