
" Selamat pagi pak Rey." Dua orang desain interior langganan Keluarga Andro yang sedang berdiri di ruang tamu.
" Selamat pagi pak." Rey menjabat kedua pria yang berdiri di depannya tersebut. " Silahkan duduk. Silahkan diminum terlebih dahulu kopinya pak." Untuk kedua kalinya Rey mempersilahkan kedua pria yang duduk di sofa panjang ruang tamu miliknya.
" Ini pak desain-desainnya." salah satu pria memberikan kertas tebal dengan banyak desain kamar tidur di dalamnya.
" Okay." Rey mengambil kertas tebal penuh dengan desain ruang tempat tidur bayi dan juga desain kamar tidur barunya di lantai dasar.
Elea yang kata bibi di suruh ke suaminya ke ruang tamu. " Honey." Panggil Elea lirih menoleh ke arah Rey.
" Sini duduk." Rey yang menepuk sofa di sebelahnya dengan telapak tangan kanannya. Memberikan lembaran kertas tebal di pangkuan Elea.
" Apa ini?"
" Lihat aja! Pilih yang kamu suka desainnya."
Elea yang melihat dari atas hingga ke bawah desain-desain cantik untuk kamar barunya. " Aku terserah kamu aja Honey." Elea yang memberikan lembaran kertas tebal kepada Rey kembali.
" No! kamu yang pilih."
Elea menghela nafas panjang. " Okay, I choose number one." Jari telunjuk Elea yang menunjuk pada gambar pertama yang terlihat jelas sangat Eksklusif namun simpel dan terlihat elegan.
" Okay. Sesuai pilihan istri saya, dia memilih desain nomor satu. Untuk desain ruang bayinya, Soon." Rey yang berdiri karena akan berangkat ke kantor.
" Okay Pak Rey.Terimakasih waktunya."
" Kalau begitu saya tinggal dulu. Selebihnya sama orang rumah dan istri saya yang akan memperlihatkan ruangan mana yang akan di desain menjadi kamar tidur sesuai gambar ini.
" Baik pak Rey."
" Honey aku berangkat dulu." Bibir Rey yang mengecup kening Elea.
Elea yang menganggukkan kepalanya.
" Saya permisi dulu bapak-bapak!" Rey yang menjabat kedua telapak tangan kedua pria tukang desain interior. Rey kemudian meninggalkan ruang tamu dan beralih ke garasi menuju mobil yang terparkir disana.
" Mari pak, saya tunjukkan ruangannya." Elea yang berdiri dengan langkah pelan sembari memegangi perut besarnya.
Kedua pria yang bangkit dari tempat duduk dan mengekori Elea menuju ruang kosong lantai satu yang akan dijadikan kamar baru.
" Ini pak ruangannya." Elea yang membukakan daun pintu ruang kosong yang memiliki jendela kaca lebar sekali menghadap ke taman belakang. Ruang kosong yang biasanya dijadikan tempat meletakkan pakaian hasil dari laundry akan disulap menjadi kamar tidur ibu hamil selama masa kehamilan berakhir dengan desain yang akan menyulap kamar polos ini menjadi kamar yang sangat eksklusif dan elegan sesuai desain pilihan Elea.
Sementara Rey yang baru saja keluar dari mobil mewahnya. Berjalan masuk ke dalam loby kantor dan disambut oleh beberapa staf yang memperhatikannya aneh.
" Pagi pak Rey." Sapa salah satu karyawan yang berpapasan dengan Rey namun setelah itu terlihat sekali kalau stafnya menahan tawa dibalik telapak tangan yang sengaja ditutup kan dimulutnya.
" Pagi " Rey yang terus berjalan namun selalu bertanya apakah ada yang aneh dengan dirinya? Rey terus berjalan menuju ruangannya hingga Fany menyapa.
" Pagi pak Rey."
Rey yang menoleh ke meja kerja Fany. " Pagi Fan."
" Hihihi." Fany yang cekikikan menyembunyikan tawanya menunduk.
Fany yang tak berhenti tertawa kecil dengan unjuk gigi.
" Fany." Rey dengan nada datar namun sorot mata tajam mengintimidasi Fany.
" Maaf pak, sebaiknya bapak segera ke kamar mandi ruangan bapak deh!" Fany yang masih tertawa cekikikan.
