Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 8 part 2



Rey dan juga Elea yang tidak ingin melihat Tuan Di kesepian menikmati sarapan paginya. Keduanya turun dari kamar suka-duka menuju meja makan.


" Selamat pagi yah." Rey dan Elea yang tidak pernah absen mencium punggung tangan Tuan Di setiap pagi jika sedang sarapan bersama.


" Pagi Rey, pagi Elea. Kamu sudah sembuh Elea."


" Sedikit saya paksa buat jalan Tuan Di?"


" Kenapa harus dipaksa?"


" Biar kaki saya tidak kaku, karena lama tidak digerakkan. Supaya tidak manja juga Tuan."


" Ha..ha.." Tuan Di yang terkekeh. " Perawatnya galak." Tuan Di yang berkata lirih sengaja matanya melirik ke arah Rey.


Elea yang juga tersenyum mendengar canda Tuan Di yang meledek putranya sendiri.


Tuan Di yang memperhatikan putranya heboh dengan memberikan perhatian kepada menantu nya. Dari mengambilkan makanan dan mengambil dessert andalan rumah ini di lemari pendingin. Rey dibuat riwa-riwi dengan mengambil Croissant dari dapur menuju makan kembali guna Elea mencicipinya.


Rey juga menyuapi Elea dengan penuh kasih sayang. Dan itu terlihat dari senyum simpulnya. Rey bahkan geleng-geleng kepala karena saking tidak sabarnya ingin melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.


Elea juga merasa tersipu malu, senyum mengembang sudah pasti terpancar dari wajahnya. Bahagia melihat suaminya akhirnya tersadar dan akan berusaha mencintainya bahkan melakukan kewajibannya sebagai seorang suami yang lama sekali dinanti oleh Elea.


Tuan Di yang juga dibuat tersenyum sendiri melihat tingkah keduanya di meja makan. Perasaan bahagia sudah tentu menyelimuti Keluarga Andro.


Satu minggu kemudian.


Elea dan Rey yang sedang berada di ruang dokter guna memeriksakan luka-luka Elea akibat kecelakaan.


" Luka ibu Elea sudah mengering. Jika sudah enak dibuat jalan, maka tidak menjadi masalah, jika ibu Elea kembali bekerja."


Elea yang tersenyum senang akhirnya setelah hampir 10 hari di rumah yang hanya makan tidur. Dia bisa mulai kembali beraktifitas seperti biasanya.


Mata Elea dan juga Rey yang penuh girang. Apalagi kalau bukan karena Rey akan benar-benar melakukan kewajibannya sebagai seorang suami begitu juga dengan Elea, yang akan melakukan kewajibannya sebagai istri. Mata keduanya penuh cahaya teduh karena sepertinya hati keduanya sudah menyatu. Baik Rey maupun Elea sudah menerima pernikahan terpaksa ini dan akan membuat pernikahannya bahagia.


Klililit Suara ponsel Rey berbunyi. Rey kemudian mengambilnya dari saku celananya.


EDO.


Adalah sahabat dekatnya ketika dimasa kuliah Rey dulu. Edo juga sahabat Jessica. Dulu ketiganya kuliah di tempat yang sama. Namun setelah sarjana S1 selesai, Rey melanjutkan kuliahnya ke Boston sementara Edo kuliah di Australi namun tidak satu kampus dengan Jessica.


" Iya Do." Rey yang terkejut mengapa sahabatnya menghubunginya. Padahal hampir satu tahun mereka tidak berkomunikasi.


" Hai Rey. Masih ingat kan? Sahabat sejati mu ini." Edo yang meledek Rey dengan tawa kecil dibalik sambungan telepon.


" Ingatlah Do. Tumben kamu telepon?"


" Ha...ha. Sorry ya kawan, kalau aku tidak bisa hadir di pernikahan kamu. Saat itu..." Edo yang ingin menjelaskan namun Rey menyelanya.


" Sudah-sudah. Lagi pula sudah terjadi. No problem..Aku tahu pekerjaan mu disana sangat sibuk."


" Tunggu-tunggu! Jangan bilang kalau kamu akan menikah."


" Ha..ha.." Edo yang tertawa. " Secara batin, kita tidak bisa dipisahkan Rey. Kamu memang sahabat sejatiku."


