Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 6 part 1



Suasana pagi yang tidak begitu menyenangkan. Elea yang melihat suasana meja makan tampak tenang dan hening. Apakah aku yang hanya merasa senang? Ada apa ini? Mengapa semua diam? Tuan Di yang dari tadi menyeruput kopi hangatnya, tanpa menyentuh sarapan paginya. Sementara Rey, Rey hanya membolak-balik makanannya tanpa dimasukkan ke dalam mulutnya. Apa mereka bertengkar karena aku bekerja? Ah, tidak mungkin. Menurutku mereka ada masalah berbeda yang tidak ada kaitannya dengan aku yang dibolehkan Tuan Di bekerja. Elea yang terus melirik ke arah Tuan Di dan juga Rey. Memperhatikan keduanya yang saling diam tak bergeming sedikit pun.


" Aku berangkat yah."


" Aku juga berangkat Tuan Di." Rey dan Elea mencium punggung tangan Tuan Di.


" Cepatlah sedikit jalanmu!"


" Iya...iya. Aku hanya belum terbiasa saja pakai heels 7 cm." Elea dengan jalan seleo'an karena hells yang sedikit mengganggunya.


Rey bahkan tak bergeming sedikitpun ketika berada dalam satu mobil bersama Elea hingga keduanya sampai di depan kantor. Keduanya lantas berjalan menuju mobil. Rey berusaha tidak bersikap dingin dengan Elea. " Honey, come on!" Rey yang memberikan kelima jemarinya untuk digandeng oleh Elea.


Elea yang tersenyum gembira karena hari pertama kerjanya di perusahaan ANDRO. Yang akan memberikan pengalaman yang luar biasa yang tidak akan dia lupakan. Elea memberikan kelima jemarinya diatas telapak tangan Rey. Rey menggenggamnya lalu berjalan menuju loby. Elea, terbiasa lah bermain drama dengan suami gila mu itu. Nikmatilah meskipun ini hanya sandiwara belaka. Elea yang menatap kedua mata Rey yang menatap ke arah Elea pula.


" Selamat pagi pak Rey, Selamat pagi Nona Elea."


" Pagi." Elea yang tersenyum sopan kepada para staf yang menyambutnya.


Rey membawa Elea ke ruang kerjanya.


" Duduk!" Rey dengan cepatnya bersikap dingin jika hanya berdua dengan Elea. Entah mengapa, suasana hati Rey sepertinya kacau gegara masalah yang pak Har buat.


" Honey...ini ruang kerja kamu? Wah...foto-foto pernikahan kita banyak sekali." Elea yang mengedarkan pandangannya dan juga berjalan menuju bingkai-bingkai foto yang terpampang di dinding-dinding dan meja kerja Rey. Menatapi satu persatu dengan senyum. " Aku benar-benar tidak menyangka..."


" Jangan salah paham." Rey yang menyelak ucapan Elea.


" Maksudmu?"


" Elea, hari pertama kerja. Kamu sudah melakukan kesalahan dan akan dapat sanksi jika kamu lakukan kesalahan terus-menerus. Ini kita terapkan untuk kita berdua."


" Hah." Elea mengernyitkan dahi.


" Pertama. Ini di kantor. Jadi kamu harus bedakan masalah pekerjaan dan masalah pribadi. Sedangkan yang kamu bahas baru saja adalah masalah pribadi. Sampai disini paham?"


Elea yang menahan keheranannya dengan suami gilanya. Mulutnya ingin bicara namun Rey selalu menyelak nya dan tidak memberikan kesempatan untuk bicara.


" Sekarang ikutlah! akan aku tunjukkan ruang kerja mu!" Rey yang menarik kasar lengan istrinya keluar dari ruang kerjanya.


Elea yang ditarik lengannya oleh Rey untuk keluar dari ruangannya menoleh ke sudut sofa yang ada di ruang kerja Rey. Melihat bunga dan paper bag yang tergeletak tak bertuan.


" Pagi Bu Elea, senang bertemu dengan mu." Salah staf yang menyapa Elea.


" Pagi. terimakasih." Elea yang memberi salam dan senyum sopan.


" Ini ruang kerjamu ibu Elea."


Hidung Elea yang kembang kempis mendengar Rey memanggilnya dengan sebutan baru Ibu Elea.


" Terimakasih Pak Rey."


