Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 13



Wajah Jessica seketika berubah. Jessica hanya diam tak bergeming sedikitpun. " Aku minta maaf Rey."


" Apa aku tidak salah dengar Jess."


Elea mencoba meraih tangan suaminya. Pertanda kalau Elea tidak ingin Rey memperpanjang lagi masalah ini. Karena toh juga sudah tahu, kalau anak dalam kandungan Jessica saat itu bukanlah anak Rey.


" Iya, aku sadar aku salah Rey." Jessica penuh penyesalan. " Aku minta maaf."


" Trus, kamu menyuruhku aku memaafkan kamu begitu saja!" ketus Rey pada Jessica.


" Terserah kamu, memaafkan atau tidak. Yang terpenting aku sudah minta maaf kepadamu."


Rey yang geleng-geleng kepala melihat sikap angkuh Jessica yang jelas-jelas sudah membuat keluarganya sempat tidak tenang.


" Aku juga minta maaf Elea."


" Iya Jess. Kamu cepat sembuh ya."


" Terimakasih."


" Kalau begitu saya duluan ya Jess, soalnya kita ada janji dengan Dokter Spesialis Kandungan."


" Iya Elea."


Rey yang melanjutkan lagi mendorong kursi roda yang diduduki oleh Elea menuju ruang Dokter Spesialis Kandungan.


Sepanjang menuju ke ruang Dokter. Rey tak mengeluarkan sepatah kata pun semenjak bertemu dengan Jessica.


" Selamat pagi Dok." Rey yang masuk ke dalam ruang Dokter Spesialis Kandungan.


" Selamat pagi, Bu Elea...Pak Rey." Dokter yang beranjak dari kursi duduknya dan mendekat ke arah Elea. " Silahkan ibu Elea, silahkan naik ke tempat tidur, berbaring terlebih dahulu."


" Iya Dok." Elea kemudian naik ke tempat tidur.


" Maaf saya periksa dulu ya Bu." Dokter yang mulai membuka bagian perut Elea dan memberikan cairan berbentuk gel untuk dilumasi diatas perut Elea. Setelah itu barulah Dokter menempelkan alat USG ke bagian perut Elea. " ini suara detak jantungnya ya pak Rey, ibu Elea."


Rey dan Elea yang saling senyum unjuk gigi mendengar detak jantung Andro-andro junior di dalam perut.


" Nah yang ini hidung-hidungnya. Mata dari kedua janin juga." Elea dan Rey yang terkesima melihat wajah, mata, hidung Andro-Andro junior lewat layar dan hasil USG.


" Semua sehat-sehat ya Bu Elea. Ingat didalam ada dua janin sekaligus. Jadi harus diperhatikan terus untuk asupan makanannya. Jangan sampai di dalam berebut. hehehehe." Dokter terkekeh.


" Untuk jenis kelaminnya bagaimana dok." Rey dengan cepat bertanya.


" Biasanya, kalau janin kembar begini, lengkap sepasang cowok dan cewek sih pak. Cuma memang belum kelihatan dan untuk kasus ibu Elea kurang tahu apakah akan cowok semua atau cewek semua. Setelah usia kandungan lima bulan, baru akan terlihat. Sabar dulu."


" Oh gitu."


" Gampang capek dan punggung terasa sakit sekali sih dok."


" Iya itu wajar ibu Elea, karena janin memang semakin hari semakin berkembang dan besar. Terlebih ibu Elea mengandung dua janin sekaligus. Oya pak Rey. Tolong untuk ruang tidurnya sebaiknya di lantai dasar saja. Kasihan kalau harus naik turun tangga di lantai dua. Di rumah juga bisa menggunakan kursi roda ya Bu Elea. Lagi-lagi ya, karena ibu mengandung janin kembar yang harus ekstra pengawasan. Tidak boleh kerja berlebihan dan kecapean. Dan satu lagi. Jangan sampai stress! atau terlalu banyak pikiran. Banyak relaks nya."


" Iya Dok." Jawab Rey.


" Ini, bisa ditebus di apotik, untuk vitamin-vitamin penunjang yang harus dikonsumsi ibu Elea." Dokter yang menyerahkan satu lembar kertas putih kepada Rey diatas mejanya.


" Terimakasih Dok." Rey mengambil kertas yang diresepkan dokter. Bangkit dari tempat duduknya bersamaan dengan Elea. Rey tak lupa menggandeng Istrinya untuk duduk ke kursi roda. Rey dan Elea kemudian keluar dari ruang Dokter Spesialis Kandungan.


