Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 12 part 7



Dua malam Daniel dan juga mami Indy berada dalam ruang rawat inap rumah sakit dimana Jessica dirawat. Daniel dan juga mami Indy saling bergantian untuk menjaga Jessica. Namun selama dua hari ini. Jessica belum memberikan tanda-tanda untuk kesadarannya kembali. Matanya belum terbuka.


" Selamat pagi." Dokter yang masuk ke ruang rawat Jessica menyapa Daniel dan juga mami Indy.


" Pagi dok." Suara lemas mami Indy diikuti dengan sendu air mata yang perlahan jatuh dari pelupuk matanya.


" Saya periksa pasien dulu ya Bu, pak." Dokter yang mendekat dengan memeriksa mata, tekanan darah Jessica berikut dengan perawat yang mencatat semua hasil dari memeriksa pasien yang bernama Jessica.


" Bagaimana Dok?"


" Bapak, ibu sebaiknya bersabar terlebih dahulu. Kita tunggu sampai malam ini. Karena memang benturan pada kepala belakang ibu Jessica sangat keras. Saya juga belum bisa memutuskan apakah setelah ibu Jessica sadar. Ibu Jessica akan kehilangan sebagian ingatannya atau malah mendapat mukjizat bahwa ingatan dari pada ibu Jessica baik-baik saja."


" Baik Dok."


" Mohon bersabar ya pak. Yang terpenting kondisi jantungnya sudah normal dan jauh lebih baik dibanding hari pertama. Pelan-pelan, semoga hari ini ibu Jessica tersadar."


" Terimakasih Dok."


" Iya sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu."


" Iya Dok." Wajah tak bersemangat dari Daniel yang menghiasi tiga hari ini. Semenjak peristiwa kecelakaan yang membuat Jessica terjatuh dari lantai dua. Daniel bahkan tidak memperhatikan makannya.


Mami Indy yang bangkit dari sofa yang ada di dalam ruang rawat inap Jessica, berjalan mendekat ke arah tempat pembaringan Jessica. Mengelus rambut kepala dan juga mengusap pelipisnya. " Jess, bangun nak!" nada getir terdengar satir dari mami Indy yang tak kuasa lagi dan lagi harus menggenangi pipinya dengan air mata. " Bangun Jess! mami kangen kamu nak." ucap ulang mami Indy sembari menatap nanar wajah putrinya.


Daniel yang juga dadanya bagai teriris mendengar Isak tangis mami Indy. Berjalan mendekati mami Indy dan berkata. " Tante, Tante sebaiknya pulang. Biar saya saja yang menjaga Jessica disini."


Mami Indy menoleh menatap nanar calon menantu idaman yang didamba nya. Daniel begitu sangat perhatian kepadanya dan Jessica. Tak hentinya Mami Indy sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah mengirimkan sosok Daniel yang membuat putrinya kembali tersenyum bahagia. " Iya nak Daniel, Tante akan pulang dan kembali besok. Tante titip Jessica ya. Besok pagi Tante akan kembali ke sini." Mami Indy sembari mengambil tas yang berada di atas single sofa.


" Iya Tante. Tante hati-hati."


" Iya." Mami Indy yang menutup pintu ruang VVIP no. 1 itu.


Daniel yang duduk di samping tempat pembaringan Jessica. Daniel yang kelelahan menyandarkan kepalanya di pinggir tempat dimana Jessica terbaring tidur. Saking lelahnya Daniel tanpa sadar memejamkan mata didekat dengan lengan kiri Jessica.


Jessica perlahan membuka matanya dan mengerakkan jemarinya. Kepalanya terasa berat dan berputar-putar memandang langit-langit atap rumah sakit dengan samar-samar. " Ha-us...Ha-us."


Daniel yang samar-samar mendengar suara Jessica kemudian terbangun. Menoleh ke arah Jessica yang sudah membuka matanya. " Jessica." Daniel yang bahagia melihat Jessica sudah sadar dari tidur panjangnya selama 3 malam.


" A-ku ha-us." Daniel yang memperhatikan gerakan bibir Jessica yang terdengar samar, namun Daniel mengerti bahwa Jessica sedang haus dan meminta minum.


