
Berjalan dengan berpapasan banyak suster yang seperti melihat dirinya aneh dan memperbincangkannya. Rey berjalan cepat dengan sedikit malu. Bertanya ada apa gerangan, sepertinya banyak suster yang meperbincangkannya.
Blak. Suara pintu mobil dibanting dengan asal oleh tangan Rey. Rey langsung melihat ke spion dalam mobil dan benar saja. " Hadewh..." Rey menepuk jidatnya. Karena panik melihat ayahnya yang sudah tak sadarkan diri tadi pagi. Rey sampai lupa mengancingkan kancing pertama hingga kancing ketiga piyama tidur yang kenakan nya. Terlihat jelas dada bidang kekar putih mulus dan banyak sekali tanda cinta bibir Elea yang menempel sisa sesapan tadi malam. " Astagaaa...pantesan tadi suster-suster bisik-bisik setelah melihat saya. Ternyata gara-gara ini." Rey kemudian mengancingkan kembali piyama tidur yang dikenakannya.
Belum menyalakan mobilnya. Rey yang berada di dalam mobil melihat dengan jelas Daniel yang mengantar Jessica keluar dari mobil setelah memarkir mobil di pelataran rumah sakit. Rey melihat Daniel begitu sangat mesra dan begitu sangat perhatian kepada Jessica.
Terlihat Daniel yang memapah Jessica untuk duduk di kursi roda yang dikeluarkan Daniel terlebih dahulu.
Entah mengapa dada Rey terasa gerah tiba-tiba melihat mereka muncul parkir di dekat mobilnya. Rey kemudian menancap pedal gas dengan sangat tidak sopan hingga membunyikan klakson dan membuat Daniel hingga Jessica merasa tidak nyaman setengah tidak asing dengan mobil sport tersebut.
Keduanya menoleh ke mobil sport yang kategori berjalan diatas rata-rata yang hanya ingin keluar dari parkiran saja.
Mobil Rey. Jessica yang hafal betul berapa plat nomor milik Rey.
" Yaudah masuk yuk! kita masuk!" Daniel mendorong kursi roda milik Jessica ke tempat fisioterapi yang berada di samping kanan rumah sakit tidak jauh dari tempat parkir mobilnya.
" Selamat pagi Dok."
" Selamat pagi pak Daniel dan nona Jessica."
" Iya Dok."
" Bagaimana, kalau langsung saja kita mulai latihan jalannya sembari meluruskan otot-otot kaki."
" Iya Dok." jawab antusias Jessica.
Jessica yang dibantu Rey untuk berdiri bangkit dari kursi rodanya. Mulai memegangi rail yang sudah disiapkan di ruang fisioterapi seperti kebanyakan rumah sakit pada umumnya.
Perlahan Jessica menguatkan sepuluh jemari tangannya untuk menggenggam besi rail untuk membantunya menopang tubuhnya.
" Aw...sakit. sakit sekali." Jessica yang meringis kesakitan sembari memandang kedua bola mata penuh harap milik Daniel.
Jessica yang berpegangan dengan kedua pundak dan lengan Daniel dengan sangat kuatnya. " Aku nggak kuat. Kaki ku sakit sekali dok. Aku mau duduk sayang." Jessica yang menyerah duluan, karena nyeri kaki kanannya menjalar ke semua bagian tubuh dan begitu menyiksanya.
Daniel yang tidak tega melihat Jessica kemudian membantunya untuk duduk kembali di kursi roda nya.
" Apa yang dirasakan nona Jessica?"
" Kaki kanan saya masih sakit luar biasa dok." Mata yang ikut merembes diikuti keringat panas dingin yang keluar dari semua tubuh. Jessica merasakan gemetar dan sakit luar biasa yang hanya ingin membuat jalan kaki kanannya.
" Ya sudah, hari ini jangan dipaksakan dulu. Terserah nona Jessica siapnya kapan. Nona Jessica bisa hubungi saya kembali untuk bertemu membuat janji."
" Iya Dok."
" Ya dok, terimakasih."
Dokter berjalan ke meja kerjanya dan menulis resep untuk Jessica. " Ini pak Daniel resepnya."
" Terimakasih dokter. Kalau begitu di lain waktu semoga Jessica bisa lebih siap."
" Iya pak Daniel. Mari dok."
