Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 6 part 3



" Tapi Rey..."


" Jess. Aku harap kamu mengerti. Aku sudah menjadi suami Elea." Rey yang membalikkan posisi berdirinya ke arah foto pernikahannya yang ada di sudut meja kerjanya. " Benar katamu, memang aku belum mencintai Elea." Sekuat tenaga Rey mengatakannya dan berani jujur kepada Jessica. " Namun, kehadirannya adalah takdir mengisi hati yang sudah aku kosongkan, dari nama kamu." Rey yang kemudian berbalik menatap Jessica. " Aku harap kamu paham, bahwa sudah aku hapus, sudah aku bersihkan, nama kamu dari hati aku."


Jessica berdiri terpaku. Hanya sisa-sisa sesenggukan tangis yang terdengar. Penyesalan teramat dalam. Kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan.


" Sakit hatimu hari ini. Belum seberapa sakit seperti apa yang pernah kamu lakukan dulu kepadaku. Yang kamu lakukan, seribu kali lebih sakit Jess. Butuh waktu 6 tahun untuk mengosongkan hati ini dari nama kamu. Menyembuhkan goresan yang kamu ciptakan. "


Jessica yang mendengar itu semakin dibuat menangis menyesal. Dadanya terasa sesak, ternyata Rey sedalam itu mencintainya. Bahkan butuh 6 tahun dan harus kuliah di Boston guna melupakannya. Tangisnya tak terbendung hingga tidak kuat akhirnya Jessica berlari dari ruang kerja Rey.


Sementara Elea yang mendengar percakapan mereka sejak awal dari balik pintu. Bahkan Elea langsung meninggalkan peninjauannya dari pabrik ketika mendapati Rey tetiba pergi meninggalkannya. " Aw..." Elea yang meringis kesakitan namun tak bersuara ketika tubuhnya kepentok pintu yang dibuka Jessica dengan mendadak dan saking kerasnya.


Ketika Jessica menoleh ke arahnya. Elea langsung memalingkan wajahnya hingga Jessica seperti tidak memperdulikannya dan pergi berlari begitu saja keluar dari kantor Perusahaan ANDRO. Sementara Elea berjalan cepat ingin menuju ruang kerjanya.


Sementara Fany yang baru saja kembali dari toilet karena sakit perut yang dideranya secara tiba-tiba. " Ibu Elea." Suara keras Fany yang terdengar sampai ke telinga Rey.


" Sssst." Elea menaruh jari telunjuknya di bibir Fany.


Fany langsung tanggap dengan sikap ibu Elea.


" Ibu Elea, sedang apa anda?"


Elea yang membenarkan posisi berdirinya. Cengingisan, berusaha mengalihkan pembicaraan namun tak kunjung terlintas di kepalanya.


" Masuk ke ruang kerja saya?"


" Baik pak Rey."


Rey yang berjalan menuju kursi kebesarannya, diikuti Elea yang berdiri di depan meja kerjanya.


" Mau sampai kapan berdiri? Duduk!" Rey dengan nada datarnya.


" Baik pak." Elea yang menggeser kursi, lalu mendudukinya.


" Apa sudah selesai peninjauan ke pabriknya?"


Kalau aku bilang belum, pasti marah. Tanya aku ngapain aja. Aku harus jawab apa? tidak mungkin kan aku jawab aku nguping pembicaraan dia dan mantan kekasihnya yang berbalik mengejarnya. Bisa mati digantung aku. Hi..


" Kenapa diam?"


" Ehm...sudah pak Rey."


" Bagus. Sekarang ini tolong kerjakan! ada data yang salah input dan siapkan meeting besok. Sepertinya gagasan anda dibutuhkan. Siapa tahu? Anda bisa memberikan ide cemerlang untuk lebih meningkatkan lagi, baik segi kualitas maupun penjualan dengan prosentase lebih tinggi lagi."


" Baik pak. Apa ada lagi?"


" Sementara tidak ada, sekarang kamu boleh keluar."


" Iya ibu Elea." Apa yang ibu Elea lakukan di depan pintu Pak Rey ya tadi? Apa ibu Elea mendengar percakapan keduanya. Wah bisa gawat nih.


Bunyi telepon kantor di atas meja Fany berbunyi. " Fany. Masuk ke ruang kerja saya!"