" Iya." Daniel yang mengambil segelas air putih berikut dengan sedotan untuk Jessica minum tanpa harus menggerakkan tubuhnya.


Daniel kemudian memasukkan sedotan ke dalam mulut Jessica dan Jessica meminum air putih yang diberikan oleh Daniel.


Daniel memencet tombol panggilan kepada petugas jaga malam pada saat itu untuk datang ke ruangannya.


" Permisi pak, ada yang bisa dibantu?" tanya suster jaga malam itu.


" Iya sus, nona Jessica sudah sadar."


" Terimakasih sus."


" Iya sama-sama pak." Suster yang menutup kembali daun pintu dan berjalan ke arah ruangan dokter yang menangani pasien VVIP no.1 atas nama nona Jessica.


" Syukurlah Jess kamu sudah sadar." Daniel yang mengembangkan senyumnya sembari tak bisa ditahan air matanya jatuh menetes ke pipinya.


Namun Jessica hanya diam menatap pria yang ada di depan matanya. Kepalanya sangat berat dan terasa pusing. Belum lagi bagian tulang ekornya sangat sakit dan terasa nyeri yang luar biasa. Semuanya sangat tidak mengenakkan baginya ketika harus berbaring seperti ini.


Daniel mulai gelisah dan cemas ketika Jessica seperti tidak merespon ucapannya. Jessica seperti menatap dengan tatapan kosong ke arahnya.


" Permisi pak." Dokter yang menangani Jessica datang.


" Iya Dok."


Dokter yang berjalan dengan diikuti seorang suster sedang memeriksa kondisi Jessica. " Selamat malam ibu Jessica?" sapa dokter saat memeriksa kondisi Jessica


Jessica hanya mengedipkan mata. Isyarat kepada dokter yang menyapanya.


" Bagus, bagus, bagus. Syukurlah, semuanya bagus." Dokter yang menyatakan hasil setelah mengecek kondisi Jessica. " Ibu Jessica boleh istirahat kembali ya, besok dokter akan tanya-tanya lebih banyak lagi."


" Bagaimana dok?" tanya Daniel.


" Ibu Jessica baru saja tersadar pak. Sebaiknya besok saja ibu Jessica kita tanya tentang semua ingatannya. Kasihan dia, biarkan dia istirahat." Ujar dokter kepada Daniel. " Ibu Jessica, sebaiknya ibu istirahat kembali ya, apa ada yang ibu keluhkan?" Tanya Dokter sembari memperjelas gerakan bibirnya yang dia arahkan kepada mata Jessica.


" A-ku pu-sing." Jessica yang berusaha keras mengeluhkan apa yang sedang dia rasakan.


" I-bu Je-ssi-ca pu-sing." dokter yang memperjelas kembali kata per kata dengan gerakan bibirnya.


Jessica yang mengedipkan matanya. Pertanda dia respon iya terhadap pertanyaan dari dokter.


" Iya, nggak papa. Baru pertama soalnya ibu sadar setelah 3 hari ibu tak sadarkan diri. Jadi wajar, kalau kepalanya pusing dan tubuh terasa sakit semua. Sekarang ibu istirahat ya."


Jawab dokter dengan mengatakan sangat pelan kata per kata supaya Jessica mengerti apa yang disampaikannya.


Jessica kembali mengedipkan matanya.


" Ya sudah kalau begitu saya permisi pak. Sudah ada dalam obat yang diminumkan kepada ibu Jessica untuk nyeri di kepalanya akibat benturan dengan lantai."


" Terimakasih ya dok."


" Sama-sama pak." Dokter dan perawat kemudian keluar dari ruang Jessica VVIP no.1.


" Syukurlah Jess, kamu sudah sadar. Aku harap kamu baik-baik saja. Tidak terjadi hal-hal aneh di kepalamu. Sudah cukup kamu keguguran itu saja." Daniel yang mengecup jari jemari Jessica dan mengelusnya sembari menatap Jessica nanar. Tidak sampai disitu, Daniel juga mengelus lembut rambut kepala Jessica dan keningnya me nina bobokkan supaya Jessica kembali istirahat.


BERSAMBUNG