" Silahkan!" Dokter yang membantu membukakan daun pintu untuk Daniel dan Jessica kemudian keluar dari ruang fisioterapi.
" Kamu kenapa nangis?" Daniel menyeka bulir-bulir bening yang jatuh dari pelupuk mata Jessica.
" Nggak papa." Jessica yang berusaha menutupi kesedihannya. Menahan air mata supaya tidak tumpah menggenangi kedua pipinya.
" Jangan sedih ya. Aku yakin kamu bisa jalan lagi seperti biasanya. Kamu dengar sendiri kan. Dokter mengatakan kamu tidak lumpuh." Daniel mencoba menyemangati Jessica sembari mengusap lembut menyeka bulir-bulir bening yang makin deras dengan ibu jarinya.
" Tapi sampai kapan? Bagaimana kalau sampai tahunan? Trus hubungan kita? Apa iya? kamu akan bertahan dengan mengurusi saya yang duduk di atas kursi roda." Jawab tanpa jeda Jessica kepada Daniel.
Tetiba Daniel diam. " Jangan ragukan kesetiaan aku. Aku akan menunggu sampai kamu sembuh Jess." Daniel meyakinkan Jessica dengan menggenggam dan mengecup kesepuluh jemarinya.
Siirr Hati Jessica berdesir. Tak percaya dengan pria di depannya begitu tulus menyayanginya. Seakan tak pantas betapa hina nya dia saat menjalin hubungan kekasih dengan Mike yang tetiba terlintas di kepalanya.
Rey dan Elea yang mengetahui pemandangan romantis dua insan dimana Daniel menautkan kesepuluh jemarinya dengan jemari Jessica dan bersimpuh di depan kursi roda Jessica apalagi mengecupnya. " Kamu masuk duluan Honey, nanti aku susul!" Rey kemudian berjalan mengarah ke Daniel dan Jessica yang lupa tempat untuk bermanja.
" Ehem." Rey berdehem dengan kedua tangan yang dia sembunyikan di saku celana melipisnya.
Seketika pemandangan romantis di depan mata Rey buyar. Daniel bangkit dan berdiri menoleh ke arah Rey berdiri. Begitu juga dengan Jessica, yang kedua retina matanya menatap ke wajah Rey.
" Apa tidak ada tempat lain, untuk sayang-sayangan? Sampai harus di tempat parkir seperti ini." Rey kemudian pergi dengan acuh meninggalkan Daniel dan Jessica.
Langkah pertama...langkah kedua...hingga langkah ketiga sepatu pantofel nya memberhentikan langkah Rey. Dengan memutar tubuhnya kembali menatap Daniel dan Jessica yang masih memperhatikannya. " Eits, kamu terutama." Rey yang menggunakan jari telunjuknya untuk menunjuk ke arah Jessica. " Kamu jangan baper, nanti mengira saya cemburu dengan kemesraan kalian. Ah sudahlah Jess..." Rey yang mengibaskan telapak tangan kanannya ke udara. " One day kamu akan mengerti betapa aku masih sakit hati sama ayah kamu, sejarah 20 tahun silam. Entah kamu tahu apa tidak, tapi yang pasti. Mami kamu pasti tahu sejarah keluarga kita." Rey kemudian berbalik dan berjalan menatap lurus ke depan menuju ruang VVIP Tuan Di. Bibi baru saja tadi pagi memberi tahu kalau ayahnya sudah dipindahkan di ruang perawatan dan bukan di UGD lagi.
Deng..Deng...Jessica yang tersentak dengan pernyataan Rey. Begitu juga dengan Daniel. Rahasia besar apa? hingga Tuan Di hanya menyisakan satu perusahaan untuk dia pegang semenjak menyatakan cinta kepada Jessica dan akan menikahinya.
Jessica bernafas sengal. Bingung dengan rahasia yang baru saja dikatakan Rey. Maksudnya apa? Rahasia apa? Sakit hati dengan permasalahan keluarga. 20 tahun silam. Jessica terdiam. Bertanya pada diri sendiri dan berpikir keras atas ucapan Rey barusan. Mami menyembunyikan rahasia besar apa dariku? Kenapa selama itu mami menyembunyikannya? Kenapa juga Rey, seperti baru tahu segalanya? Kemarin-kemarin dia bahkan tidak membahas ini. Jessica yang terus berpikir dan bertanya tak ada habisnya.
BERSAMBUNG