Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 11 part 5



Elea mencoba bangun dari pembaringannya dengan susah payah. Masih tersisa sakit pada bagian perutnya. Rey yang berusaha membantu, baru saja ingin menyentuh lengannya, namun Elea bergegas menampiknya. " Aku bisa sendiri." wajah yang tidak bisa dipungkiri bahwa dia masih marah dengan suaminya.


Rey yang sudah tidak tahan lagi ingin menjelaskan kepada Elea seperti apa kronologi sebenarnya. " Bukan aku yang menghamili Jessica."


Elea yang baru mendapat dua langkah, kemudian berhenti. " Sampai kapan kamu akan berbohong?" Dengan nada datar dan tegas memendam amarah. Badannya bahkan tak berbalik untuk menatap suaminya.


" Honey, aku tidak bohong." Ekspresi Rey yang antusias menjelaskan berjalan ke hadapan istrinya.


" Hehm, kemana? saat kamu pamit kepadaku ingin pergi ke toilet? kemana kamu pergi saat itu? Kemana?" berawal dari nada datar kemudian meninggi penuh getir. Mata yang berkaca-kaca diikuti dada yang bernafas cepat menahan puncaknya amarah. " Kebohongan apa lagi yang tidak aku ketahui saat kita berada di Australi?" Elea benar-benar mengintimidasi Rey tanpa jeda.


Rey yang melongo. Mulutnya menganga tanpa kata. Kerutan tipis di dahinya mengukir pertanyaan pendek. Darimana Elea tahu?


" Kamu terkejut aku mengetahuinya."


Rey yang masih membisu.


" Jessica sendiri yang mengatakannya padaku." Elea yang mengatakan kata tersebut tepat ditelinga Rey sembari meninggalkannya. Melangkahkan kakinya kembali.


Rey yang masih mematung. Menahan amarahnya untuk Jessica.


Sementara Elea meminta supir untuk membawanya pulang.


Rey yang tahu jika kondisi istrinya sedang tidak stabil. Salah satu cara adalah membuktikannya. Supaya masalah ini benar-benar selesai dan tidak menghantui rumah tangganya.


Rey kemudian kembali ke ruang pembaringan ayahnya.


" Rey..." panggil Tuan Di kepada putranya.


" Ayah, ayah sudah bangun. Syukurlah." Langkah cepat Rey menuju ke ayahnya."


" Bawa ayah pulang Rey!" Pinta Tuan Di kepada putranya.


" Ayah, sebaiknya kita tanya dokter, apakah bisa bisa pulang hari ini?"


Tuan Di yang menganggukkan kepalanya.


.


.


" Syukurlah Tuan sudah pulang." Sambut bibi di depan pintu utama rumah besar Keluarga Andro


" Iya bi." Nada Rey lelah.


Rey kemudian mengantar ayahnya ke kamar dan menyuapi beliau makan. Setelah semua selesai dan Tuan Di bersiap istirahat dan sudah minum obat, Rey kemudian keluar kamar ayahnya menuju kamar suka-duka.


Ceklek. Suara gagang pintu yang tak bisa dielak. Mendapati istrinya sudah tidur miring yang akan membelakanginya. Rey hanya bisa menghela nafas panjang. Suasana rumah, kamar, akhir-akhir ini benar-benar membuat dirinya tersiksa. Namun tetap dia harus berlapang dada dengan semua masalah ini. Entah mengapa, sikapnya yang kasar, arogan seperti dulu sudah tak melekat padanya. Bahkan dia benar-benar berubah menjadi bucin dan tidak tega jika ingin beradu tegang kepada Elea. Sikapnya yang sengak dan suka membentak kepada Elea tidak juga tersemat lagi pada dirinya.


Rey kemudian mengecup kening istrinya. Setelah itu bergegas membersihkan diri dan berganti piyama untuk naik di atas ranjang yang sama.


Elea ternyata belum tidur. Bulir-bulir bening jatuh secara sembunyi-sembunyi dari pelupuk mata. Merasa dikhianati oleh suaminya sendiri. Perasaannya hancur. Tetiba mengingat perjanjian yang pernah dia tanda tangani dengan Tuan Di. Seolah firasat Tuan Di benar adanya, bahwa suaminya tidak akan pernah lupa dengan mantan kekasihnya yang bernama Jessica. Terlintas di kepala, jika Tuan Di tidak memaksa suaminya untuk menikah dengannya, mungkin Rey akan kembali kepada Jessica. Maka dari itu, mengapa Tuan Di membuat perjanjian kepada dirinya secara diam-diam. Menuntut untuk tetap mempertahankan rumah tangga walau badai gelombang tinggi menghantam rumah tangganya. Tapi mengapa Rey berkata kalau bukan dia yang menghamili Jessica? Padahal jelas-jelas, Jessica menunjukkan foto-foto dengan Rey malam itu. Bahkan Jessica sangat berani ingin menyebarkan foto-foto mereka kepada wartawan dan akan menghancurkan nama Perusahaan ANDRO disemua media masa.


