Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 7 part 5



" Terimakasih ya bi." Elea yang memberikan senyum sopan kepada bibi yang sudah membantunya untuk membersihkan tubuhnya dan mengenakan pakaian dengan sabarnya. Elea tetap stuning tampil cantik meskipun harus duduk di kursi roda.


" Sama-sama non, bibi tinggal dulu ya. Kalau ada apa-apa, nona bisa telepon bibi!"


Elea mengangguk senyum.


Hanya sementara Elea! Beberapa hari lagi kamu bisa pecicilan. Elea yang menyemangati dirinya sendiri supaya tidak putus asa melihat keadaanya yang tak berdaya.


Rey yang keluar dari kamar mandi. Terlihat segar dan tampan dengan kaos dan juga celana selutut.


" Kamu tidak kerja?"


" Menurutmu?" Rey yang menggoda Elea dengan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Elea.


" Tuan, permisi, ini sarapan pagi untuk nona Elea."


" Terimakasih bi."


" Sama-sama Tuan." Bibi lantas meninggalkan keduanya.


" Nah sekarang kamu makan dulu, biar kesehatan mu cepat pulih, trus..." Rey yang memperhatikan tempelan perban yang menghiasi tubuh Elea.


" Terus apa?"


Rey yang menggaruk lehernya dan memainkan mimik wajahnya. " Lebih baik sekarang makan." Rey yang tampak manis menyuapi Elea dengan sabar.


" Lain kali, kalau mau pergi-pergi atau ingin pulang sendiri, kan ada supir dan mobil kantor. Kenapa harus pakai ojek online?"


Rey menatap ke wajah Elea yang tetap cantik meskipun sedikit kesal karena kecelakaan ini.


" Kamu sadar nggak sih? Tindakan kamu itu membahayakan nyawa kamu. Aku akan tuntut, bapak ojek online yang sudah membuat istriku seperti ini." Rey yang terlihat marah.


" Ug..Ug..Ug.." Elea tersedak. " Minum!"


Rey mengambil gelas berisi susu putih dan meminumkan ke mulut Elea. Pergelangan dan tangan Elea yang penuh luka dan diperban membuat dia tidak bisa makan menggunakan tangannya sendiri.


" Hah..." Elea yang menghela nafas. " Honey, aku tahu, mas ojek online itu memang ngebut. Tapi pliiis! jangan kamu tuntut dia. Kalau kamu hanya ingin peringatkan dia supaya tidak ngebut lagi kalau membawa penumpang, aku akan izinin, tapi kalau kamu tuntut dia. Dia saja juga terluka sama seperti aku."


" Elea, ojek online itu jelas-jelas membahayakan nyawa penumpangnya. Bisa-bisa kedepannya dia mencelakakan orang lain kembali. Sama seperti mu." Geram Rey pada Elea yang membela mas ojek online yang sudah jelas-jelas membuat sekujur tubuhnya di perban.


Elea lantas tak bergeming. Suasana sarapannya berubah menjengkelkan.


Sarapan usai dan Rey yang mengerjakan tugas kantornya di rumah. Duduk di kursi kerjanya dengan menatap layar laptop. Sesekali menghubungi Fany dan juga orang kantor lainnya guna mempertanyakan keadaan kantor.


Elea yang pusing dengan tubuhnya yang sakit semua kalau dia gerakkan. Kesal dengan dirinya sendiri mengapa harus mengalami kecelakaan seperti ini. Berakhir dengan tak berdaya dan tidak bisa apa-apa dalam beberapa hari ke depan. Hanya bisa memandangi Rey yang sibuk dengan segudang pekerjaan dan aktivitasnya yang dia habiskan di meja kerja.


Rey yang sadar, jika istrinya sepertinya terlalu lama duduk di kursi rodanya namun tak berani meminta tolong kepadanya. Betah juga dia, sepanjang pagi sampai siang duduk di kursi roda. Rey yang memperhatikan Elea diam tanpa kata. Berjalan menuju kursi roda Elea. Rey kemudian menggendong Elea dan meletakkan tubuhnya di atas ranjang.


Elea yang terkejut melihat Rey yang menggendong dirinya. Matanya tak berhenti memandangi bulu-bulu tipis menggoda yang memagari tulang rahang suaminya.