Rey yang wajahnya mulai sengau, merasa ada yang tidak beres karena sedari tadi dia ditertawakan oleh staf-staf yang berpapasan saat menyapanya. Rey bergegas masuk ke dalam ruang kerja lalu menuju kamar mandi tanpa berhenti sejenak pun.
Dan benar saja. " Astaga Honey." Gigi-gigi Rey yang saling mengigit karena saking gemasnya dengan ulah istrinya. Ternyata ada bekas gambar bibir lipstik Elea di kedua pipinya. Rey segera membasuh wajahnya dengan gemericik air dari wastafel dengan bantuan cermin di depannya yang memandu.
Kring Dering ponsel dari saku celana Rey.
HONEY nama pada layar ponsel yang terlihat jelas memanggil. Rey sepersekian detik memandang layar ponselnya dengan gemas.
Rey lalu memencet tombol hijau yang berarti menerima sambungan telepon dari Elea. " Kamu mau bikin malu saya?" Rey yang langsung menerocos tanpa jeda bertanya pada Elea.
" Hahaha." Gelak tawa istrinya memekik ke telinga Rey.
" Ini nggak lucu Honey. Tut...Tut...Tut...".Rey langsung mematikan ponselnya. Sebenarnya Rey mematikan ponselnya bukan karena marah melainkan dia hanya gemas kepada Elea.
Sementara Elea dengan ekspresi heran karena suaminya tampak kesal betul dengan tindakan konyolnya yang sengaja tidak menghapus bekas lipstik bibir yang menempel di pipinya. " Lagian masak iya tidak melihat spion mobil sama sekali." ujar lirih Elea yang menepuk jidatnya.
Rey yang selesai menghapus tato bibir milik istri yang tertinggal di pipi nya. Rey kemudian bergegas duduk di kursi kebesarannya.
Sementara Pak Har yang berada di resto mewah berskala internasional sedang menikmati makan pagi bersama Daniel.
" Apa kamu tahu? mengapa kita bertemu disini?" Pak Har yang meletakkan cangkir kopi yang telah diseruput nya.
" Iya. Membahas masalah Jessica."
" Tuan Di tahu kalau anda dan nona Jessica akan menikah. Tuan Di hanya ingin melepas semua jabatan yang diberikan kepada anda termasuk kepercayaan penuh kepada anda selama ini."
Mulut Daniel tetiba menganga diikuti kedua mata yang melotot. Posisi duduk Daniel yang mulai gelisah namun dia mencoba tenang.
" Tapi Tuan Di sisakan proyek khusus untuk anda. Jadi anda tidak usah khawatir dan Tuan Di sudah memperhitungkan semuanya yang saya yakin lebih dari cukup untuk biaya hidup mewah istri anda kelak. Biaya hidup nona Jessica yang syarat dengan kemewahan dan party kelas sosialita. Saya harap, anda tidak salah pilih istri. Saya harap, nona Jessica berubah semenjak bertemu dengan anda. Dan anda bisa membubungnya ke arah yang jauh lebih baik dari nona Jessica sebelumnya. Yang saya yakin anda sudah tahu pak Daniel."
" Terimakasih pak Har. Iya. Saya tahu betul siapa calon istri saya. Dia sudah menyesali jalan hidupnya dengan bertemu pria yang salah waktu kuliah di Australi. Kini dia mau kembali menjadi Jessica yang dulu. Dan aku siap, menerima segala kekurangan dan kelebihannya."
" Baguslah." Semoga pernikahan anda dilancarkan.
" Terimakasih." Daniel yang mengambil jeda mempertanyakan alasan mendasar apa yang membuat dirinya banyak di pangkas dari jabatan-jabatan yang selama ini dipimpinnya. " Pak Har."
" Iya." Pak Har meletakkan alat makan di atas piring lebar putihnya.
" Apa hanya karena saya menikah dengan Jessica, lantas semua jabatan-jabatan yang saya emban di berbagai perusahaan dan proyek-proyek Tuan Di di copot begitu saja?"
" Ceritanya panjang. Ini menyangkut masa lalu bersejarah 20 tahun silam yang melukai perasaan Tuan Di terkait Perusahaan Andro yang berdiri maju menjadi perusahaan raksasa seperti sekarang."
BERSAMBUNG