" Lakukan pekerjaan mu sebagaimana mestinya. Ingat, jangan gunakan embel-embel bagian dari keluarga Andro untuk meringankan semua pekerjaanmu. Bisa dimengerti?"


" Baik Pak Rey, saya akan bersikap profesional mulai detik ini."


Dia sangat ahli sekali bermain sandiwara. Apa dia sekarang sudah tidak tertekan lagi menjadi istri saya? Hehm...sepertinya dia menikmati drama rumah tangga ini. Senyum kecut Rey lali pergi meninggalkan ruang kerja Elea.


Sementara Tuan Di tidak begitu sulit untuk menemukan Jessica. Pak Har yang sudah mengatur rencana untuk pertemuan Tuan Di dan juga Jessica.


Pak Har yang membawa paksa Jessica untuk berjalan menuju parkiran PACC Mall.


" Lepaskan! Siapa anda?" Jessica yang berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang ditarik Pak Har kuat-kuat.


" Masuk!" Pak Har menyuruh Jessica masuk ke dalam mobil milik Tuan Di.


Jessica dengan pasrah masuk ke dalam mobil dengan pak Har.


Sementara Tuan Di duduk di kursi depan menunggu Jessica masuk ke dalam mobil.


Jessica yang terkejut melihat ayah Rey dari spion dalam mobil.


" Nona Jessica." Wajah tegas Tuan Di.


Jessica yang ketakutan sekaligus ingin berontak. Dia menyembunyikan rasa takutnya dengan bersikap seolah-olah berani. Bahkan Jessica tanpa rasa hormat kepada ayah Rey. Jessica menduga bahwa Tuan Di akan memperingatkannya untuk tidak menemui Rey. " Ada apa anda membawa ku ke sini?"


" Berapa yang anda minta?"


Jessica mengernyitkan dahinya. " Maksud Tuan?"


" 1 Milliar...2 Milliar."


" Maaf Tuan, saya tidak mengerti maksud anda."


" Berhentilah mengejar Rey! Apa anda lupa dengan apa yang sudah anda lakukan kepada Rey?"


" Tuan, saya benar-benar menyesalinya. Maka dari itu saya ingin menebus semuanya." Jessica yang menjatuhkan air matanya. Berharap diberi kesempatan.


" Apa anda tahu dia sudah menikah?"


" Tapi..."


" Tapi apa nona Jessica?"


" Kalau Rey mencintai istrinya, mengapa dia masih..."


Lagi-lagi ucapan Jessica disela oleh Tuan Di.


" Dia hanya menghormati anda. Jaga sikap anda kepada anak saya. Dia sudah pria beristri. Bukankah anda wanita lulusan luar negeri?"


" Bagaimana kalau saya menolaknya?"


" Anda sama sekali tidak akan untung."


" Jika uang yang anda kejar dari anak saya. Saya akan sekuat tenaga menyelamatkannya dari anda. Dan tidak jadi masalah jika anda dan Rey mau hidup serba kesusahan. Saya pikir anda tidak mau bukan?"


Jessica menunduk pasrah. Pria tua ini sepertinya melangkah lebih cepat dari dugaan saya. Tidak Jess. Jangan menyerah sampai disini! Iya kan saja penawarannya. Uangnya kamu dapat. Rey juga akan kamu dapatkan. bahkan jika aku bisa hamil anak dari Rey, bukan tidak mungkin pria tua ini akan mengakui cucunya. Tapi bagaimana caranya Rey...


" Sudah anda putuskan jawabannya."


" Baik Tuan. 2 Milliar."


" Tanda tangani ini." Pak Har yang memberikan secarik kertas putih dan juga pulpen untuk ditanda tangani Jessica.


Jessica mengambil kasar secarik kertas itu tanpa membacanya. Dia bahkan tidak memperdulikan apa isi perjanjian surat bermaterai itu. Baginya itu tidak penting. Jessica lantas menandatangani secarik kertas itu dengan penuh amarah. " Apa saya bisa keluar?"


" Silahkan!"


Jessica yang mengambil cek dengan kasar pula dari tangan Pak Har. Dua Milliar rupiah.


Jessica membaca tanpa bersuara kata Dua Milliar rupiah. Isi kepalanya dibuat tidak berhenti memikirkan untuk apa uang tersebut akan dia pergunakan.


BERSAMBUNG