Rey kemudian mendorong kursi roda Elea. Sepanjang perjalanan menuju apotik rumah sakit. Tidak disadari keduanya melewati sebuah kamar VVIP no.1 yang pintunya sedikit terbuka. Tidak lain tidak bukan adalah kamar Jessica.


Terlihat jelas sekali pemandangan mesra yang ditunjukkan Daniel kepada Jessica. Daniel yang ingin mencium bibir Jessica dan sudah sangat dekat sekali jarak bibir keduanya. Namun tetiba Rey yang melihat itu langsung bereaksi.


" Maaf kalau saya lancang, lain kali ditutup rapat pintunya!" Rey yang seketika membuyarkan adegan ciuman bibir yang akan dilakukan Daniel kepada Jessica.


Daniel dan Jessica yang langsung reflek jaga jarak kepala dan wajah. Pipi Keduanya memerah seketika. Daniel yang susah payah menelan ludahnya menatap Rey di ujung pintu sembari memegangi daun pintu kamar Jessica. " Maaf, kalau anda merasa terganggu."


" Saya tidak terganggu! Kebetulan saja saya lewat dan kebetulan pula, saya melihat anda dan Jessica akan..."


" Honey!" Elea yang menatap ke arah wajah Rey.


Rey yang menoleh ke arah Elea. " Saya permisi, jangan lupa tutup pintunya!" Rey yang melanjutkan langkah mendorong kursi roda Elea menuju apotik. Tetiba pikiran Rey kacau melihat Jessica bersama Daniel. Entah ada apa dengan Rey? Ketika Jessica akan mengancam menghancurkan rumah tangganya dan Elea. Rey bahkan sangat marah dan benci terhadap Jessica. Namun ketika melihat laki-laki yang bersamanya memperlakukan spesial kepada Jessica, hati Rey juga ada perasaan tidak menentu. Harusnya senang Jessica sudah tidak lagi mengganggu rumah tangganya dengan Elea. Namun entah mengapa Rey tetiba aneh.


" Lho, kok kita ke parkiran mobil?" Elea yang bingung dengan Rey. " Harusnya kan kita beli obat di apotik."


" Astaga Honey, aku lupa." Rey menempelkan kelima telapak tangan kanannya di jidat. " Sudahlah, kita beli di apotik luar rumah sakit saja." Rey yang melanjutkan dengan membuka pintu mobil dan menyuruh Elea masuk ke dalam mobil.


Ekspresi datar Elea yang kedua matanya tidak lepas dari penglihatannya ke arah suami dan tingkah Rey yang sedikit aneh semenjak memergoki Jessica dan pria yang katanya tangan kanan mertuanya itu. Dia kenapa? Aneh! Elea yang tampak sebal namun tak ditunjukkannya.


" Honey." Elea yang membuka jendela kaca mobil. " Itu kan kursi roda rumah sakit. Makanya, beli vitaminnyanya disini saja sekalian beli kursi rodanya."


Rey tetiba melongo memejamkan matanya untuk sepersekian detik. Kenapa mendadak bersikap nggak jelas seperti ini semenjak melihat Jessica dan Daniel. Masak iya, kursi rumah sakit yang dia pinjam mau dibawa pulang begitu saja. " Huft..." Rey membuang nafasnya kasar. Nurut apa kata Elea saja. "Iya sudah kita beli vitaminnya disini saja." Rey membukakan pintu mobil Elea kembali dengan pasrah."


Elea yang tahu ada yang tidak beres dengan suaminya. Kedua matanya menatap Rey dengan menerka-nerka. Elea yang kemudian kembali duduk di kursi rodanya. Didorong kembali oleh Rey masuk kedalam rumah sakit menuju Apotik rumah sakit yang tidak jauh tempatnya dari tempat parkiran mobil. Setelah memasuki pintu masuk kaca rumah sakit yang terbuka sendiri ketika pengunjung datang. Apotik sudah terlihat jelas sekali di sebelah kanan dari tempat pendaftaran dan juga kasir.


Rey kemudian meletakkan kertas yang diberikan oleh Dokter Spesialis Kandungan ke dalam wadah yang sudah disiapkan oleh bagian Apotik. Untung saja tidak terlalu antri banyak yang pasti akan membuat Rey ngedumel tidak jelas sepanjang hari seperti yang sudah-sudah.


" Silahkan ditunggu dulu ya pak."


" Iya mbak."


Rey kemudian duduk di kursi antrian yang sudah disediakan yang berada tepat di depan apotik.


BERSAMBUNG