Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 12 part 2



Jessica yang sudah duduk di kursi penumpang tepatnya di samping Daniel yang sudah siap melajukan mobilnya.


Jalanan malam yang begitu sunyi. Membuat keduanya bisa mendengarkan suara mobil itu sendiri. Suasana hening juga terasa sampai di dalam mobil. Sampai ketika Daniel memberanikan diri mengatakan pesan dari dokter untuk Jessica.


" Em, kata dokter..." Daniel yang sesekali menoleh ke arah Jessica. Daniel kemudian melanjutkan kata yang akan dikeluarkan dari mulutnya. " Kata dokter, kamu harus lebih memperhatikan kandungan kamu."


Deg. Seketika detak jantung berhenti untuk sepersekian detik. Rasanya malu menyelimuti diri Jessica. Merasa tidak pantas diberi perhatian oleh seorang pria baik seperti Daniel. Terlebih akhir-akhir ini sikapnya yang sudah diluar batas telah melakukan banyak pengancaman kepada Keluarga Andro. " Iya terimakasih." suara sumbang Jessica yang bergetar.


Daniel yang maju mundur ingin bertanya, namun rasanya tidak tepat mempertanyakan masalah pribadi Jessica, mengingat perkenalannya dengan Jessica masih terbilang singkat. Daniel kemudian menyimpan pertanyaannya masalah kehamilan Jessica yang pasti akan dia pertanyakan dilain waktu jika dirasa waktunya sudah tepat.


Mobil melaju hingga masuk ke dalam perumahan yang cukup elit di belakang PACC Mall. Sampai dimana mobil Daniel berhenti di sebuah rumah berlantai dua, berukuran cukup luas bercat coklat tua dan muda yang saling mengkombinasi dengan pagar besi yang menjulang tinggi bergaya klasik.


" Ini rumah kamu?" Daniel yang mengarahkan pandangan matanya ke arah sebuah rumah tepat dimana mobilnya berhenti di depan pintu pagar tinggi itu.


" Iya." Jessica sembari membuka pintu mobil Daniel dan melangkahkan kaki kirinya terlebih dahulu untuk keluar dari mobil.


Begitu juga dengan Daniel yang ikut keluar dari mobil dan berdiri tidak jauh dari Jessica.


" Terimakasih Daniel, sudah mau mengantar saya pulang."


" Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu." Daniel yang membuka pintu mobilnya kembali dan duduk di depan setirnya. Tidak lupa membuka kaca jendela mobil dan melambaikan kelima jemari telapak tangannya kepada Jessica.


" Bye." Ucap lirih Jessica membalas lambaian tangan Daniel. Bertanya dalam dirinya apakah esok sosok pria itu akan berjumpa kembali dengannya?


" Kamu kenapa sayang." Mami Indy yang panik melihat wajah Jessica yang pucat berdiri di depan pintu utama.


" Aku nggak papa mi." Jawab lemas Jessica. " Aku mau istirahat." Jessica berjalan begitu saja meninggalkan maminya yang jelas-jelas cemas semalaman menunggu kabar darinya. Sudah mencoba menghubungi ponselnya berkali-kali namun tak diangkat oleh Jessica. Mami Indy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat putrinya berjalan membelakanginya naik ke lantai dua menuju kamar tidurnya.


" Jessi...Jessi..." Mami Indy yang menyebut berulang nama putrinya. Seolah tahu bagaimana perasaan putrinya dalam mengejar cinta seorang Rey Andro kembali.


Sementara Daniel yang sudah sampai di apartemennya. Membuka jas dan melemparkan di kasurnya. Membuka dasi yang melingkar di lehernya, dan satu persatu membuka kancing kemejanya sembari memikirkan apa benar Rey Andro adalah ayah dari janin yang dikandung Jessica? Pak Har tidak pernah membicarakan ini. Daniel hanya diperintah mendekati Jessica supaya tidak menganggu Rey Andro dan merusak rumah tangga putra dari Tuan Di yang menjadi atasan nomor satunya itu. Namun terbesit kasihan dan iba kepada Jessica jika memang Rey Andro telah khilaf kepadanya dan tidak mau bertanggung jawab akibat tindakan diluar batas dari putra atasan nomor satunya itu. Bagaimana pun reputasi Keluarga Andro adalah segalanya bagian Tuan Di. Terlepas salah dan benarnya hanya Rey dan Jessica yang tahu.