.


.


" Panggilkan Elea bi!"


" Maaf Tuan, nona Elea kemarin..."


" Bi, bibi boleh keluar! biar saya saja yang menyuapi ayah." Rey masuk ke dalam kamar ayahnya. Mendengar jelas jika ayahnya sedang mempertanyakan menantu kesayangannya.


" Baik Tuan Rey, saya permisi keluar."


" Iya bi, terimakasih ya."


Setelah bibi keluar dari ruangan, tersisa Rey dan juga Tuan Di. " Dimana Elea?" Tuan Di yang merasa resah dengan keadaan menantunya.


" Elea ada di kamar yah."


" Apa dia baik-baik saja."


Rey yang tidak bisa menutupi raut wajah sedih dalam dirinya. Namun tersadar, jika ayahnya baru saja mendapatkan serangan jantung. Maka dia dengan cepat berbohong. " Elea baik-baik saja yah. Elea hanya mual-mual saja pagi ini."


" Apakah dia percaya padamu?"


" Aku belum jelaskan ke Elea yah. Elea masih marah kepadaku. Sebaiknya ayah makan dan minum obatnya. Jangan banyak pikiran dulu!"


" Iya Rey."


Rey sangat sayang kepada ayahnya. Namun juga tidak tega kalau melihat ayahnya harus sakit karena memikirkan masalah nya.


Setelah Rey selesai dan kembali ke kamarnya. Rey melihat Elea yang tengah membolak-balik makanan di atas piring. Rey berjalan mendekati Elea sembari meraih sendok yang dipegang Elea. " Kamu harus makan!" Tangan kanan Rey yang siap dengan satu sendok makan mendarat masuk ke mulut Elea.


" Aku tidak mau makan." wajah pucat malas Elea melihat suaminya yang duduk menghadapnya.


" Kamu harus makan! apa kamu lupa kata dokter? Janin dalam kandungan kamu itu kembar. Jadi kamu harus makan."


Elea masih tak bergeming sedikit pun. Beberapa detik kemudian, Elea membuka mulutnya dan menerima suapan dari Rey.


" Aku akan buktikan, kalau aku bukan ayah dari anak yang dikandung Jessica. Aku akui, saat aku pamit pergi ke toilet, aku memang mengikuti Jessica yang dibawa paksa oleh seorang laki-laki dengan begitu kasar. Yang ternyata itu adalah mantan kekasih Jessica. Namanya Mike."


Elea yang mau tidak mau harus mendengarkan semua yang dikatakan Rey kepadanya. Meskipun sebenarnya dia malas, karena menurutnya Rey akan mencari segudang alasan untuk melakukan pembenaran.


" Bukan Jessica saja, wanita siapapun, akan saya tolong jika dibawa seorang laki-laki secara paksa. Terlebih Jessica selalu meminta tolong, namun tak ada satu pun yang bisa menolongnya, karena begitu lihainya Mike mengelabuhi semua petugas Hotel malam itu. Namun sepertinya Jessica salah arti. Dia mengira aku masih perduli padanya. Lalu aku kembali setelah menolong Jessica dari kekasihnya. Lalu..."


" Lalu apa?"


" Lalu terjadi malam peristiwa setelah kita kembali dari Sydney. Aku mengambil barang ku yang masih tertinggal di mobil Edo. Tiba-tiba ada yang memukul kepalaku dan aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Aku tiba-tiba..."


" Tiba-tiba apa?" Elea yang kedua kali menyela pembicaraan Rey.


" Tiba-tiba aku sudah berada dalam satu ranjang bersama Jessica. Tapi demi Tuhan Honey. Aku berani bersumpah. Aku tidak melakukan apa-apa bersama Jessica. Setelah aku sadar, aku langsung pergi dan kembali ke Hotel. Dan kamu masih tidur. Kamu ingat bukan? kalau sudut bibir ku ada luka lebam." Rey yang berusaha meyakinkan Elea.


BERSAMBUNG