Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 7 part 6



Bibi yang sudah mengoles salep di area punggung nona Elea. " Saya keluar dulu nona."


" Terimakasih ya bi."


Bibi mengangguk dan berjalan keluar. Namun sebenarnya bibi mendapati hal aneh ketika menyaksikan Tuan Rey dan nona Elea yang menurutnya tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya. " Padahal hanya mengoles salep di area punggung, mengapa harus bibi yang melakukannya? padahal pak Rey, bisa mengganti perban dan juga mengoles di semua luka lecetnya nona Elea di bagian tubuh lainnya. Belum lagi masalah mandi, kan sudah menjadi suami istri. Mengapa nona Elea harus malu. Bukannya...?"


Bibi yang ingin berkata lirih dalam dirinya bahwa harusnya suami istri kan sudah tahu senjata penakluk masing-masing.


" Ada apa bi?"


Tuan Di Andro yang memperhatikan bibi termenung seperti memikirkan sesuatu.


" Tidak ada apa-apa Tuan."


Bibi yang menyiapkan makan pagi di meja makan.


Rey yang sedang sibuk dibantu dengan asisten rumah tangga yang lain membawa kursi roda Elea turun ke bawah. Sementara Rey menggendong tubuh Elea menuruni tangga yang lumayan melelahkan. Nafas Rey tersengal setelah mendudukkan Elea di kursi rodanya. " Lagi-lagi berakhir merepotkan." bisik Rey tepat ditelinga Elea.


Elea yang acuh dengan kata-kata suaminya. Menganggap angin yang tak semestinya di dengarkan. Berusaha menikmati supaya terasa menyejukkan meskipun membuat panas dada.


" Bagaimana kabar kamu menantu ku?"


" Sudah jauh lebih baik Tuan Di." Elea yang memberikan senyumnya.


Rey kemudian menyuapi Elea di depan ayahnya. Rey bahkan bersikap manis dengan mengusap tisu dipinggir bibir Elea yang terkena kuah bubur ayam.


Bibi yang berada di dapur melihat tingkah keduanya yang berbanding terbalik dengan apa yang dilihat dan didengar saat berada dalam kamar mereka.


Elea yang lelah sebenarnya dengan bermain sandiwara seperti ini. Malas meladeni Rey yang sikapnya selalu mempermainkan perasaannya. Namun tak ada pilihan selain mengikuti alur ceritanya.


" Hari ini mau kemana kamu Rey? Terlihat rapi ?"


" Hari ini, mengantar Elea kontrol ke rumah sakit yah. Setelah itu mendatangi mas ojek online yang membahayakan nyawa Elea."


" Lalu apa yang akan kamu lakukan?"


" Em...Elea melarang ku menuntutnya, jadi aku akan memperingatkan secara keras. supaya ke depannya dia lebih hati-hati dan tidak ada penumpang lain yang mengalami hal sama seperti Elea."


Tuan Di yang menganggukkan kepalanya. " Kamu juga harus lebih hati-hati Elea. Jika kamu melanggar dengan naik ojek online lagi. Padahal ada mobil dan supir kantor yang kapan saja bisa mengantarmu, bukan tidak mungkin saya mencabut keputusanku. Dengan kamu tetap berada di rumah tanpa harus bekerja."


Deg. Jantung Elea sesaat terasa berhenti. Haduuuh, mengapa hidupku rumit sekali. Harus menjalani pernikahan terpaksa ini. Bermain sandiwara setiap hari dengan suami singa yang gila. Belum lagi dengan tekanan Tuan Di yang menyuruhku untuk membuat putranya jatuh cinta. Ditambah, jika aku melanggar naik ojek online lagi, aku tidak dibolehkan bekerja. Menyedihkan sekali hidupku. Elea yang tertunduk lesu.


Ada anak laki-laki kecil menangis sendirian. " Hikz...hikz...hikz..."


" Hai jagoan...Kenapa menangis?"


Anak laki-laki itu tetap menangis dan tidak berhenti meskipun Rey bertanya kepadanya.


" Apa kamu sendirian? dimana ibu dan ayahmu."


" Hi...hi...hi...hi..." Sesenggukan anak laki-laki itu menangis dan berusaha menjawab. " Aku nggak tahu dimana ayahku om. Tadi di sini."