Rey yang ikut tersenyum lebar penuh bahagia di balik ponselnya. " Jujur aku senang, kalau sahabat ku akan menikah. Tenanglah aku akan datang. Jangan merasa bersalah, karena kamu tidak hadir di pernikahan ku."


" Benarkah itu Rey?"


" Iyap."


" Iyes, thanks ya Rey. Aku akan sangat bahagia jika tamu kehormatan ku datang. Aku akan memberikan pelayanan terbaik untuk mu Rey dari penerbangan Bisnis Class hingga jamuan makan hidangan di acara pernikahan adalah makanan kesukaan mu semua kawan. Apalagi? Akan aku pinjamkan apartemen atau memberikan mu penginapan eksklusif selama kamu disini. Bahkan aku akan menjamu dengan mengajak kamu liburan disini. Meskipun aku tahu, kamu sanggup membayar itu semua tanpa aku beri.


" Ha..ha..ha." Rey yang tertawa terbahak. " Tunggu-tunggu! Dimana acara pernikahan kamu?"


" Di Australi Rey, dimana lagi?"


Rey yang terdiam ketika mendengar kata Australi.


" Kenapa Rey?"


" Oh, enggak. Tenang saja! aku pasti datang."


" Aku tahu kamu kawan. Thanks Rey, see you."


" Yapp." Rey dan Edo yang mengakhiri percakapan keduanya.


Rey kemudian menoleh ke Elea.


" Kenapa?"


" Edo, sahabat lamaku akan menikah. Dan kita diundang di acara pernikahannya."


" Bagus dong."


Rey yang menggaruk kulit kepalanya yang sebenarnya tidak gatal dengan jari telunjuknya. Ingin menjelaskan bahwa di acara pernikahan Edo pasti juga ada Jessica. Edo tidak mungkin tidak mengundangnya. Sementara Rey yang bingung akan menjelaskan seperti apa kepada Elea. Jika aku jelaskan mengenai Jessica dan 6 bulan ini yang aku lakukan bersamanya, apakah dia marah? meskipun tidak ada hal diluar batas yang dilakukannya kepada Jessica. Namun meninggalkan dia ke bandara dan berpelukan erat dengan Jessica. Terlebih aku yang ingin sendiri hingga membuatnya pulang kantor menggunakan ojek online dan berakhir kecelakaan. Ah sudahlah! tidak perlu dijelaskan. Sekarang pada kenyataannya, aku di depan dia. Bahkan kalau dia sudah siap. Nanti malam juga bisa.


" Kamu kenapa?"


" Enggak papa, ayo kita pulang!"


Setibanya di rumah. Tepatnya di dalam kamar suka-duka. Elea yang pergi ke kamar mandi dan ingin membersihkan tubuhnya karena seharian beraktivitas di luar rumah. Namun Rey ternyata juga mengintili nya.


Mata keduanya yang saling tatap. Lirikan mata tajam Rey yang membuat Elea tak berdaya. Di saat wajah keduanya saling mendekat tanpa berhenti menatap satu sama lain. Kling. Bunyi ponsel Rey dalam saku kemejanya berbunyi. Bunyi ponsel yang menganggu. Rey kemudian mengambil ponselnya. Sebuah pesan gambar undangan pernikahan Edo sahabatnya. Rey menutup ponselnya dan meletakkan di meja salon pribadi dalam kamar mandinya. Rey yang masih mengejar haknya sebagai suami yang terlewat begitu saja karena kebodohannya sendiri. Berjalan mendekat menuju ke tempat Elea yang sibuk menyalakan shower. Kedua tangan Rey yang melingkar di pinggang Elea. Elea juga menyambut hangat pelukan dari suami Singa Jinak nya. Wajah, hidung, mata dan juga bibir yang sangat dekat jaraknya, membuat Elea tertarik membelai bulu-bulu tipis yang memagari tulang rahang suami Singa nya. Lalu bibir mereka saling menyentuh untuk pertama kalinya dengan rasa saling menginginkan satu sama lain. Baik Elea bahkan Rey begitu menikmati bibir keduanya saling bertaut di bawah air shower yang slow motion. Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu, untuk keduanya berdiri di bawah percikan shower slow motion.


BERSAMBUNG