Tapi, apakah aku harus berkencan dengan wanita yang sedang hamil muda? Tapi kalau boleh aku jujur, Jessica memang memiliki kecantikan yang diatas rata-rata wanita lainnya. Parasnya yang sedikit blesteran dan matanya yang kecoklatan senada dengan rambutnya sepundak yang sama coklatnya membuat tubuh tinggi semampai itu tak kalah jika disandingkan dengan Miss world.


Daniel terbenam dengan wajah Jessica yang menghiasi kepalanya. Merasa menyesal mengapa Tuan Di terlambat mempertemukannya dengan Jessica. Karena menurut Daniel, Jessica adalah wanita yang diidamkannya. Siapa coba lelaki yang mau menolak kecantikan dan tubuh indah Jessica. Kalau benar ada pria yang menolaknya, pastilah memiliki alasan tersendiri.


Keesokan harinya. Jessica yang mual-mual berat pagi itu. Harus bolak-balik ke wastafel kamar mandinya guna memuntahkan semua isi dalam perutnya. Jessica kemudian menatap dirinya ke cermin. Menangis kesal, menyesal dan meremas perutnya dengan gemas. " Egh..Egh..Egh.." Tangisan gemas Jessica yang terdengar hingga ke telinga mami Indy.


" Jes..Jessi.." Mami Indy mencoba menarik tangan Jessica yang memukul-mukul perutnya sendiri. " Apa yang kamu lakukan Jess?" Nada sumbang mami Indy memeeluk putrinya.


" Aku benci dengan anak ini mi." sembari menangis histeris Jessica yang menyesali semuanya.


" Jessica..." Bergetar mami Indy menyeka air mata putrinya. Hingga tiba-tiba terdengar suara bel Ting Tung. Sosok Daniel yang berdiri di depan pintu utama pagi-pagi buta ingin mengajak Jessica mencari tempat baru untuk Klinik Kecantikannya.


" Siapa? pagi-pagi sekali bertamu." Mami Indy bertanya lirih. " Ayo Jess! kamu nggak boleh cengeng seperti ini lagi." Mami Indy menepuk lembut pipi putrinya kemudian pergi meninggalkannya dan menapaki anak tangga ke lantai satu untuk membukakan pintu utama.


Ceklek. Suara gagang pintu besar nan panjang itu berbunyi dari pintu yang sangat besar. Mami Indy terkejut melihat sosok pria tampan yang akhir-akhir ini semenjak Jessica kembali ke tanah air, bahkan Jessica tak pernah membawa atau memperkenalkan kepadanya yang hanya sekedar teman lelakinya. " Maaf mencari siapa?"


" Pagi Tante. Perkenalkan saya Daniel." Daniel yang mengulurkan telapak tangan nya untuk berjabat kepada maminya Jessica.


" Oh ya!" Balas Tante Indy yang juga mengulurkan telapak tangannya. Mereka kemudian saling berkenalan.


" Jessica ada Tante."


" Ada, ada." Mami Indy yang terkejut melihat ketampanan pria yang menurutnya tak kalah jauh dengan pria yang terus disanjung putrinya yaitu Rey Andro. Bahkan mami Indy sempat tak berkedip gegara menatap Daniel yang menurutnya adalah sosok pria yang baik. " Silahkan masuk!" Mami Indy yang mempersilahkan Daniel masuk ke dalam rumah. Mami Indy yang berjalan terlebih dahulu diikuti Daniel yang dibelakangnya berjalan mengekori mami Indy. " Silahkan duduk nak Daniel!" Mami Indy mengulurkan telapak tangannya ke arah sofa panjang yang tertata rapi bahkan sama sekali jarang untuk diduduki seorang tamu pria kecuali teman-teman mami Indy.


BERSAMBUNG