" Ya sudah, sekarang ikut om. Kita cari ayah adik ya!"


Rey yang mengantar anak laki-laki itu ke salah satu petugas rumah sakit supaya mengumumkan kepada orang tuanya jika anak laki-laki itu mencari ayahnya. Rey menunggu anak laki-laki itu sampai menemukan ayahnya.


Sembari menunggu orang tua anak laki-laki itu datang. Rey berdiri kaku mengingat kejadian menyedihkan puluhan tahun silam. Seusia anak laki-laki yang disampingnya. Rey membayangkan jika dirinya menangis terus-menerus mendapati perpisahan dengan ayahnya yang harus masuk ke penjara. Perpisahan yang menyedihkan dan menyesakkan. Banyak polisi yang malam itu mendatangi rumahnya dan membawa ayahnya pergi. Pak Siswanto ayah Elea supir pribadi ayahnya yang menangis, menarik dan memeluknya. Kejadian malam paling menyedihkan dalam hidupnya. Sejak saat itu. Rey yang dibawa hidup oleh Pak Siswanto ke rumahnya. Hatinya hancur dan setiap harinya bersedih karena harus berpisah dengan ayahnya bertahun-tahun lamanya. Kedatangan Ayahnya selalu dirindukan oleh Rey. Namun saat itu hanya menjadi angan-angan dalam benaknya. Pak Siswanto bahkan tidak pernah membawa dirinya untuk bertemu sekalipun dengan ayahnya. Setelah Rey SMP. Pak Siswanto ayah Elea baru menceritakan kalau ayahnya sedang menerima hukuman penjara. Rey yang sudah mulai berdamai karena tumbuh tanpa ayah dengan cukup lamanya. Namun dibalik itu ada jasa pak Siswanto ayah Elea yang dengan gigih membesarkannya tanpa kekurangan kasih sayang seorang ayah. Terlintas wajah Elea kecil dalam kepala yang selalu bersamanya dan selalu disayangi nya.


Rey yang menganggap Elea adiknya sendiri, tidak suka ketika Elea dijahili oleh sekelompok anak nakal yang berani mengganggu Elea. Dengan sangat gagahnya Rey selalu membela Elea yang sangat dia cintai seperti adiknya sendiri. Mata Rey berkaca-kaca. Dia sejujurnya enggan membuka penderitaannya saat berpisah sangat lama dengan ayahnya. Karena menurutnya, itu adalah cerita hidupnya yang paling dia benci. Namun mengapa, anak laki-laki disampingnya benar-benar sudah mengingatkannya.


" Syukurlah Rei..." Ayah dari anak laki-laki yang kemudian memeluknya.


Diikuti tangis dan pelukan dari sang anak. " Ayah..."


Ingatan Rey seketika berhenti.


" Terimakasih Tuan, Nona."


" Sama-sama pak." Rey kemudian menekuk kakinya supaya posisi tingginya sama dengan anak laki-laki yang kebetulan bernama Rei. " Hai...jagoan, jangan nangis lagi ya!"


" Iya om, terimakasih Om, Tante." jawab anak yang bernama Rei dengan masih sesenggukan dan mengusap air mata.


" Nama kita sama, REY." Rey yang menyentuh pipi anak laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca.


Anak laki-laki dan ayahnya kemudian pergi meninggalkan Rey dan Elea.


Sementara Elea melihat sikap Rey yang lain dari biasanya. Sepertinya dia penyuka anak-anak. Manis sekali sikapnya sama anak-anak. Sementara...Elea yang akan mbatin jika sikap Rey bagaikan singa terhadapnya.


Entah mengapa Rey tiba- tiba bersimpuh di depan kursi roda Elea. Menarik perlahan lengan dan jemari yang penuh luka lecet dan sebagian perban. Cup. Rey mencium tangan Elea lama sekali. Meresapi rasa menyesalnya setelah pernikahan ini. Telah memperlakukan Elea sesuka hatinya. Padahal nyata sekali, jika benar keputusan ayahnya menikahkan mereka berdua. Setelah Rey mengingat kembali begitu besar jasa ayah Elea dan juga Elea ketika Rey masih duduk di kelas 1 SD. Jujur Rey mengubur lama luka itu. Bahkan melupakannya karena itu adalah sejarah dalam hidupnya yang paling teramat menyedihkan baginya.


BERSAMBUNG