Baru satu hari duduk di kursi pesakitan, sudah membuat Elea tidak tahan. Aktivitasnya yang bergantung kepada orang lain membuat dirinya harus lebih bersemangat menggerakkan otot-otot kaki dan lengannya supaya tidak manja.


" Kamu kenapa?" Rey yang langsung panik menyentuh lengan-lengan Elea dan membenarkan posisi lengan nya. Rey sadar bahwa istrinya tidak sabar dengan sakit yang dideritanya.


Hari kedua Elea dirawat di rumah, berikut dengan Rey yang juga tidak masuk kerja dan hanya menghabiskan waktu dan bekerja di dalam kamar.


Seperti hari kemarin, Elea yang sudah rapi, wangi dan tampil segar dengan dibantu bibi yang memandikannya dengan telaten.


" Biar saya saja bi." Rey yang mengambil peralatan dalam kotak dari tangan bibi untuk mengganti perban dan mengoles salep pada luka-luka Elea.


" Baik Tuan, kalau begitu saya permisi."


" Iya bi, tolong siapkan makan pagi untuk nona Elea!"


" Baik." Bibi yang kemudian meninggalkan kamar keduanya dengan tidak lupa Elea yang selalu mengucapkan terimakasih kepadanya.


" Sini aku obatin dan ganti perbannya."


Elea terkejut karena tidak menyangka Rey mau melakukannya.


Rey dengan sabar membuka perban dan mengganti setiap perban yang melekat di hampir semua area kaki dan tangan Elea.


Sementara Elea yang terus memandangi suami tampan singa nya yang sedikit lebih jinak ketika merawat dirinya sakit.


Elea yang senyam-senyum sendiri memperhatikan Rey begitu perhatian kepadanya.


" Jangan salah paham! Aku merasa bersalah saja, karena sudah membuat tubuh mu dipenuhi dengan tempelan perban." Rey yang tiba-tiba sengak kepada Elea.


Elea yang kemudian menenggelamkan senyumnya berubah menjadi datar dan biasa saja menatap suami singa nya. Sepertinya dia tidak akan pernah berubah. Di depanku dia akan selalu memainkan perasaanku, sebentar membuat kesal, sebentar membuat sedih dan sebentar lagi membuat aku bisa memujanya seperti dewa. Sabar Elea. Begitulah Rey Andro. 6 bulan, kamu sudah bisa melalui hidup bersama dengannya. Bahkan kamu bisa menjalani aktivitas apapun dengannya di dalam kamar ini. Pernah juga...Elea yang mengingat kejadian khilaf satu kalinya gegara menuruti titah Tuan Di Andro yang berujung malu dan hanya ditertawakan oleh Rey karena pada kenyataannya memang Rey belum bisa mencintainya. Kamu harus lebih ekstra kebal dada Elea! Elea yang memberi semangat pada dirinya sendiri.


Rey tahu Elea sedang melamun. Rey sengaja menekan dan sedikit lebih keras saat memakaikan perban baru kepadanya.


" Ao...saakiiiiit." rasa sakit pada lukanya membuat matanya berkaca-kaca.


Antara menyesal dan menyenangkan ketika melihat Elea meringis kesakitan karena ulahnya. Rey yang dalam hatinya tersenyum menggelikan melihat wajah Elea. " Maaf Honey. Aku tidak sengaja."


Elea yang masih meresapi sisa-sisa rasa sakit karena ulah Rey yang terlalu kasar dalam mengganti perban.


" Nah, sudah semua. Sekarang giliran salepnya yang di oles." Rey yang mengoles salep di bagian luka yang lecet-lecet di area sikut, lengan, tangan dan juga area kaki. " Apa ada lagi?"


" Biar aku saja!"


" Hehm..." Senyum menyepelekan dari Rey. " Emang bisa? Bagian mana yang belum? biar aku saja."


" Bagian punggung aku." Elea yang memainkan wajah menangis bercanda bagai anak kecil yang pasrah menangisi sakitnya.


Rey yang seketika terdiam. Menggaruk kulit kepala berulang yang sebenarnya tidak gatal. Ingin membuka baju yang Elea kenakan tapi tidak mungkin. Menyuruh bibi adalah salah satu jalan keluarnya.


BERSAMBUNG