Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 7 part 3



Rey yang bergegas keluar setelah meeting dengan pimpinan direksi selesai. Langkah cepat dengan sedikit berlari menuju parkiran tempat dimana mobilnya terparkir. Rey yang ingin membuka mobilnya. Meraba semua saku di jasnya untuk menemukan kunci mobilnya. " Sial." Rey akhirnya berlari dan kembali masuk menuju ruang kerjanya. Tingkah lari-larinya mengundang pembicaraan para staf yang melihatnya. Termasuk Elea yang baru saja keluar dari ruang meeting. Melihat suaminya lari-larian seperti orang kebingungan. Mencari sesuatu.


Rey yang bahkan lupa dimana dia menaruh kunci mobilnya. " Harusnya sih ada disini." Rey yang mengingat kejadian pagi tadi. Dan bergegas keluar. Bug. Elea dan Rey bertabrakan dengan sangat kerasnya.


" Ao..." Elea yang tersungkur jatuh ke lantai dengan sepatu yang mencelat terlepas dari kakinya.


" Sorry, sorry Honey..." Rey yang membantu Elea untuk bangun dan berdiri. Rey juga merapikan semua berkas-berkas milik Elea yang berserak. " Sakit?"


Elea yang meringis dengan tangan kanan yang memegang pinggulnya karena terbentur dengan lantai.


Rey yang bingung. Dengan tangan yang canggung ingin memijit namun tidak mungkin dia akan melakukannya. Karena menurutnya ini adalah bagian yang sedikit sensitif dan Elea juga pasti tidak akan suka. " Duduklah Honey!" Rey yang menuntun Elea ke tempat duduk.


" Ao..." Elea kembali meringis kesakitan. Ketika pantatnya menempel ke tempat duduk.


" Huffft..."


Rey yang merasa bersalah, tidak mungkin akan langsung meninggalkan Elea begitu saja. " A-aku pijit."


" Nggak usah." Elea yang menahan sakit di area pinggul dan pantatnya.


" Apa kamu tahu kunci mobil aku Honey?"


Rey pasti penasaran dengan isi box container itu. Tapi kan, siapa pengirimnya juga tidak jelas. " Em..." Elea yang mengingat kejadian pagi tadi. " Sepertinya kamu berikan ke Fany."


" Oh my God." Rey yang menepuk jidatnya lantas berdiri dan berjalan cepat. Membuka pintu ruang kerjanya. " Fany!"


Namun sayangnya Fany sedang tidak ada ditempat. Rey yang berjalan mendekat ke meja Fany. Tak terlihat ada kunci mobilnya tergeletak disana. Sepertinya Fany menyimpannya. Rey dibuat kesal sendiri pagi ini. Hanya ingin membuka box container saja susahnya minta ampun. " Huffft...." Rey yang terlihat pasrah.


" Pak Rey."


" Mana kunci mobil Fany!"


" Oh iya pak sebentar."


" Buruan Fany!"


" Iya pak." Fany yang mencari laci per laci meja kerjanya. " Tadi saya taruh sini." Fany yang masih sibuk mencari kunci mobil yang dititipkan kepadanya.


" Fany..! Geram Rey dengan menggigit giginya.


" Oh, ini dia pak." Kunci akhirnya ketemu karena terselip dibeberapa tumpukan kertas di laci meja.


Rey menyahutnya dari tangan Fany dan berlari menuju mobilnya.


Tit..Tit.. Rey kemudian membuka bagasi mobilnya. Membuka box container misterius yang dia sendiri tidak tahu apa isinya. Terlihat tumpukan pertama adalah bingkai fotonya dengan Jessica yang di unggah Jessica tadi malam. JESSICA. Suara lirih Rey berbisik kepada dirinya. Rey kemudian mengambil secarik kertas yang ditulis Jessica.


Hai Rey...


Senang sekali mengenalmu. Banyak cerita diantara kita 10 tahun lalu. Aku dan kamu yang sama-sama masih lugu. Masih belum bisa dan mengerti apalagi memahami dari sebuah konsekuensi dari keputusan dari dalam diri. 4 tahun menjalin hubungan denganmu, ternyata memiliki warna tersendiri. Dari kita yang ketemu karena perjodohan teman. Dari kita yang jadian juga berawal dari saran teman. Edo.