" Baik pak Rey." Fany bergegas masuk ke ruang kerja atasannya.


" Fany, apa ada orang yang menguping pembicaraan saya dengan Jessica?"


Mengapa pak Rey begitu sangat ketakutan ya?


" Jawab Fany, jangan bengong saja!"


Kedua pundak Fany seketika menyembul saking kagetnya. " Se-sepertinya ti-tidak ada pak." Jawab ragu Fany.


" Sepertinya?"


" Maksud saya tidak ada pak." Bisa mati sekarang juga di tangan pak Rey nih, Kalau aku lihat ibu Elea yang berdiri di depan pintu pak Rey.


" Ya sudah kamu boleh keluar!"


" Baik pak." Fany yang bernafas lega, setelah keluar dari ruangan Singa. Apa jadinya kalau aku bilang sedari tadi berada di toilet. " Qeek..." aku bisa disembelih pak Rey hidup-hidup. Fany yang memperagakan lehernya akan disembelih atasannya.


Elea yang berada di ruang kerjanya. Mengingat semua perkataan Rey dengan mantan kekasihnya sepanjang yang dia dengar. Entah mengapa Elea begitu terngiang dengan kata. Aku memang belum mencintai Elea. Kata-kata itu begitu menggema terus menerus baik di kepala maupun telinga Elea. Sampai kapan Rey? kita akan bermain sandiwara? Apa selamanya kita tidak pernah bisa jatuh cinta?


Rey yang melihat Elea seperti sedang memikirkan sesuatu. Terlihat dari kaca jendela yang tembus pandang besar, Rey bisa menyimpulkan jika Elea sedang melamun.


" Apa kita bisa makan siang bersama?"


Elea yang terkejut dengan kehadiran Rey di ruang kerjanya. Elea memberikan senyum mengembang. " Apa saya bisa menolak penawaran anda pak Rey?"


kedua pasang mata seluruh staf, sepertinya tertuju pada pemandangan sepasang suami istri yang berjalan menuju loby dengan sangat profesionalnya. Tanpa bergandeng tangan dan mesra di hadapan umum. Bahkan keduanya sangat piawai dalam menempatkan diri ketika berada di kantor. Semua itu berkat Rey yang mendisiplinkan dirinya sendiri untuk tidak bersikap semaunya meskipun dia seorang atasan. Yang bisa saja sebenarnya dia lakukan sesuka hatinya.


" Kita makan siang dimana?"


Elea yang memainkan bibir dan matanya mengisyaratkan terserah Rey.


" Kamu mau makan apa?"


Elea memainkan bibirnya kembali. " Aku ikut kamu aja."


Sementara di tempat berbeda. Jessica dengan perasaan hancurnya karena penolakan Rey yang secara terang-terangan yang sulit dia terima. Jessica benar-benar dibuat buta karena obsesinya yang terlalu besar ingin memiliki Rey sepenuhnya. Jessica sendiri bingung, mengapa sosok Rey begitu membiusnya hingga membuat hidupnya berantakan seperti sekarang. Jessica yang dari dulu hingga sekarang bahkan masih selalu dikagumi para pria. Menjelma menjadi wanita yang entah mengapa tergila-gila hanya kepada Rey yang tak lebih dari pria yang dulu pernah dia buang dan campakkan begitu saja. Jessica bahkan tidak bisa mengontrol emosi dan kendali tindakan atas dirinya dengan apa yang telah di perbuatanya akhir-akhir ini. Sematan kata wanita berkelas dan elegan, sepertinya sudah tidak pantas lagi dia dapatkan. Sikapnya akhir-akhir ini membuat dirinya sadar bahwa dia tidak lebih dari wanita murahan yang berusaha menginginkan suami orang. Apapun alasannya, sekalipun Rey yang dulu pernah singgah lama di hatinya. Tidak seharusnya Jessica berusaha merebut Rey dari istrinya. " Aaaaaarrrrrrrrrggggghhhh." Jessica yang memukul kaca riasnya dengan kepalan lima jemari kanannya. " Hah...hah...hah..." Jessica dengan nafas kesakitannya menahan kelima jemarinya yang penuh dengan darah segar mengalir dari sela-sela kelima jemari kanannya.


" Jessica..." Mami Indy yang berteriak menghampiri Jessica dengan melihat kucuran darah segar pada jari-jari tangannya.


BERSAMBUNG