Rasanya sulit Rey, ketika harus menerima kenyataan, berpaling dari orang yang kita sayang. Entah, apa yang terjadi dengan diriku. Setelah mendengar kabar pernikahanmu yang begitu menggemparkan. Semuanya berubah. Awalnya...


mungkin terkesan karena sekarang kamu menjelma menjadi sosok laki-laki sempurna. Hingga membuat aku kembali jatuh hati dan tergila-gila. Kamu lebih tahu aku kan Rey? Dari dulu, kriteria pria sepertimu yang aku damba. Beribu maaf jika aku pernah melukai hati dan perasaanmu waktu dulu. Kembali lagi. Kriteria mu sekarang yang dulu ada di mantan kekasihku Mike. Hingga aku meninggalkanmu begitu saja. Jelas itu perbuatan yang tidak elok Rey. Aku menyadarinya.


Sekarang...


Oya Rey...


Pagi ini aku akan terbang ke Australi.


Membawa luka penolakan darimu. Yang dulu pernah aku perbuat kepada mu. Entah sampai kapan aku akan tinggal di Australi Rey.


Namun satu hal yang harus kamu tahu. Jika hatiku tidak akan berubah untuk selalu mencintai mu.


Berharap kedatangan mu adalah mustahil Rey...


Good Bye, Jessica.


Rey yang memasukkan kembali box container beserta surat dari Jessica ke dalam bagasi mobilnya. Dengan cepat masuk ke dalam mobilnya meskipun dia tahu dia sangat terlambat jika harus mengejar keberangkatan Jessica ke Bandara. Menyetir mobil dengan sangat ugal-ugalan yang membahayakan nyawanya sendiri. Demi Hanya ingin mengucapkan salam perpisahan kepada Jessica. Menurutnya tidak masalah jika dia harus mengabulkan permintaan Jessica untuk terakhir kalinya. Hanya bertemu dan mengucapkan salam perpisahan.


Ciiiiiiiiit. Ban mobil Rey yang bergesekan dengan aspal. Berlari masuk ke dalam Bandara dengan terus mencari Jessica. Wajah gelisah Rey yang mendatangi salah satu petugas bandara dan mempertanyakan keberangkatan pesawat menuju Australi.


" Ada yang bisa saya bantu pak?"


" Em. penerbangan ke Autrali?"


" Untuk pagi ini ada 2 maskapai keberangkatan menuju Autrali. Dan Maskapai Dengan seri Noveltoon sudah berangkat satu jam yang lalu pak."


" Owh, satunya?"


" Satunya...sepertinya tadi sedang delay, dan akan berangkat beberapa menit kemudian."


" Terimakasih ya mbak." Rey yang berjalan pasrah. sepertinya Jessica sudah berangkat.


Bandara seluas ini, mana mungkin menemukan Jessica dalam 5 menit. " Huft..." benar katanya. Mustahil.


Rey yang tetap mencari Jessica namun pasrah jika dia tidak dapat menyampaikan salam perpisahan terakhir kalinya kepada Jessica. Rey yang berjalan kebingungan, menoleh sana-sini guna mencari keberadaan Jessica. Rey juga tidak tahu, Jessica menunggu di terminal berapa.


Rey yang berdiri menatap Pesawat yang sepertinya akan terbang. Mungkin itu pesawatnya Jessica. Jessica sudah berada di dalam pesawat itu. Rey yang berdiri lunglai. Dengan kedua tangan yang dia masukkan ke kantong celananya.


" Thanks ya Rey."


Rey yang terkejut mendengar suara yang ada di belakangnya. Rey akhirnya membalikkan posisi berdirinya. Jessica tengah berdiri dengan mata berkaca-kaca dan berharap pelukannya.


Rey tidak sanggup menolaknya. Rey selalu berdalih dengan kata. Anggap saja ini yang terakhir kalinya. Akan tidak menjadi masalah, karena ini adalah salam perpisahan terakhir kalinya dengan Jessica. Selalu itu yang menjadi pembenaran atas tindakannya jika menyangkut dengan Jessica.


" Rey...Thanks."


Rey dan Jessica yang berpelukan. Rey memberikan dadanya untuk dipeluk oleh Jessica. Terasa sekali Jessica memeluknya dengan erat. Enggan melepaskannya. Rey mengusap punggung dan juga rambut halus Jessica yang tergerai.


Bulir-bulir bening keduanya jatuh membasahi pipi. Rey tidak kuat melihat kesedihan Jessica. Bertanya pada dirinya. Mengapa harus seperti ini?


Jessica kemudian melangkahkan kakinya menuju pesawat yang sebentar lagi siap terbang. Keduanya tanpa kata. Hanya bahasa tubuh mereka yang menjelaskan segalanya.


Rey yang berdiri terpaku hanya bisa memandang dari kejauhan kaki Jessica yang melangkah pergi menjauh darinya.


Sementara Jessica sesekali menoleh ke belakang untuk menatap pria pujaan hatinya dan pergi meninggalkannya dengan membawa luka.


BERSAMBUNG